METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bosan


__ADS_3

Bosan.


Satu kata dalam benak Rani selama dia menjalani masa cuti. Ya, dua pekan sudah jiwa bebasnya terkungkung di antara dinding-dinding pembatas dengan dunia luar. Kekhawatiran Ryan yang berlebih karena bahaya yang masih mengancam, juga kondisi kakinya yang sedikit terganggu akibat beberapa serpihan kaca yang menggores begitu dalam, membuatnya susah berjalan apalagi memulai aktifitas normal.


Dinding-dinding kamar itu pun menjadi saksi, betapa detik demi detik waktu yang menemani Rani benar-benar tahu kalau Rani tak ingin sendiri. Karena itulah selama dua minggu dia cuti, salah satu syaratnya dia tak mau Ryan pergi.


"Pokoknya Hubby temenin Rani. Kalau Hubby berangkat kerja, Rani juga berangkat kerja," ancam Rani, setiap Ryan merajuk minta diizinkan pergi ke kantornya. Merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya Ryan menurut saja. Toh ada Arya yang menghandel semuanya. Apalagi semua yang harus Ryan langsung turun tangan bisa dikerjakan dari rumah saja, sehingga semua tetap bisa berjalan sewajarnya.


Tapi pagi itu Rani sudah sampai pada titik klimaksnya. Kebosanan dalam dirinya pun sudah meronta-ronta ingin meminta hari pembebasannya. Rani terus berselancar dengan benda pipih canggih miliknya, berharap dia bisa mengusir rasa bosan dengan membaca pesan masuk atau sekedar menyukai status teman dunia maya yang kebanyakan alay. Sesekali juga Rani melirik kronologi facebook-nya, berharap ada sesuatu yang bisa menggugah mood-nya. Tapi semua sia-sia, rasa bosan dan mood-nya yang buruk lebih dominan dan menguasai dirinya.


"By," Rani menghampiri Ryan yang sedang fokus dengan laptopnya. Bahkan kakinya yang sakit hingga dia harus berjalan dengan sedikit pincang pun, tak menyurutkan niatnya untuk mendekati suaminya itu.


"Hmmm, ada apa, Sayang? Apa kau butuh sesuatu?" sahut Ryan tanpa melirik istrinya sedikitpun. Mata Ryan terus terfokus pada berkas demi berkas yang masuk ke dalam emailnya.


Melihat Ryan yang tidak sedikit pun memperhatikan dirinya, tiba-tiba Rani duduk di pangkuan Ryan dan bergelayut manja dengan mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang sudah setahun lebih menjadi tambatan hatinya itu.


Ryan yang mendapati istrinya yang sedang merajuk itu pun mengerutkan dahinya.


"Sayangnya Hubby lagi pengen apa sih? Kok nakal gini godain Hubby lagi kerja?" Ryan menghentikan aktifitasnya dan memeluk pinggang istrinya. Ditempelkannya dahi dan hidung pria itu ke dahi dan hidung istrinya, kemudian dia menggesek-gesekkan hidungnya dengan mesra.


"Enggak," Rani mengerucutkan bibirnya.


"Enggak kok gini? Ayo bilang!" kini Ryan mencubit gemas pipi yang mulai sedikit cabi itu.


"Rani kangen aja," jawab Rani manja.


"Kangen?" Ryan kembali mengerutkan dahinya.


"Bahkan dua pekan penuh aku selalu menemaninya, sekarang bilang kangen? Modus kayaknya ini?" batin Ryan dalam hati.


"Hmmm," Rani menganggukkan kepalanya.


"Ayo bilang, kalau sudah kayak gini pasti lagi ada maunya kan?" ucap Ryan sambil mengecup bibir istrinya.


"He-he-he," Rani tersenyum penuh makna.


"Tuh kan modus?" cicit Ryan.

__ADS_1


"Hubby janji akan ngasih apapun yang Rani mau kan?" sahut Rani.


"Iya," Ryan membenarkan.


"Janji?" Rani memastikan.


"Hmmm," jawab Ryan singkat. Dia tahu istrinya itu tidak menerima penolakan.


"Kok Hmm doang, By?" protes Rani.


"Iya bawel, Hubby janji," seperti dugaan Ryan, Rani tidak menerima penolakan. Dia terus saja mengejar jawaban seperti yang dia inginkan.


"Mmm ..., itu By, Rani mau minta izin masuk kerja hari ini. Tanggal cuti Rani habis kemarin, By," pinta Rani penuh harap.


"Sudah kuduga," batin Ryan.


"Tidak boleh," Ryan menjawab dengan tegas. Bahkan dia menatap istrinya dengan pandangan tidak sukanya.


"Tuh kan, katanya apapun boleh," lirih Rani.


"Hubby," kini mata Rani sudah berkaca-kaca.


Tak tahan melihat air mata yang menggenang di ujung mata wanitanya, Ryan pun akhirnya menarik nafas panjang.


"Dasar keras kepala," Ryan mencubit hidungnya lagi.


"Jadi?" tiba-tiba mata Rani berbinar. Dia sudah menduga kalau strateginya akan berhasil. Seperti biasanya, jika sudah pakai acara mewek, suaminya pasti akan luluh.


"Seperti biasa," kini Ryan mengerlingkan matanya.


"Oke. Siapa takut," dengan semangat, Rani mengecup pipi kanan Ryan, kemudian beralih ke pipi kirinya.


"Emang cantiknya Hubby tahu apa syarat dari Hubby?" tanya Ryan menyelidik.


"Hubby minta Rani bayar pajaknya di muka kan? Ayo, By!" dengan semangat empat lima, Rani menanggapi pertanyaan suaminya.


"Hah? Kok malah kayak kamu yang pengen banget sih?" goda Ryan.

__ADS_1


"Habis sekarang jablai, By. He-he-he," jawab Rani terus terang. Setelah mengucap itu mukanya memerah karena malu.


"Ihh, tambah berani ya sekarang?" cicit Ryan sambil mengangkat tubuh Rani dan membawanya ke tempat tidur.


Mata Ryan bersinar seperti bulan purnama, mendapati istrinya yang belum juga melepaskan tangan itu dari lehernya.


“Tunggu sebentar ya, Sayang,” kata Ryan sambil berbisik.


Tak berapa lama, dia meraih poselnya dari atas nakas, dan mencari-cari nomor seseorang di sana. Setelah dia menemukan nama dr. Intan di benda pipih itu, dia menekan icon hijau dan segera menempelkannya di telinga kanannya.


"Assalamu'alaikum," sapa Dokter Intan di ujung telepon. Dia adalah dokter spesialis obstetri dan ginekologi, yaitu dokter obgyn yang ditunjuk Ryan untuk mendampingi Rani selama kehamilannya.


"Wa'alaikumsalam, Dok," sahut Ryan ramah.


"Apakah ada masalah dengan Nona Rani, Tuan?" Dokter Intan menyelidik.


"Tidak ada, Dok. Cuma mau tanya-tanya saja. He-he-he," ucap Ryan ragu.


"Begitu ya? Bagaimana?" jawab Dokter Intan lagi.


"Mmm, gimana ya Dok tanyanya? Saya mau tanya itu sih. Boleh nggak sering-sering gitu?" ucap Ryan tidak jelas. Dia benar-benar tidak menemukan kata-kata yang pas untuk menanyakan maksud hatinya.


"Ohh, terkait hubungan suami istri saat hamil ya, Tuan?" Dokter Intan mampu menebak kemana arah pertanyaan Ryan.


"Pada dasarnya, tidak ada larangan berhubungan suami istri saat hamil baik di trimester pertama maupun trimester selanjutnya, selama Anda tidak melakukan penetrasi yang dalam atau kuat hingga istri Anda merasa tidak nyaman saat berhubungan. Namun apabila setelah berhubungan terjadi beberapa indikasi seperti perdarahan, kram pada perut, rasa nyeri berlebihan yang tak kunjung sembuh, atau keluarnya cairan bening dari bawah, Anda bisa berkonsultasi lebih lanjut," jelas Dokter Intan panjang lebar.


"Gitu ya, Dok. Baiklah, Dok. Terima kasih. Maaf sudah mengganggu," Ryan pun mengakhiri panggilannya.


Rani yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan suaminya di telepon, hanya tersenyum geli melihat ekspresi wajah Ryan yang malu-malu membicarakan itu dengan Dokter Intan. Namun, begitu dia mendapatkan jawaban akan semua ketakutan dan kekhawatirannya, ekspresi mukanya langsung berubah seratus kali lipat.


Dan yang selanjutnya terjadi, terjadilah. Dua insan itu terus menoreh cerita dalam setiap desahan nafasnya, hingga terbayar sudah pajak yang Ryan minta.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Vote-nya dong kak. Like, dan rate 5 juga ya...

__ADS_1


__ADS_2