
Setelah meminta kunci di front office, Meysie pun akhirnya pergi ke kamarnya seorang diri. Dia berjalan begitu cepat, dengan air mata yang terus berderai. Hatinya terasa begitu kelu, walaupun dia sendiri tak mengerti mengapa bisa sesakit itu.
Tak berapa lama, Meysie pun tiba di kamarnya. Bayangan bisa bermesra berdua sambil berendam air hangat dan menikmati indahnya gunung salju pun kini sirna seketika.
"Huhhh, sebel, sebel, sebel," Meysie terus menggerutu sambil melepas helaian benangnya satu per satu, dan membersihkan dirinya untuk kemudian tidur pulas sampai pagi kan datang menyapanya.
Dalam hati Meysie, dia sudah bertekad bulat bahwa besok atau lusa dia akan pulang ke Indonesia.
"Untuk apa belajar mencintainya, jika akhirnya sakit hati juga," batin Meysie dalam hati.
Lima belas menit sudah Meysie berkutat dengan aktifitas pribadinya di kamar mandi. Dengan santainya, dia keluar hanya dengan mengenakan lilitan handuk sebatas dada karena yakin Ega masih asyik bersama wanitanya di luar sana.
Namun di luar dugaan, Ega sudah di depan pintu ketika Meysie keluar.
"Sayang," panggil Ega parau. Tanpa sadar, dia melihat istri cantiknya itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Bahkan dia sempat menelan salivanya, melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya.
Meysie tak menyahut sama sekali. Dia hanya melirik sekilas ke arah pria yang kini sudah menjadi suaminya itu dengan kilat, kemudian langsung menuju lemari, mencari gaun tidur yang sudah di tata rapi oleh pelayan hotel suruhan Ega tadi.
Melihat sikap jutek Meysie, Ega tak berniat merayunya sama sekali. Dia justru masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
"Bahkan kau tak berusaha sedikitpun untuk menjelaskan semua yang baru saja terjadi, Bang?" batin Meysie geram.
Dia menarik gaun tidur dari lemarinya dengan kasar, kemudian mengenakannya sebelum akhirnya membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal untuk menghangatkan tubuhnya dari suhu ekstrim dimana mereka berada.
Ceklek.
Terdengar suara pintu di buka. Ega keluar dengan kimono handuk yang menutupi tubuh polosnya. Diliriknya Meysie yang sudah tertutup rapat dengan selimut itu, kemudian dia mengambil posisi duduk di salah satu sisi ranjang dan bersandar sambil memegang sebuah benda pipih canggih yang sesaat kemudian sudah mengantarkannya berselancar pada dunia maya yang terkadang melenakan.
"Apa kau masih di sana?" ucap Ega setelah menekan icon hijau pada ponselnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan," katanya lagi setelah mendengar lawan bicaranya mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Meysie yang waktu itu hanya berpura-pura tidur semakin geram. Bahkan kini dia tak bisa lagi memendam kekecewaan dan rasa sakit yang dia rasakan. Hingga tiba-tiba dia bangkit, meraih ponselnya dan menekan salah satu aplikasi pemesanan tiket yang akan menerbangkannya ke Indonesia.
Ega mendekat dan melirik aktifitas yang sedang Meysie lakukan pada ponsel yang sedang berada dalam genggamannya. Begitu menyadari apa yang sedang dilakukan istrinya, Ega segera merebut benda pipih itu dan menyimpannya.
"Kembalikan, Bang," pinta Meysie datar. Dia benar-benar berusaha menekan perasaannya agar segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya tidak terlihat oleh suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ega penuh selidik.
Meysie terdiam. Dia sama sekali tidak berniat menjawab apa yang sudah suaminya tanyakan.
"Jawab, Sayang," Ega agak mengeraskan suaranya.
"Biarkan Meysie pulang ke Indonesia, Bang," ucap Meysie mulai parau.
"Pulang katamu?" Ega mengerutkan dahinya.
Lagi-lagi Meysie terdiam.
"Sudah Meysie putuskan untuk pergi, sebelum Meysie lebih sakit hati lagi," Meysie membuang muka ke sembarang arah.
Ega lebih mendekat ke arah istrinya. Diraihnya dagu Meysie agar mereka bisa saling bersitatap. Namun Meysie sudah begitu tersulut emosi. Dia menghempaskan begitu saja tangan Ega yang sudah mendarat manis di dagunya.
"Jangan sentuh Meysie lagi," Meysie beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri kemudian duduk ke arah sofa.
Ega yang sebenarnya sangat mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh istrinya itupun bangkit dan mengikuti Meysie yang kini telah duduk di atas sofa kamarnya.
"Kamu ini sedang cemburu atau jatuh cinta, Sayang?" batin Ega senang.
"Sayang," Ega melembutkan suaranya. Dia meraih tangan Meysie dan menggenggamnya erat.
"Sudah Meysie bilang, jangan sentuh Meysie lagi. Meysie tak Sudi disentuh oleh seorang laki-laki yang hanya bisa mengobral janji," Meysie tak lagi bisa menahan amarahnya.
__ADS_1
"Kamu inibkenapa sih, Sayang?" Ega masih berusaha untuk sabar.
"Cih, kenapa Abang bilang? Baru saja Abang bermesraan dengan wanita lain bahkan di depan istri Abang sendiri, Abang masih tanya kenapa? Abang ini tidak berperasaan atau bagaimana sih?" Meysie berdiri dan keluar menuju balkon kamar yang bercahaya temaram. Begitu Meysie membuka pintu, hawa dingin segera saja masuk, menusuk-nusuk hingga menembus tulang.
"Abang tidak bermesraan dengannya. Memangnya kamu lihat, Abang memeluk atau menciumnya?" sergah Ega dengan gaya cool-nya, sesaat setelah dia ikut bangkit dan mengejar kekasih hatinya.
"Abang masih bisa bilang begitu, sementara tadi Meysie melihat dengan mata dan kepala Meysie sendiri, Bang?" cecar Meysie geram. Meysie kembali masuk dan kini duduk di salah satu tepi ranjang.
"Bukan Abang yang memeluk dia, Sayang. Kamu lihat sendiri kan, tadi dia yang memeluk Abang?" Ega menutup pintu, kemudian mengekor kemana istrinya melangkahkan kakinya.
"Sama saja," seru Meysie.
"Tentu saja berbeda. Dia memeluk Abang dari belakang tanpa Abang tahu terlebih dahulu," Ega berusaha untuk menjelaskan.
"Tapi Abang suka kan? Abang menikmatinya kan?" Meysie terus saja menghujani Ega dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.
"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan," sahut Ega.
"Bagaimana bisa Abang berucap semudah itu, Bang. Sudah jelas bagaimana Abang memperlakukannya tadi. Bahkan Abang mengubah panggilan Abang ke Meysie saat ada dia di samping Abang. Di kamar pun Abang masih menelepon dia dan menanyakan keberadaannya tanpa ada beban di hati Abang. Bahkan Abang sama sekali tidak menjaga perasaan istri Abang," Meysie mulai terisak.
"Abang sudah berjanji untuk tidak mengkhianati Meysie lagi kan, Bang? Kenapa itu semua Abang lakukan lagi kepada Meysie?" lanjut Meysie dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Dengarkan penjelasan Abang dulu, Sayang. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan," Ega meraih tangan Meysie meskipun lagi-lagi dihempaskan.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Bang. Semua sudah terekam di benak Meysie. Biarkan Meysie pulang ke Indonesia dan kita akhiri semuanya," kini Meysie berdiri dan berjalan menuju lemari. Tanpa aba-aba, dia mengambil sebuah koper dan memasukkan lembar demi lembar pakaiannya.
"Apa kau bilang? Bukankah Abang sudah katakan, jangan pernah pergi dari Abang, karena kemanapun kau pergi pasti Abang akan mendapatkanmu kembali?" Ega merebut beberapa pakaian yang Meysie pegang dan mengambil paksa koper yang sudah dikeluarkan.
"Kembalikan, Bang! Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan dari hubungan kita ini,"
BERSAMBUNG
__ADS_1