
Aghata duduk di samping ranjang pasien tempat Arsen terbaring. Dokter sengaja menyuntikkan obat tidur melalui selang infus yang terpasang di tangan kirinya, agar Arsen lebih tenang ketika nantinya dia tersadar. Hal ini bukannya tanpa alasan, karena biasanya seseorang yang gagal setelah melakukan percobaan bunuh diri, perasaannya akan menjadi campur aduk tak karuan. Dokter khawatir, Arsen akan merasa bingung, lega, kecewa, atau marah yang bercampur menjadi satu. Di sisi lain, dokter tidak bisa menjamin jika Arsen akan mencari tahu apa yang menyebabkan kegagalan percobaan bunuh diri itu, sehingga tidak menutup kemungkinan percobaan untuk bunuh diri lagi akan diulang kembali.
"Aku tau kau menyesal atas perbuatanmu dulu. Tapi bukan berarti kau harus menebus dengan cara seperti ini," gumam Aghata dalam hati.
Sesungguhnya, kebencian dalam hati Aghata masih selalu mengejarnya. Bagai luka sayatan yang bekasnya tak bisa hilang, begitulah sakit yang Aghata rasakan. Semua penderitaan di masa lalunya terakumulasi menjadi satu, menorehkan lara yang membekas di kedalaman hatinya.
Namun, rasa cinta dalam dirinya pun sulit terlupakan begitu saja. Bahkan seorang Prabu Dewangga sekalipun tak pernah bisa menggeser nama Arsen dalam hatinya. Ya, kecintaan Aghata membuatnya sulit melupakan Arsen, dan kebenciannya justru selalu mengingatkannya akan dirinya. Itulah kedasyatan cinta.
Kini, Arsen terbaring lemah di hadapannya, untuk sebuah pengorbanan yang dia persembahkan untuk putra mereka. Tidakkah itu bukti cinta yang nyata?
"Ahhh," Aghata mendesah kasar. Bahkan kini air di matanya sudah menggenang, membayangkan seandainya kematian itu benar-benar menjemputnya.
Hingga tiba-tiba, Arsen mengerjabkan matanya. Setelah beradaptasi dengan bias sinar yang masuk sebentar, dia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang. Dan benar, perasaan bingung, marah, kecewa tapi juga lega kini menyeruak dalam dadanya, menyadari akan kegagalan dari sebuah keputusan besar yang sudah diambilnya.
"Kenapa? Kau bingung kenapa kau bisa berada di tempat ini, heh? Memang kau berharap saat ini kau sedang berada dimana? Di alam kubur? Di akhirat? Atau dimana?" cecar Aghata penuh emosi.
"Aghata, aku ...," Arsen tak bisa berkata apa-apa mendengar kemarahan Aghata yang ditujukan kepadanya.
"Kau pikir mati itu mudah, hah? Kau pikir Daniel juga akan suka dengan apa yang kau lakukan dan dengan senang hati menerima mata yang kau donorkan? Kau ini bodoh atau bagaimana?" lanjut Aghata belum bisa meredam emosinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Aghata. Tapi kupikir hanya ini yang bisa aku berikan," lirih Arsen, sambil menatap Aghata yang air matanya sudah berderai.
"Apa kau ingin membuat Daniel menyesal seumur hidupnya dengan apa yang kau lakukan? Jika kau benar-benar mati, dia akan mengutuki dirinya. Apa semua itu sama sekali tidak kau pikirkan?" cerocos Aghata.
"Maaf," Arsen kehabisan kata-kata. Mendengar Aghata begitu banyak berbicara kepadanya, justru membuat angan Arsen kembali pada masa-masa kebersamaan mereka saat mereka masih muda.
"Cih, maaf kau bilang? Mudah sekali kata itu keluar dari mulutmu. Untung saja Rudi memasang CCTV itu di dalam kamarmu, hingga paska percobaan bunuh diri itu dia langsung bisa menyelamatkanmu. Jika tidak, bahkan kata maaf itu tak akan pernah lagi bisa keluar dari mulutmu," sahut Aghata, kini sambil memalingkan mukanya. Tak terasa, kristal-kristal bening itu meleleh begitu saja dari ujung matanya. Mulutnya memang begitu marah dengan apa yang dilakukan Arsen kepadanya, tapi hatinya sungguh tak kuasa melihat Arsen terluka. Benarkah karna rasa cinta itu masih ada? Jawabannya, ya. Sayangnya Aghata punya banyak sekali pertimbangan untuk bisa menerima Arsen kembali dalam kehidupannya.
"Apa kau akan merasa kehilangan dan bersedih jika aku tiada?" tanya Arsen penuh selidik.
"Aku tidak peduli," tampik Aghata.
"Jangan kau harap cintaku kembali setelah semua yang kau lakukan kepadaku, Arsen," Aghata masih mengelak.
"Sekali lagi mulut dan sorot matamu tak sejalan, Sayang. Aku tahu kau masih mencintaiku," kejar Arsen.
"Sudahlah. Aku tak mau membuang waktuku hanya untuk berbicara dengan laki-laki tak bertanggung jawab seperti kamu. Kau pikir setelah penderitaanku selama ini, dengan mudahnya aku bisa menerimamu kembali? Tidak, Arsen. Jangan kau harap akan semudah itu," Aghata beranjak dari duduknya dan meraih tas di sampingnya hendak meninggalkan Arsen sendirian.
"Aku tahu kau menderita, Sayang. Aku pun sama menderitanya seperti kamu," ucap Arsen, nanar. Mendengar ucapan Arsen, Aghata menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Benarkah kau tahu, Arsen? Benarkah kau tahu bagaimana rasanya menanti sebuah hari pernikahan yang tak kunjung datang? Benarkah kau tahu bagaimana rasanya ditinggal semua orang saat hamil besar? Benarkah kau tahu bagaimana rasanya mencoba bunuh diri berkali-kali dan berkali-kali itu juga gagal? Benarkah kau tahu bagaimana rasanya akhirnya menikah dengan pria yang sudah beristri dan akhirnya harus pergi? Benarkah kau tahu bagaimana rasanya membesarkan Daniel seorang diri? Benarkah kau tahu bagaimana rasanya ketika akhirnya Daniel menyimpan dendam dan menyakiti orang yang ternyata adalah seorang pahlawan karena dia mengira bahwa orang itu adalah dirimu?" cecar Aghata, sambil menatap Arsen dengan tajam. Kini air matanya tumpah.
"Penderitaanku saat memikirkanmu melalui semua kesulitan itu, mungkin lebih besar dari pada penderitaanmu, Sayang. Percayalah. Bahkan rasa bersalah yang terus mengorek hatiku ini, mungkin lama-lama akan membunuhku," ucap Arsen, sambil menatap langit-langit kamar serba putih itu.
"Jangan pernah kau bandingkan penderitaanmu dengan penderitaan yang aku rasakan, Arsen! Karena itu tak akan pernah sama. Penderitaanku, itu semua kau yang menorehkannya. Sedang penderitaanmu, itu semua atas kesalahanmu sendiri," ucap Aghata, kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu.
"Apa kau mencintai pria itu, Aghata? Apa kau mencintai Prabu Dewangga?" Arsen melayangkan pertanyaan itu secepat kilat, sebelum Aghata keluar dari kamar pasien itu. Dan ternyata berhasil. Aghata benar-benar menghentikan langkahnya, mendengar pertanyaan Arsen yang sangat ditakutkannya.
"Bukan urusanmu," sahut Aghata singkat, tanpa melihat ke arah pria yang sesungguhnya masih merajai hatinya itu.
"Sekali lagi, hati dan mulutmu tak sejalan, Aghata. Aku tahu kau masih mencintaiku," cicit Arsen penuh percaya diri.
"Terserah apa katamu, aku tak peduli. Aku akan kembali ke kamar putraku," jawab Aghata tak acuh. Dia melanjutkan langkahnya, dan membuka pintu kamar pasien itu begitu saja.
Namun, alangkah terkejutnya Aghata begitu pintu terbuka. Tepat di depan pintu itu, Daniel yang duduk di atas kursi roda di temani Naja, Rani, Ryan dan Johan sudah berada di sana. Apakah mereka semua mendengar apa yang Arsen dan Aghata bicarakan?
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Bagi rate 5 nya dong kak. Like, vote dan comment juga yah. Terima kasih.