METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bukan Sekedar Kata


__ADS_3

Zara memandang wajah Indra dengan lekat. Matanya yang masih tertutup rapat, membuat bibirnya yang membiru semakin menambah wajah putihnya menjadi terlihat pucat.


Indra, si tuan narsis yang biasanya bersikap arogan, namun tetap datar dan selalu terlihat dingin di permukaan, ternyata menyimpan kasih sayang yang teramat besar. Hatinya lembut, walau pembawaannya sering tak patut. Jiwanya penuh cinta, walau mulutnya sering asal bicara.


Dan untuk yang kesekian kalinya, Zara merasa lelaki itu sedang berkorban untuknya. Setelah kejadian di danau yang membuat Indra hampir kehilangan nyawanya demi menyelamatkan dirinya, kini hal yang sama Indra lakukan saat Felix berusaha membawanya.


Haruskah pengorbanan selalu menjadi bukti cinta mereka? Nyatanya seperti itulah versi cinta dalam drama kehidupan Zara dan Indra. Ya, cinta mereka bukan sekedar kata atau rangkuman tutur sapa, tapi menjadi jembatan bagi perjalanan jiwa sepanjang nafas mereka.


"Terima kasih karena selalu ada untukku," Zara menggenggam jemari Indra dan memeluknya, sebelum mata lelahnya terkatup dan Zara terlelap begitu saja.


Satu jam kemudian, Indra membuka matanya secara perlahan. Cahaya lampu dari arah langit-langit ruang perawatan itu, membuat Indra sedikit menyipitkan matanya agar bisa menyesuaikan dengan bias sinar yang menyilaukan. Bahkan, Indra harus berkali-kali mengerjabkan netranya, sampai indra penglihatannya itu bisa beradaptasi betul dengan sinar terang yang tersebar ke seluruh penjuru ruang.


Indra berusaha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Netranya menangkap warna serba putih dari seluruh dinding, membuat otaknya langsung berputar dan menyimpulkan bahwa kini dia telah berada di rumah sakit.


Seketika, ingatannya pun langsung kembali pada kejadian mengerikan semalam, dimana dua wanita yang sungguh ingin dia lindungi, hampir menjadi korban kebiadaban Felix yang masih menjadi misteri, dimana keberadaannya saat ini.


Ya, Rani dan Zara adalah dua wanita yang akan dia dilindungi dengan segenap jiwa dan raganya, selain ibu dan kakaknya. Karena kepada Rani dan anak keturunannyalah dia sudah mengucap janji setia, sementara pada Zara, dia telah melabuhkan hati dan cintanya.


Sedetik kemudian, Indra merasakan tangannya yang sedikit berat. Ketika dia periksa apakah gerangan yang membuat dia merasa ada beban yang menindihnya, senyum Indra pun langsung tersungging dengan manis dari bibirnya. Ternyata gadis cantiknya sedang tertidur, dalam posisi duduk dengan kedua tangan yang melingkar, dan kepala yang menindih tangannya.


"Zara ..., Sayang ...," panggil Indra lirih.


Indra memandang kepala Zara yang masih menunduk di atas tempat tidurnya, dengan tatapan penuh makna. Kristal bening di ujung matanya pun semakin penuh menggenangi mata, mengingat kegigihan kekasihnya hingga semalam Zara bisa menemukannya. Jika bukan karena keyakinan dan kuatnya tekad Zara untuk menemukannya, sudah pasti saat ini Indra sudah mengambil nafas terakhirnya.


"Zara ..., Zara ...," panggil Indra sekali lagi. Dia merasakan tangannya yang kini masih berada dalam genggaman Zara terasa sangat panas sekali.


Merasa ada yang memanggilnya, Zara langsung terkesiap dan segera mendongakkan kepalanya, hingga matanya pun akhirnya bertemu mata dengan pria yang kini sedang sangat dikhawatirkannya.


"Indraaaa ...," air mata Zara tumpah. Dia langsung beranjak dari duduknya dan mendekap erat tubuh kekasihnya begitu saja, tanpa ingat jika Indra sedang terluka.


"Aaagggt," Indra berteriak cukup kencang, hingga Zara pun langsung menyadari kesalahannya.


"Sakit, Zara," Indra masih meringis meskipun Zara sudah melepaskan pelukan eratnya.


"Maaf. Aku hanya ..., hiks..., hiks ..., hiks ...," Zara menangis seketika.


"Hanya apa?" lirih Indra sambil memberi isyarat kepada gadis itu untuk kembali memeluknya. Tanpa pikir panjang, Zara pun segera menghambur ke pelukan Indra dan menangis sejadi-jadinya.


Sungguh, merupakan hal yang tak biasa jika Zara sampai menangis di depan orang lain, karena biasanya Zara akan berusaha untuk menutup rapat apapun yang menjadi titik lemahnya.


"Aku takut kau akan pergi dan membuatku seorang diri lagi di dunia ini. Kau sudah membuatku takut, Ndraa ..., hiks ..., hiks ..., hiks ...," Zara semakin tergugu.


Hari itu, dia sudah tak peduli apa-apa lagi. Persetan dengan gengsi dan harga diri yang begitu dia junjung tinggi selama ini. Yang dia inginkan sekarang hanya satu, menumpahkan semua kegalauan di hatinya pada satu-satunya pria yang sangat dia cintai itu.


Mendengar tangis gadisnya yang begitu sendu, Indra langsung membelai lembut kepala Zara, kemudian menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Ya, kali ini Indra menatap dengan lekat wajah gadis itu, tanpa mau mengalihkan pandangannya dari titik yang dia tuju.


Selama beberapa saat, mereka saling pandang dan menyelami kedalaman mata masing-masing. Di sanalah aliran cinta keduanya terpancar tanpa ada satu kebohongan pun yang tersiratkan.

__ADS_1


Namun saat sedang manis-manisnya mereka saling pandang, tiba-tiba Indra mengerutkan dahinya dan memandang Zara dengan tatapan anehnya.


"Apa kau sakit, Zara?" Indra meletakkan tangannya tepat di kening Zara dengan nada begitu khawatir. Dari kening, dia kemudian meraba seluruh bagian wajah juga leher gadisnya.


"Aku tidak sakit," Zara menjauhkan wajahnya yang saat itu berada tepat di atas wajah Indra, kemudian kembali duduk di sebuah kursi yang terletak di samping ranjang pesakitan dimana Indra terkapar.


"Tapi badanmu panas, Sayang," ucap Indra sambil menahan sakitnya.


"Aku tak apa-apa, Ndra. Aku hanya perlu istirahat saja," Zara mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Lihat aku!" titah Indra datar.


Zara masih tak bergeming.


"Aku bilang, lihat aku, Zara," Indra mengulangi ucapannya, kali ini Zara menurutinya.


Indra menatap Zara dalam-dalam. Wajah gadis Itu terlihat sangat pucat. Apalagi tak ada make up satu pun yang memoles wajah itu, membuat lingkar hitam di matanya, juga warna putih kebiruan di bibirnya terlihat dengan begitu jelasnya.


"Kau harus di rawat, Zara. Aku tahu kau tak sedang baik-baik saja," Indra kembali pada mode otoriter seperti yang biasa dia tunjukkan kepada Zara.


"Buat apa aku di rawat, jika obat untuk sakitku ada di hadapanku," Zara tak ingin berpanjang lebar dengan Indra. Dia berbicara sesuatu yang romantis, tapi tak ingin menunjukkan kesyahduan suasana diantara mereka berdua. Hingga setelah mengucapkan itu, Zara justru beranjak ke sofa dan langsung merebahkan diri di sana.


"Zara, aku belum selesai bicara," protes Indra, tapi sayang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi tiga bekas luka operasi sekaligus di tubuhnya. Bahkan selain bekas operasi di paru-parunya yang membuat dia agak sulit bicara, tulang di kedua kakinya pun patah sehingga dia tidak bisa kemana-mana.


"Obat dari sakitku adalah, ketika aku melihat kau sembuh dari sakitmu. Jadi beristirahatlah, aku akan beristirahat di sofa ini agar tetap bisa menjagamu," Zara memandang sekilas ke arah Indra, kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut yang berada di atas sofa, sebelum akhirnya dia memejamkan mata.


Tapi bukan Zara jika tak bisa menyembunyikannya. Baginya, saat ini memulihkan kesehatan Indra adalah hal yang paling utama.


Namun karena kondisi Zara yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya, Zara yang awalnya hanya ingin berpura-pura tidur agar Indra tidak terus menanyainya, justru benar-benar tidur tanpa bisa dia halau agar tetap terjaga.


Indra yang melihat betapa lelahnya Zara setelah mencari dirinya di dalam hutan seorang diri, ditambah semalaman yang memilih tak tidur karena harus menjaganya, membiarkan gadis itu memejamkan mata dalam lelapnya.


Indra pun kembali mengatupkan matanya, karena rasa kantuk yang hilang timbul setelah beberapa saat yang lalu efek biusnya hilang dari tubuhnya. Tapi rasa nyeri di kakinya yang luar biasa, membuat Indra tak bisa lagi tidur dengan begitu mudahnya. Hingga saat itu, Indra memilih untuk bermain dengan sebuah remote control, sebelum akhirnya TV di depannya menyala setelah tombol power berwarna merah, Indra tekan dengan sempurna.


"Jika tak sakit, mana sempat aku menonton acara TV seperti ini," gumam Indra dalam hati.


Indra pun terlihat menikmati beberapa tayangan televisi. Dia terus menekan tombol demi tombol remote control di tangannya, dan sibuk memindah dari satu channel ke channel yang lainnya, saat acara TV yang dia suka harus terjeda dengan iklan yang sungguh membuatnya kesal.


Namun saat Indra begitu larut dengan tayangan yang sedang dilihatnya, tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara-suara aneh yang bersumber tak jauh dari tempat dia berada. Indra mencoba menoleh ke arah Zara, ternyata benar. Suara aneh itu memang muncul dari mulut Zara, yang sedang mengigau dengan kata-kata tak jelas hingga lebih mirip seperti orang yang sedang menceracau.


"Zara! Zara! Bangun! Apa kau bermimpi?" panggil Indra, bermaksud membangunkan Zara.


Dari tempat tidur Indra saat ini, Zara terlihat begitu tersiksa dengan sesuatu yang terjadi di dalam mimpinya, namun Zara tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dalam kondisi seperti itu, seharusnya Zara dibangunkan dengan cara digoyang-goyangkan tubuhnya. Namun karena kondisi Indra yang benar-benar tak mungkin untuk melakukannya, akhirnya Indra memilih untuk memanggil nama Zara dari ranjang pesakitannya.


"Zara! Zara!" panggil Indra lagi, namun tak ada respon apapun dari Zara.


Mulutnya terus menceracau tak jelas, bahkan kini tubuhnya terlihat menggigil, dengan wajah yang terlihat semakin pucat saja.

__ADS_1


"Zara! Kau kenapa?" Indra semakin tegang melihat kondisi kekasihnya. Dia berusaha untuk bangun, tapi sia-sia. Dia terus memanggil nama gadisnya, tapi percuma. Karena Zara seolah semakin hilang kesadarannya.


Hingga akhirnya, Indra memencet sebuah tombol berwarna merah yang terletak tepat di atas kepala ranjang yang ditidurinya. Ya, itu adalah tombol nurse call yang merupakan bel pemanggil perawat, sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan suatu pesan otomatis ketika tombol pemanggil tersebut di tekan oleh seseorang baik itu pasien, ataupun keluarga yang sedang menungguinya.


Bersamaan dengan seorang perawat yang langsung masuk dengan tergesa-gesa, masuk pula para pengawal yang berjaga di depan ruang perawatan Indra. Bahkan ketika mereka semua masuk, mereka langsung memeriksa seluruh sudut ruang, sebelum mereka mendengar apapun penjelasan dari mulut Indra yang akan dia katakan. Indra pun memilih diam dan santai menanggapi kelakuan mereka, karena dia harus menghemat energi untuk saat ini.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? Apa ada yang sakit atau hal lain yang Anda butuhkan?" tanya perawat itu dengan sopan. Dia betul-betul tahu, dengan siapa kini dia sedang berhadapan.


"Bukan aku, Suster. Tapi calon istriku. Dia terus mengigau tak jelas. Tubuhnya pun seperti menggigil, belum lagi wajahnya yang terlihat sangat pucat. Dari tadi aku panggil tapi dia seperti kehilangan kesadarannya, Sus. Tolong periksa dia," ucap Indra dengan segala kegalauannya.


Perawat itu pun mendekati Zara, dan segera meletakkan telapak tangannya di keningnya.


"Dia demam tinggi, Tuan. Kita harus segera melakukan penanganan kepadanya sekarang," perawat itu memandang Indra dengan sangat tegang.


"Bawa dia, Sus. Berikan perawatan terbaik untuknya," titah Indra sambil menatap anak buahnya yang sudah berada di dalam, juga suster itu satu per satu.


Perawat itu pun segera melakukan panggilan, hingga tak lama berselang, beberapa petugas medis dari IGD datang.


"Apa Anda masih bisa berjalan, Nona?" suster itu terlihat sedikit menggoyangkan tubuh Zara .


"Apa yang kau lakukan, Sus? Mana bisa dia berjalan sendiri dalam kondisi sakit seperti ini?" kesal Indra, membuat perawat itu hanya mengangguk-angguk saja.


Hingga akhirnya, tim medis yang menjemput dari IGD pun menghampiri Zara dengan ranjang pesakitan beroda yang mereka bawa.


Namun saat mereka akan memindahkan tubuh Zara, tiba-tiba terdengar suara Zara yang lirih, namun membuat mereka langsung mengurungkan niatnya.


"Turunkan aku," pinta Zara, hampir tidak terdengar karena saking lirihnya.


"Tapi Anda sakit, Nona. Setidaknya biarkan kami memeriksanya," sahut perawat itu takut.


"Aku tak apa-apa. Kalian pergilah," Zara kekeh menolak mereka.


"Periksa dia di sini saja, Suster. Untuk biayanya, kita menyesuaikan dengan prosedur yang ada," Indra akhirnya mengalah. Dia betul-betul tahu, seperti apa kerasnya pendirian gadis itu. Semakin dipaksa, Zara akan semakin melawannya.


Hingga atas permintaan Indra, semua pengawal akhirnya keluar. Suster dan tim medis yang didatangkan dari IGD pun ikut keluar, sebelum akhirnya seorang dokter dan seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Zara.


Merasa tak ada pilihan lain, Zara pun menurut saja. Bahkan ketika sang dokter meminta Zara berpindah dari sofa dan berbaring di sebuah tempat tidur khusus untuk penunggu pasien yang terletak tak jauh dari tempat tidur Indra, Zara sudah tak kuasa menolaknya. Waktu itu dia pun tahu, bahwa Zara butuh sesuatu yang bisa membawanya keluar dari situasi itu.


"Apa ada luka di tubuh Anda, Nona?" dokter itu menaruh curiga.


Zara tak menjawab. Dia melirik ke arah Indra sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Boleh kami periksa?" ucap dokter itu, membuat Zara terlihat ragu.


Namun karena dokter terus memaksa, akhirnya Zara menatap penuh pinta ke arah Indra. Indra yang waktu itu terus memperhatikan gadisnya saat sang dokter memeriksa kondisinya pun langsung tanggap dan memejamkan matanya, seolah ingin berkata bahwa Indra tak akan melihatnya.


Begitu Indra memejamkan mata, Zara pun memberi sebuah kode pada seorang perawat yang ada di dekatnya, dan membiarkan mereka menyingkap bajunya untuk melihat luka yang berada di tubuh Zara. Namun begitu dokter itu melihat kondisi zara, ekspresi kaget langsung saja bisa ditangkap oleh mata. Karena ternyata, luka Zara ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2