METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Rahasia Fisha


__ADS_3

Pagi itu, Hengky tak menemukan wajah Fisha saat pertama kali membuka mata seperti biasanya. Dia mencoba untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, hasilnya nihil. Dia tak juga mendapatkan wajah istrinya dimana-mana.


Hingga ketika akhirnya Hengky tersadar dimana dia sekarang, gejolak cinta di hatinya tiba-tiba mengecang. Ternyata cukup dengan mendongakkan kepalanya, wajah istri yang dia sayang bisa dia tangkap dengan begitu dekatnya.


Ya, ternyata semalaman Hengky tertidur di pangkuan Fisha. Itu artinya, Hengky telah membiarkan istri cantiknya semalaman terjaga, atau ketika tidur pun bisa dipastikan bahwa dia bertahan dengan posisi duduk dan menyadarkan kepalanya.


Perlahan, Hengky beranjak dan sedikit mengangkat tubuh istrinya, kemudian membenarkan posisinya hingga bisa tertidur lebih nyaman. Dipandangnya wajah istrinya lekat-lekat, kemudian Hengky mulai mencium setiap inchi wajah cantik itu tanpa ada yang terlewat.


"Maaf telah membuatmu khawatir, Fisha. Seharusnya aku tak serapuh ini. Seharusnya aku menjadi pria kuat yang bisa melindungimu dan melindungi ibuku. Bukankah saat ini hanya aku satu-satunya pria yang kalian punya?" gumam Hengky dalam hati.


Hengky pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, Hengky keluar sudah dengan wajah yang begitu segarnya. Dia melirik arah tempat tidur demi memastikan istrinya tak bergeming dari tempatnya, tapi Fisha sudah tidak ada di sana.


"Sayang," panggil Hengky begitu netranya menangkap bayangan yang sedang dicarinya.


Rupanya Fisha telah terbangun dan kini berada di meja kerja Hengky, lengkap dengan sebuah laptop yang sudah menyala.


"Mas, bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?" Fisha menghentikan aktifitasnya sebentar dan memandang ke arah Hengky yang sedang berjalan ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa malah berkutat dengan laptop itu? Lebih baik kamu tidur, karna semalam kau telah menjagaku hingga tak bisa tidur dengan nyaman," Hengky langsung mengambil alih laptop itu, menutup dan menjauhkan benda canggih itu dari hadapan Fisha.


"Fisha kan mau sholat shubuh, Mas. Dari pada nunggu Mas Hengky di kamar mandi lama, Fisha berpikir untuk membuka tugas akhir Fisha yang sudah terbengkalai sekian lama," sahut Fisha sambil bergegas mengambil air wudhu agar bisa sholat berjama'ah bersama suaminya.


Mereka pun segera sholat berjama'ah. Selesai mengucapkan salam kedua, Hengky membalikkan tubuhnya agar Fisha bisa mencium punggung tangannya. Setelah itu, Hengky kembali menghadap kiblat dan mereka melafazkan do'a.


Ada Isak di sela-sela do'a yang Fisha ucap. Matanya membasah, sebelum genangan air di dalamnya tumpah. Kematian papa mertuanya itu mengingatkannya pada kematian ibu dan ayahnya, yang membuat Fisha benar-benar hidup sebatang kara jika Hengky tak menikahinya. Ya, pernikahan mendadak yang Fisha yakin bahwa suaminya yang kini dia cintai itu, hanya menikahinya karena terpaksa. Sudahkah cinta itu hadir dalam hati suaminya? Tak ada yang tahu. Yang Fisha tahu, setiap saat Hengky meminta haknya sebagai suami dan menikmati tubuhnya tanpa Fisha tahu perasaan suaminya itu yang sebenarnya. Hingga keraguan itupun selalu muncul secara tiba-tiba, apalagi setiap Fisha mendengar suaminya membicarakan tentang sosok wanita yang pernah dia puja.


"Sayang," panggil Hengky, begitu Fisha mengakhiri do'anya. Ternyata suaminya itu sudah memperhatikan Fisha begitu Isak tangisnya tertangkap Indra pendengarannya.


Fisha segera menghapus sisa air matanya dengan cepat, dan langsung memaksakan sebuah lengkungan di bibirnya.


"Aku sudah berjanji tak akan bersedih lagi, demi kamu dan mamaku. Jadi aku mohon, hapus juga air matamu, dan buang semua kesedihan itu," Hengky meraih tangan Fisha, kemudian menggenggam erat dan mengecupnya.


Fisha hanya mengangguk pelan, dengan senyum yang masih terlihat dipaksakan.


"Apa kamu ingat orang tuamu?" Hengky yang bisa menangkap masih ada kesedihan di hati istrinya, segera mengajaknya berdiri dan duduk di atas ranjang mereka, setelah Hengky membantu Fisha melepas dan merapikan mukenanya.


"Maaf, Fisha tidak bermaksud menambah beban Mas Hengky," Fisha menunduk dalam. Dia sungguh tak mungkin mengatakan kegalauan di hatinya di saat-saat suaminya masih berduka atas kematian Tuan Atmaja.


"Apa ada yang kau sembunyikan, Sayang?" Hengky menelisik.

__ADS_1


Fisha menggelengkan kepalanya, tapi sikap dan matanya terus berbicara tanpa ada kata-kata.


"Sayang,"


"Fisha baik-baik saja, Mas," Fisha kembali berbohong.


"Baiklah, kamu mandi dulu, biar badanmu terasa segar. Oke?" Hengky mengacak rambut Fisha dengan sayang.


Tak ada penolakan. Fisha memilih untuk langsung melakukan apa yang suaminya katakan.


Begitu Fisha masuk untuk membersihkan diri, Hengky beranjak menuju meja kerja yang sempat ditempati Fisha sesaat tadi. Dia mulai membuka laptop yang sempat dia tutup tanpa dia matikan terlebih dahulu, sehingga ketika dia nyalakan lagi, dia bisa menangkap apa yang Fisha tuliskan dan kerjakan dengan benda canggih itu.


Fisha selalu meluapkan perasaan hatinya melalui sebuah tulisan. Hal ini diketahui Hengky, ketika pernah secara tak sengaja Hengky menemukan sebuah novel yang diterbitkan secara online, yang ternyata adalah karya istri kesayangannya. Dari situlah Hengky tahu, bahwa kisah hidupnya dia tuangkan di sana.


Dan ternyata benar. Begitu laptop di depannya kembali menyala, Hengky menemukan sebuah file berjudul my diary yang masih terbuka.


"Rupanya ini yang sedang kau lakukan tadi, Fisha," lirih Hengky sambil memindahkan file itu ke ponselnya. Setelah file terkopi, Hengky segera mematikan laptop itu kembali.


Sepuluh menit kemudian, Fisha keluar dengan jubah mandi yang dia kenakan. Rambut panjangnya yang basah, terurai begitu saja membuat aura kecantikannya terlihat begitu nyata. Fisha melewati suaminya yang kini sedang asyik berselancar dengan ponselnya, kemudian dia mendudukkan diri di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


Hengky melihat ke arah Fisha dan sesuatu yang kini sedang dibacanya secara bergantian selama beberapa saat, sebelum akhirnya beranjak dan menghampiri istrinya.


Fisha sedikit membulatkan matanya, mendengarkan apa yang diucapkan suaminya secara tiba-tiba.


"Jika rumah sudah kondusif dan Mas Hengky ada waktu, kita ke makam Ayah," sahut Fisha, berusaha sekuat tenaga untuk menahan bulir bening dari matanya.


"Pagi ini kita ke sana," ucap Hengky sambil terus menyisir dan mengeringkan rambut wanita yang telah mengisi ruang kosong dalam hatinya itu.


"Mas, tapi Mama ...," ucap Fisha ragu.


"Bersiaplah, pagi ini juga kita ke makam Ayah. Ada Kak Meysie dan suaminya yang menemani Mama," Hengky meletakkan sisir dan hair dryer itu di atas meja, kemudian mendekap tubuh Fisha dari belakang.


Tak tahan, Fisha melepaskan tangan suaminya dan membalikkan tubuhnya, sebelum akhirnya memeluk pinggang suaminya dengan erat.


"Terima kasih," hanya itu yang keluar dari mulut Fisha di sela-sela isak tangisnya.


***


Waktu baru menunjukkan jam setengah tujuh pagi, tapi Hengky dan Fisha sudah melenggang keluar gerbang utama dengan mobil warna silver yang dikemudikannya.

__ADS_1


Setelah dua jam perjalanan, mereka memasuki sebuah lingkungan pedesaan, sebelum akhirnya mobil terparkir indah di pinggir jalan dekat ayah Fisha dimakamkan.


"Kami memang tinggal di kota, karena Ayah dan Ibu harus bekerja untuk keberlangsungan hidup keluarga. Tapi kata Ibu, sebelum meninggal Ayah sempat berpesan, bahwa ketika Ayah meninggal nanti, beliau ingin dimakamkan di kampung ini. Kampung halaman dimana Ayah dilahirkan. Karena itulah Fisha hanya berziarah satu tahun sekali, tepat di hari Ayah pergi," cicit Fisha, begitu mereka turun dari mobil dan berjalan ke arah makam ayahnya.


"Maaf, ternyata banyak hal yang aku tak tahu," Hengky meraih tangan Fisha dan menggenggamnya erat. Fisha hanya tersenyum tipis ke arah suaminya dan kembali berjalan bergandengan menuju makam ayahnya.


***


Flashback


Hengky memindahkan file dari laptop Fisha ke ponselnya. Setelah file terkopi, Hengky segera mematikan laptop itu kembali, dan langsung membukanya melalui ponsel miliknya sambil duduk bersandar di kepala ranjang.


My diary,


Hari ini adalah tepat dimana Ayah pergi meninggalkanku. Seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, berjuta do'a kupanjatkan agar Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.


Tapi satu hal yang tak bisa kulakukan seperti tahun-tahun biasanya, aku tak bisa berziarah karna ayah dari lelaki yang kucinta juga pergi dan dimakamkan di hari yang sama.


Aku tak tahu apakah tahun lalu akan menjadi tahun terakhir aku bisa mengunjungi makamnya, karena aku tahu di hari yang sama pasti lelakiku akan melakukan itu di makam ayahnya. Bukankah aku harus menemaninya di saat-saat dia berduka?


Hmmm, padahal aku sudah berjanji. Tahun ini, tepat dimana hari Ayah pergi, aku akan memperkenalkan lelakiku itu di depan pusaran makamnya.


Tapi lagi-lagi aku harus melupakannya, seperti janjiku sebelum menikah dulu. Janji dimana aku akan membawa suami yang kunikahi tepat setelah hari pernikahanku, harus pupus karena cobaan yang datang pada keluarga suami secara bertubi-tubi. Dan kini, di saat hari dimana Ayah pergi, aku pun tak mampu memenuhi janjiku kembali.


Maafkan aku, Ayah. Aku putrimu yang sungguh tidak berbakti. Hanya untaian do'a yang mampu kueja dari mulut ini, semoga kau mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.


Nafisha Hasna


Ada sesak di dada yang Hengky rasa, membaca sekelumit kata yang dituliskan istrinya, yang lebih mementingkan perasaan suaminya dari pada teriakan hatinya.


"Maaf karena telah membuatmu menanggung beban itu seorang diri, Sayang," gumam Hengky dalam hati.


Begitu Fisha keluar, Hengky pun memandang istri cantiknya dan sesuatu yang kini sedang dibacanya secara bergantian, sebelum akhirnya beranjak dan menghampiri istrinya dan mengajak Fisha berkunjung ke makam ayahnya.


"Sayang, apa kau tak mau memperkenalkanku kepada mendiang ayahmu?"


End of flashback


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2