
Fisha terduduk lemas di depan gundukan tanah kering yang menjadi pembatas antara dirinya dan jasad almarhum ayahnya. Air di matanya tiba-tiba menggenang, melihat rumput di sekitar makam sang ayah yang menutupi gundukan, sangat terlihat jelas bahwa tak pernah ada seorangpun yang membersihkan. Batu nisan bertuliskan nama Mahendra pun kini tak terlihat dengan jelas, karena lumut yang tumbuh menutupi hampir seluruh bagiannya.
Hengky yang begitu memahami perasaan istrinya, segera mendekat dan berjongkok di samping Fisha. Tanpa rasa risih, dia gunakan tangannya untuk mencabuti rumput di sekitar pusaran makam ayah mertuanya itu, bahkan dia mencari apapun di sekitarnya demi bisa mengerik lumut di sekitar batu nisan ayah Fisha.
"Mas," air mata yang menggenang itu leleh tak tertahankan. Rasa haru yang begitu menderu, benar-benar hadir menyesakkan kalbu ketika Fisha melihat ketulusan yang Hengky tunjukkan.
Hengky hanya menganggukkan kepalanya, disela-sela senyum termanis yang dia suguhkan untuk istrinya tercinta.
Setelah rumput dan lumut yang tumbuh di sekitar pusaran makam ayah Fisha bersih tak bersisa, Hengky pun menengadahkan tangan dan berdo'a kepada Sang Maha Pencipta. Dia berdo'a untuk almarhum ayah mertuanya, dan berdo'a untuk dirinya sendiri agar bisa diselamatkan tidak hanya di dunia, tapi juga di akhiratnya kelak.
Selesai berdo'a, Fisha mengelus batu nisan bertuliskan Mahendra itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Meski begitu, kata demi kata yang begitu menyeruak dalam dadanya akhirnya terangkai dalam untaian huruf yang terus dia eja.
"Yah, Fisha datang, Yah. Meski terlambat, tapi kali ini Fisha datang dengan seseorang yang pernah Fisha janjikan. Dia suami Fisha, orang yang telah berjanji akan menjaga dan melindungi Fisha," kini Fisha tergugu, hingga Hengky yang waktu itu berada di sebelahnya, segera merangkul dan mendekapnya.
"Yah, aku Hengky, suami Fisha. Tenanglah disana, karna sekarang sudah ada aku yang mencintai, menyayangi dan akan menjaganya sepenuh hati. Kini dia tidak sendiri, Yah. Aku akan menemaninya seumur hidupku," ungkap Hengky, yang seketika berhasil membuat Fisha memandang lekat suaminya.
"Jangan bersedih lagi, karna sekarang ada aku yang bisa kau jadikan tempat untuk berbagi," Hengky yang mampu menangkap apa yang berkecamuk dalam benak istrinya, memandangnya penuh arti.
Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan, Hengky terus menggenggam tangan Fisha. Hengky hanya melepas tangan istrinya itu saat dia oper gigi saja, tak lama setelah itu dia kembali menggenggamnya. Begitu seterusnya hingga mereka sampai ke rumah mereka.
Hengky pun tak tahu perasaan apa itu, yang jelas sejak dia membaca diary yang dituliskankan istrinya, semua rasa dalam dirinya tiba-tiba membuncah begitu saja.
"Jangan pernah ragukan aku karena masa laluku," Hengky langsung memeluk Fisha begitu mereka telah kembali dan sudah berada di kamar mereka.
__ADS_1
Fisha hanya diam, tak ada satu jawaban pun yang mampu dia ucapkan.
"Kenapa Mas Hengky tiba-tiba tahu tentang semua yang kurasakan?" Fisha bertanya-tanya dalam hati.
"Aku memang mencintainya, tapi itu dulu. Ya, dulu sebelum kamu hadir dalam hidupku. Setelah ada kamu, maka ruang kosong itu sepenuhnya menjadi milikmu. Tidak ada nama lain yang terukir disana, apalagi masuk dan menggeser namamu," Hengky semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi, Fisha tak bisa seperti dia, Mas. Perbedaan kami terlihat begitu jauh. Tidak mungkin Fisha bisa menggantikannya dan membuatmu melupakan cintamu kepadanya. Apalagi melihat dia begitu baik, bahkan Fisha hanya terlihat seperti sebutir debu diantara hamparan pasir yang sangat luas jika dibandingkan dengannya," ungkap Fisha dengan segala kegelisahan yang dia rasakan.
"Jangan pernah kau bandingkan dirimu dengan siapapun, karena aku mencintaimu Fisha. Aku mencintaimu seutuhnya. Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta, bukan hanya karena tubuhmu, tapi karena semua yang melekat padamu telah memporak-porandakan pertahanan hatiku. Jadi, kumohon. Jangan ragukan cintaku," Hengky melepas pelukannya dan memandang wajah istrinya secara intens. Kedua tangannya dia letakkan di bahu Fisha, hingga mereka bisa saling tatap dan bertemu mata.
Tak ada keraguan dan kebohongan dari kedalaman mata Hengky yang mampu ditangkap mata Fisha. Semua terlihat tulus tanpa rekayasa.
Dan siang itu, jadilah mereka saling tatap dalam getaran-getaran cinta yang membara. Walau mereka telah menikah selama beberapa bulan lamanya, tapi kali ini seolah tak seperti biasanya. Degup jantung Fisha berdegup sepuluh kali lebih kencang dari biasanya. Anehnya, hal yang sama juga dialami oleh Hengky, hingga mereka terus bercengkrama dalam tatapan mata.
Kini, mata Hengky beralih memandang bibir ranum Fisha. Tak tahan, Hengky pun mendekatkan bibirnya dan langsung melahap bibir istrinya dengan begitu rakusnya.
"Mas," suara Fisha terdengar parau. Hasratnya benar-benar tak bisa lagi dia tahan.
Mendengar istrinya memanggil namanya dengan nada begitu manja, membuat Hengky semakin larut dalam permainannya. Hengky melepas semua helaian benang yang menutupi tubuh mereka, kemudian mendorong tubuh istrinya itu ke tempat peraduan mereka.
Seketika, Fisha pun sudah berada dalam kungkungan suaminya.
"Mas," panggil Fisha sekali lagi.
__ADS_1
"Tahan sebentar, Sayang. Kita akhiri ini secara bersamaan," Hengky terus melancarkan atraksinya, sebelum akhirnya mereka mendapatkan kenikmatan secara bersama-sama.
Hengky pun akhirnya tumbang di samping tubuh Fisha. Tubuhnya lunglai, seperti habis berlari maraton begitu jauhnya.
Berbeda dengan hal yang dilakukan Hengky, Fisha langsung beranjak dan membersihkan diri.
"Mas, ayo mandi. Kita belum sholat dhuhur loh," Fisha mendekati suaminya dan membelai kepalanya penuh cinta.
"Hmmm," Hengky justru menarik tubuh Fisha hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Mas, lepas. Kita bisa terlambat," dengan susah payah, akhirnya Fisha bisa melepaskan diri dari suaminya dan langsung berlari ke arah kamar mandi.
Hengky hanya tersenyum tipis melihat Fisha yang selalu malu-malu usai bercinta dengan dirinya. Hingga senyum itu tiba-tiba berubah menjadi rasa was-was, ketika sebuah teriakan terdengar dari mulut Fisha.
Spontan, Hengky berlari menyusul istrinya ke arah sumber suara. Dan begitu pintu terbuka, alangkah kagetnya Hengky ketika mendapati istrinya telah meringis menahan sakit, dalam posisi telentang di dalam kamar mandi.
"Masya Allah, kamu kenapa, Sayang?" Hengky langsung mengangkat tubuh Fisha dan membawanya keluar.
"Fisha terpeleset, Mas. Ada sisa sabun di lantai yang tidak dibersihkan," jawab Fisha lirih, sambil melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
"Lain kali hati-hati. Jangan berlari-larian seperti itu kalau ke kamar mandi," Hengky memberi peringatan dengan tegas, yang langsung diiyakan istrinya melalui sebuah anggukan kepalanya.
"Maaf," mata Fisha berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hey, kenapa menangis? Aku tidak sedang memarahimu, tapi sedang mengkhawatirkanmu,"
BERSAMBUNG