METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bolehkah Abang Mewisudamu Sekarang?


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Bang. Semua sudah terekam di benak Meysie. Biarkan Meysie pulang ke Indonesia dan kita akhiri semuanya," kini Meysie berdiri dan berjalan menuju lemari. Tanpa aba-aba, dia mengambil sebuah koper dan memasukkan lembar demi lembar pakaiannya.


"Apa kau bilang? Bukankah Abang sudah katakan, jangan pernah pergi dari Abang, karena kemanapun kau pergi pasti Abang akan mendapatkanmu kembali?" Ega merebut beberapa pakaian yang Meysie pegang dan mengambil paksa koper yang sudah dikeluarkan.


"Kembalikan, Bang! Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan dari hubungan kita ini," Meysie mendekat ke arah Ega dan berusaha merebut koper dan pakaiannya.


Dengan gerakan cepat Ega memasukkan koper berikut dengan beberapa lembar pakaian Meysie ke dalam lemari.


"Baiklah, Meysie tetap akan pergi meskipun harus dengan pakaian seperti ini," ucap Meysie, kemudian menuju pintu kamar dan mencoba memutar handel pintu untuk keluar.


Ega memeluk istrinya dari belakang dan mencoba menahannya.


"Lepaskan Meysie, Bang! Lepaskan! Meysie tak akan pernah membiarkan Abang mengkhianati Meysie lagi," dengan sekuat tenaga, Meysie melepaskan pelukan Ega, dan kembali membuka gagang pintu kamarnya.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Ega mengangkat tubuh Meysie ke pundaknya, seperti seorang kuli yang sedang mengangkati karung-karung di bahunya.


"Turunkan Meysie, Bang! Turunkan! Biarkan Meysie pergi," Meysie memberontak. Tubuhnya bergerak-gerak, tangannya pun sibuk memukuli suaminya dengan sisa tenaga yang dia punya.


Sementara Ega, sama sekali tak menggubris teriakan istrinya. Dia terus mengangkat tubuh Meysie dan berjalan mendekati ranjang mereka berdua.


Dengan lembut, Ega pun membaringkan tubuh istrinya itu, kemudian menindihnya hingga tubuh bak seorang model itu kini berada dalam kungkungannya.


"Kamu itu sedang cemburu atau jatuh cinta, Sayang?" cicit Ega. Kini Ega berada di atas tubuh Meysie, dengan posisi yang hampir tak ada jarak lagi di antara keduanya. Bahkan, hembusan nafas mereka bisa saling menghangatkan dan menambah hasrat yang sudah mulai menyala-nyala dan menguasai hati keduanya.


"Mana ada," sahut Meysie sambil mengalihkan pandangannya.


"Aku sedang cemburu atau jatuh cinta? Kenapa sepertinya aku sedang merasakan keduanya ya?" batin Meysie dalam hati.


"Dia itu adik angkat Abang. Dia memang warga negara Amerika, tapi mama dan papalah yang menjadi orang tua asuhnya sejak orang tua kandungnya pergi untuk selama-lamanya dari dunia. Jadi, dia sudah Abang anggap sebagai adik kandung Abang sendiri," Ega menjelaskan sambil meraih dagu istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Abang tidak sedang berbohong kan?" ada binar kelegaan di sorot mata cantiknya.


"Abang tidak sedang berbohong dan tidak akan pernah berbohong sama kamu, Sayang. Abang memang sengaja meminta dia datang agar Abang bisa mengukur sejauh mana kamu sudah berusaha untuk mencintai Abang dari hatimu yang terdalam," Ega lebih mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya. Dan kini, hembusan nafas mereka mulai tak beraturan.


"Jadi," wajah Meysie mulai merona kembali.


"Malam ini Abang bisa melihat api cemburu itu menyala-nyala di dalam hatimu, sampai-sampai Abang tak bisa mengukur apakah kau ini hanya sedang cemburu atau sedang jatuh cinta kepada Abang," dengan bangga Ega mencium kening istrinya dengan perasaan yang teramat dalam.


"Mungkin kedua-duanya, Bang," gumam Meysie dalam hati.


Ega tersenyum bahagia menatap kedalaman mata Meysie yang tak mampu menyembunyikan segala isi hati. Karena itulah malam ini dia sudah memantapkan diri, akan melakukan satu ibadah agung yang banyak di sukai hampir oleh semua orang. Ega pun memulai aktifitas halalnya begitu saja.


"Abang, Meysie ... Ahhh," Ega tak membiarkan Meysie menyelesaikan kalimatnya.


Ega sudah menyusuri setiap inchi wajah Meysie tanpa ada satu spot pun yang terlewati. Ega semakin memperdalam aktifitasnya, dengan bermain mesra di area rongga mulutnya, sesaat sebelum akhirnya membuat stempel kepemilikan di leher jenjang istrinya.


Ega pun sempat membulatkan mata, ketika akhirnya bisa melihat dan memuji maha karya Sang Maha Pencipta yang sedemikian sempurna. Kini, di antara mereka sudah tidak ada lagi satu pun penghalang yang membatasi tubuh keduanya. Hingga ratapan, desahan dan rintihan dari kamar mereka terdengar ngeri bagi siapa saja yang mendengarnya.


Hingga saat itu, akhirnya telah tiba.


"Bolehkah Abang mewisudamu sekarang?" tanya Ega parau. Dia sudah tak mampu lagi menahan hasratnya yang sedemikian besar.


"Tunggu, Bang. Apa yang akan Abang lakukan jika ternyata sebelumnya Meysie telah diwisuda terlebih dahulu?" tanya Meysie penuh selidik.


"Abang tak peduli dengan masa lalu kamu, apapun itu. Yang Abang pedulikan adalah bagaimana masa depan kita sekarang," sahut Ega sambil mengatur sedemikian rupa posisi mereka sebelum sejarah baru mulai mereka pahat malam itu.


"Jadi, sudah bolehkah Abang mewisudamu sekarang, Sayang?" Ega kembali memastikan. Dia betul-betul tak sabar ingin menjadikan Meysie sebagai seorang istri seutuhnya.


Hanya anggukan yang mampu Meysie berikan, untuk mengatakan bahwa malam itu dia juga sudah sangat menginginkannya.

__ADS_1


Hingga setelah atraksi pemanasan yang penuh dengan kenikmatan, Ega cukup kesulitan memasuki area wisuda yang sepertinya masih tersegel baru dari Yang Maha Menciptakan. Ega terus menggesek dan mendorong benda miliknya, mencoba masuk ke area wisuda milik istrinya.


"Sudah belum, Bang?" tanya Meysie sambil meringis kesakitan.


"Belum, sebentar lagi," Ega terus berusaha sekuat tenaga.


"Sudahkah, Bang?" tanya Meysie lagi.


"Belum, Sayang. Sebentar lagi ya. Sabar sedikit, karena nanti kita akan merasakan kenikmatan yang sungguh memabukkan," sahut Ega masih fokus dengan aktifitas yang sudah sangat ditunggu-tunggunya itu.


"Auwww," sedetik kemudian, Meysie berseru seiring dengan darah segar yang mengalir deras di bawah sana.


"Kau masih pe ...," Ega tak melanjutkan kalimatnya.


"Abang adalah orang pertama dan terakhir yang berhak mewisuda Meysie, Bang," ucap Meysie masih dengan ringisan karena sakit yang tertahan.


Mendengar ucapan istrinya, juga melihat kenyataan yang terpampang nyata di hadapannya, semangat Ega semakin membara.


Ega terus mewisuda Meysie hingga puncak kenikmatan itu pun berhasil mereka nikmati malam ini.


"Inikah surga dunia itu, Sayang?" ucap Ega kemudian tumbang di sisi Meysie yang sudah begitu kelelahan.


Ya, akhirnya Ega berhasil mewisuda istrinya setelah menunggu sekian lama. Buah kesabaran yang berakhir dengan kenikmatan yang sedemikian besar pun Ega rasakan dengan penuh kesyukuran.


"I love you, Honey" ucap Ega sambil meraih tubuh polos Meysie, kemudian merengkuh dan memeluk erat kekasih hatinya.


"I love you too," sahut Meysie dengan mantap. Kini tak ada sekelumit ragu pun yang masih membuat Meysie tak yakin dengan perasaan cintanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2