METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Senja Tak Seindah Biasanya


__ADS_3

Hari itu, langit tak lagi mendung. Walau kini mulai menjingga, namun entah kenapa senja itu tak lagi nampak indah di mata seluruh penghuni kota.


Bagaimana tidak? Kini mereka tak mampu menagih janji kepada senja untuk selalu membawa rasa bahagia. Karena nyatanya, hati mereka semua saat itu sedang gelisah melihat siaran langsung pembebasan Arania Levana yang ditayangkan beberapa TV Nasional dan TV lokal yang kini mengikuti rombongan Ryan dan aparat keamanan dengan begitu tegangnya.


Mama Davina yang sudah di telphon Ryan untuk tenang, tetap tidak bisa menahan air mata jatuh di pipinya. Begitu pula dengan Papa Prabu dan Mama Titania, seolah melupakan kesedihan mereka akan kepergian Azzura, karena kini yang ada di benak mereka hanya keselamatan menantunya.


Sementara itu, para nasabah Era Bank yang sedari tadi berorasi di depan gedung Dewan, memutuskan untuk tetap bertahan meskipun kini mereka duduk diam sambil memanjatkan permintaan mereka kepada Sang Pencipta untuk keselamatan Rani dari penyekapan, yang mereka ketahui setelah Ketua Dewan keluar di tengah-tengah kerumunan demonstran dan mengabarkan berita tentang Rani yang kini di sekap dan dalam proses penyelamatan.


Hal tak jauh berbeda juga terjadi di dalam Gedung Dewan. Empat puluh empat anggota berkumpul dalam satu ruangan, melihat *live r*eport TV Nasional yang sedang menayangkan perjalanan tim menjelang detik-detik penyelamatan rekan mereka, yang menjadi korban karena mempertahankan idealismenya dalam menjalankan tugas-tugasnya.


***


Di sebuah gedung tua tempat Rani berjuang untuk hidupnya, langit itu tak lagi terlihat penuh warna. Senja yang semakin menjingga bahkan kini menjadi babak baru dalam melawan segala takut yang sungguh menyeruak dalam hatinya.


Ruang yang semakin gelap, membuat pikirannya berkelana seolah tak lagi ada harapan yang bisa membawa dirinya keluar dari sana.


Rani mulai frustasi. Ketakutannya akan gelap membuat dia tak bisa berpikir jernih lagi.


"Ya Allah, jika ini adalah akhir dalam hidupku, ambillah nyawaku tanpa rasa takut menyelimuti jiwaku," gumamnya dalam hati.


Rani memejamkan matanya. Semua episode hidupnya kini muncul dalam benaknya bagai slide yang di putar di layar kaca.


"Aku bahkan belum memberitahukan kepadanya bahwa aku mencintainya," batinnya, saat wajah Ryan berputar-putar dalam memorinya.

__ADS_1


Hingga ketika Rani mulai pasrah dengan apapun yang akan terjadi padanya, tiba-tiba deru mobil terdengar di gendang telinganya. Suara itu terdengar jauh, kemudian semakin dekat dan akhirnya terdengar begitu jelas. Rani melihat celah-celah tembok yang retak itu menangkap cahaya lampu mobil yang segera dibiaskan dan masuk hingga membuat ruang gelap itu menjadi sedikit terang.


Deru mobil pun terdengar lagi dan lagi seperti banyak yang datang silih berganti. Tak lama setelah itu, derap kaki yang teratur terdengar semakin mendekat.


Ketika sebuah cahaya mulai masuk dalam lorong panjang yang masih berada jauh di hadapannya, Rani kembali menejamkan mata. Karena menurut hatinya, ada dua kemungkinan yang harus dia terima. Kemungkinan pertama mereka yang datang adalah orang-orang yang akan menyelamatkannya, sedangkan kemungkinan keduanya mereka adalah orang yang telah menyekap dan akan menyakitinya.


Derap kaki itu pun kini terasa semakin dekat di telinganya, namun Rani semakin memejamkan mata karena tak kuat jika yang datang adalah kemungkinan kedua.


Hingga akhirnya, terdengar suara orang yang sangat dirindukannya. Seperti mimpi, memang. Tapi semua itu terdengar sungguh nyata.


"Sayang!" terdengar dengan jelas suara Ryan memanggil Rani, dari arah lorong gelap yang semakin lama terasa semakin mendekat.


Rani membuka mata dengan binar bahagia melihat Ryan berlari menghampirinya. Seketika, rasa takut yang sedari tadi menghinggapinya pun hilang tanpa sisa. Rasa perih pada tangannya yang terluka juga menjadi tak terasa. Namun tiba-tiba, ada benda berat yang terjatuh di atas kepalanya hingga semua menjadi gelap dan Rani tak lagi bisa merasakan apa-apa.


***


"Kita tidak punya waktu lagi. Di dalam sana kita belum bisa memastikan kondisi istrimu seperti apa. Ayolah," Arya berdiri di samping Ryan dan berbisik kepadanya, seolah tahu apa yang saat itu ada di benak tuannya.


Ryan pun membiarkan laki-laki itu berjalan di depannya dengan tangan yang sudah di borgol aparat, kemudian mengikutinya berjalan ke arah sebuah ruang dimana Rani ditempatkan. Aparat dengan senjata lengkap terlihat sudah bersiap, begitu juga anak buah Ryan ikut siaga demi berjaga-jaga barangkali banyak musuh di dalam sana. Tak ketinggalan, awak media sudah pasang kuda-kuda di belakang dengan peralatan lengkap mereka demi mengabadikan moment spesial yang jarang mereka dapatkan.


Detik-detik itu begitu menegangkan. Mereka melewati sebuah lorong gelap yang sangat panjang, hingga akhirnya terlihat sosok wanita yang mereka cari di salah satu sudut ruang, dengan mata terpejam. Tangan dan kakinya terikat pada sebuah kursi tua yang tampak begitu menyedihkan.


Ryan membelalakkan matanya. Segala rasa berkecamuk dalam dadanya, antara senang dan benci bercampur dan menyeruak di dalam dada.

__ADS_1


"Sayang," panggil Ryan melihat orang yang sangat dicintainya benar-benar ada di hadapannya.


Ryan segera berlari menghampiri wanitanya itu, berharap bisa segera melepas tali dan memeluknya. Namun sebelum Ryan sampai disana, tiba-tiba sebuah kayu panjang jatuh dari atap dan mengenai kepalanya.


"Sayang!" Ryan berteriak, melihat Rani pingsan seketika.


Tangisnya pun tak tertahan ketika melihat darah yang mengucur dari keningnya.


"Ran! Bangunlah, Sayang. Maafkan Mas karna datang terlambat. Mas mencintaimu. Kamu dengarkan? Mas mencintaimu. Bangun sayang, Mas mohon bangun...," ucapnya dengan tegang, sambil menepuk-nepuk pipi Rani yang belum juga tersadar.


Arya yang melihat tuannya terus memeluk istrinya namun tak kunjung melepas lilitan tali di tubuhnya itu pun akhirnya menghampiri mereka dan segera melepaskan tali yang melilit di tangan dan kaki nonanya kemudian hendak mengangkatnya, namun Ryan menghentikan Arya dan mengangkat tubuh istrinya dengan tangannya sendiri.


Tanpa mempedulikan semua kamera yang saat itu mengarah kepadanya, Ryan terus berjalan menuju mobilnya tanpa mengalihkan pandangan pada wanita yang akhirnya bisa dipeluknya setelah sepanjang hari hilang entah apa saja yang sudah terjadi padanya di sebuah gedung tua.


"Jangan ambil dia, Ya Allah. Bahkan aku belum sempat bilang kepadanya secara langsung kalau aku sungguh mencintainya," guman Ryan dalam hati.


Mobil Ryan pun segera melaju menuju rumah sakit, dengan kemudi di bawah kendali Arya, sementara Ryan duduk di kursi penumpang memangku istrinya yang belum juga tersadar dari pingsannya.


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2