METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Pernikahan Dalam Koma


__ADS_3

Akan tiba masanya, dimana jiwa dua orang anak manusia terikat dalam sebuah lilitan cinta. Tak ada permainan, tak ada pula sebuah perjanjian. Yang ada hanyalah cinta suci yang tulus, disertai janji setia sehidup semati dan mengumpulkan masing-masing serpihan hati yang mungkin pernah terserak tak beraturan.


"Apa bisa kita mulai sekarang?" sang penghulu mengambil bagian. Dia menyapukan pandangannya kepada satu per satu orang. Hingga tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan.


Tok-tok-tok.


"Siapa?" seru Nyonya Atmaja, sambil berjalan ke arah pintu untuk membukakan dan melihat siapa yang datang.


Namun alangkah terkejutnya Nyonya Atmaja, ketika melihat sosok yang tepat berada di hadapannya sekarang.


"Aku mau menjadi wali nikah untuk putriku," ucapan laki-laki yang begitu dia rindukan itu, mampu menghipnotis Nyonya Atmaja hingga tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya kecuali air mata yang terus berderai.


"Alhamdulillah, Meysie pasti bahagia jika Papa sendiri yang menikahkannya, Pa," sahut Nyonya Atmaja dengan perasaan yang sudah mengharu biru.


Tak butuh waktu lama, Tuan Atmaja yang didampingi dua orang polisi itupun segera menempatkan diri dan bersiap menikahkan putrinya.


"Ananda Ega Rahardian Bin Wisnu Rahardian, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Meysiela Ayudya Binti Atmaja dengan maskawin berupa seperangkat alat shalat dibayar, tunai,” dengan lantang, Atmaja menikahkan putrinya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Meysiela Ayudya Binti Atmaja dengan maskawin seperangkat alat shalat dibayar tunai," Ega melafalkan ijab kabul itu dengan begitu lancarnya.


"Bagaimana, Para Saksi?" lontar sang penghulu.


"Sah," Hengky dan Ryan yang waktu itu menjadi saksi berucap secara bersamaan.


"Alhamdulillah," gumam semua yang berada di ruang itu secara bersamaan.


Setelah menikahkan Meysie, Tuan Atmaja pun harus kembali mendekam. Sebelum polisi itu membawanya ke luar, dia sempat minta maaf kepada Rani dan Ryan.

__ADS_1


"Kami sudah memaafkan semua kesalahan, Om," ucap Ryan yang begitu melegakan.


Setelah mengucapkan selamat, mereka pun segera meninggalkan kamar itu. Hanya tinggal Ega saja yang setia menemani Meysie, sesuai janjinya kepada Nyonya Atmaja.


Dan mulai hari itu, Ega sudah membulatkan tekat untuk merawat Meysie dengan sepenuh jiwa.


"Mey, apakah kau tak ingin bangun dan memberikan pelukan selamat datang untukku?" ucap Ega sambil menggenggam erat tangannya.


"Sekarang kita sudah menikah, Sayang. Tidakkah kau ingin segera bangun dan menikmati perubahan statusmu menjadi istriku?" Ega terus mengajak Meysie untuk berbicara.


"Lihatlah, kenapa kau diam saja? Apakah kau masih marah soal Amanda? Huh, kau pasti sangat marah ketika memergokiku berciuman mesra dengannya kan, Mey? Apakah kau tahu? Sebenarnya tidak ada hubungan spesial apapun antara aku dan Amanda. Lalu kenapa kami berciuman? Pasti kau berpikir seperti itu. Jawabannya adalah, karna aku merasa perlu membuatmu marah agar dengan senang hati kau bisa meninggalkanku. Kenapa aku lakukan hal bodoh seperti itu? Karena aku tahu, hanya Ryan yang ada di hatimu," lanjut Ega sambil mengelus wajah ayu Meysie yang sangat terlihat alami itu.


"Tapi setelah aku tahu bahwa ternyata Ryan telah mencampakkanmu dan justru menikahi gadis itu, aku menyesal karena telah melepas mu, Mey. Apalagi ketika mendengar apa saja yang telah kau lakukan hanya demi mendapatkan cintanya, aku sungguh menyesali keputusanku. Harusnya waktu itu aku egois saja, hingga bisa memilikimu seutuhnya. Dengan begitu, semua tidak akan seperti ini jadinya," Ega terus mengoceh tanpa ada lelah sedikitpun yang mendera.


Tak ada respon apapun yang muncul dari tubuh Meysie. Sedari tadi dia hanya tetap terdiam, dengan tubuh yang masih terbaring lemah bagai seonggok robot dengan kabel dan banyak alat yang menempel pada tubuhnya.


***


"Dad," Daniel dan Arsen yang sedang duduk di taman belakang kediaman Dewangga terlibat obrolan panjang yang begitu mengasyikkan.


"Hmmm," sahut Arsen singkat.


"Apa Daddy masih mencintai Mommy?" sebuah pertanyaan yang sukses membuat muka Arsen merah padam, berhasil Daniel ucapkan. Untung saja waktu itu Daniel tidak bisa melihat betapa meronanya wajah Arsen sekarang.


"Daddy selalu mencintai Mommymu, Nak. Baik dulu, sekarang dan sampai kapanpun juga, perasaan Daddy kepada Mommymu tidak akan pernah berubah," jawab Arsen mantap.


"Kalau begitu katakan padanya, Dad. Katakan padanya kalau kau masih mencintainya," pinta Daniel penuh harap.

__ADS_1


"Tak semudah itu, Nak," Arsen menghela nafas panjang.


"Kenapa?" tanya Daniel tak mengerti.


"Daddy pernah mengatakan kepadanya. Dia memaafkan Daddy, tapi tak mau jika harus kembali saling mencintai," ucap Arsen dengan wajah sendunya.


"Jangan menyerah, Dad. Kejar Mommy sampai Mommy bersedia membuka hatinya kembali," Daniel memberi motivasi.


"Tentu saja, Nak. Daddy akan lakukan apapun demi mendapatkan Mommymu kembali," tutur Arsen dengan mantap.


Di waktu yang sama dari tempat yang berbeda, sepasang mata sedang memandangi kedekatan Arsen dan Daniel dari balkon kamarnya. Seulas senyum tanpa terasa tersungging begitu saja, melihat keajaiban yang kini benar-benar menentramkan jiwanya.


Ya, perempuan itu adalah Aghata.


"Terima kasih, Ya Allah. Telah kau kembalikan salah satu cahaya dalam hidup putraku. Tinggal satu cahaya lagi yang aku minta, buatlah agar Daniel kembali bisa melihat dunia," gumam Aghata dalam hati.


***


Sementara itu, di sebuah ruang berukuran 3 m x 3 m, lempengan demi lempengan besi warna hitam berjejer rapat terkunci gembok para penjaga, yang menyekat indahnya kebebasan dari dunia luar. Batu bata merah pun tersusun rapi mengangkasa, menutup seluruh kerinduan dalam kehidupan siapapun yang berada di dalamnya.


Disanalah kini Atmaja terduduk pada dinginnya lantai dengan penuh penyesalan. Di balik jeruji besi itu, dia bersiap mempertanggungjawabkan segala kesalahan yang pernah dia lakukan.


"Ampuni aku, Ya Allah. Aku benar-benar menyesali perbuatanku. Akan kutebus semua kesalahan demi kesalahan yang telah aku lakukan agar aku mendapatkan pengampunanmu. Tapi setidaknya kabulkanlah do'aku, Ya Allah. Jagalah keluargaku, dan buatlah agar mereka selalu bahagia meski tak ada aku di tengah-tengah mereka," do'a Arsen setelah melakukan sholat yang panjang. Hal yang sangat jarang dia lakukan, saat Atmaja masih bebas berada di luar. Dan kini, Atmaja benar-benar sudah memilih jalan pertaubatan.


Sementara Charles, dia ditempatkan di ruangan lain untuk mempermudah proses penyidikan. Tak ada yang tahu bagaimana hati pria muda yang sudah terlanjur salah mengambil jalan itu. Yang jelas, sorot matanya masih dipenuhi dengan segala dendam. Akankah dia merencanakan kabur untuk yang kedua kalinya? Ataukah kejahatannya cukup sampai di sini?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2