
Titania sungguh tidak memahami apa yang terjadi, sehingga luka lama itu ternyata masih terus menghantui. Tentu dia ingin luka yang sempat menganga di hatinya itu bisa sembuh tanpa bekas. Namun ternyata luka yang sempat kering itu harus berdarah kembali.
“Daniel Cullen adalah putra Aghata,” tutur Prabu di sore itu bagai petir yang menyambar. Suara Prabu yang tetap datar, bahkan seolah menggelegar di seluruh indra yang menghantam.
“Daniel adalah anak itu?” Titania tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Selama ini memang dia sering sekali mendengar nama Daniel Cullen disebut-sebut suaminya sebagai seorang pengusaha besar yang ingin menguasai perusahaan keluarga Dewangga. Namun menurutnya semua itu adalah hal biasa di dunia usaha.
“Apakah dia tahu siapa dirimu?” tanya Titania lagi.
“Aku sempat menemuinya. Meskipun tidak menampakkannya, aku yakin bahwa dia tahu semuanya,” Prabu menyandarkan bahunya di kepala ranjang, dengan tatapan mata lurus ke langit-langit kamar.
“Terus, kenapa Papa tidak membicarakan tentang masa lalu itu kepadanya?” Titania yang kini duduk di sebelah suaminya menatap Prabu tak mengerti.
“Dari sorot matanya, dia terlihat sangat membenciku,” ucap Prabu sambil mendesah kasar.
“Apa yang dia pikirkan?” Titania memberingsutkan tubuhnya dan menghadap ke arah suaminya dengan tatapan sangat penasaran.
“Entah apa yang dia pikirkan. Tapi dari cara dia menahan marah saat aku menyebut kata orang tua, aku benar-benar yakin bahwa dibalik obsesinya untuk menghancurkan perusahaan, ada dendam membara yang dia sembunyikan. Bahkan orang-orangku telah membaca semua yang telah dia rencanakan. Dia benar-benar ingin membuat kita hancur, dan aku yakin bahwa ini ada kaitannya dengan masa lalu kita dan ibunya,” jelas Prabu, nanar.
“Apa Aghata tidak pernah memberitahunya?”
“Itulah yang kupikirkan. Untuk saat ini hanya Aghata yang bisa menghentikan dendamnya. Karena itu, semua orangku sudah kukerahkan untuk mencarinya, tapi Daniel terlalu pintar. Kita sangat kesulitan untuk bisa mengakses keberadaannya. Tapi...,” Prabu tidak melanjutkan kalimatnya. Ada sekelumit ragu yang terpancar dari binar mata yang tiba-tiba redup ketika hendak mengatakannya.
“Tapi apa, Pa?”
__ADS_1
“Hari ini aku mendapat kabar tentang keberadaannya. Apakah tidak akan menyakitimu jika kita harus menemuinya?” masih dengan keraguan yang sama, akhirnya kata itu lolos juga dari mulut Prabu Dewangga.
Titania mendesah kasar. Bagaimanapun dia pernah tersakiti saat mengetahui bahwa tanpa sepengetahuannya, suaminya telah menikah lagi. Meskipun akhirnya Titania sempat memutuskan untuk ikhlas berbagi hati dengan Aghata dan menerima Daniel kecil sebagai anaknya, namun dalam hati kecilnya rasa sakit yang mendalam tetap saja hadir begitu saja saat mengingat bahwa di hati suaminya ada dua nama bidadari yang terpahat disana.
“Kita?” Titania mengulang kata-kata Prabu.
“Iya. Kita, Sayang. Aku tidak akan menemuinya tanpa dirimu,” ucap Prabu sambil menghadap ke arah istrinya. Digenggamnya dua tangan istrinya itu seolah ingin mengatakan bahwa di hati Prabu hanya ada satu wanita, dan itu adalah Titania.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak akan menyakitimu untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali itu saja aku membuatmu meneteskan air mata untuk semua kebejatanku. Apapun alasanku waktu itu, tidak seharusnya aku melakukannya. Dan itu membuat aku menyesali semuanya, Sayang. Sampai saat ini. Andai saja aku bisa mengembalikan waktu, aku akan...,” Prabu menggantungkan kalimatnya ketika istrinya tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya ke bibir suaminya.
“Cukup, Pa. Masa lalu biarlah berlalu. Meski lukaku sangat dalam ketika itu, tapi aku sudah mengikhlaskan semuanya. Pergilah temui Aghata dan bawa dia kemari, jelaskan semua yang terjadi agar Daniel tidak salah mengerti. Biar bagaimanapun kalian belum bercerai, meski sudah dua puluh dua tahun kalian tidak bertemu,” ada luka yang tiba-tiba basah ketika Titania mengucapkan kata itu. Namun setelah apa yang terjadi, bukankah sudah seharusnya dia melapangkan hati?
“Kita temui dia sama-sama, Sayang,” kekeh Prabu.
“Aku tidak mau menyakitimu dan membuat kau berpikir macam-macam saat aku pergi,” Prabu semakin mengeratkan genggaman tangannya.
“Bukankah aku sudah terlanjur sakit, Pa?” kini Titania tidak mampu membendung air mata yang memaksa lolos dari ujung matanya. Luka lama yang sempat kering itu benar-benar berdarah lagi dan begitu sakit jika mengingat semuanya kembali.
“Maafkan aku, Ma. Maafkan aku,” Prabu menarik tubuh Titania begitu saja dan merengkuhnya, membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya dengan luka menganga akibat satu kesalahannya.
“Waktu itu aku sudah memutuskan untuk memaafkanmu. Kenapa Papa minta maaf lagi,” Titania melepaskan pelukannya dan menatap lekat suaminya.
“Karena aku merasa menjadi orang terbrengsek di dunia setiap melihat air matamu. Bahkan aku selalu mengutuki diriku setiap mengingat bahwa aku telah menyakitimu. Dan hari ini, aku melihat air mata itu menetes lagi karena kesalahanku di masa lalu,” ucap Prabu sambil membelai wajah ayu istri yang telah setia menemaninya, setelah kesalahan besar yang pernah dilakukannya. Wajah itu masih saja terlihat cantik di usia mereka yang telah menua.
__ADS_1
“Aku hanya perlu menerimanya kembali kan?” lidah Titania begitu kelu.
“Kita menjemputnya untuk menyelesaikan masalah Daniel. Bukan untuk mengulang kisah di masa lalu,” tegas Prabu.
“Tapi dia masih istrimu,” Titania tak bisa menyembunyikan rasa gundahnya.
“Kita bisa bicarakan dengan baik-baik saat kita sudah bertemu dengannya. Semua akan berjalan sesuai keinginanmu,” Prabu kembali memeluk Titania, seolah ingin menenangkan dan mengakhiri kegundahannya.
“Janji?” sebuah pertanyaan yang mewakili seluruh keraguan dalam jiwa Titania akhirnya meluncur begitu saja.
“Iya janji. Semua akan berjalan seperti yang kau inginkan, Sayang. Percayalah, semua akan baik-baik saja,” tutur Prabu menenangkan. Dia benar-benar tak ingin lagi menyakiti hati istri tercintanya, dan berjanji bahwa cukup sekali itu saja semua luka itu dia gores di hatinya.
Setelah obrolan panjang sore itu, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk segera mengatur jadwal penerbangan ke Jerman, menemui kepingan cerita di masa silam demi sebuah kisah di masa depan. Keputusan itu harus Prabu ambil bukan untuk membuat mereka semua kembali terluka dan
mengurai air mata, namun untuk mengukir sejarah baru dalam cerita kehidupan mereka.
Sebentar lagi Prabu, Titania, Aghata dan masa lalu mereka akan bertemu dalam sebuah masa yang berbeda. Sebuah masa dimana mereka akan membuat keputusan berharga tanpa harus merajut kebersamaan demi masa depan anak-anak mereka. Anak-anak yang bisa hidup bersama tanpa ada kobaran dendam dan saling terluka dalam hati mereka, jika sebuah kenyataan akan berhasil mereka terima.
“Ahhh, apakah semuanya akan baik-baik saja?” gumam Prabu dan Titania dalam hati, di waktu yang sama dengan makna dan pikiran masing-masing di benaknya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Pembaca setia,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Kasih vote, like, comment juga favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih.