
“Huh,” Ryan mendesah kasar. Kini dalam otaknya sudah berpikir macam-macam.
“Apakah Rani ingin aku meminta maaf kepadanya? Jangan harap,” gumam Ryan dalam hati.
“Jangan bilang kau menyuruhku untuk meminta maaf kepada laki-laki itu. Meskipun aku percaya kepadamu, tapi tidak dengan Hengky. Aku sungguh tidak percaya kepadanya. Melihat cara dia memandangmu saja aku sudah tahu kalau dia masih mencintaimu. Masih untung aku tidak membuatnya babak belur. Jadi jangan coba-coba menyuruhku meminta maaf kepadanya,” omel Ryan tidak bisa di sela. Rasa cemburunya terhadap Hengky benar-benar masih mendominasi hati dan pikirannya, apalagi setelah mendengar cerita bagaimana kedekatan Hengky dan istrinya di masa lalu mereka.
“Memang siapa yang menyuruh Mas Ryan minta maaf sama Mas Hengky?” gerutu Rani. Kini mata itu memandang suami di hadapannya dengan tatapan memburu.
“Cih, bahkan telingaku mau pecah kau menyebutnya dengan panggilan Mas. Apa kau tidak sadar? Kau memanggilnya sama seperti kau memanggilku,” Ryan mengoceh sambil bersungut kesal.
“Hey, Mas ini kenapa sih? Bahkan kesalahan Mas Ryan yang semalam saja belum Rani maafkan loh, udah ngajak berantem aja. Sana jauh-jauh, jangan peluk Rani! Lepas-lepas!” timpal Rani tidak kalah sengit. Sekuat tenaga dia berusaha menghempaskan tangan suaminya yang masih dengan manis melingkar di perutnya, walaupun tenaganya kalah kuat. Ryan tetap tidak mau memindahkan tangannya dari posisi itu.
“Kamu tidak punya hak nglarang-nglarang Mas peluk kamu,” Ryan semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun, dia masih sempat-sempatnya bermain-main di area rambut istrinya dengan mulutnya.
“Siapa bilang? Ini tubuh, tubuh Rani,” sergah Rani, sambil terus mengelak dari bibir Ryan yang terus memainkan rambutnya.
“Mas yang bilang. Tubuh kamu itu hanya milikku, jadi terserah aku mau ngapain aja. Jangan pernah larang aku!” kekeh Ryan.
“Ihh, enak saja. Sana ahh jauh-jauh. Rani nggak mau maafin Mas Ryan,” elak Rani. Kini dia kembali bersungut kesal.
“Hallo ..., jangan mengalihkan pembicaraan. Itu kita bahas nanti. Selesaikan masalah panggilanmu ke Hengky dan ke suamimu ini dulu, baru kita bahas yang semalam,” Ryan meraih dagu Rani dan sedikit mengangkatnya hingga mereka saling berpandangan.
“Huh, katanya minta maaf bukannya lemah lembut malah ngajak berantem. Nyebelin,” tepis Rani, kemudian membuang muka ke sembarang arah.
“Panggil aku Hubby!” tiba-tiba Ryan berbisik di telinga Rani dengan lembut. Setelah berbisik, dengan sedikit menghembuskan nafasnya yang memburu, Ryan mencium telinga istrinya hingga desirannya bisa menjalar ke setiap inchi tubuh itu.
“Nggak denger,” hindar Rani.
“Ran!” panggil Ryan lembut.
__ADS_1
Rani memalingkan muka dengan kesal.
“Panggil aku Hubby nggak?” gemas, tangan Ryan kini mencubit pipi istrinya itu sambil menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri.
“Iya, Hubby,” suara Rani dibuat semanis mungkin, kemudian Rani kembali mengerucutkan bibirnya.
“Nggak ikhlas banget sih,” giliran Ryan yang mengerucutkan bibirnya.
“Iya, Hubbyku Sayang,” Rani memelankan suaranya.
“Nah gitu dong. Manis,” senyum Ryan mengembang, kemudian mendaratkan kecupannya di setiap inchi wajah istrinya.
Suasana pun mulai menghangat. Rani sudah membenarkan posisinya dan membalas pelukan suaminya dengan mesra. Sungguh, sebenarnya dia sangat tahu bahwa apapun yang dilakukan suaminya itu, tidak ada alasan lain selain karena kecintaan suaminya kepada dirinya. Namun, keyakinan dalam membangun sebuah rumah tangga itu harus di pupuk dari awal. Karena rumah tangga yang dibangun tanpa adanya rasa percaya, itu bukanlah cinta namun hanya sekedar tinggal dan hidup bersama. Maka, tidak berlebihan jika Rani menginginkan rasa percaya itu ada pada diri suaminya, seperti diri Rani yang sudah mempercayai suaminya atas kesetiaan yang diberikan kepadanya.
“Maaf untuk yang semalam. Kau pasti sangat sedih karena menungguku semalaman. Apa kau mau memaafkanku?” tutur Ryan lembut.
“Tergantung,” jawab Rani mengambang, walaupun sudah tidak ketus seperti percakapan mereka di awal.
“Rani kan sudah bilang tadi. Jangan minta maaf sama Rani, tapi minta maaflah sama dia,” ucap Rani sambil membenamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
“Hubby kan sudah bilang, nggak mau kalau suruh minta maaf pada ...,” Ryan menggantungkan kalimatnya.
“Ssttt. Bukan minta maaf pada Mas Hengky, Hubby,” jawab Rani manja.
“Terus?” tanya Ryan penuh selidik.
“Minta maaflah sama calon bayi Hubby,” bisik Rani di telinga suaminya.
Ryan membulatkan mata, mendengar ucapan istrinya yang sungguh tidak terduga.
__ADS_1
“Apa kamu bilang, Sayang? Maksudmu?” Ryan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Iya, Hubby. Minta maaflah pada calon bayi kita yang sekarang ada di perut Rani,” Rani mengambil satu tangan Ryan dan mengarahkan tangan itu ke perutnya yang masih datar.
“Kamu hamil, Sayang? Benarkah? Kamu hamil?” cecar Ryan seolah tak percaya, yang hanya ditanggapi dengan anggukan mantap oleh istrinya.
Melihat istrinya mengangguk meyakinkan, tiba-tiba Ryan langsung melapaskan pelukannya dan beranjak turun dari ranjang pasien itu. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung bersujud syukur di samping ranjang itu dan tergugu selama beberapa waktu.
Rani menyaksikan reaksi suaminya itu dengan hati yang mengharu biru. Bulir-bulir bening yang mengalir dari ujung matanya pun menjadi bukti rasa syukur dan bahagianya atas apa yang mereka dapatkan setelah penantian yang cukup panjang.
Setelah Ryan bangun dari sujudnya, Ryan langsung menghambur ke arah istrinya dan menghujani wajah cantik itu dengan ciuman yang bertubi-tubi. Setelah puas mencium area wajah Rani, Ryan beralih mencium perut istrinya yang masih rata, dimana benih-benih cinta yang dia tanam sekarang tumbuh di dalam sana.
“Maafkan Daddy, Sayang. Semalam Daddy meninggalkan Mommy-mu sendirian. Daddy janji, mulai sekarang tidak akan pernah jauh-jauh dari kalian lagi,” tutur Ryan sambil menciumi perut itu, seolah janin yang berada di dalam sana sudah bisa mendengar ucapannya.
Rani hanya tersenyum haru melihat suaminya sebahagia itu. Dalam hatinya tak ada kata selain untaian do’a, agar Yang Maha Kuasa menjaga mereka dari mara bahaya, serta memberi kekuatan dan kesehatan hingga tiba masanya buah cinta mereka bisa lahir ke dunia.
“Terima kasih, Sayang,” Ryan kembali memeluk Rani dan menciumnya bertubi-tubi.
Hingga tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari arah luar kamar, membuat Ryan dan Rani saling bertatapan dengan hati yang berdebar.
“Ada apa di luar, Hubby?” ucap Rani penuh tanda tanya.
“Coba Hubby lihat sebentar,” sahut Ryan sambil beranjak dan menuju pintu untuk melihat siapa yang sedang membuat kegaduhan di luar.
Tak butuh waktu lama, Ryan pun membuka pintu itu, dan alangkah kagetnya ketika Ryan menyadari apa yang sedang terjadi. Ekspresi geram segera saja terlukis di wajahnya yang kini sudah memerah menahan marah.
BERSAMBUNG
💖💖💖
__ADS_1
Pembaca bijak, selalu meninggalkan jejak. Ditunggu selalu like, vote, rate 5 dan comment positifnya. Terima kasih😊