
"Hubby, Rani takut meninggal," Ryan mengerutkan dahinya mendengar Rani mengungkapkan kegalauannya.
"Kamu ngomong apa sih, Sayang?" protes Ryan, mendengar hal aneh keluar dari mulut istrinya itu. Kini tangan Ryan memegang dua pipi Rani, menempelkan dahinya ke dahi Rani, dan berbicara tepat di depan bibir ranum milik istrinya itu.
"Hubby, jika saat melahirkan nanti Rani meninggal, jika saat anak kita lahir di dunia ini Rani hanya tinggal sebaris nama, apakah Hubby akan tetap mencintai Rani?" Rani juga tidak mengerti, kenapa bayangan kematian terus meracuni pikirannya sejak semalam.
"Sssttt. Jangan berpikir macam-macam. Kamu akan baik-baik saja dan bersama-sama dengan Hubby membesarkan anak kita nanti, hingga mereka dewasa," protes Ryan. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang buruk, sehingga mengganggu suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.
"Tapi, Hubby. Saat perempuan melahirkan, rentang kematiannya sungguh sangat dekat," lirih Rani, resah. Dia mengingat beberapa temannya yang harus meregang nyawa sesaat setelah melahirkan anak mereka.
"Tidak akan ada yang terjadi saat dan setelah kau melahirkannya di dunia, selain kebahagiaan yang menaungi hidup kita, Sayang," timpal Ryan, sambil mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Hubby, Rani takut," rajuk Rani. Dia terus memeluk tubuh suaminya dan menyembunyikan wajah cantik itu di dalam dada bidang Ryan.
"Heh, mana istri Hubby yang berani. Mana istri Hubby yang kuat dan semangat? Takut mati boleh saja, jika itu akan membuat kita lebih dekat dengan Sang Pencipta. Tapi takut berlebihan, jangan. Kematian itu adalah ketetapan takdir. Kita hanya bisa berdo'a dan memohon agar Allah menguatkan dan memberikan kebaikan saat kita menjemput ajal," kini Ryan menghujani kepala Rani dengan puluhan kecupan.
"Tapi, Hubby," khawatir Rani.
"Cukup, Sayang! Hubby tidak mau dengar lagi. Hubby tidak akan bisa bernafas tanpa kamu ada di sisi Hubby. Yakinlah bahwa kita akan tetap saling mencintai hingga kita menua bersama," sergah Ryan, sambil memberikan beberapa sentuhan di area favoritnya untuk menenangkan.
Pagi itu pun mereka lewati dengan diskusi panjang lebar seputar kehamilan. Hingga akhirnya, mereka dapat mengusir kegalauan yang Rani rasakan.
***
__ADS_1
Lain dengan Ryan dan Arya yang sedang berjuang untuk membuat istri-istri mereka tetap nyaman dengan kehamilannya, Daniel justru sedang asyik menikmati masa-masa jatuh cinta di awal pernikahannya. Bahkan setelah memastikan bahwa Rani baik-baik saja dan sudah di perbolehkan pulang ke rumah setelah dinyatakan sehat oleh dokter yang merawatnya, Daniel memutuskan untuk pergi berbulan madu hari itu juga.
Ya. Daniel sudah menunggu Naja sekian lama. Bahkan saat misi terakhir yang dia berikan dan berakhir dengan menghilangnya Naja, Daniel belum pernah merasa tertarik lagi dengan seorang wanita. Satu-satunya wanita yang membuat Daniel tertarik selain Naja adalah Rani, seorang pejabat pemberani yang membuat salah satu Cafe miliknya hancur. Namun sayang sungguh sayang, ternyata Rani adalah istri dari anak seorang Ayah yang sempat Daniel benci.
Dan kini, Naja benar-benar kembali. Bahkan pernikahan mereka benar-benar telah terjadi. Pernikahan yang sungguh istimewa, setelah mereka berpisah dalam sebuah pengkhianatan yang cukup lama. Pernikahan yang menjadikan babak baru bagi kisah cinta mereka, yang mengukir sejarah terindah bagi kisah cinta mantan seorang mata-mata perusahaan dengan majikannya.
Karena itu, tidak heran jika sejarah terindah ingin mereka ukir untuk melengkapi cerita cinta tentang mereka berdua. Hingga bulan madu yang belum terencana sebelumnya itu pun akhirnya akan terlaksana. Ya, Johan telah menyiapkan semuanya dalam waktu singkat, sesuai dengan permintaan tuannya.
"Sayang, ayo bangun!" bisik Daniel tepat di telinga Naja.
Naja yang masih kelelahan pasca malam pertama mereka, dilanjutkan menunggui Rani seharian di rumah sakit pun belum mau beranjak dari tidurnya. apalagi setelah mereka pulang dari rumah sakit, Daniel kembali menghukum Naja sepuas-puasnya, sehingga tubuh kecil itu terasa remuk redam paska menerima seluruh hukuman yang diberikan oleh suaminya. Tak heran kalau dia masih asyik tertidur, bahkan tidak merubah posisinya sedikitpun sejak terakhir Daniel membiarkan dia mengistirahatkan tubuhnya.
"Sayang, ayo bangun. Hari sudah siang," ulang Daniel, sambil menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh polosnya.
Naja tak bergeming. Bahkan sekedar menggeliat pun tidak. Tak tahan, Daniel tergelak. Dia semakin gemas dan mencoba bermain-main dengan istrinya itu.
Daniel pun tersenyum penuh arti, melihat tanda merah yang dia buat semalam kini bisa kembali dia nikmati.
"Hey, bangun nggak? Kalau nggak bangun, aku hukum lagi, habis kau?" bisik Daniel sekali lagi, kali ini sambil mengecup tanda-tanda merah hasil karyanya semalam.
"Mmmm," akhirnya Naja menggeliat. Bahkan tangannya dia naikkan, hingga membuat mata Daniel membelalak melihat betapa indahnya pemandangan yang kini berada tepat di hadapan.
"Kalau kayak gini aku harus menghukummu, Sayang," tangan Daniel sudah tidak bisa dikondisikan.
__ADS_1
Merasa ada yang jail, Naja pun mengerjabkan matanya. Sesaat, dia hanya berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang masuk. Namun, ketika sadar bahwa wajah suaminya sudah berada di atas wajahnya, Naja membelalak seketika.
"Tuan," Naja menatap suaminya dengan tatapan memohon.
"Kenapa dia memandangku seperti itu? Apakah dia akan menghukumku lagi?" gerutu Naja dalam hati.
"Apa kau tau? Gara-gara kamu susah bangun, kau sudah membuat jadwal penerbanganku mundur dari jadwal yang seharusnya," ucap Daniel dengan tatapan memburu.
"Penerbangan? Anda mau kemana, Tuan," tanya Naja. Kekecewaan sungguh terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Sssttt. Yang jelas kau telah membuatku marah karena telah mengacaukan jadwalku. Kau mau dihukum mulai dari mana, Sayang?" Daniel menarik tangan Naja dan meletakkan tangan itu ke lehernya. Setelah itu, tangan Daniel mulai tidak bisa dikondisikan.
"Jangan hukum saya lagi, Tuan," rengek Naja.
"Kau tak mau dihukum, tapi tanganmu kau lingkarkan ke leherku. Apa kau benar-benar sedang meminta aku memakanmu?" Daniel menyeringai Nakal.
"Apa? Ini harus kita luruskan, Tuan. Bukannya tadi kau yang menarik tanganku dan meletakkannya di lehermu? Kenapa jadi aku yang kau tuduh menggodamu?" guman Naja dalam hati.
"Tuan, bukannya tadi Anda yang ..., mmmmm," sebelum Naja melanjutkan kalimatnya, Daniel sudah tak tahan untuk menghukumnya. Hingga perjalanan mereka untuk berbulan madu pun harus tertunda beberapa jam lamanya.
Daniel sungguh tidak peduli apa-apa lagi, sampai dia selesai beraksi. Bahkan ketika mengingat Johan yang pasti sudah mondar-mandir dengan perasaan sebal karena harus memundurkan jadwal penerbangan dua majikannya itu pun, bisa tetap tersenyum manis dan tetap menyekesaikan urusan mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Like, Vote dan Rate 5 jangan lupa😊