METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Seolah Waktu Tak Berputar


__ADS_3

Ryan terdampar dalam lamunan yang panjang. Rasa bosannya karena terlalu lama terbaring di rumah sakit, membuat kegelisahannya seolah menusuk-nusuk hingga sampai ke sumsum tulang, yang membuatnya merasa semakin larut dalam kesedihan.


Meskipun Rani terus menghibur, tapi beberapa hari harus terbaring di ranjang pesakitan itu membuat hatinya terus merasa hampa dan sepi. Ingin sekali rasanya Ryan cepat-cepat menutup hari, dan segera terbebas dari keadaan yang membuatnya tak bisa berkutik sama sekali. Bayangan tumpukan pekerjaan yang sudah ada di depan mata dan keinginan untuk segera menyelesaikan segala persoalan perusahaan yang sedang mereka hadapi pun sudah menari-nari di dalam benaknya. Tapi apakah daya, luka di perutnya tak kunjung sembuh juga, hingga Ryan tak bisa berbuat apa-apa.


"Apa waktu tak berputar, Sayang? Kenapa seperti lama sekali Hubby di tempat ini?" keluh Ryan, merengek seperti anak kecil.


"By, saat tubuh kita sakit, yang tersisa dari kita itu hanya harapan dan angan-angan. Walau hanya seujung kuku, yakinlah bahwa Allah sedang mengurangi dosa-dosa kita, dan menginginkan kita untuk menambah kedekatan kita kepadaNya. Jadi, Hubby yang sabar ya, By. Bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan bersama kesakitan pasti ada kesehatan," Rani mengelus kepala suaminya dengan sayang.


Hingga tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Ryan membuat adegan romantis sepasang kekasih itu pun hancur berantakan.


"Tolong, Sayang," ucap Ryan sambil menunjuk ke arah benda pipih canggih yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.


Rani yang duduk di samping ranjang pesakitan itu pun segera beranjak, mengambil ponsel suaminya dan menyerahkan kepada yang punya.


"Terima kasih, kesayangan Hubby," tutur Ryan lembut.


Rani yang selalu mendapatkan perlakuan manis dari suaminya itu pun hanya mengangguk pelan, sambil mendudukkan dirinya lagi di samping tempat tidur Ryan.


Tak berapa lama, Ryan terlihat berselancar dengan handphone-nya sambil sesekali mengerutkan dahinya. Bahkan semakin lama, wajah Ryan berubah seperti menahan amarah yang teramat besar dalam hatinya.


"Ada apa, By?" Rani yang menyadari perubahan ekspresi muka suaminya pun penasaran dengan isi dari pesan yang masuk, sampai-sampai membuat Ryan bisa seperti itu.


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Ryan Dewangga. Dia hanya memandang langit-langit kamar rumah sakit itu, sambil menyerahkan ponselnya kepada istrinya.


Tak jauh berbeda dengan Ryan, ekspresi aneh pun langsung Rani tunjukkan begitu melihat sebuah pesan dan gambar yang dikirimkan ke ponsel suaminya.


"Apa jangan-jangan, orang dalam yang berkhianat itu Mas Hengky ya, By?" tanya Rani dengan ragu.


"Bisa iya, bisa juga tidak," Ryan menjawab sekenanya, sambil berpikir keras.


"Maksud Hubby?" Rani tidak mengerti.


"Terlalu dini jika kita mengambil kesimpulan saat ini, Sayang. Kita harus memastikan semuanya terlebih dahulu, jangan sampai kita salah orang," sahut Ryan sambil memijit-mijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa berat.


Rani pun menganggukkan kepalanya, membenarkan semua ucapan suaminya.


"Apakah Indra ada di luar?" tanya Ryan kemudian.


"Biar Rani panggilkan ya, By," Rani beranjak dari duduknya, sambil memegangi perutnya yang sudah membola.


"Apa tidak apa-apa, Sayang?" nada khawatir Ryan tunjukkan, melihat istrinya yang hamil besar sudah begitu kepayahan.


"Rani nggak papa, By. Wanita yang sedang hamil besar, tidak baik jika hanya berdiam tanpa ada pergerakan. Dokter sendiri yang bilang, kalau Rani harus banyak-banyak jalan," sahut Rani tanpa beban.


Sedetik kemudian, Rani pun sudah membuka pintu hingga akhirnya Indra yang dicarinya ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


"Lihat ini, Ndra! Bisakah kau pastikan kebenarannya? Dimana Zara?" Ryan menatap Indra dengan tajam.


"Zara sudah berada di Kota X dan menempati apartemen yang kita berikan kepadanya, Tuan. Jika ada pertemuan sepenting ini antara Tuan Hengky dan Felix Adinata, seharusnya Zara sudah mulai bekerja hari ini juga," jawab Indra, sambil menatap Ryan dan foto-foto itu secara bergantian.


"Bisakah kau cek hari ini juga?" Rani yang khawatir kalau suaminya akan semakin gelisah jika dibiarkan terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi antara Felix dan Hengky, ikut menimpali.


"Beri saya waktu lima menit, Nona. Akan saya pastikan ada pembicaraan apa di antara mereka berdua," Indra menganggukkan kepalanya dengan sopan, kemudian izin menelepon Zara di luar ruangan.


***


Zara melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Waktu itu yang dia inginkan hanya segera sampai di apartemennya dan langsung memberikan informasi tentang pertemuan Hengky dan Felix, sebelum Ryan atau Daniel bertindak gegabah karena kesalahpahaman yang sangat mungkin terjadi jika foto-foto antara Hengky dan Felix sore itu sengaja Felix kirimkan dan sampai ke tangan mereka.


Dan ternyata betul, begitu Zara sampai di apartemennya, Handphone yang Indra berikan kepadanya sudah berdering dan menanti Zara untuk segera mengangkat panggilannya.


"Hallo," sebelum Indra memarahinya, Zara langsung menyapa dengan nada yang dibuat seramah-ramahnya.


"Kau sengaja ingin membuatku mati karena terlalu lama menunggumu mengangkat panggilanku, heh?" umpat Indra kesal.


Beberapa kali Indra melakukan panggilan, memang dia tak mendapatkan jawaban, karena Zara tak membawa handphone itu keluar, dan justru meninggalkannya di dalam kamar.


"Handphone ini saya tinggal di kamar, Tuan. Jadi saya baru tahu jika Anda menelepon saya, setelah saya masuk dan mendengar sebuah nada panggilan," jelas Zara dibuat sesantai mungkin.


"Apa? Kau meninggalkan HP ini di dalam kamar, dan kau dengan begitu santainya keluar? Bagaimana jika aku butuh menghubungimu dalam kondisi darurat seperti sekarang?" omel Indra.


"Darurat? Ada apa, Tuan? Apa Tuan Ryan sudah mendapatkan kiriman foto pertemuan Tuan Hengky dan Tuan Felix?" Zara langsung mengarahkan pembicaraan mereka.


"Tuan Felix meminta Tuan Hengky untuk berkhianat dan berbalik arah ke pihaknya, Tuan," sahut Zara, mulai bercerita.


"Jadi pesan yang dikirimkan orang itu bahwa Hengky sudah berkhianat kepada tuanku memang benar?" Indra memastikan.


"Bukan begitu, Tuan," tutur Zara masih dengan gayanya yang santai.


"Lalu?" Indra semakin tak sabar.


"Tuan Hengky bersedia bertemu dengan Tuan Felix Adinata di Cafe itu, karena dia merasa tidak nyaman saat Tuan Felix menghubunginya berkali-kali dan terus mendesaknya agar mengkhianati Tuan Daniel dan Tuan Ryan," Zara menghela nafas panjang.


"Terus?" tanya Indra lagi.


"Akhirnya Tuan Hengky bersedia untuk bertemu, dan membicarakannya langsung terkait hal itu," Zara yang nafasnya masih tersengal karena berlari dari basement hingga bisa sampai di apartemennya dengan cepat itupun menjawab dengan jawaban singkat-singkat, sambil mengatur nafasnya agar bisa kembali normal.


"Apa kau tahu apa saja yang mereka bicarakan, Zara?" Indra semakin dibuat penasaran.


"Tentu saja, Tuan. Bahkan saya duduk di belakang tempat duduk mereka. Tuan Felix sendiri yang meminta saya datang, sehingga saya bisa bebas mendengarkan apapun yang sedang mereka bicarakan,"


"Katakan apa yang mereka bicarakan, Zara!"

__ADS_1


"Tuan Felix langsung menanyakan kepada Tuan Hengky terkait tawaran yang sudah berulang kali dia berikan, tetapi dengan tegas Tuan Hengky menolak dan menegaskan bahwa dia bukanlah tipe pengkhianat seperti yang Tuan Felix pikirkan. Segala cara Tuan Felix lakukan agar Tuan Hengky menerima tawarannya, bahkan dia berdalih bahwa tawaran itu semata-mata untuk membantunya membalaskan dendam atas kematian Tuan Atmaja," cerita Zara dengan begitu seriusnya.


"Apa tanggapan Tuan Hengky saat nama papanya dibawa-bawa?" cicit Indra.


"Tuan Hengky mengatakan bahwa papanya sudah tenang di sana, dan itu semua adalah bagian dari takdir yang sudah Allah tulis untuk dia dan keluarganya. Tuan Felix pun terus menghasut dan meyakinkan bahwa sumber dari malapetaka yang terjadi dalam keluarganya adalah Tuan Ryan Dewangga, tapi Tuan Hengky tetap teguh pada pendiriannya. Hingga akhirnya, Tuan Felix mengeluarkan senjata pamungkasnya dengan menyebut nama Nona Arania Levana, namun lagi-lagi dengan begitu mantapnya Tuan Hengky mengatakan bahwa Nona Rani memang menempati ruang tersendiri di hati Tuan Hengky, karena selain dia adalah wanita yang pernah dia cintai, dia juga sahabat terbaik dalam hidupnya. Tapi Tuan Hengky meyakinkan bahwa kini telah ada satu wanita yang sudah menyatu dalam hidupnya dan menjadi detak jantung juga nadi dalam setiap nafasnya, dan dia adalah istrinya, wanita yang sudah merajai seluruh apa yang dia punya. Tuan Hengky juga mengatakan bahwa jika ada seribu bidadari yang turun di hadapannya sekalipun, Tuan Hengky bisa menjamin bahwa hatinya tidak akan pernah berpaling dari istrinya. Dengan kata lain, apapun hasutan yang coba dilakukan Tuan Felix, Tuan Hengky dengan tegas menolak untuk berkhianat kepada Tuan Daniel Cullen dan Tuan Ryan Dewangga," lanjut Zara.


"Apa reaksinya setelah Tuan Hengky pergi meninggalkannya?" Indra terus bertanya.


"Ternyata Tuan Felix sudah memprediksi penolakan Tuan Hengky sebelumnya. Dia benar-benar tahu kalau Tuan Hengky pasti akan menolak mentah-mentah tawarannya," sahut Zara, kali ini dia sambil merebahkan tubuhnya.


"Lalu untuk apa Tuan Felix masih ngotot ingin menemuinya?" cecar Indra, tak juga puas dengan jawaban yang diberikan oleh Zara.


"Politik adu domba. Tuan Felix sengaja meminta anak buahnya untuk mengambil foto pertemuan mereka berdua. Harapannya, ketika foto itu sampai ke tangan Tuan Ryan dan Tuan Daniel, kesalahpahaman di antara Tuan Ryan, Tuan Daniel dan Tuan Hengky akan tercipta, dan sudah pasti akan berakibat pada stabilitas perusahaan mereka bertiga, terutama terkait mega proyek Green Canyon yang langsung melibatkan ketiganya. Jadi sudah jelas, Tuan. Bahwa pengkhianat yang sebenarnya masih bebas melenggang di luar sana. Tuan Hengky hanya korban yang sengaja Tuan Felix rekayasa untuk mempermudah kerja-kerja pengkhianat yang sebenarnya," cerita Zara panjang lebar kali tinggi.


"Oke. Istirahatlah, Zara. Satu jam lagi aku akan kembali menghubungimu," seperti biasa, setelah mengucapkan itu Indra langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban Zara terlebih dahulu.


***


Indra langsung masuk ke kamar perawatan Ryan, sesaat setelah mengetuk pintu dan dua orang majikannya yang berada di dalam sana mempersilahkan Indra untuk masuk dan menemui mereka berdua.


"Bagaimana, Indra. Apakah ada informasi dari Zara?" cicit Ryan penuh dengan tanda tanya besar.


"Ada, Tuan. Kebetulan Tuan Felix memang meminta Zara untuk ikut datang ke tempat pertemuan," sahut Indra tenang.


"Katakan! Apa yang Zara ceritakan?" Ryan sudah tidak sabar.


"Tuan Felix memang berusaha membujuk Tuan Hengky untuk mengkhianati kita, Tuan. Tapi dengan tegas Tuan Hengky menolaknya mentah-mentah. Sayangnya, penolakan Tuan Hengky itu sudah dia prediksi sebelumnya, hingga skenario kedua pun dia lancarkan. Dari awal, Tuan Felix memang sudah meminta anak buahnya untuk mengambil foto mereka berdua dan segera mengirimkan foto itu kepada Tuan Daniel, juga kepada Anda agar kalian berdua mengira bahwa orang dalam yang telah berkhianat adalah Tuan Hengky Atmaja. Dengan begitu, pengkhianat yang sebenarnya bisa tetap bebas melenggang dan merong-rong perusahaan dari dalam," Indra menjelaskan secara detail, yang ditanggapi anggukan kepala dari kedua majikan yang kini berada di hadapannya.


Ryan dan Rani menghela nafas lega, mendengar Hengky bukanlah orang yang mengkhianati mereka. Meskipun begitu, tetap saja mereka merasa begitu penasaran dengan sosok pengkhianat yang sebenarnya.


"Bicaralah dengan tim dokter yang menanganiku, Ndra! Aku mau perawatanku dipindahkan ke Kota X agar aku bisa membantumu menemukan pengkhianat itu," pinta Ryan penuh harap. Rupanya penjelasan Indra tentang ketidakterlibatan Hengky tidak sepenuhnya membuat Ryan tenang, dan justru malah sebaliknya. Ryan semakin penasaran dengan orang dalam yang begitu lihai telah mengelabuhi dan mengkhianatinya dengan cara yang begitu keji.


"Tapi, Tuan. Anda masih ...," Indra tak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak berani untuk lancang terhadap perintah dan kemauan tuannya.


"Hubby, yang penting Hubby sembuh dulu, baru pikirkan urusan perusahaan. Luka Hubby itu bukanlah luka yang ringan lho, By. Rani nggak mau ada infeksi di luka Hubby hanya karena Hubby kurang hati-hati," Rani sudah menunjukkan muka tak senang, mendengar suaminya berniat pulang, padahal luka tusuk di perutnya masih belum sembuh benar.


"Sssttt. Sayang, dengarkan Hubby dulu. Hubby tak akan cepat sembuh jika Hubby tetap berada di tempat seperti ini. Yang ada Hubby malah stress dan tak bersemangat sama sekali. Di rumah kan tetap ada dokter yang bisa merawat luka Hubby. Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi, Sayang," rajuk Ryan sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan penuh rasa sayang.


"Tapi untuk pulang ke rumah, butuh waktu empat jam dari kota ini, By. Bagaimana dengan luka Hubby? Rani takut Hubby tidak akan nyaman dan justru merasa kesakitan," Rani masih saja khawatir.


"Selama ada istri Hubby yang cantik ini, rasa sakit itu pasti tidak akan terasa sama sekali," Ryan semakin mengeratkan genggaman tangannya, bahkan mengangkatnya dan mencium tangan istrinya itu dengan mesra.


Indra yang saat itu berada dalam satu ruang dengan mereka berdua pun jadi salah tingkah dan malu sendiri saat melihatnya.


"Duh, duh, duh. Apa kalian tak ingat bahwa di sini ada seorang jomblowan yang masih polos sedang bersama kalian? Lihat yang kayak begini kan jiwa jomblo saya metonta-ronta ingin segera berlabuh juga, Tuan," batin Indra dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2