
"Hubby halal melakukannya, kalau dia Hubby jadikan istri kedua," setelah mengeluarkan kalimat itu, hati Rani hancur seperti habis terjatuh ke dalam jurang yang begitu dalam.
"Heh, ngomong apa kamu barusan? Kamu pikir Hubby akan berbunga-bunga mendengar mulutmu itu mengucapkannya?" Ryan menyentil kening Rani dengan menjentikkan kedua jarinya.
"Memangnya enggak?" Rani menelisik. Matanya tak mau lepas dari pandangannya kepada suami yang kini berada di hadapannya.
“Ya enggaklah,” balas Ryan. Kini satu cubitan mendarat manis di hidung mancung gadis yang sedang mengandung anaknya itu.
“Biasanya kan laki-laki tak mau buang kesempatan. Apalagi sudah dapat lampu hijau dari istrinya. Lampu merah jelas-jelas menyala saja banyak yang sembunyi-sembunyi melakukannya,” oceh Rani sambil mengerucutkan bibirnya.
“Dan kamu mau bilang kalau sekarang kamu sedang memberikan lampu hijau itu buat Hubby? Benar begitu?” Ryan mengerling nakal.
“Rani tidak mengulanginya dua kali, Hubby,” sahut Rani kesal.
"Cih. Kalau Hubby bilang iya, memangnya kamu rela?" cicit Ryan berpura-pura.
"Jika Hubby bilang iya, Rani akan mundur," lirih Rani. Dia membuang pandangannya ke sembarang arah. Matanya sudah menahan air bening yang meronta-ronta ingin keluar membanjiri pipi yang sudah memerah itu.
"Dan Hubby tidak akan pernah mengizinkannya," Ryan menarik wajah istrinya dan membuat Rani memandangnya kembali.
"Tapi Rani akan tetap pergi jika jalan itu yang Hubby pilih," lanjut Rani, sambil mengusap bulir bening yang akhirnya mendarat dengan sukses di pipinya.
__ADS_1
"Hubby pastikan itu tidak akan terjadi," yakin Ryan.
"Tapi, Hubby. Meysie ...," Rani menggantungkan kalimatnya.
"Sssttt. Jangan pernah mengatakan itu lagi, karena Hubby tak akan pernah menyetujui. Meysie memang sahabat Hubby. Tapi kamulah satu-satunya wanita yang Hubby cintai," Ryan mengelus kepala istrinya dengan hangat.
"Terus nasib Meysie gimana, Hubby?" Rani menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, sementara Ryan merangkul pundak istrinya dengan tangan kanannya. Mereka tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang sedang menatap mereka dengan berjuta tanda tanya. Ada yang tersenyum melihat mereka begitu mesra, ada juga yang mencibir karena menganggap mereka tak pantas melakukannya karena sedang berada di area rumah sakit.
“Kita sudah melakukan apa yang bisa kita lakukan, Sayang. Kita juga sudah membantu apa yang bisa kita bantu. Dan untuk permintaan dokter yang terakhir itu, bukan menjadi tanggung jawab kita lagi karena itu tidak mungkin bisa kita jalani. Sesuatu yang dimulai dengan sebuah kebohongan, pasti akan membuat kebohongan-kebohongan berikutnya. Memangnya kita mau melakukannya? Bukan hanya kita berdosa, tapi Meysie juga akan menanggung penderitaan yang lebih besar dalam hidupnya” jelas Ryan, kali ini dengan nada yang sangat serius.
“Jika Meysie tidak bisa bangun lagi, apakah tidak akan ada penyesalan di hati Hubby?” Rani menelisik.
“Sedih mungkin manusiawi. Biar bagaimanapun, dia adalah sahabat Hubby. Banyak hal yang sudah pernah bersama kami lalui. Tapi bukan berarti semua hal akan Hubby lakukan tanpa ada batasan bukan? Salah jika Hubby mengucapkan kata-kata cinta dan kata-kata mesra kepadanya. Apalagi jika harus menyentuhnya. Kalau dia sadar kemudian Hubby meninggalkannya, siapa yang bisa menjamin dia akan tetap baik-baik saja?” tatapan Ryan lurus ke depan, pandangannya begitu nanar memikirkan nasib Meysie yang akan dia rasakan.
“Sekarang hanya do’a yang bisa kita berikan untuknya, Sayang. Menikahinya agar Hubby bisa leluasa menyatakan cinta dan menyentuhnya juga bukan solusi. Semua itu tidak akan berakhir dengan kebahagiaan walaupun Meysie akan sadarkan diri. Kamu tahu kenapa? Karena hanya kamu wanita yang Hubby cintai. Jadi jelaskan? Jika pernikahan itu terjadi, kita bertiga akan tersakiti. Harusnya ini semua menjadi pertimbangan semua laki-laki. Pernikahan kedua belum tentu akan membuat seorang suami lebih bahagia. Ya, tidak ada yang bisa menjamin bahwa hidup seorang pria akan lebih bahagia setelah dia menikah untuk yang kedua kalinya. Tapi satu hal yang sudah pasti akan terjadi, hati istri pertama pasti akan tersakiti, seikhlas apapun dia sudah merelakan suaminya untuk menikah lagi. Ini pendapat Hubby secara pribadi, terlepas dari konsep agama memperbolehkannya. Apa kamu mengerti?” Ryan membuat dirinya dan istrinya saling berhadapan, kemudian menarik kedua tangan istrinya dengan kedua tangannya, menggenggamnya erat dan mengecupnya dengan penuh cinta.
“Kalau nanti Rani sudah tua dan tidak cantik lagi, apa kata-kata itu juga yang akan keluar dari mulut Hubby?” pertanyaan klise dari semua perempuan kepada kekasihnya, kini meluncur begitu saja dari mulut Rani.
“Sembarangan. Memang hanya karena kamu cantik Hubby mencintaimu? Tentu saja kata-kata itu akan selalu keluar dari mulut Hubby,” Ryan mengusap kepala istrinya dengan sembarangan, hingga hijab yang Rani kenakan berantakan.
“Memangnya karena apa Hubby mencintai Rani?” Rani melepas genggaman tangan suaminya dan merapikan hijabnya.
__ADS_1
“Tidak butuh alasan apapun untuk mencintaimu, Sayang. Cinta Hubby tumbuh begitu saja, dan Hubby tidak tau kenapa cinta Hubby kepadamu sedemikian besar,” seulas senyum keluar dari bibir Ryan, sambil membantu istrinya membenarkan hijab yang sedang Rani rapikan.
“Pasti ada satu saja hal yang membuat Hubby mencintai Rani, Hubby. Ayolah katakan!” Rani menurunkan tangan Ryan dari kepalanya, kemudian memegangnya erat.
“Hubby mencintaimu, titik,”
“Ahh, Hubby nggak asyik,”
“Jika Hubby butuh alasan untuk mencintaimu, maka jika alasan yang membuat cinta itu tumbuh hilang, maka cinta Hubby kepadamu akan ikut hilang dong. Lain halnya ketika tak ada satu alasan pun yang membuat Hubby mencintaimu. Itu artinya, cinta Hubby akan selalu ada untukmu seperti apapun kondisimu. Cantik atau enggak, muda atau tua, miskin atau kaya, cerdas atau kurang, semua tidak akan pernah mengurangi kadar cinta yang Hubby rasakan,”
“Are you sure, Hubby?”
“I’m sure, Honey. Hubby mencintaimu dengan semua versi yang kau miliki. Waktu kita menikah setahun yang lalu, Hubby mencintai seorang Rani yang berusia dua puluh tiga tahun. Sekarang ketika kamu mengandung, Hubby mencintai seorang Rani yang berusia dua puluh empat tahun. Dan enam belas tahun lagi ketika anak-anak kita sudah besar, Hubby mencintai seorang Rani yang berusia empat puluh tahun. Dan begitu seterusnya. Hubby akan selalu mencintaimu dalam semua versi yang ada dalam dirimu,”
Seulas senyum kini merekah begitu saja dari bibir mereka. Tak ada kata-kata apapun yang keluar dari mulut sepasang kekasih yang sedang saling jatuh cinta itu. Hanya aksara demi aksara yang kini mereka pahat di hati mereka dengan tinta asmara, mengisi seluruh ruang kosong dalam hati dengan ukiran nama mereka, hingga jiwa-jiwa itu pun seolah saling berteriak, tuk mengungkapkan kisah cinta dua orang anak manusia.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memandang mereka dengan hati gundah, tapi tetap enggan untuk menghampiri dan bergerak ke arah mereka. Siapa dia?
BERSAMBUNG
💖💖💖
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya guys...