METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hareudang


__ADS_3

"Huh, benar-benar deh. Dasar suami posesif. Ya sudahlah, suka-suka kamu," Rani menaruh tasnya di atas meja, kemudian menduduki kursi kebesaran suaminya.


"Kelihatannya ada seorang gadis cantik yang baru saja mengumpatku," sebuah suara yang sangat Rani kenal tiba-tiba terdengar, bersamaan dengan sosok wajah yang begitu dia rindukan kini sedang berjalan ke arahnya.


Rani terperanjat begitu menyadari siapa yang baru saja datang. Dengan sigap, dia langsung berdiri dari duduknya dan langsung berlari ke arah suaminya. Begitu jarak mereka sangat dekat, tanpa ragu Rani langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Ryan dan langsung mengecup bibir suaminya dengan mesra.


"Sayang, Mmmhmmm," Ryan sampai tak dibiarkan untuk berbicara.


"Ada sesil, mmmmhmm," ucap Ryan lagi begitu ada kesempatan. Rani membulatkan matanya begitu menyadari apa yang baru saja suaminya ucapkan.


"Sesil?" Rani menghentikan aktifitasnya dengan wajah yang merah merona. Dilihatnya di ujung ruang, Sesil terlihat masih berada di sana.


"Hubby tahu, kamu ini sedang menyogok Hubby biar tidak membahas soal suami posesif itu. Tapi kamu telah membuat jiwa jomblo Sesil meronta-ronta, Sayang. Kau harus bertanggungjawab, mencarikan seorang pria untuk dijadikan suaminya," goda Ryan, yang membuat wajah Rani semakin merona.


"Maafkan saya, Nona," Sesil yang jadi malu sendiri menyaksikan adegan panas itu menjadi salah tingkah.


"Hubby," Rani mencubit perut suaminya sekencang mungkin.


"Kok Hubby yang dicubit sih? Salah kamu sendiri mau mesum nggak lihat tempat," Ryan semakin menggoda istrinya.


"Hubby," sebuah pukulan keras kini mendarat di bahu Ryan.


"Auuuw, ampun, Sayang," masih mode mesra yang mereka tunjukkan.


"Ya sudah. Kau boleh kembali bekerja, Sesil. Terima kasih telah menjaga istriku," Ryan menoleh ke arah Sesil.


"Baik, Tuan. Terima kasih telah mempercayakan Nona kepada saya," ucap Sesil sambil membungkukkan punggungnya.


Sedetik kemudian, Sesil ke luar ruangan, dengan muka yang merah padam.


"Kamu ini kenapa? Mukamu sampai merah seperti kepiting rebus kayak gitu?" ucap salah seorang karyawan, begitu Sesil duduk di kursi kerjanya, dengan jantung yang masih berdegup kencang.


"Huh, Hareudang, Hareudang, Hareudang," sahut Sesil sambil mengibas-kibaskan tangannya.

__ADS_1


Karyawan yang bertanya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jawaban Sesil kepadanya.


Sementara di ruang Presdir, Rani sedang sibuk mencubit dan memukuli suaminya dengan gemas.


"Auggh, ampuni Hubby, Sayang. Kenapa kau pukuli Hubby seperti ini?" cicit Ryan sambil membiarkan istri kesayangannya itu mencubit dan memukuli perut dan bahunya.


"Kenapa Hubby tidak bilang kalau Sesil masih di sini, By. Rani kan malu, By. Malu, malu, malu," Rani masih terus menyerang suaminya.


"Salahnya kamu, kenapa jadi Hubby yang dipukuli? Hmmm?" kini Ryan menangkap ke dua tangan Rani dan menggenggamnya erat, agar istrinya itu tak memukuli dan mencubitnya lagi.


"Rani malu, By," lirih Rani sambil menyusupkan kepalanya ke leher suaminya.


"Kenapa mesti malu? Hubby kan suamimu," Ryan melepaskan genggamannya, meletakkan kedua tangannya di pinggang istrinya, kemudian mengangkatnya hingga Rani terduduk di atas meja kerjanya.


Kini tidak ada jarak lagi di antara keduanya. Ryan semakin betah melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, sementara Rani segera menyesuaikan posisi duduknya dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Kangen ya sama Hubby?" Ryan menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung Rani.


Ryan hanya tersenyum senang, mendengar jawaban Rani yang kini mulai terang-terangan itu. Apalagi mendapatkan serangan yang bertubi-tubi dari Rani, membuat hati Ryan berbunga-bunga dibuatnya.


"Sudah belum kangennya?" tanya Ryan sambil membiarkan istrinya terus menciumi wajahnya.


"Rani masih kangen, By," rajuk Rani.


"Memang kamu saja yang kangen? Hubby juga kangen tau. Kau harus merasakan serangan balik dari Hubby," tiba-tiba Ryan menggigit kecil bibir ranum milik Rani, hingga bibir merah itu sedikit menganga. Di saat itulah Ryan masuk dan menjalankan aksinya.


"Hubby," suara Rani semakin parau, menerima serangan suaminya yang tiba-tiba.


Ryan tidak menghiraukan panggilan istrinya, dia terus larut dalam gelora cinta yang menyala-nyala. Jangankan menghentikan aksinya, kini tangan Ryan justru sudah berkeliaran kemana-mana. Bahkan tanpa sadar, tangannya sudah aktif menyingkap hijab istrinya.


"Upz. Tidak boleh, Hubby. Ini di kantor," untung dengan sigap, Rani bisa mencegah tangan suaminya.


Ryan pun tidak protes. Untuk urusan hasratnya, dia selalu punya seribu cara. Gagal meraih hijab istrinya, tangannya beralih masuk ke dalam sana, mencari sesuatu di area favoritnya. Begitu dapat, dia melepasnya sesaat, dan menurunkan Rani dari atas meja, kemudian mengambil gerakan sedikit memutar dan berjalan dengan Rani tetap berada dalam pelukannya. Rani yang dibuat berjalan mundur pun terus mengikuti permainannya, hingga langkahnya terhenti begitu punggungnya menabrak ke satu sisi dinding yang membuatnya harus bersandar di sana untuk sementara.

__ADS_1


Begitu Rani bersandar, tangan aktif Ryan kembali masuk ke dalam dan mencari mainan favoritnya yang sesaat tadi telah dia lepaskan. Sekitar sepuluh menit, atraksi indah pun berhasil saling mereka persembahkan.


Belum puas, Ryan kembali memutar tubuh istrinya dan membuatnya berjalan mundur sambil terus mengimbangi permainannya. Tak sabar, akhirnya Ryan pun mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya, sebelum akhirnya menggelar tubuh itu begitu saja, di atas sofa panjang yang terpampang manis di tengah-tengah ruangan.


Sedetik kemudian, tubuh Rani sudah berada di dalam kungkungan tubuh kekarnya. Tanpa mengenal tempat, Ryan pun terus mencumbui istrinya membuat nafas mereka saling terengah akibat permainan yang dilakukan oleh mereka berdua.


Hingga tiba-tiba, ceklek. Terdengar suara pintu di buka.


Arya yang sudah terbiasa keluar masuk ruangan Presdir tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu itu pun tercengang melihat pemandangan yang ada di depannya, dengan muka yang merona dan senyum yang sengaja ditahannya.


Ryan menghentikan aksinya dan menatap ke arah pintu. Begitu menyadari Arya sedang berdiri mematung di sana, Ryan bersungut kesal kemudian turun dari tubuh Rani dengan mulut yang menggerutu tak senang.


"Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" omel Ryan sambil membenarkan posisi jas dan kemejanya yang sudah sangat berantakan. Sementara Rani, sibuk merapikan hijabnya, dan memasukkan beberapa helai rambut yang ke luar.


"Sorry, aku pikir kalian tidak sedang .. , itu," Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Walaupun dia hampir setiap malan melakukannya bersama Lena, tapi memergoki Ryan sedang bermesra seperti itu, tetap saja justru dia yang merasa malu.


"Huh, ganggu aja. Ada apa?" guman Ryan masih kesal.


"Nggak jadilah. Nanti saja. Silahkan kalian lanjutkan permainan kalian," ucap Arya hendak keluar.


"Oya," Arya menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Ryan.


"Apa lagi?" oceh Ryan.


"Jangan lupa kunci pintunya dari dalam," ucap Arya sambil keluar dan menutup pintu itu.


Dari ruang Presdir, Arya pun kembali ke ruangannya.


"Kenapa tidak jadi, Pak," tanya Sesil sambil mengerutkan dahinya.


"Hareudang, Hareudang, Hareudang," kini Arya yang mengucapkan itu sambil mengibas-kibaskan tangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2