METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hengky dan Fisha (Part 1)


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Hengky Atmaja resmi menjabat sebagai Presdir Atmaja Group, sekaligus hari terakhir dia menjabat sebagai Anggota Dewan, karena hari ini juga surat pengunduran diri secara resmi sudah dia layangkan.


Tak seperti biasanya dimana dia bisa berangkat semaunya, kali ini Hengky berangkat pagi-pagi, karena pekerjaan di perusahaan sudah menumpuk akibat ayahnya yang kini kabur entah kemana. Untung saja ada Dio, asisten pribadi sang ayah yang aktif menghubungi Hengky untuk urusan perusahaan, sehingga Hengky tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan tugas dan tanggung jawabnya.


"Selamat pagi, Boss," ucap Dio begitu Hengky hendak masuk ke dalam ruang Presdir, bekas ruang kerja ayahnya.


Hengky hanya menganggukkan kepala, kemudian masuk ke ruang kerjanya dan duduk menghadap tumpukan berkas yang sudah menunggu sentuhan dan tanda tangannya.


"Tidak diperiksa dulu, Boss?" Dio mengingatkan.


"Aku percaya kepadamu, seperti halnya papaku yang sangat mempercayaimu," sahut Hengky sambil terus membubuhi berkas demi berkas di atas meja itu dengan tanda tangannya.


Setelah selesai, Hengky pun beranjak dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Matanya terpejam, sementara jari telunjuk dan ibu jarinya dia gunakan untuk memijit pangkal hidungnya demi sekedar menghilangkan penat yang dia rasakan.


"Untung ada Fisha di rumah sakit, jadi Mama tidak sendirian," batin Hengky dalam hati.


Dan sekelebat cerita Hengky dan Fisha semalam pun benar-benar membuat Hengky senyum-senyum sendiri.


***


Flashback


"Tapi dia tidak berniat menjodohkan aku denganmu kan? Gelagat Mama sungguh aneh hari ini," Hengky iseng bertanya untuk mencairkan suasana.


"Tuan, Anda bisa menolaknya. Saya sudah bilang sama Tante agar beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada Anda, Tuan. Saya pribadi sudah menyampaikan deretan alasan agar beliau mengurungkan niatnya. Tapi beliau kekeh ingin menjodohkan kita, Tuan. Maafkan saya," oceh Fisha sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi benar, Mama ingin menjodohkanmu denganku?" Hengky membulatkan matanya.


"Apa? Jadi Anda? mmm, maaf, Tuan. Lupakan saja perkataan saya. Saya hanya bercanda," menyadari bahwa ternyata Hengky belum tahu apa-apa tentang rencana ibunya, Fisha langsung memejamkan matanya dan berpura--pura tertidur.


End of flashback.


***


Hengky memejamkan matanya, setelah semalaman bertahan tanpa terpejam. Rasa lelah juga kantuknya yang tak tertahankan, membuat tidur adalah satu-satunya pilihan.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, melodi indah dari saku celananya berbunyi, menandakan benda pipih di dalam sana minta disentuh pemiliknya.


Sekilas, Hengky memandang nomor yang masuk tanpa mengangkatnya. Tapi begitu sebuah nama tertera di sana, dengan sigap Hengky langsung menerimanya.


"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Hengky.


"Wa'alaikumsalam, Nak," suara Nyonya Atmaja di ujung telepon terdengar begitu tegangnya.


"Mama kenapa?" Hengky masih datar-datar saja menanggapi nada bicara ibunya.


"Tolong cepat ke rumah sakit, Nak," pinta Nyonya Atmaja kemudian.


"Ada apa, Ma? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Kak Meysie?" Hengky mulai ikut tegang.


"Bukan Meysie, Nak. Tapi Fisha," Nyonya Atmaja memperjelas.


"Fisha? Ada apa dengan Fisha, Ma?" Hengky menunjukkan nada khawatirnya.


"Bukan Fisha, Nak. Tapi ibunya. Ibunya tidak bisa bertahan, Nak. Ibunya baru saja meninggal," lanjut Nyonya Atmaja.


"Apa? Meninggal? Innalillahi wa Inna'ilaihi roji'un," pekik Hengky.


Mobil yang dinaiki Hengky itu pun mendecit, begitu tiba di halaman parkir rumah sakit. Beberapa detik kemudian, Hengky segera turun dan berlari memasuki lobby rumah sakit, melewati poli rawat jalan, IGD, dan ruang operasi sebelum akhirnya dia sampai ke ruang ICU.


Dari kejauhan, terlihat seorang gadis cantik sedang berpelukan dengan Nyonya Atmaja. Air matanya berderai, bahunya bergetar hebat seperti jiwanya yang tentu terpukul berat.


"Tante, gimana ini, Tante. Tolongin Fisha. Ibu tidak boleh meninggal, Tante. Tolong!" rajuk Fisha dalam pelukan Nyonya Atmaja.


"Sudah, Fisha. Jangan menangis," Nyonya Atmaja menenangkan.


"Tante, sekarang Fisha benar-benar sendiri, Tante. Fisha tidak punya siapa-siapa lagi," rintih Fisha sambil tergugu.


"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kau masih punya Tante, Nak. Anggap Tante adalah ibumu," bujuk Nyonya Atmaja.


Mendengar ucapan itu, Fisha justru semakin tergugu. Air matanya benar-benar tumpah.

__ADS_1


"Ibu ..., Fisha mau ibu Fisha, Tante. Ibu ..., jangan tinggalin Fisha, Bu. Jangan tinggalin Fisha. Bukankan ibu mau lihat Fisha wisuda dan menikah, hingga ibu bisa menimang cucu-cucu ibu nanti?" Fisha menceracau tidak jelas, sementara Nyonya Atmaja membiarkan Fisha menumpahkan segala kesedihannya.


Menyadari Hengky telah tiba, Nyonya Atmaja pun memberi isyarat agar Hengky mendekati mereka.


"Nak, Mama mohon. Wujudkan keinginan terakhir ibunya Fisha!" titah Nyonya Atmaja serius.


"Maksud Mama?" tanya Hengky tidak mengerti.


"Keinginan ibu Fisha adalah ingin melihat Fisha bisa menikah dan bahagia. Maka hanya kau yang bisa mewujudkannya, Nak. Nikahilah Fisha sekarang juga," jelas Nyonya Atmaja kemudian.


"Maksud Mama? Menikah di depan jenazah ibu Fisha begitu?" tanya Hengky shock. Sementara Nyonya Atmaja hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan Hengky kepadanya.


"Maaf, Ma. Bukannya Hengky keberatan dengan permintaan Mama. Tapi ijab kabul di depan jenazah tidak diajarkan dalam agama, pun tak ada manfaatnya sama sekali, baik bagi si jenazah maupun bagi Hengky dan Fisha. Lagi pula, kematian adalah peristiwa duka, sedangkan pernikahan adalah peristiwa bahagia. Hal yang lebih baik dilakukan adalah mengurus jenazah terlebih dahulu, memandikan, menshalatkan, mendoakan dan menguburkan sampai semua persoalan yang berhubungan dengan pengurusan jenazah selesai. Setelah suasana tenang, baru ijab kabul dapat dilakukan, Ma," jelas Hengky panjang lebar kali tinggi.


"Hanya menikah secara agama dulu saja, Nak. Tidak butuh waktu lama dan tidak harus di depan jenazah. Mama hanya mau, begitu ibunya Fisha dimakamkan, Fisha tidak sendiri lagi karena sudah ada kita yang menyayanginya sebagai istri dan memantu keluarga Atmaja," titah Nyonya Atmaja tidak bisa ditawar.


"Tapi, Ma ...,"


"Tante ...,"


"Sstt, keputusan Mama sudah bulat," tegas Nyonya Atmaja.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Nafisha Hasna binti Abdurrahman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Dengan ketulusan hati dan penuh keikhlasan, hari itu Hengky melafalkan ijab kabul di rumah mungil Fisha, sesaat sebelum jenazah ibunya Fisha dimakamkan. Dan benar, Fisha memang benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi sehingga wali hakim akhirnya menjadi wali untuk pernikahan Fisha.


Dalam waktu sekejab pun Hengky telah resmi menjadi suami Fisha, seiring dengan kata sah yang terdengar memekik di semua telinga yang mendengarnya.


Dan sekali lagi, Allah telah menunjukkan kuasaNya. Dialah penulis skenario kehidupan terindah, dan menciptakan nada-nada kehidupan termerdu dalam kisah hidup setiap anak manusia.


Sebagai seorang hamba, jiwa-jiwa itu hanya sekedar berputar mengikuti naskah drama yang selalu menjadi rahasia, tapi selalu indah pada waktunya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


***Like, vote* dan rate 5 nya dong**.


__ADS_2