
Ryan dan Arya meninggalkan istri mereka di ruangan itu dengan penjagaan ketat, setelah Pak Rudi memberitahu Arya bahwa saat ini Daniel telah mengerahkan anak buahnya di seluruh penjuru kota untuk mencari Arania Levana dan Ryan Dewangga. Ryan merasa bahwa untuk saat ini, tempat yang paling aman hanyalah ruang Presdir Dewangga Group karena tidak seorang pun tahu bahwa pemilik You And Me Group dan Dewangga Group adalah orang yang sama, tak terkecuali seorang Daniel yang telah sukses terkelabuhi olehnya.
“Kita harus segera ke Bandara, Tuan,” ucap Pak Rudi begitu Ryan dan Arya telah sampai di Basement gedung itu.
“Bandara?” Ryan dan Arya bertanya secara bersamaan.
“Iya, Tuan. Tuan Besar dan Nyonya Besar menjemput Nyonya Aghata. Hari ini mereka akan sampai ke Indonesia. Atas permintaan Tuan Besar, saya diminta untuk merahasiakannya dari Anda sampai Tuan sampai ke Indonesia, Tuan ,” kini Rudi menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah merahasiakan itu dari tuan mudanya.
“Aghata? Maksudmu Tante Aghata?” setelah Ryan mengingat-ingat, akhirnya dia membelalakkan matanya karena tersadar akan sesuatu.
Samar-samar dia mengingat seorang tante di masa kecilnya, Tante Aghata. Ryan tidak tahu tante itu ada hubungan apa dengan kedua orang tuanya, yang jelas Tante Aghata sering berada di rumahnya dengan bayi yang digendongnya. Waktu itu Ryan baru berumur enam tahun sehingga dia tidak begitu mengerti apa yang terjadi, yang jelas yang dia ingat, bayi dari Tante Aghata pernah dititipkan di rumahnya selama beberapa bulan sebelum akhirnya Tante Aghata mengambilnya kembali. Sejak saat itulah Ryan tidak pernah bertemu dengan Tante Aghata lagi.
“Kenapa Papa merahasiakan ini? Tante Aghata? Jerman? Daniel?” Ryan terlihat berpikir keras. Dia terus mengacak kepalanya hingga sisiran rambutnya berantakan.
“Jangan-jangan?” Ryan terlihat mulai menemukan sesuatu.
“Ayo cepat! Kita harus segera pergi ke Bandara,” Ryan langsung berlari menuju mobil yang disediakan Arya, disusul Arya yang memposisikan diri duduk di sebelah Ryan dan Pak Rudi yang mengambil alih kemudinya.
__ADS_1
Selama perjalanan, Ryan terlihat sangat gusar. Bahkan kini dia sibuk dengan handphone yang terus saja ditempelkan ke telinganya berkali-kali, namun terlihat selalu gagal dan gagal lagi.
“Dimana Naja? Kenapa di saat-saat seperti ini dia malah tak mengangkat panggilanku?” menyadari Naja tak merespon panggilannya, kata itu yang keluar dari mulut Ryan. Perasaan geram juga marah kini menyelimuti benak tuan muda tampan itu. Bagaimana tidak? Di saat-saat seperti ini seharusnya Naja berada di sisi Rani untuk melindunginya. Tapi kini, justru menghilang tanpa ada penjelasan.
“Naja bersama Tuan Besar mengurus penjemputan Nyonya Aghata, Tuan. Mungkin karena masih dalam penerbangan sehingga tidak bisa menerima panggilan Anda,” jelas Pak Rudi sambil terus fokus pada jalan yang sedang dilaluinya.
“Sial! Bahkan Naja tega membohongiku dan ikut permainan Papa. Sepertinya benar dugaanku. Mungkin Daniel adalah anak Tante Aghata. Bukannya hanya Naja yang bisa menembus keamanan berlapis yang dipasang mantan majikannya itu? Jika Tante Aghata adalah ibu Daniel, tentu tidak mudah buat Papa untuk membawa Tante Aghata kembali kan? Dan hanya Naja yang bisa melakukannya. Apa Papa meminta tolong pada Tante Aghata untuk menyelesaikan urusan Daniel? Tapi kenapa?” pertanyaan demi pertanyaan muncul begitu saja dan keluar dari bibir Ryan yang terus menceracau tanpa seorang pun dalam mobil itu yang berani menjawabnya.
Tentang jati diri Naja dan Pak Rudi sebagai seorang agen mata-mata yang bekerja untuk sang papa, sejak Prabu memberikan kursi kepemimpinan Dewangga Group kapada Ryan, Prabu memang sudah menceritakan semuanya kepada putranya dan juga Arya. Sehingga terkait keterlibatan Naja dan Pak Rudi dalam setiap urusan pekerjaan dan keluarga mereka, Ryan sangat bisa menerimanya.
***
Aghata terus meraba hatinya.
“Apakah bukan karena aku takut pesawat landing? Lantas kenapa jantungku berdegup sekencang ini?” guman Aghata dalam hati.
Di saat itulah angan Aghata mengembara. Detik-detik menjelang dia menginjakkan kakinya lagi di kota itu adalah detik-detik yang sangat menegangkan baginya. Dia masih mengingat jelas bagaimana rasa bahagia itu menyelimuti raga dan hatinya, di saat Prabu Dewangga memutuskan untuk menikahinya dan menerima semua kehinaan yang ada pada dirinya dua puluh dua tahun yang lalu.
__ADS_1
Tapi entah mengapa, tak sanggup jika dia harus mengingat bahwa di balik kebahagiaan yang menyelimuti hatinya ketika itu, sebilah pisau yang dia miliki harus menggores hati wanita sebaik bidadari. Meski pada akhirnya sang bidadari berikrar bahwa dia rela berbagi, namun dia sungguh tak sanggup jika harus menusuk jantung itu di tengah lantunan dzikir tentang rindu seorang istri yang ingin berbakti.
Mungkin seorang Prabu memang pernah berjanji untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Sebuah lagu yang bercerita tentang kidung rindu dalam menapaki surga yang ingin bersama mereka tuju. Namun ketika itu, Aghata benar-benar tahu bahwa setiap kemerduan suaranya yang terdengar, pasti bagaikan petir yang menyambar telinga sang pujaan.
Pun ketika bidadari itu tak marah, pasti di lubuk hatinya akan terasa sakit tak terkira. Apakah kemudian Aghata tega menerima ketulusan jiwanya? Apakah pantas jika segala kebaikan yang dia berikan dibalasnya dengan perih yang menganga? Karena itulah akhirnya Aghata mengubur semua impian dan pergi meninggalkan harapan yang sempat terajut di dalam angan.
“Aku yakin bahwa kau memang bukan takdir yang Dia tasbihkan. Tapi kenapa kini takdir yang sama justru mengantarkanku kembali pada sebuah harapan di masa silam?” batin Aghata.
Hingga sebuah tangan tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Bidadari itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum seolah tak ada luka dalam hatinya.
“Ayo Aghata, kita sudah sampai. Kita temui putra kita. Daniel dan Ryan pasti sangat merindukanmu,” ucap Titania ketika itu.
“Ryan? Ya Allah, benar apa katamu, Kak. Aku sungguh sangat merindukannya,” tiba-tiba ada binar di mata Aghata mendengar nama Putra dari suaminya itu disebut. Seorang anak yang dua puluh dua tahun lalu telah berhasil membuatnya merajut mimpi ingin menjadi seorang ibu, demi memiliki anak seperti seorang Ryan Dewangga.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
**Bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up setiap hari. hehehe...
Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih**.