
"Baarakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir. Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan,” ucap seorang penghulu, setelah selesai menikahkan Arsen dan Aghata.
Ya, akhirnya mereka menikah setelah proses negosiasi yang panjang dilakukan oleh Daniel dan Ryan. Kelembutan dan kasih sayang yang sedemikian besar untuk kedua putranya itulah yang membuat Aghata luluh. Apalagi mengingat selama ini Daniel tidak pernah merasakan bagaimana memiliki keluarga yang utuh, membuat hatinya semakin mantap untuk bersatu dengan Arsen demi kebahagiaan putranya itu.
"Terima kasih, Mom. Mommy telah mengabulkan permintaanku. Tak ada yang lebih membahagiakan untukku, selain melihat Mommy dan Daddy bersatu kembali," Daniel segera memeluk Aghata setelah acara akad nikah yang dilakukan di kediaman keluarga Dewangga selesai dan penghulu berpamitan meninggalkan tempat acara.
"Kebahagianmu adalah kebahagiaan Mommy, Sayang," ucap Aghata penuh haru.
"Dan kebahagiaan Mommy adalah kebahagiaanku," Ryan ikut nimbrung dan memeluk mereka berdua.
Arsen yang melihat keluarganya kini benar-benar utuh, tak bisa membendung air mata yang kini sudah menggenang bagai telaga. Bahkan kini dia melihat wajah orang-orang yang sangat dicintainya dengan tatapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dipandangnya wajah mereka satu per satu. Wajah Aghata, Daniel, Mira dan juga Nina kini benar-benar menyejukkan hati dan jiwanya.
Acara yang hanya dihadiri oleh keluarga itu pun berlangsung khidmat dan diakhiri dengan sebuah makan malam yang hangat. Akad nikah memang sengaja dilakukan malam agar mereka punya cukup waktu untuk persiapan. Ya, setelah malam lalu Aghata menyatakan setuju, malam berikutnya langsung didatangkan seorang penghulu. Semua ini Ryan dan Daniel yang putuskan, bukan hanya semata-mata mereka takut Aghata akan berubah pikiran. Namun, mereka ingin tak banyak waktu yang sia-sia terbuang.
"Lebih cepat lebih baik," putus Daniel, yang langsung diiyakan oleh semua orang.
Setelah acara makan malam pun, semua kembali ke kamar masing-masing.
Aghata yang telah masuk kamar terlebih dahulu, memilih langsung membersihkan diri dan masuk ke dalam selimutnya. Dan begitu Arsen masuk, Aghata pun langsung memejamkan mata.
Arsen menyunggingkan senyumnya melihat istri yang baru dinikahinya sekaligus wanita yang berpuluh-puluh tahun telah ditunggunya itu berpura-pura tertidur. Bahkan Arsen hanya merasa geli saja ketika melihat Aghata tidur masih lengkap dengan hijab yang menutupi kepalanya.
Sebenarnya sempat terbersit di hati Arsen ingin mengerjai istrinya itu dengan mendekatinya. Tapi karena Arsen merasa mulutnya agak sedikit bau akibat kambing guling yang baru saja disantapnya, membuat pilihannya jatuh untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Sepuluh menit kemudian, Arsen sudah keluar dengan piyama tidurnya. Dia berjalan mendekati ranjang dan duduk di samping istrinya.
"Aghata," Arsen berbisik tepat di telinga Aghata.
Aghata tidak bergeming. Dia masih saja berpura-pura tidur dengan posisi membelakangi suaminya.
"Baiklah jika kau terus membelakangiku. Kau pikir aku tak punya cara?" ucap Arsen sambil melangkahi Aghata dan berpindah ke sisi ranjang yang satunya, hingga posisi Aghata tepat berhadapan dengannya. Bahkan kini tak ada jarak sama sekali di antara mereka, mengingat bagian sisi ranjang yang tersisa tak begitu luas untuknya.
__ADS_1
Arsen menekuk lengan kanannya, menjadikannya sebagai bantal. Tubuhnya dimiringkan ke arah Aghata, dan tangan kirinya dia lingkarkan ke pinggang istrinya agar dia tidak terjatuh ke belakang.
"Mommy, jangan pura-pura tidur! Daddy tahu Mommy belum terlelap," bisik Arsen lirih. Dia sengaja memanggil Aghata dengan sebutan Mommy dan memanggil dirinya dengan sebutan Daddy mengingat usia mereka tak muda lagi.
Tak ada jawaban dari mulut Aghata. Hanya terdengar nafasnya yang berat saja saat dengan ragu Aghata membuka matanya dan menggeser tubuhnya ke belakang agar Arsen punya tempat yang cukup untuk membaringkan tubuhnya.
Kini, tatapan mereka bertemu. Dengan sedikit bergetar, Arsen memegang pipi Aghata, kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Pandangannya sama sekali tak beralih dari wajah cantik yang sangat dirindukannya itu. Ya, Aghata masih terlihat sangat cantik di usianya yang boleh dibilang sudah tak lagi muda. Mata hijaunya yang begitu langka, bergerak mengikuti pandangan laki-laki yang sempat memenuhi ruang kosong dalam hatinya.
"Apa kamu sudah siap?" mendadak pertanyaan itu keluar dari mulut Arsen. Kini jantungnya semakin berdegup kencang tak beraturan. Dulu, mereka memang sudah sangat sering melakukannya. Tapi malam itu, semua sungguh terasa sangat luar biasa tegangnya.
"Siap untuk apa?" Aghata berpura-pura tidak mengerti ucapan Arsen.
Tanpa berkedip, tatapan Arsen pun menyelami lebih jauh ke dalam mata hijau Aghata. Menikmati pipinya yang sedikit merona, juga bibir tipisnya yang menggoda hingga membuat Arsen tak hanya sekali penelan salivanya.
"Buka ya?" Arsen tak menjawab pertanyaan Aghata. Dia justru fokus pada hijab yang menutupi kepala Aghata.
"Buka apa?" Aghata masih pura-pura tidak mengerti.
Tanpa menunggu persetujuan, tangan Arsen meraih kain berbahan kaus yang menutupi kepala Aghata, lalu mengusapnya dengan lembut. Perlahan, Arsen membuka hijab itu tanpa ada penolakan.
Seketika, rambut Aghata indah terurai. Wangi shampo yang memanjakan langsung saja menguap menusuk indra penciuman Arsen, membuat hasrat kelaki-lakiannya semakin bergejolak menguasai dirinya.
"Kau tak berubah, Sayang. Kau masih secantik Aghataku puluhan tahun yang lalu," ucap Arsen sambil menyelipkan anak rambut Aghata ke belakang telinganya.
Arsen semakin mendekatkan wajahnya. Jemarinya mengusap lembut pipi dan bibir Aghata. Dan debar di dadanya kini semakin mengencang saat Arsen mencium istrinya dengan pelan.
Wajah Aghata hanya tertunduk, menyembunyikan kedua pipi yang sudah merah merona. Lagi, Arsen semakin mendekatkan wajahnya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.
"Dad, tunggu," pinta Aghata sambil menahan tubuh Arsen dengan telapak tangannya mendorong dada bidang Arsen yang hampir tak berjarak dengannya.
"Kenapa?" Arsen mengernyitkan keningnya, seolah sebuah harapan tak lagi ada untuknya.
__ADS_1
"Mommy belum siap untuk melakukannya lagi, Dad. Maaf, tapi kenangan itu tiba-tiba menghantui Mommy kembali," tutur Aghata lirih.
Arsen hanya tersenyum, kemudian meraih lembut jemari istrinya. Mata mereka beradu, namun tak ada satu kata pun yang terucap dari kedua mulut itu.
"Daddy tahu, ini pasti sulit untukmu, Sayang. Sekarang Daddy tanya. Apakah Mommy sudah memaafkan Daddy?" tanya Arsen lembut. Aghata hanya menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah. Sekarang Daddy tanya satu hal lagi. Apakah Mommy ikhlas menikah dengan Daddy?" Arsen bertanya lagi.
Sekali lagi, Aghata menganggukkan kepalanya.
"Lalu, apa masih ada yang mengganjal di hati Mommy?" cecar Arsen, tanpa menghilangkan kelembutannya.
Aghata menggeleng pelan.
"Begini, Mom. Dalam Islam, pernikahan bukan lah sembarang perjanjian, tapi merupakan sebuah perjanjian agung, yang dalam bahasa Alquran disejajarkan dengan mitsaqan ghalidza (perjanjian agung) antara Allah dengan para Rasul berpredikat Ulul Azmi, yaitu Nuh, Ibrahim' Musa, dan Isa. Bahkan dalam Alquran, diceritakan bahwa dalam melakukan perjanjian ini sampai-sampai Allah angkat Gunung Thursina di atas kepala Bani Israel. Dengan menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalidza, artinya pernikahan bukan perjanjian yang bisa dimain-mainkan," Arsen mengusap kepala Aghata dengan pelan.
"Maafin Mommy, Dad. Bukannya Mommy main-main dengan pernikahan kita. Mommy sepenuhnya rela dan sudah mengikhlaskan semuanya," tutur Aghata.
"Kalau begitu, apa Mommy juga sudah siap jika kita mengulangnya lagi?" Arsen mengangkat alisnya nakal.
"Mommy nggak mau mengulangnya lagi, Dad. Dulu itu kita melakukan perbuatan dosa," Aghata mengerucutkan bibirnya.
"Terus?" Arsen menunggu istrinya melanjutkan ucapannya.
"Sekarang Mommy hanya mau melakukannya, atas dasar niatan untuk menyempurnakan ibadah kepadaNya," Aghata mengembangkan senyumnya.
Arsen menganggukkan kepalanya, setuju dengan semua ucapan Aghata. Sedetik kemudian, mereka mulai bercengkerama melalui denyar nadi yang menyala. Beribu tasbih pun kini terucap, seiring dengan kisah cinta yang mereka pahat.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Pembaca bijak selalu meninggalkan jejak. Jangan lupa klik like, vote juga rate 5. Terima kasih