METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Terpancing


__ADS_3

Wajah Arya memerah menahan marah, begitu tahu siapa pengirim karangan bunga itu. Bahkan dilihat dari ekspresi muka yang ditunjukkannya, sangat terlihat bahwa apa yang sedang dialami Lena menyisakan sebuah misteri besar yang menggelinjang dan menyimpan tanda tanya besar.


"Dari siapa?" Ryan dan Daniel bertanya serentak. Mereka merasa bahwa setelah apa yang terjadi pada Lena, semua yang menghampiri dan ada di sekililing mereka wajib untuk mereka curigai.


Arya tidak menjawab pertanyaan dua sahabatnya. Dia hanya menyerahkan secarik kertas itu pada Ryan dan Daniel, kemudian duduk di sofa dengan tangan yang memegangi kepalanya. Arya terlihat memutar otak, memikirkan bagaimana kejadian yang sama tak akan terulang lagi pada istri dan seluruh keluarganya.


"Charles!" seru Daniel dan Ryan secara bersamaam, geram.


Sesaat kemudian, Johan masuk kembali ke ruang perawatan Lena dan berbicara melalui isyarat mata kepada Daniel dan juga Ryan yang masih bertahan duduk di sofa.


"Kami cari angin dulu sebentar," ucap Daniel, begitu mengetahui Johan mengajak mereka keluar karena ada yang ingin dia bicarakan.


Naja, satu-satunya perempuan di ruang rawat itu yang paham betul dengan kondisi yang kini mereka hadapi pun berusaha untuk bertanya, tapi sebelum dia melakukannya Daniel sudah menggelengkan kepala sebagai sebuah isyarat yang diberikan kepadanya. Akhirnya, Naja mengurungkan niatnya dan memilih diam, seolah tak tahu apa-apa. Dia memilih bergabung dengan para ibu yang saat ini sedang menghibur Lena.


Tak lama berselang, Ryan, Daniel dan Arya keluar mengikuti kemana Johan melangkahkan kakinya.


"Bagaimana, Jo?" Arya mulai membuka pembicaraan. Kini mereka berempat telah masuk ke dalam mobil yang melaju dengan begitu pelan. Bukan karena kondisi jalanan yang macet dengan banyaknya kendaraan. Tapi lebih karena untuk saat ini, mereka belum bisa menentukan tempat mana yang paling aman dan lolos dari incaran Charles atau musuh lain yang memasang jebakan.


"Ada CCTV yang sengaja dipasang musuh di rumah Anda, Tuan," jawab Johan yang membuat Ryan, Daniel dan Arya sukses membulatkan mata.


"Bagaimana bisa?" sahut Arya tidak percaya. Dilihat dari segi penjagaan, rumah yang ditinggali Arya, Lena dan Davina tak kalah ketat jika dibandingkan dengan rapatnya penjagaan di rumah Ryan ataupun rumah Daniel yang saat ini ditempati Johan.


"Bisa jadi orang dalam," cicit Johan datar.

__ADS_1


"Hubungi Naja, Niel. Minta istrimu itu selidiki siapa yang berani memasang CCTV secara dian-diam di rumah Arya," titah Ryan.


"Biar aku kirimkan pesan kepadanya. Apa rencana kita selanjutnya?" sahut Daniel sambil meraih ponsel dari saku celananya.


"Hancurkan semua CCTV yang tepasang di rumah kita, Jo. Pasang CCTV baru tanpa ada seorang pun yang tahu. Kelihatannya ada yang sedang ingin bermain-main dengan kita," Ryan memberi perintah.


"Ingat, semuanya. Bukan hanya rumah Arya. Aku takut, apa yang Charles lakukan kepada Lena hanya sebuah jebakan. Bisa jadi bukan Lena yang dia targetkan," lanjut Ryan sambil menyandarkan tubuhnya di atas jok mobil yang sedang ditumpanginya.


"Maksudnya jebakan?" Arya mengerutkan dahinya.


"Target Charles bisa jadi bukan Lena atau Nina, tapi Rani. Bisa juga ketiga-tiganya," ucap Ryan sambil membuang pandangannya dengan kasar ke arah luar, melalui jendela mobil dimana mereka berempat sedang berjalan tanpa tujuan.


"Ingat, kau harus memastikan dan melakukannya sendiri, Jo. Jangan biarkan ada seorang pun yang tahu, termasuk Rudi," Daniel menimpali.


***


"Apakah mereka terpancing dengan umpan pertama kita?" tanya pria itu sambil tersenyum licik.


"Tentu saja. Setelah ini mereka akan lebih fokus pada Lena dan Nina, karena mereka mengira yang kita incar adalah mereka. Dengan begitu, mereka akan sedikit lengah dan penjagaan pada anggota dewan itu takkan seketat biasanya. Satu-satunya yang menjadi masalah kita hanya mantan ballerina itu. Jika dia kita bereskan, aku pastikan Rani akan berhasil dalam genggaman," sahut pria yang lain, dengan sinisnya.


Ya, salah satu dari pria itu memanglah Charles. Dia keluar dari persembunyiannya karena dibayar oleh seorang pengusaha kaya raya, dan diminta khusus untuk membantu aksi balas dendamnya.


Sadangkan pengusaha kaya raya itu adalah Tuan Atmaja, ayahanda dari Meysie dan Hengky. Meskipun tidak sebesar nama Prabu Dewangga atau putranya, tapi Atmaja termasuk dalam deretan ten of the best entrepreneurs di Asia, setelah Ryan Dewangga dan Daniel Cullen. Tak heran jika dia mampu menangkap peluang untuk memanfaatkan dendam Charles dan berhasil menemukan keberadaannya, sehingga dia bisa dengan leluasa memanfaatkan Charles untuk membalaskan dendam keluarga Atmaja tanpa menimbulkan kecurigaan yang bisa diketahui oleh Ryan Dewangga dan keluarganya.

__ADS_1


"Apa rencana kita selanjutnya, Tuan?" tanya Charles.


Dia benar-benar tidak sabar ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang telah membuat dirinya menjadi buronan. Apalagi setelah Daniel berdamai dengan keluarga Dewangga, Charles merasa Daniel tidak lagi melindunginya, bahkan seolah menganggapnya tak ada. Jadilah timbul rasa kesal dan dendam yang mendalam dari dalam hatinya.


"Saya sungguh tidak sabar ingin membuat perhitungan kepada satu per satu di antara mereka, Tuan," lanjut Charles sambil menyeringai seram.


"Tak perlu buru-buru, Charles. Kita akan menghancurkan mereka dengan pelan. Tidakkah kau ingin melihat pertunjukan yang kita mainkan? Setidaknya biarkan mereka merasakan kejamnya kehidupan, seperti hal kejam yang telah mereka lakukan kepada Meysie, putri kesayanganku yang mereka permainkan," jawab Atmaja sambil mengepalkan tangannya.


Rupanya Atmaja menyimpan dendam karena Ryan tidak mau menuruti kata dokter yang bisa membuat Meysie sadarkan diri. Ya, gadis itu memang masih terbaring lemah di ruang ICU dan tak sadarkan diri sampai saat ini.


Sebenarnya Ryan sudah menjelaskan tentang hal prinsip yang membuat dia tidak bisa hanya untuk sekedar berkata cinta atau memegang serta meremas tangannya walau hanya sampai Meysie tersadar, tapi menurut Atmaja penolakan Ryan itu berakibat fatal pada kondisi Meysie yang sampai detik ini masih juga belum sadar.


"Mari kita mulai dan kita nikmati pertunjukan yang kita buat, Charles. Siapkan rencana kedua," Atmaja menyeringai.


"Tentu saja, Tuan. Dengan senang hati akan saya lakukan," sahut Charles dengan senyum sinis yang sungguh lebih terlihat menakutkan.


"Kau sudah tahu apa yang harus kau siapkan untuk rencana kita selanjutnya, Charles?" Atmaja memastikan.


"Anda tinggal sebutkan nama target selanjutnya, kemudian duduk manis sambil menunggu kabar bahagia yang akan masuk ke telinga Anda, Tuan," jawab Charles sangat percaya diri.


"Baiklah, kita tinggal melihat, sejauh mana mereka bisa memberikan perlawanan. Akan kubuat mereka menderita, sesuai janjiku kepada putriku. Ha-ha-ha-ha," tawa Atmaja menggelegar, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa ngeri karena suaranya yang terdengar menakutkan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


Like, vote dan rate 5 nya jangan lupa🤗


__ADS_2