METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Siapa Pengkhianat Itu?


__ADS_3

Di ruang kerja Ryan, semua sedang sibuk berkutat dengan laptop masing-masing. Baik Johan, Rudi, Indra, Arya maupun Zara, semua menampakkan wajah serius juga tegangnya.


Rudi yang sudah berhasil mendapatkan data perusahaan Hengky, segera mendekat ke arah Zara dan memberikan flashdisk-nya.


"Mari kita lihat satu persatu apakah ada dua orang itu dalam perusahaan keluarga Atmaja," ucap Rudi sambil duduk di sebelah Zara.


Zara hanya mengangguk sambil menancapkan flashdisk itu ke dalam laptopnya. Setelah file terbuka sempurna, Rudi pun menampilkan wajah dan datanya satu per satu untuk dilihat Zara.


"Apakah dia?" tanya Rudi, disahut gelengan kepala Zara.


"Kamu klik saja terus, tak usah mengkonfirmasinya satu per satu. Setiap kau meng-klik-nya aku akan melihatnya, dan jika satu atau dua di antara mereka cocok dengan wajah salah seorang di file itu, aku akan mengatakannya," ucap Zara tegas.


Rudi pun hanya mengangguk dan sama sekali tak protes dengan permintaan Zara. Dia tahu, gadis muda yang kini sedang bersamanya itu ingin mereka kerja cepat hingga dua orang itu bisa mereka temukan dalam waktu yang tidak lama.


"Tak ada satu pun diantara mereka yang cocok dengan dua orang yang bertemu dengan Tuan Felix semalam," cicit Zara begitu menyadari bahwa sampai file yang di sodorkan Rudi habis, tak ada satu pun wajah yang cocok dengan wajah yang sedang dicarinya.


"Baiklah, kita lihat apakah mereka ada di dalam file-ku," kini Johan yang mendekati Zara, dan langsung menancapkan flashdisk-nya untuk menunjukkan file berisi data karyawan di perusahaan induk Daniel.


Zara pun melihatnya dengan seksama satu per satu, tapi tak ada juga wajah yang sedang dicarinya ada di sana.


"Sudah dua perusahaan kita periksa, dan dua orang itu tak ada di sana. Jadi kemungkinan besar, mereka ada di Dewangga Group dan memegang peranan penting di sana," ucap Johan, yang diikuti sebuah anggukan dari kepala Rudi.


"Baiklah, kalau begitu kita lihat file-ku sekarang," Indra mengambil giliran untuk duduk di samping Zara dan menancapkan flashdisk-nya di laptop Zara.


"Oke kalau begitu, kami para senior keluar dulu. Perut kami sudah tak sekuat perut anak muda seperti kalian, jadi biarkan kami makan siang terlebih dahulu, kalian menyusul jika sudah selesai mengkonfirmasi file milik Indra itu," ucap Rudi sambil memberi isyarat kepada Arya dan Johan untuk keluar meninggalkan Indra dan Zara hanya berdua di dalam ruangan.


"Setuju. Kalian masih tahan kan?" Arya yang bisa menangkap isyarat yang diberikan Rudi menimpali, sementara Johan justru langsung keluar tanpa Indra dan Zara memberi jawaban.


Indra dan Zara yang sedang fokus pada file yang sudah berada di hadapannya itu pun hanya mengangguk secara bersamaan, dan sama sekali tak mengalihkan pandangan dari layar datar yang kini mulai menampilkan wajah dan data orang per orang.


"Apa kau benar-benar masih mengingat wajah mereka, Zara?" Indra berkomentar, mendapati Zara yang belum juga menemukan wajah yang cocok dengan orang yang sedang dicarinya.


"Anda sedang meragukan saya, Tuan?" Zara bersungut kesal, tapi tak mengalihkan pandangan dari foto-foto yang sedang Indra tayangkan.


"Bisa jadi, bukan karena tak ada seorang pun wajah yang cocok dari dua perusahaan yang telah kau putar tadi, tapi karena kau yang tak mengingat wajah mereka kan?" ejek Indra sambil terus meng-klik foto-foto dan data lengkap karyawan perusahaan keluarga Dewangga.


"Saya tidak amnesia, Tuan," ketus Zara.


Seperti biasanya, gadis itu selalu geram dengan tingkah Indra yang selalu membuatnya tak bisa tenang. Setelah perlakuan lembut Indra semalam, awalnya Zara mengira jika Indra tak kan lagi menyebalkan. Tapi tetap saja Zara merasa bahwa pria yang kini berada di sampingnya itu masih saja tak berubah dan selalu membuatnya kesal.


"Siapa juga yang bilang kau amnesia? Aku hanya bilang jangan-jangan kau tak mengingat wajah mereka," sahut Indra tanpa mau memandang wajah kesal Zara. Yang jelas, semakin Zara kesal kepadanya, Indra justru semakin menikmatinya dan ingin selalu membuat gadis itu bertambah kesal kepadanya.


"Tak ingat berarti lupa kan? Orang yang lupa dengan wajah seseorang padahal baru bertemu semalam, namanya apa kalau bukan amnesia?" Zara menggerutu. Ingin rasanya Zara segera pergi dari samping pria itu, tapi rasa penasarannya pada dua orang misterius yang telah mengkhianati Ryan Dewangga, mengalahkan rasa kesalnya pada pria yang telah membuatnya semalaman tak bisa memejamkan mata.


"Ini dua orang terakhir Zara, jika bukan mereka berdua, kita benar-benar harus mengevaluasi kerja kita berdua selama beberapa hari terakhir ini," kata Indra sambil menatap layar laptop di depannya.


"Hmmm," sahut Zara singkat.


"Apakah dia orangnya?" tanya Indra sambil memperlihatkan foto dan data pribadi seseorang.

__ADS_1


"Bukan," Zara menggeleng kuat-kuat.


"Bagaimana dengan dia?" Indra menunjukkan orang terakhir di dalam file-nya.


"Tidak. Tidak juga orang itu," Zara kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu jangan main-main, Zara. Sudah semua data kami tunjukkan kepadamu, masa tak ada seorang pun yang cocok dengan wajah dua orang itu. Jika begini, hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama kau benar-benar sudah amnesia, kemungkinan kedua, orang itu bukan berasal dari dalam perusahaan," Indra mulai frustasi, dan membayangkan bahwa misinya akan gagal kali ini.


"Tidak, Tuan. Saya betul-betul masih mengingat mereka dan yakin kalau keduanya adalah orang dalam perusahaan yang berkhianat kepada Tuan Ryan," kekeh Zara, tak mau mengiyakan tuduhan Indra kepadanya.


"Ayolah, Zara. Bantu aku. Aku harus berhasil dalam misi ini, agar kakakku bisa terlepas dari janji setia itu dan hidup bahagia bersama suaminya," lirih Indra, hampir tak terdengar oleh telinga Zara.


"Maksud Anda Tuan?" tanya Zara tak mengerti.


"Huh, bukan saat yang tepat untuk bercerita kepadamu tentang masalahku, Zara. Sekarang kita harus memikirkan apa langkah yang akan kita ambil. Jika tak ada seorang pun dari karyawan perusahaan yang cocok dengan wajah dua orang yang bertemu dengan Felix Adinata, pekerjaan kita semakin berat Zara. Karena mungkin mereka kerja secara hidden dan melibatkan orang luar agar ulah mereka takkan terekam," Indra beranjak dari duduknya dan beralih ke atas sofa panjang, untuk merebahkan tubuhnya. Zara yang kini duduk di lantai dengan sebuah laptop yang masih menyala di atas meja pun hanya bisa memandang wajah sedih Indra dengan hati yang masih penuh tanda tanya.


"Apakah Anda yakin tak ada seorang pun yang terlewat dari data ini, Tuan?" tanya Zara, tanpa mengalihkan tatapannya kepada Indra.


"Apa maksudmu? Kau meragukan aku?" Indra tiba-tiba terduduk dan menatap Zara dengan tatapan tajamnya.


"Bukan begitu, Tuan Indra. Bisa saja Anda tidak memasukkan data-data karyawan yang Anda nilai tidak mungkin berkhianat, karena dia orang terdekat Tuan Ryan atau orang kepercayaannya mungkin," ucapan Zara membuat Indra berpikir keras dan mencerna setiap perkataannya.


"Aku berada di dalam perusahaan itu baru beberapa kali saja, Zara. Tapi ..., Ohh my God," Indra tiba-tiba meraih handphone miliknya dan memperlihatkan sebuah foto profil WA kepada Zara.


"Apakah dia orangnya?" tanya Indra sangat serius.


Zara mengambil handphone itu dari tangan Indra, dan melihat wajah seorang wanita cantik dari layar benda pipih itu dengan seksama. Sesaat, Zara hanya terdiam sambil menatap wajah Indra dengan dalam.


"Tidak salah lagi, Tuan. Perempuan ini adalah perempuan yang semalam," ucap Zara sambil mengangguk pelan.


"Ini sungguh tak mungkin," Indra mengepalkan tangannya.


"Apa maksudnya tak mungkin, Tuan? Anda menuduh saya membohongi Anda?" Zara mengeraskan suaranya.


"Bukan, Zara. Aku hanya tak habis pikir dengan apa yang diperbuatnya. Tak seharusnya dia berkhianat kepada majikan yang sudah begitu mempercayainya dan memberikan keleluasaan kepadanya untuk bekerja," Indra mulai memijit-mijit pangkal hidungnya.


"Lalu pria itu? Apakah selain perempuan itu masih ada orang lain yang belum Anda tunjukkan kepada saya, Tuan?" tanya Zara, sambil memandangi wajah perempuan itu lagi dari layar ponsel yang masih dipegangnya.


"Tak ada lagi, Zara. Kemungkinan perempuan itu mengajak seseorang dari luar perusahaan," tebak Indra dengan mantap.


"Anda yakin, Tuan?"


"Kau me ...,"


"Tidak, Tuan. Tidak. Saya tidak meragukan Anda," Zara yang sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan Indra pun langsung memotong ucapan Indra.


"Hmmm," Indra menganggukkan kepalanya pelan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan?" tanya Zara dengan begitu polosnya.

__ADS_1


"Sore nanti Tuan Ryan dan Tuan Daniel akan melihat kerja kita hari ini, dan mengatur strategi. Kita laporkan temuan kita kepadanya sore nanti. Sekarang, makanlah duluan. Aku akan membereskan ini dulu," cicit Indra, sambil mematikan beberapa laptop di hadapannya.


"Saya menunggu Anda saja, Tuan. Kita bereskan ini dulu baru kita bisa makan secara bersama-sama," sahut Zara, sambil membantu Indra membereskan alat-alat yang masih berserakan di atas meja.


Begitu semua tertata rapi di tempatnya, Indra pun keluar dari ruang kerja Ryan diikuti Zara dari arah belakang. Begitu mereka keluar, mereka melihat Johan, Rudi dan Arya justru sedang duduk bersantai di ruang keluarga kediaman Dewangga dengan kopi dan aneka gorengan di atas meja.


"Cih. Kalian malah bersantai-santai di sini," celetuk Indra, sambil melewati mereka bertiga dan menuju ke meja makan untuk makan siang yang sudah bisa dibilang sudah melewati jamnya itu.


"Dasar tak tahu berterima kasih. Kami itu memberikan kesempatan kepada kalian untuk berdua saja tau?" Rudi yang sedikit banyak tahu kalau ada yang tidak beres dengan perasaan Indra terhadap Zara pun sengaja mengucapkan itu setengah berseru.


"Untuk apa? Toh meski kami hanya berdua, takkan terjadi apa-apa," sahut Indra sambil menghentikan langkahnya.


"Bagaimana kalian tahu, jika saat kalian berdua tak akan terjadi apa-apa? Apakah sebelum ini kalian sudah sering berduaan saja?" Johan yang selalu tak peduli dengan urusan orang lain, kini berinisiatif untuk membantu Rudi mengerjai Indra.


Indra yang mendengar ocehan Johan, tiba-tiba terdiam. Ingatannya kembali pada apa yang dia lakukan semalam. Tak jauh berbeda dengan Indra, Zara yang sedari tadi mendengarkan keempat pria itu berperang mulut pun jadi teringat dengan ciuman pertamanya yang telah Indra renggut dengan cara membabi-buta.


"Kenapa kalian terdiam? Wajah kalian juga berubah menjadi merah padam. Agaknya apa yang kukatakan memang benar ya? Ha-ha-ha-ha," Rudi terkekeh, diikuti Johan dan Arya yang juga tertawa dengan ucapan Rudi yang semakin membuat wajah Indra dan Zara merah merona.


"Tertawa saja sepuasnya. Kami tak melakukan seperti apa yang kalian kira," sanggah Indra, tanpa mau melihat wajah ketiga seniornya.


"Memang menurutmu, kami ini berpikir kalian sudah melakukan apa?" Rudi tak puas-puasnya terus menggoda.


Indra yang sudah mati kutu pun tak menjawab lagi pertanyaan Rudi yang terus memancingnya. Dia justru mengambil beberapa makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, dan memakannya bersama Zara dalam diam.


Usai makan siang, Indra dan Zara pun bergabung di ruang keluarga bersama ketiga senior mereka.


"Apakah kalian sudah menemukannya?" Arya bertanya serius ke arah Indra dan Zara.


"Hmmm," Indra dan Zara mengangguk bersamaan.


"Tuh kan? Kompak banget berdua," oceh Rudi, yang sukses membuat Indra memelototinya.


"Ampun. Ampun. Ampun. Berhadapan dengan orang yang sedang jatuh cinta memang sungguh berbahaya. Dia bisa berubah menakutkan seperti seekor singa jantan," Rudi tak henti-hentinya hingga sebuah bantal pun mendarat dengan manis di mukanya.


"Rasain tuh," cicit Indra setelah melempar bantal itu ke muka Rudi.


"Benar kan, jadi galak. Tak salah lagi ini. Pasti anak muda yang satu ini sedang jatuh cinta hingga berubah jadi segalak ini. Dengan seniornya lagi," Rudi tak juga puas membuat wajah Indra semakin merah lagi.


"Sudah, sudah. Kalian ini sudah seperti kucing sama tikus saja. Yang waras ngalah," Arya memutuskan untuk menjadi penengah keduanya.


"Kembali ke dua nama itu. Apakah benar mereka adalah orang dalam perusahaan?" tanya Arya serius, diikuti wajah kelima orang di tempat itu yang mendadak berubah menjadi ikut serius.


"Hanya satu orang yang kami temukan. Satu orang lagi kemungkinan bukan orang dalam," jawab Indra datar.


"Perempuan atau laki-laki?" Rudi menimpali.


"Seorang perempuan yang begitu kalian kenal ternyata adalah pengkhianat perusahaan. Prediksi kami, dia bekerjasama dengan satu orang dari luar, untuk memuluskan semua rencana yang sudah dia jalankan," jelas Indra, membuat ketiga seniornya memandangnya dengan penuh tanda tanya besar.


"Siapa pengkhianat itu?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2