METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tak Ada Petunjuk


__ADS_3

"Ambil arah memutar, Pak. Terlalu beresiko jika kita langsung mendarat di pulau ini. Turunkan kami di sebuah kapal nelayan atau kapal apapun, yang nanti bisa kita gunakan untuk menuju tempat ini," titah Indra, merasa bahwa keputusan untuk mendarat langsung di pulau itu sungguh tidak aman. Ya, suara bising sebuah helikopter tak akan bisa diredam dan disembunyikan begitu mereka sampai dan melakukan misi mereka di sana.


"Menurut Anda, apakah Nona berada di tempat ini, Tuan?" Zara terlihat ragu, sambil mengamati pulau itu. Dalam benaknya, yang ada hanya sebuah curiga, kalau-kalau akan ada yang menjebak mereka. Tapi lagi-lagi, Zara justru mengikuti apa kata Indra dan mengesampingkan kata hatinya.


"Kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak mencari Nona di tempat itu, Zara," sahut Indra sambil terus melihat ke arah laut, mencari-cari barangkali ada kapal yang bisa mereka pakai untuk sampai ke tempat itu dengan diam-diam agar tidak ketahuan.


"Sepertinya tidak ada alat apapun yang bisa kita pakai, Tuan. Laut ini sepi, mungkin karena sore hari," Zara ikut mengedarkan pandangan.


Helikopter yang mereka naiki pun terus bergerak ke arah pantai, menjauhi pulau yang merupakan titik koordinat yang mereka tuju atas dasar pesan Naja beberapa waktu yang lalu. Hingga tiba-tiba, mata Indra menangkap sebuah jet ski yang masih terparkir di bibir pantai.


"Kau lihat di sana ada apa, Zara? Kita berdua bisa menuju pulau dengan jet ski itu," mata Indra berbinar, menyadari ada sesuatu yang bisa mereka pakai untuk aksi penyelamatan.


"Ombaknya semakin tinggi, Tuan. Karena hari semakin malam. Terlalu berbahaya jika kalian nekat menggunakan itu," sang pilot memberi pertimbangan.


"Tidak ada jalan lain, Pak. Tolong Bapak jangan terlalu jauh, siapa tahu kami butuh bantuan," Indra bersikukuh, sehingga pilot itu sedikit merendahkan helikopternya, sebelum akhirnya Indra dan Zara turun ke bibir pantai, kemudian terlihat bernegosiasi sebentar dengan sang pemilik jet ski, sebelum akhirnya memberikan sejumlah uang kepada seseorang.


"Apapun bisa terjadi, Zara. Kau bersiaplah!" kata Indra sambil menaiki jet ski itu.


"Selama bersama Anda, saya siap, Tuan," sahut Zara tak gentar. Dia justru membonceng kendaraan air itu begitu saja, dan memeluk punggung Indra sebelum pria itu melajukannya.


Dan benar saja. Gelombang laut saat itu semakin lama semakin besar, seiring dengan hari yang mulai malam. Padahal dalam dunia olah raga, jet ski ini termasuk olah raga ekstrim yang menguji adrenalin, karena mengandalkan kecepatan dan keseimbangan. Untung saja, Indra sangat mahir mengendarai perahu modern itu. Jika tidak, bisa dijamin mereka sudah terhempas oleh ombak yang bergulung-gulung di sore menjelang malam itu.


"Apa kau takut?" seru Indra menyadari bahwa Zara semakin mengeratkan pelukannya.


"Dari cara Anda mengendarainya, saya harus mengakui bahwa Anda lebih hebat dari pada saya, Tuan," sahut Zara, tak langsung menjawab dengan pasti pertanyaan Indra.


Ya, kemampuan Indra dalam mengendarai jet ski memang tak bisa diragukan lagi, karena dia memang salah satu penggemar olah raga dengan satu alat modern yang satu ini. Selain karena Indra penggila olah raga menantang yang menguji adrenalin, Indra juga menyukai olah raga dengan alat yang satu ini karena mempunyai segudang manfaat seperti olah raga lainnya.


Tentu saja, karena olahraga jet ski dipercaya bisa memperbaiki sistem kardiovaskular dengan meningkatkan sirkulasi darah, sehingga nutrisi dan oksigen bisa tersalurkan ke seluruh jaringan tubuh. Dampaknya, sirkulasi darah yang lancar bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung. Selain itu, saat mengendarai alat ini, otot-otot tubuh yang bekerja seperti otot kaki, lengan, dan perut bisa terlatih dengan baik, karena koordinasi otot-otot tersebut dibutuhkan untuk menggerakkan dan menahan mesin jet ski saat bermain di atas air yang berombak.


Bukan hanya itu, Indra sangat menggilai olah raga dengan perahu modern ini karena bisa melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh, membakar kalori, juga dapat mengurangi stres dan meningkatkan fokus juga konsentrasi. Jadi tak heran lagi, jika Indra bisa dengan mudah menaklukkan ombak yang semakin tinggi, karena kemampuannya memang tak bisa diremehkan lagi.


Dan dalam waktu tiga puluh menit, mereka pun sudah mulai melihat cahaya remang-remang yang berkedip-kedip dari kejauhan.


"Sepertinya pulau kecil ini memang berpenghuni," gumam Indra sambil mematikan jet ski yang mereka naiki.


Mereka pun akhirnya turun dan segera berkeliling untuk mencari petunjuk.


"Berhati-hatilah, Sayang," ucap Indra sambil terus berjalan menuju cahaya yang semakin lama semakin terlihat terang.


Zara justru diam terpaku, mendengar panggilan sayang itu. Panggilan dari seorang kekasih yang sudah lama sekali dia tunggu, walaupun kini yang memanggilnya bukanlah pria yang sama dengan pria yang sempat merajai hatinya sejak beberapa tahun yang lalu.


Menyadari Zara tak juga bergerak dari tempatnya, Indra berbalik arah dan kembali menghampiri gadis yang secara tak sadar telah membuatnya tergila-gila dan jatuh cinta itu.


"Aku tahu kau begitu terharu mendengar kata-kata dariku. Aku juga tahu kau sedang jatuh cinta kepadaku dengan perasaan yang menggebu-gebu. Tapi ingat, Sayangku. Jangan sampai urusan pribadi kita membuat kerja kita tak profesional dengan sikap dan ekspresimu itu," tanpa Zara sadari, tiba-tiba Indra sudah berbisik di telinganya.


Zara yang langsung sadar akan kebodohannya pun segera memalingkan muka dan langsung berjalan menjauhi Indra.

__ADS_1


"Mana ada. Anda terlalu percaya diri, Tuan," cicit Zara menyembunyikan rasa malunya.


Indra pun tak memperpanjang perdebatan mereka. Dengan sigap, dia segera mengikuti langkah Zara dan mencoba mengedarkan pandangan ke sekelilingnya untuk mencari petunjuk atau apapun yang bisa membantu mereka menemukan majikannya.


Tak berapa lama, mereka berdua pun telah sampai di sebuah bangunan, yang berada tepat di tengah-tengah pulau. Di situlah cahaya kelap-kelip yang mereka lihat itu berada.


Sebuah bangunan berupa rumah kecil, mirip sebuah Cottage langsung tertangkap oleh netra mereka, membuat keduanya berusaha mencari tempat persembunyian dan mengamati bangunan itu dari kejauhan.


"Kelihatannya ini sebuah pulau milik pribadi, Tuan. Tak ada bangunan lain selain rumah itu," ucap Zara setengah berbisik.


"Tapi jika Nona di dalam sana, kenapa tak terlihat seorang pun penjaga? apa jangan-jangan ...," Indra tak melanjutkan kalimatnya. Bahkan kini Indra dan Zara justru saling pandang, mencoba menterjemahkan apa yang sedang mereka berdua pikirkan.


"Kita harus segera mencari jawabannya, Zara. Penculik Nona pasti sedang mengecoh kita," Indra beranjak dan langsung berlari menuju rumah itu, dan ternyata benar. Bangunan itu kosong, tak berpenghuni sama sekali.


"Sial. Mereka membuat kita membuang-buang waktu," Indra berdecak kesal, sambil menembakkan sebuah alat semacam kembang api kecil ke arah langit, memberi sinyal kepada pilot itu untuk segera menjemput mereka dan kembali ke kota untuk menyusun rencana selanjutnya.


Begitu helikopter yang membawa mereka tadi kembali datang, Indra dan Zara pun segera naik dan masuk ke dalamnya, sebelum akhirnya mereka kembali menuju kediaman keluarga Dewangga untuk mendapatkan perintah lanjutan dari majikannya.


***


Naja semakin merasa geram, melihat alat yang ada di depannya memperlihatkan banyaknya sinyal yang menunjukkan dimana Rani berada sekarang. Rupanya si pelaku penculikan Rani sudah hafal betul bagaimana Naja dan teman-temannya bekerja, sehingga dia mengecoh mereka dengan membuat semacam alat pelacak ganda, agar keberadaan Rani yang sebenarnya, sangat sulit di tangkap oleh mereka.


Rekaman CCTV yang terpasang di seluruh penjuru kota pun tak bisa memberikan petunjuk apa-apa, mengingat si pelaku sudah terlebih dahulu meretas sistem sehingga pergerakan mereka tidak terbaca.


"Bagaimana, Naja?" Ryan yang baru saja pulang setelah berputar-putar mencari keberadaan istrinya, langsung mendekati Naja yang kini sudah kembali ke rumah dan fokus dengan alat yang berada di hadapannya.


Ya, Naja memang telah membagi beberapa titik koordinat yang dia dapat ke teman-teman nya, dan hasilnya semua nihil. Rudi melaporkan bahwa pulau yang dia datangi sama sekali tak berpenghuni. Begitu juga dengan kabar yang disampaikan Johan, Daniel, dan yang terakhir kabar dari Indra bersama Zara. Semua melaporkan bahwa pada titik yang mereka datangi, semua kosong dan tak berpenghuni.


"Lalu bagaimana, Naja?" Ryan terlihat sangat frustasi. Begitu juga dengan Davina dan Aghata, mereka menangis, membayangkan Rani yang kini sedang hamil besar tak jelas nasib dan dimana keberadaannya.


"Beri saya waktu untuk berpikir sebentar, Tuan," pinta Naja, menatap Ryan dengan tatapan penuh permohonan sebentar, kemudian kembali fokus dengan layar datar yang sedang diutak-atiknya.


***


Kamar itu memiliki nuansa emas dan putih yang super mewah. Mulai dari tirai, hiasan kaca, hiasan dinding, karpet, pinggiran kursi sampai dipan dilapisi warna emas mengkilap.


Atap kubahnya yang besar berlangit-langit emas, semakin terlihat cantik dengan adanya lampu gantung kristal berbentuk bulat. Ya, kamar bernuansa emas, marun, dan perak ini memiliki dua lampu gantung mewah, masing-masing di atas tempat tidur beludru warna marun dan satu lagi di atas sofa mewah untuk menjamu tamu. Lantai marmernya yang berwarna gading pun semakin memperindah suasana kamar. Yang membuat unik tapi semakin menarik adalah hadirnya karpet motif zebra hangat yang bisa digunakan untuk bersantai di atas lantai.


Kamar mewah itu adalah kamar utama sebuah bangunan modern yang berdiri tegak di sebuah pegunungan tinggi, dimana hanya konglomerat yang punya segudang harta saja yang bisa memiliki bangunan megah di tempat seperti itu.


Dan di dalam kamar itulah Rani sekarang.


Tak terhitung sudah berapa lama gadis itu tak sadar, dan tertidur di tempat asing yang sangat jauh dari keramaian. Yang jelas, ketika dia terbangun, dia sudah terbaring di ranjang empuk itu dengan selimut yang menutupi tubuh hingga di bagian pinggangnya. Kedua tangan dan kakinya tidak terikat, di area mulutnya pun tak ada kain atau lakban yang membungkamnya sehingga saat itu dia bebas berbicara atau berteriak seenaknya.


Rani mencoba beranjak, dan berjalan mengelilingi seluruh sudut kamar. Tak ada jendela ataupun celah sama sekali. Yang ada hanyalah sebuah pintu yang terkunci rapat, dengan sirkulasi udara dari AC yang terpasang tepat di atas tempat tidur.


"Hallo, ada orangkah di sini?" teriak Rani berkali-kali, tanpa ada seorang pun yang menyahut ataupun menimpali. Bahkan Rani berteriak sekencang mungkin barangkali ada orang yang bisa menolong dan membantunya keluar dari tempat asing itu, tapi hasilnya tetap nihil. Tak ada yang mendengar teriakannya, apalagi berusaha menolong dan mengeluarkannya dari sebuah tempat yang sama sekali tak dikenalnya itu.

__ADS_1


"Hubby, Rani takut. Tolong Rani, By. Hubby ...," air mata Rani pun akhirnya berjatuhan, sekuat apapun dia sudah berusaha untuk tegar.


Walaupun dia percaya, suaminya akan selalu datang sebagai pahlawan yang akan menolong dan menyelamatkannya, tapi tetap saja air mata itu tak bisa dia tahan dan masih terus saja jatuh tanpa bisa dia kendalikan. Apalagi waktu itu Rani benar-benar tak tahu, dimana dia dan siapakah gerangan orang yang membawanya ke tempat asing yang sama sekali tak pernah ditemuinya.


***


Flashback


"Sayang ..., tolong ke rumah sakit sekarang! Hubby terluka," sebuah suara di ujung telepon sana membuat Rani tak bisa berpikir dengan logika.


"By! Hubby! Hubby kenapa? Hubby dimana?" pertanyaan yang hanya dijawab dengan nada telepon yang terputus, membuat Rani semakin takut dan tak bisa lagi berpikir untuk mengecek ke nomor suaminya.


Ya, walau telepon itu berasal dari nomor yang berbeda dengan nomor yang biasa dipakai suaminya, namun mendengar suara yang sangat mirip dengan suaminya meronta menahan sakit dan meminta kedatangannya segera, membuat Rani langsung meraih kunci mobilnya tanpa meminta Rudi ataupun Naja untuk mengantarnya.


"Anda mau kemana, Nona? Biar saya antarkan Anda," perkataan Naja waktu itu seolah tak terdengar di telinga Rani, hingga Rani terus berjalan tanpa menghiraukan tawaran Naja kepadanya.


"Nona, apakah ada masalah?" Rudi yang mencium gelagat aneh nonanya pun ikut bertanya, tapi lagi-lagi Rani tak menghiraukan apapun perkataan Rudi sama sekali.


Hingga akhirnya, Rani berhasil masuk ke dalam mobilnya, dan menginjak pedal gasnya sedalam-dalamnya, melajukan mobil yang dibawanya sekencang yang dia bisa.


"Hubby kenapa lagi sih, By? Apa yang terjadi pada Hubby?" Rani terus bergumam sepanjang perjalanan. Dia sangat takut, jika mimpinya beberapa saat setelah penusukan yang dilakukan Zara yang tak lain adalah utusan Felix itu benar-benar ada di depan mata.


Rani terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tempat keluarga Dewangga biasa dirawat di sana saat membutuhkan perawatan. Entah kenapa, waktu itu Rani merasa tak perlu menanyakan di rumah sakit mana suaminya di rawat sekarang. Dia betul-betul yakin, jika suaminya tak menyebutkan satu nama rumah sakit pun, berarti rumah sakit yang dimaksud adalah rumah sakit yang biasa mereka jadikan sebagai rumah sakit langganan.


Namun baru beberapa menit melaju, dengan terpaksa Rani harus menghentikan laju kendaraan itu. Di depannya ada kerumunan orang yang menghalangi jalan, hingga membuat perjalan Rani menjadi terhalang.


"Ada apa ya, Pak?" Rani membuka jendela mobilnya dan bertanya kepada seorang pria yang kebetulan bergerak mendekat ke arahnya.


"Di depan ada kecelakaan, Nona. Kelihatannya akan lama, karena masih harus menunggu aparat kepolisian dan ambulance datang membawanya. Kalau Nona terburu-buru, mobil Nona bisa dititipkan di parkiran toko itu dan Nona bisa saya antar dengan mobil saya yang terparkir di ujung jalan sana. Kebetulan saya adalah pengemudi taxy online, jadi Anda bisa membayar saya sesuai harga yang tertera di aplikasi," sahut pria itu sambil menunjuk area parkir sebuah toko yang tepat berada di depan jalan tempat Rani berada, juga menunjuk sebuah mobil warna hitam yang terparkir jauh di depan kerumunan orang.


Tak mau waktu terbuang-buang dengan terlalu lama berpikir panjang, Rani pun segera menyetujui tawaran pria itu tanpa menaruh curiga. Toh, dia adalah pengemudi taxy online, pikirnya. Hingga setelah memarkir mobilnya di area parkir yang pria itu tunjukkan, Rani segera berjalan dan masuk ke mobil pria itu.


Tapi begitu Rani duduk di kursi penumpang, dari arah kursi paling belakang tiba-tiba ada seseorang yang menutup mulut Rani dengan sebuah sapu tangan yang terlebih dahulu telah dibubuhi obat bius, sehingga dalam hitungan detik, Rani langsung tak sadarkan diri.


Begitu Rani tak sadar, seorang pria mengambil jam tangan dan ponselnya, juga kalung, gelang, dan apa saja yang Rani kenakan, yang mungkin menyimpan alat pelacak yang sengaja di pasang dan bisa mempermudah Ryan untuk melakukan pencarian. Dan usaha pria itu ternyata tak sia-sia, ketika sebuah alat pelacak dia temukan di sebuah jam tangan yang Rani kenakan.


Rudi dan Naja yang mengejar Rani pun benar-benar kehilangan jejak karena tak mengira jika mobil Rani terparkir di area parkir sebuah toko, dan Rani sendiri sudah berpindah mobil beberapa saat sebelum mereka sampai di tempat kecelakaan yang direkayasa itu.


Setelah lumayan lama berputar-putar keliling kota, baru Naja dan Rudi menemukan mobil yang dikendarai Rani sudah terparkir dan Rani tinggalkan begitu saja.


"Apakah ada rekaman yang kau temukan?" tanya Rudi sambil melihat Naja yang terus memeriksa mobil yang baru saja dikendarai majikannya.


"Sepertinya mereka sudah merusak alatnya. Tak ada rekaman apapun yang aku temukan di mobil Nona," Naja semakin geram dan penasaran dengan kerja cerdas musuhnya.


End of flashback


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2