METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Keras Kepala


__ADS_3

Tak ingin terlihat lemah. Begitulah kira-kira seorang Zara memposisikan dirinya. Sesakit apapun kondisi tubuhnya, bagi Zara, satu keluhan saja yang keluar dari mulutnya adalah hal yang sungguh sangat memalukan untuknya.


Tapi kali ini, Zara tak lagi punya pilihan. Tatapan juga ketegasan yang Indra tunjukkan, membuat hatinya luruh tanpa bisa mengucap kata-kata penolakan.


"Apa ada luka di tubuh Anda, Nona?" tanya dokter itu, seolah menaruh curiga terhadap gejala yang ditunjukkan Zara.


Zara tak menjawab. Dia melirik ke arah Indra sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Boleh kami periksa?" ucap dokter itu, membuat Zara terlihat ragu.


Namun karena sang dokter terus memaksa, akhirnya Zara menatap penuh pinta ke arah Indra. Indra yang waktu itu terus memperhatikan gadisnya saat sang dokter memeriksa kondisinya pun langsung tanggap dan memejamkan matanya, seolah ingin berkata bahwa Indra tak akan melihatnya.


Begitu Indra memejamkan mata, Zara pun memberi sebuah kode pada seorang perawat yang ada di dekatnya, dan membiarkan mereka menyingkap bajunya untuk melihat luka yang berada di tubuh Zara.


Namun begitu dokter itu melihat kondisi zara, ekspresi kaget langsung saja bisa ditangkap oleh mata. Karena ternyata, luka Zara terlihat bengkak di beberapa tempat, dengan warna kemerahan yang terlihat mengerikan.


"Bengkak pada luka memang hal yang sangat wajar. Bila terjadi di tepi luka, bengkak  bisa merupakan bagian dari proses penyembuhan. Akan tetapi, bila bengkak kemerahan semakin meluas dan keluar dari batas luka, besar kemungkinan hal tersebut merupakan tanda-tanda infeksi," sambil terus berbicara, dokter itu dengan sigab membersihkan ulang luka-luka di sekujur tubuh Zara dan mengoleskan obat luar di permukaan lukanya.


"Apa itu yang membuat badannya panas dan menggigil, Dok?" Indra yang tahu kalau dokter itu sudah selesai mengobati luka Zara pun membuka mata dan menatap dokter itu dengan deretan pertanyaan yang sudah berjejal di benaknya.


"Itu kecurigaan saya, Tuan. Demam yang dialami Nona Zara karena infeksi yang dialaminya. Apalagi tadi dia bilang, nyeri di lukanya sama sekali tak berkurang, membuat saya yakin bahwa kecurigaan saya benar. Dalam kondisi normal, nyeri biasanya akan berkurang dalam waktu dua hari setelah terjadi luka. Namun, apabila nyeri menetap atau dirasakan semakin berat, bisa jadi luka tersebut mengalami infeksi. Apalagi suhu badan Nona Zara mencapai tiga puluh sembilan lebih, ditambah kondisinya yang menggigil, juga sakit di bagian kepala selain tubuhnya yang lemas juga, membuat gejala infeksi itu semakin nyata. Takut saya, ini adalah pertanda bahwa infeksi yang dia alami sudah mencapai aliran darah, atau secara medis disebut sepsis," jelas dokter itu panjang lebar.


"Lalu bagaimana, Dok?" Indra tak peduli lagi dengan kondisi dirinya. Yang dia khawatirkan saat ini hanyalah Zara.

__ADS_1


"Akan lebih maksimal jika Nona Zara di infus sekarang. Ada obat berdosis tinggi yang harus saya berikan melalui jarum infus, karena sayangnya, pada dosis itu tidak terdapat pada obat oral manapun yang bisa saya berikan," sang dokter terlihat seperti sedang meminta persetujuan.


"Saya tidak mau diinfus, Dok. Berikan saja saya obat oral," Zara menolak, seperti dugaan Indra dan semua orang yang berada di sana.


"Tapi akan sangat lama untuk bisa menyembuhkan luka Anda, Nona," kekeh dokter itu.


"Tak masalah buat saya, Dok. Berikan obat oral saja," Zara ikut kekeh dengan sikapnya.


"Ikuti apa kata dokter, Zara," titah Indra dengan begitu tegasnya.


"Siapa yang akan merawatmu jika aku juga harus dipasangkan infus seperti kamu?"


"Aku ...," Indra menggantungkan kalimatnya, membuat dokter dan suster itu menatap Zara dan Indra secara bergantian, merasa bingung dengan sikap keduanya.


"Tolong berikan resep itu pada anak buah saya yang berada di luar ruangan ini, Suster. Biar mereka yang menebuskan obat itu untuk Zara," pinta Indra dengan sopan.


Suster itupun tak keberatan, dan dengan senang hati melakukan apa yang diminta Indra.


Dan kini, mereka hanya tinggal berdua saja. Indra menatap Zara yang kini tidur meringkuk di tempatnya, dengan tatapan penuh makna namun sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.


Hanya dengan memandangnya, Indra sangat tahu bahwa gadisnya sedang mencoba kuat demi bisa menenangkan hatinya. Meski secara fisik jelas-jelas dia terlihat sakit, tapi akalnya terus berputar hingga mulutnya pun masih bisa memutarbalikkan kenyataan.


"Apa kau tahu, obat apa yang akan segera menyembuhkan sakitku, Zara? Obat dari sakitku adalah, ketika aku melihat kau sembuh dari sakitmu. Jadi beristirahatlah, makan obatmu begitu mereka menebus resep itu, dan rawatlah lukamu. Aku akan sembuh seiring dengan sembuhnya luka di tubuhmu," Indra mengutip perkataan Zara beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Itu kan kata-kataku, Ndra. Kenapa kau begitu tak sekreatif itu hingga tak punya kata lain untuk merayuku?" sahut Zara lirih. Dia menjawab perkataan Indra tanpa membuka matanya, dengan selimut tebal yang dia rapatkan hingga menutupi bagian lehernya.


"Sudah sakit masih saja sombong," oceh Indra tanpa mengalihkan pandangannya.


"Biarin. Dari pada copy paste seperti dirimu," Zara masih saja bersuara. Padahal nyeri pada lukanya sedang terasa sakit luar biasa.


Indra tak lagi menanggapi ocehan Zara. Karena semakin Indra menanggapinya, Zara akan semakin mendebatnya. Padahal dari mimik mukanya saja Indra sudah sangat tahu bahwa gadis itu sedang merasa kesakitan. Hanya karena rasa gengsi dan tak ingin terlihat lemah saja yang membuat dia bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Buka selimutmu itu Zara!" titah Indra tanpa dimengerti oleh Zara.


"Kau tak lihat aku kedinginan?" lama-lama Zara merasa geram.


"Kamu itu demam. Kamu tak dengar dokter itu bilang apa tadi? Suhu tubuhmu lebih dari tiga puluh sembilan derajad, Zara. Itu jauh di atas batas normal. Jadi, sedingin apapun yang kamu rasakan, selimut tebal akan semakin memperparah demammu. Lebih baik kau tak pakai selimut setebal itu hingga demam di tubuhmu hilang. Biarkan panas di tubuhmu menguap, Zara," Indra sedang menghafal ilmu kesehatan yang sudah dia hafal di luar kepala.


"Begitu aku memakan obatku, demamku juga akan hilang, Ndra. Jadi biarkan seperti ini dulu, atau kau akan melihatku membeku," sergah Zara, tak juga mau mendengar nasihat yang dikatakan Indra.


"Dasar keras kepala," Indra menggerutu.


"Bukankah itu yang kau suka dariku?" benar saja, Zara masih menyahut perkataan Indra.


Begitulah cara mereka menunjukkan cinta mereka. Berdebat dalam kata, tapi saling berkorban dalam menunjukkan cinta.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2