
“Naja!” tiba-tiba panggilan Daniel dari arah bawah tangga mengejutkannya, hingga tanpa di duga Naja yang waktu itu sudah sampai pada tiga anak tangga terakhir, kehilangan keseimbangannya dan terjatuh begitu saja. Untung dengan sigap Daniel menahan tubuh Naja, sehingga tubuh itu tak terbentur ke lantai dengan begitu kerasnya.
“Apa kau sedang melamunkanku, sampai-sampai panggilanku yang selembut itu saja bisa mengagetkanmu?” goda Daniel begitu tubuh Naja berhasil direngkuhnya.
Tak ada jawaban yang mampu keluar dari mulut Naja. Entah kenapa, hati Naja bergetar hebat saat netranya bertemu dengan mata Daniel. Selama beberapa saat, mereka saling menatap, dengan posisi yang masih sama. Hingga tiba-tiba, sebuah suara mengagetkan mereka.
“Hmm-Hmm,” Aghata yang melihat pemandangan tak biasa itu sengaja berdehem dengan kencang, agar suaranya mengagetkan dua anak manusia yang kini sedang berada di hadapannya.
“Belum halal, lho,” sindir Aghata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar suara Aghata, Daniel pun melepaskan tangannya dan membantu Naja membenarkan posisinya hingga bisa berdiri dengan benar. Setelah itu, Daniel meninggalkan Naja dan Aghata begitu saja, membiarkan mantan mata-matanya itu menghadapi segala pertanyaan yang akan ibunya lontarkan, dengan muka yang sudah merah merona.
***
Ryan mengunci pintu, begitu Naja keluar dari kamarnya. Setelah dia memastikan bahwa pintu tidak bisa terbuka, dia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya ke arah Rani yang kini tengah menatap setiap gerakan yang dia lakukan.
“Apa kau masih mual, Sayang?” tanya Ryan begitu berada di dekat istrinya. Kini kedua tangannya sudah memeluk wanitanya itu, sementara mulutnya asik menelusuri setiap inchi wajah cantik Rani dengan segala aroma yang selalu mampu membuyarkan kesadarannya, bagai percikan api yang membakar dan memporak-porandakan wilayah-wilayah pada jiwanya.
“Mualnya nggak ilang-ilang,” rengek Rani dengan manjanya.
Ryan menghentikan aksinya.
“Padahal pagi ini aku sedang ingin sekali memakanmu, Sayang,” gumam Ryan spontan. Gurat-gurat kecewa bercampur penyesalan begitu terlihat dari raut wajahnya.
“Salah Mas Ryan sendiri,” sahut Rani, sambil melepaskan tangan suaminya kemudian membaringkan tubuhnya di sisi ranjang.
“Ya sudahlah,” Ryan beranjak, hendak meninggalkan istri kecilnya itu entah kemana.
Belum sempat Ryan menyempurnakan posisi berdirinya, secara tak terduga Rani justru meraih tangannya hingga suaminya itu duduk kembali di sampingnya.
“Mas mau kemana?” Rani merajuk.
__ADS_1
“Mau cari udara segar di luar. Habis disini tidak ada yang bisa Mas lakukan. Kamunya malah cuekin Mas,” Ryan pura-pura ngambek.
“Peluk. Mas Ryan di sini aja temenin Rani. Ya? Ya? Ya?” pinta Rani masih dengan gayanya yang manja.
“Peluk aja?” mata jernih Ryan sudah mengerling nakal.
“mmmmm,” tak hanya menarik tangan Ryan, kini justru Rani meletakkan kepalanya di atas paha suaminya dengan posisi tangan yang melingkar pada pinggang lelaki bertubuh atletis itu.
“Kau menggodaku? Jika kau terus berada pada posisimu, jangan salahkan aku jika ada yang memberontak dan meminta jatah paginya," protes Ryan.
“Biarin,” Rani justru semakin mempererat pelukannya.
“Sayang, kau benar-benar akan menyesal pagi ini,” wajah Ryan semakin memerah.
Mendengar ucapan suaminya, tanpa aba-aba Rani beranjak dan duduk di pangkuan suaminya. Rani duduk di atas paha Ryan dengan tubuh mereka saling berhadapan, dan tidak ada jarak lagi di antara mereka.
Ryan tersenyum senang, mendapati istrinya yang sudah mulai berani berinisiatif mengekspresikan segala cinta dan kerinduannya. Tak mau menyia-nyiakan lampu hijau yang diberikan istrinya, Ryan pun segera membuat maha karya terindah dan merasakan kenikmatan dunia. Sekilas, mereka bertemu mata, menyampaikan irama kerinduan pada telinga jiwa. Hingga benih-benih itupun dia tanam, ditemani dewi cinta yang membuat ladang hati mereka semakin indah bercengkrama. Benih-benih itupun akhirnya mengalir menuju syurga kenikmatan yang luar biasa, mengiringi untaian tasbih yang bergema sebagai ucapan syukur atas kenikmatan yang diberikan Sang Maha Pencipta.
Setelah mereka mengakhiri olah raga pagi mereka, tiba-tiba terdengar melodi indah dari perut Rani yang membuat mereka saling bertatap mata dan tertawa.
“Kamu lapar, Sayang?” goda Ryan, sambil menciumi perut polos istri manjanya itu.
“Gimana nggak lapar, semalam Mas Ryan sudah membuat seluruh makan malam Rani keluar tanpa sisa,” Rani mengerucutkan bibirnya.
“Mas kan sudah minta maaf. Ya udah, kita mandi terus sarapan ya? Sekalian membicarakan masalah pernikahan Daniel dan Naja tiga hari lagi,” titah Ryan, yang kemudian langsung membopong tubuh polos Rani ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama buat Ryan dan Rani, hingga mereka menyelesaikan urusan mereka di kamar mandi dan segera turun bergabung dengan Daniel dan Aghata yang sudah menunggu sarapan bersama seperti biasanya.
“Mana Naja?” tanya Rani sambil mengedarkan pandangannya.
“Biarkan dia sarapan di kamarnya. Pasti dia masih canggung pasca aku melamarnya pagi tadi,” cicit Daniel dengan santainya.
__ADS_1
“Melamar katamu? Bahkan kau melakukannya seperti seorang penjahat yang sedang ingin menerkam mangsanya,” sergah Ryan.
“Mana ada penjahat yang menyematkan cincin pada jari manis mangsanya,” elak Daniel lagi. Dalam hati dia bersyukur, cincin yang tadinya akan dia sematkan di jari Naja saat makan malam namun akhirnya gagal, belum sempat dia keluarkan dari saku celana yang dipakainya.
“Ada. Kamu,” serang Ryan membuat Daniel mati kutu.
“Yang penting kan dia mau menikah denganku,” ternyata Daniel masih tak mau kalah.
“Dia tidak menerima lamaranmu. Tapi menerima hukuman yang kau berikan,” lawan Ryan dengan muka datarnya.
“Sudah. Sudah. Ayo kita makan. Kasihan itu menantu Mommy sampai pucat begitu. Pasti kamu sudah lapar ya, Sayang? Harusnya semalam kamu makan lagi setelah kamu memuntahkan seluruh isi perutmu,” lerai Aghata, yang sudah bosan mendengar kedua putranya beradu mulut seperti biasanya.
Ryan dan Daniel pun menatap wajah Rani spontan, secara bersamaan.
“Iya, Sayang. Wajahmu sangat pucat. Pasti kamu sudah sangat lapar. Makan yang banyak ya! Sini Mas ambilin,” tutur Ryan perhatian. Kini tangannya sudah meraih piring yang berada di depan istrinya.
Rani memandangi semua menu yang tersaji di hadapannya satu-satu, kemudian memandang suaminya dan mengambil piring yang ada di tangannya sebelum piring itu terisi penuh makanan yang pagi itu sungguh tidak menggoda selera.
“Rani masih mual, Mas, Mom. Kalian saja yang makan ya. Rani makan ini saja,” tolak Rani, sambil mengambil potongan mangga yang ada di depannya.
“Mana bisa begitu. Perutmu kosong, lho,” kini gurat kekhawatiran jelas terlihat dari raut muka Ryan.
“Nanti Rani makan begitu rasa mualnya sudah hilang,” kekeh Rani, sambil memasukkan potong demi potong irisan buah mangga itu satu per satu ke dalam mulutnya, sampai rasa laparnya hilang tanpa harus memaksakan seluruh makanan yang terhidang di depannya itu harus masuk ke dalam perutnya.
Daniel, Ryan dan Aghata saling pandang melihat Rani yang memakan hampir semua potongan mangga yang ada di meja, namun memilih untuk membiarkannya mengingat semalam Ryan telah membuat Rani menguras seluruh isi dalam perutnya.
BERSAMBUNG
💕💕💕
Jangan lupa bagi jempol, vote, rate 5 dan comment positifnya. Terima kasih. 🤗
__ADS_1