
Tuhan mempertemukan dua jiwa dalam sebuah ikatan karena suatu alasan. Begitu juga saat tercipta sebuah perpisahan, Tuhan sudah menetapkan semua itu dengan garis yang telah Dia tasbihkan.
Ya, pertemuan dan perpisahan bukanlah suatu hal yang kebetulan, tapi karena campur tangan Tuhan. Karena itulah kita akan menjadi seperti apa yang Tuhan takdirkan, bukan seperti apa yang kita inginkan.
Seperti saat turun air hujan, itu adalah bagian dari takdir yang Tuhan gariskan. Begitu juga dengan jatuhnya daun, robohnya pohon, bahkan mengalirnya air, semua sudah menjadi bagian dari rencanaNya yang tak bisa ditawar-tawar. Karna suratan takdir pasti akan terjadi, tanpa satu makhluk pun bisa mangkir dan menghindari.
Dan Zara percaya, seperti Tuhan yang telah kembali mempertemukan cinta Rani dan Ryan, seperti itu pula dia akan menemukan Indra jika Tuhan mengizinkan. Yang bisa dia lakukan hanya berprasangka baik, bahwa do'a dan keyakinannya akan keselamatan Indra, akan membuat Tuhan dengan mudah menunjukkan kuasaNya, hingga Zara bisa menemukan kembali belahan jiwanya yang kini entah berada dimana.
"Jika diizinkan dan sudah tidak dibutuhkan di tempat ini, saya mohon undur diri, Tuan. Saya harus segera bergabung dengan yang lainnya untuk membantu pencarian Tuan Indra," Zara berusaha tetap tersenyum, walaupun hatinya sungguh tak tenang. Masih hidupkah kekasih hatinya sekarang?
"Terima kasih, Zara. Pergilah, dan segera temukan Indra," Ryan yang sangat mengerti perasaan Zara, begitu menghargai sikapnya yang bisa menahan diri demi kepentingan dirinya. Dan kini, saatnya Zara memikirkan nasib diri dan kekasihnya yang menghilang karena insiden saat aksi penyelamatan Rani, hingga Indra jatuh dan lenyap bagai ditelan bumi.
Zara yang sudah mendapatkan lampu hijau dari Ryan pun langsung berlari sekencang-kencangnya, mencoba mencari kekasih hati yang tak tahu kini berada dimana.
"Berjuanglah untuk tetap hidup demi cinta kita, Tuan. Seperti Nona yang berjuang untuk tetap hidup demi Tuan Ryan dan cinta mereka," gumam Zara dalam hati.
Zara terus berlari menyusuri lorong rumah sakit itu, hingga menemukan sebuah lift yang akan membawanya menuju ke atap gedung rumah sakit. Di sanalah helikopter yang di bawanya untuk membawa Rani ke rumah sakit ini berada. Sayangnya, padatnya pengguna lift membuat pintu lift itu terbuka sangat lama. Tak sabar, Zara justru memilih menaiki tangga karena tak mau membuang-buang waktunya untuk hal yang sia-sia.
__ADS_1
Ratusan anak tangga pun sama sekali tak menjadi penghalang. Seolah tak ada rasa lelah dalam dirinya, dia terus menaiki anak tangga demi anak tangga itu hingga sebuah helipad lengkap dengan helikopter yang tadi dikendarainya terlihat di depan mata.
"Tunggu aku, Cinta. Aku akan menemukanmu. Bertahanlah untukku," Zara terus bergumam lirih. Besarnya rasa cinta di dalam hatinya, membuat dorongan untuk segera menemukan Indra sangat besar, dalam kondisi seperti apapun kekasih hatinya saat nanti Tuhan mempertemukan kembali mereka berdua.
Dengan secepat kilat, Zara segera pergi ke istana Felix, tempat tragedi itu terjadi. Zara pun segera menemui Naja yang masih setia dengan semua perlengkapan di mobilnya, sementara Johan, Rudi dan anak buah mereka beserta seluruh pasukan dari pihak aparat kepolisian sudah turun ke dasar jurang tempat Felix dan Indra diperkirakan.
Ya, Istana yang dibangun Felix memang terletak di sebuah puncak pegunungan yang tinggi menjulang. Istana megah itu berdiri di tepi jurang, namun panoramanya sungguh sangat mengagumkan. Dari sana, akan terlihat jelas pemandangan kota dengan begitu indahnya. Bahkan ketika malam hari telah tiba, kelap-kelip lampu kota sungguh terlihat luar biasa memanjakan mata.
Bangunan itu juga memiliki kolam renang tingkat tiga, seperti sawah berundak khas Bali. Kolam renang di sana juga diatur sedemikian rupa, dengan pohon kelapa dan kamboja yang berjejer di sekelilingnya. Dari area kolam renang itulah terdapat jalan setapak berundak yang bisa menghubungkan bangunan utama dengan dasar jurang di sekelilingnya. Dan jalan itu pula yang dilewati Johan berserta rombongan, untuk mulai mencari Indra yang terlihat jatuh dari titik helikopter itu terakhir terbang.
"Bukankah biasanya kalian menanam alat pelacak itu di tubuh kalian? Bagaimana dengan Tuan Indra? Apa Kakak juga memasang alat pelacak di dalam tubuhnya?" Zara yang sudah bergabung dengan Naja, mencoba untuk bersuara demi mendapatkan secercah cahaya dalam harap yang terus terucap di dalam hatinya.
"Kau benar. Dan aku menangkap sinyal keberadaan Indra di titik ini. Namun saat tempat itu di cek langsung oleh Johan dan Rudi, Indra sudah tidak ada di sana lagi. Padahal sinyalku terus menunjukkan dia berada di titik yang sama. Seharusnya Indra tak kemana-mana, karena alat pelacak itu terlihat masih berada di sana," Naja terlihat berpikir keras. Matanya terlihat membengkak, kesedihannya tak bisa dia sembunyikan menyadari bahwa adik semata wayangnya belum juga ditemukan. Walau Naja berusaha untuk tenang, tapi ekspresi wajahnya tak bisa disembunyikan.
"Bagaimana bisa?" Zara mengerutkan dahinya, memikirkan perkataan Naja tentang beberapa kejanggalan yang mereka dapatkan di lapangan.
"Seharusnya Indra masih berada di tempat itu, kecuali ...," Naja tak melanjutkan kalimatnya. Beberapa spekulasi tiba-tiba muncul di benaknya begitu saja.
__ADS_1
"Kecuali apa?" tanya Zara, sambil mencoba menebak arah pembicaraan calon kakak iparnya.
"Kecuali ada yang sengaja melepas alat pelacak itu dari tubuhnya," lirih Naja, dengan kesedihan yang tidak bisa disembunyikannya.
"Tapi siapa? Felix? Bukankah jelas-jelas peluru itu sudah menembus tubuhnya?" sahut Zara dengan penuh tanda tanya.
Naja hanya mendesah kasar, tak bisa menjawab semua pertanyaan yang Zara lontarkan.
"Aku harus mencarinya," tiba-tiba Zara beranjak dan meninggalkan Naja begitu saja.
"Zara, jangan konyol! Terlalu berbahaya jika kau mencari Indra sendiri saja, sementara Johan dan rombongan sudah menyisir jurang itu tanpa ada hasil apa-apa. Biarkan mereka terus mencari, dan kita tunggu mereka di sini. Hari sudah malam, Zara. Setidaknya tunggulah sampai hari mulai terang," seru Naja, mencoba menghalangi aksi nekat Zara yang kini sudah berjalan menjauh darinya.
"Aku bisa mati jika hanya berdiam diri di tempat ini, Kak. Aku akan menemukannya, apapun resikonya,"
Zara tak peduli dengan apa yang dikatakan Naja kepadanya. Dia terus berjalan menuju istana, kemudian turun menyusuri jalan setapak untuk bisa sampai ke dasar jurang, tempat dimana Indra jatuh kesana menurut perkiraan mereka.
"Bertahanlah untukku, Cinta," bukan hanya keberaniannya yang membuat Zara nekat seorang diri mencari Indra, tapi karena cinta dan ikatan hati di antara mereka.
__ADS_1
Akankah Zara menemukan belahan jiwanya? Ataukah Indra memang benar-benar sudah tak ada di dunia? Semua masih menjadi rahasia.
BERSAMBUNG