
Setelah dipastikan proses hukum selesai dan berkonsultasi dengan tim dokter yang menangani Meysie, Ega memutuskan untuk memboyong Meysie tinggal di Amerika bersamanya.
Tuan dan Nyonya Atmaja juga Hengky pun sama sekali tidak merasa keberatan dengan keputusan ini, mengingat keputusan Ega bukannya tanpa alasan. Semua demi menjaga agar Meysie bisa move on dari masa lalunya yang cukup kelam di kotanya.
Meysie pun dalam posisi tidak berdaya untuk mengungkapkan keberatannya. Dia cukup sadar diri, bahwa keputusan suaminya adalah demi kebaikannya. Setidaknya setelah semua yang terjadi, dia bisa terhindar dari jerat hukum saja sudah sangat dia syukuri.
Dari rumah sakit, Meysie memilih untuk langsung terbang ke Amerika tanpa kembali terlebih dulu ke rumahnya. Rupanya dia benar-benar ingin mengubur masa lalunya, bahkan tak ingin lagi melihat barang-barang yang terpajang di kamarnya karena sebagian besar adalah pemberian Ryan saat mereka masih bersahabat dan sama-sama kuliah di Amerika.
Makanya setelah menjenguk Tuan Atmaja di penjara sebentar, Meysie dan Ega langsung pergi ke bandara dan mengikuti jadwal penerbangan saat itu juga.
Hengky, Fisha dan Nyonya Atmaja melepas kepergian mereka dengan penuh cinta. Mereka terus bersyukur bahwa masalah demi masalah yang hadir dalam keluarga mereka akhirnya satu per satu selesai, walaupun tetap saja ada luka yang menganga yang mungkin tak kan pernah terlupakan begitu saja.
"Mama titip Meysie," ucap Nyonya Atmaja saat Ega berpamitan dengannya.
"Tentu, Ma. Ega akan bahagiakan dia," jawab Ega, kemudian berpamitan dengan Hengky dan Fisha.
Air mata Meysie pun tak tertahankan ketika harus berpamitan dengan adik dan ibunya. Tapi biar bagaimanapun, dia harus membuka lembaran demi lembaran baru dalam hidupnya, meski dia sendiri pun tak tahu apakah cintanya bisa tumbuh dan dia persembahkan untuk suaminya.
Your attention please, passengers of American Airlines on flight number AA-8498 to New York please boarding from door G12, Thank you.
Begitu terdengar announcement dari petugas bandara, mereka pun segera masuk dan naik ke pesawat yang akan membawa mereka menuju Amerika.
Ega berjalan beriringan dengan Meysie, dengan tak melepas genggamannya sama sekali. Meysie yang mendapat perlakuan seperti itupun tak berusaha untuk menolaknya, mengingat kini status mereka adalah suami istri.
Selama dalam perjalanan pun Ega terus memperlakukannya dengan lembut. Seperti janjinya, dia akan berusaha membuat istrinya itu jatuh cinta kepadanya. Dan kali ini, tidak ada kepura-puraan seperti ketika mereka sempat bertunangan dulu. Ya, karena semua sudah terbongkar. Dulu Meysie yang berpura-pura mencintai Ega dan menyetujui perjodohan mereka, telah terkuak begitu dia mendeklarasikan perasaan yang sebenarnya kepada Ryan Dewangga. Begitu juga dengan Ega. Ega yang berpura-pura selingkuh hanya demi kebahagiaan wanita yang teramat sangat dicintainya, kini sudah membuka semuanya dengan segala kejujuran dalam dirinya.
"Sini," Ega membuka dua tangannya, memberi tanda agar Meysie duduk dalam pelukannya.
__ADS_1
Meysie pun memaksakan senyumnya dan mengikuti perintah suaminya. Meski nuansa kecanggungan masih ada di antara mereka, tapi masing-masing mereka sudah berniat untuk saling menyesuaikan diri dan belajar saling berbagi seperti layaknya seorang suami istri.
"Selama beberapa hari, kita akan tinggal di hotel, Sayang. Karena rumah baru kita belum selesai di renovasi," ucap Ega sambil membelai rambut panjang Meysie yang kini sedang bersandar di bahunya.
"Kenapa kita tidak tinggal di apartemen Abang saja?" Meysie melihat ke arah suaminya.
"Bukankah kita sudah bersepakat untuk meninggalkan masa lalu? Aku tidak mau kau mengingat sandiwara perselingkuhan itu jika kita tinggal di sana. Karena itu aku sudah siapkan rumah baru untuk kita," Ega menampakkan barisan giginya yang rapi. Senyumnya begitu tulus, walaupun dia benar-benar tahu bahwa hati dan cinta Meysie belum menjadi miliknya sama sekali.
"Terima kasih, Bang," ucap Meysie sambil berkaca-kaca.
"Untuk?" Ega mengerutkan dahinya.
"Untuk semua pengorbanan Abang selama ini. Maafkan aku," kini bulir-bulir bening sudah mengalir di pipinya.
"Aku mencintaimu, Meysie. Apapun akan aku lakukan untukmu. Dan sampai kapan pun aku akan rela menunggu, sampai cinta itu tumbuh subur di dalam hatimu," sahut Ega sambil mengecup ujung kepala istrinya dengan penuh cinta.
***
Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, akhirnya mereka sampai juga di negara yang penuh kenangan. Ya, negara dimana mereka hidup dalam kepura-puraan saat mereka masih bertunangan. Dan kini, mereka kembali dengan begitu banyak perubahan.
"Langsung ke hotel ya, Pak," titah Ega pada sopir pribadi keluarga Rahardian.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang ke rumah papa dan mamamu dulu?" tanya Meysie, yang belum sempat bertemu mertuanya lagi pasca dia terbangun dari tidur panjangnya.
"Besok saja, Sayang. Kita langsung hotel biar kamu bisa istirahat," sahut Ega sambil meraih tangan Meysie dan menggenggamnya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di sebuah hotel mewah milik keluarga Rahardian. Karena ini adalah salah satu hotel yang dikelola Ega, maka begitu mereka menginjakkan kaki di sana, mereka sudah disambut oleh manajer hotel dan beberapa pelayan yang memang sudah berjajar khusus untuk menyambut mereka.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan. Dan selamat berbahagia untuk pernikahan Anda," ucap seorang manajer hotel sambil membungkukkan badannya.
Ega hanya mengangguk penuh karisma. Tak lama, dia menggandeng tangan Meysie mengikuti kemana langkah sang manager menunjukkan kamar mereka.
"Silahkan, Tuan," manajer itu membukakan pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Ketika mereka masuk, mata mereka segera dimanjakan oleh dekorasi mewah yang memenuhi seluruh sudut ruang. Ya, kamar itu sengaja di desain seperti kamar pengantin, lengkap dengan taburan mawar merah di atas tempat tidur, yang membuat hati Meysie semakin bergejolak tak menentu.
"Mandi dan istirahatlah," tiba-tiba Ega berbisik di telinga Meysie.
Meysie pun berubah menjadi gadis yang penurut sekarang. Walaupun dia harus berlama-lama di kamar mandi, untuk mengulur waktu.
"Mey, Meysie! Apa kau tak apa, Sayang? Kenapa kau lama sekali di dalam?" seru Ega sambil mengetuk pintu.
"Ya, sebentar," sahut Meysie spontan. Setelah dia menghela nafas panjang, akhirnya pun dia keluar.
Tapi alangkah kagetnya Meysie. Ketika dia membuka pintu, Ega sudah berada tepat di hadapannya.
"Tunggu Abang sebentar ya, Sayang. Abang mandi dulu," Ega mengecup kening Meysie kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Deg.
Hati Meysie berdesir kencang.
"Apakah dia akan meminta haknya sebagai seorang suami malam ini? Aku benar-benar tak bisa. Tapi bagaimana caraku menolaknya? Bukankah ini adalah bagian dari kewajibanku sekarang?" batin Meysie dalam hati.
Kini Meysie terduduk di tepi ranjang dengan gusar. Bahkan tangannya sudah asyik memilin-milin ujung gaun tidur yang dia kenakan karena begitu tegangnya. Apalagi ketika dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan melihat Ega keluar sambil tersenyum dan berjalan ke arahnya, dada Meysie benar-benar bergetar luar biasa.
__ADS_1
BERSAMBUNG