METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ada Syaratnya


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


Semakin perutnya membesar, Rani semakin dimanjakan. Dia tidak Ryan biarkan banyak pikiran, apalagi yang membutuhkan aktifitas fisik yang memang tidak diperlukan. Karena itulah akhirnya Ryan memutuskan agar Rani mulai mengambil cuti, meski perkiraan dia melahirkan masih satu setengah bulan lagi.


Protes? Bukan Rani jika dia tidak protes, apalagi selama menanti kelahiran si buah hati tak ada satu aktifitas pun yang bisa dia geluti. Tapi melihat perangai sang suami yang sudah tak bisa ditawar lagi, akhirnya tak ada pilihan lain yang bisa diambil selain menuruti semua keinginan Daddy si jabang bayi.


"Untuk kali ini, tak ada tapi-tapian lagi. Kamu cuti sekarang, atau tak boleh bekerja sama sekali. Selamanya. Titik," tegas Ryan, yang sukses membuat Rani kehilangan nyali.


"Mending cuti selama melahirkan dari pada keluar dari pekerjaan bukan?" gumam Rani dalam hati.


"Tapi Rani harus ngapain, By, selama cuti?" gerutu Rani kesal.


"Kau punya pekerjaan yang tak bakal selesai kau lakukan setiap hari," Ryan mengacak hijab Rani dengan asal.


"Benar, By? Apaan?" mata Rani berbinar, mendengar jawaban Ryan, jika itu menyangkut pekerjaan.


"Melayani Hubby. Dan Hubby bersedia jadi patner kerjamu sepanjang hari, selama kamu cuti," Ryan terkekeh sambil mengerling nakal.


"Huh, itu mah maunya Hubby," Rani mengerucutkan bibirnya.


"Ha-ha-ha-ha," tawa Ryan semakin membahana.


"Rani serius, By," kini sebuah cubitan mendarat dengan manis di perut Ryan.


"Augt, sakit, Sayang. Kamu sekarang kok jadi suka main cubit sih? Bawaan bayi ya?" goda Ryan.


"Hubby, masih bercanda juga? Rani tampol nih," Rani mengakat sebelah tangannya.


"Ampun, Sayang," Ryan menelungkup kan kedua tangannya seolah benar-benar memohon kepada istrinya. Selalu saja berakhir seperti itu. Sejak hamil memang istrinya itu jadi mudah sekali mencubit dan memukulnya. Bawaan bayi, kalau kata orang.


"Makanya jawab pertanyaan Rani dengan benar, Hubby," kini suaranya berubah menjadi manja.


"Dasar bumil labil," gumam Ryan lirih.


"Hubby bilang apa?" Rani membulatkan matanya.


"Tidak, Sayang. Kamu apaan sih? Hubby nggak bilang apa-apa kok," sahut Ryan berpura-pura.

__ADS_1


"Awas loh, ngatain Rani yang bukan-bukan," kini mulut Rani sudah maju ke depan.


"Mana mungkin Hubby ngatain istri kesayangan Hubby yang cantik ini macam-macam. Jadi, jawaban Hubby untuk pertanyaan kamu tadi adalah, jika kamu bosan, kamu boleh pergi berjalan-jalan, belanja di mall atau menemani Hubby di kantor. Gimana? Asyik kan?" ucap Ryan sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Benar, By? Kalau ke Thalassemia center dan mendampingi ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) masih boleh kan, By?" mata Rani berbinar.


"Dengar nggak kata Hubby tadi? Jika kamu bosan, kamu boleh pergi berjalan-jalan, belanja di mall atau menemani Hubby di kantor. Agenda di Thalassemia Center dan mendampingi ODHA ikut cuti. Titik. Setuju, atau tidak boleh keluar kamar sama sekali," tegas Ryan tak bisa ditawar lagi.


"Tidak keluar kamar sama sekali, By? Tidak. Tidak. Tidak. Hanya mbayangin aja Rani bisa gila, By," oceh Rani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Makanya nurut sama Hubby," Ryan tersenyum penuh kemenangan.


"Iya, By. Rani akan jalan-jalan, belanja di mall dan menemani Hubby setiap hari di kantor," beo Rani.


"Eits, itupun ada syaratnya," sahut Ryan lagi.


"Iya, iya. Syaratnya, Rani tidak boleh pergi sendiri. Iya kan?" Rani kembali manyun.


"Pinter," sebuah cubitan di hidung mendarat dengan manis.


"Tapi Rani sama siapa, By? Naja masih di rumah sakit nemenin Daniel. Lena? Dia masih sedih dengan kehadiran Tante Safira," tanya Rani bimbang.


"Iya, By. Aamiin," sahut Rani sambil mengusap mukanya, mengaminkan do'a yang diucapkan suaminya.


***


Di waktu yang sama di kamar yang berbeda, Lena masih bermalas-malasan di tempat peraduannya. Sejak malam itu, Arya memang membiarkan istrinya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Sekedar makan pun, Bik Tum selalu mengantar dengan setia ke kamar mereka, bahkan sesekali dia juga menemani Lena di kamarnya saat Arya dan Rani pergi bekerja.


"Sore ini, perban Daniel akan dibuka. Kau mau ikut menungguinya, atau mau di rumah saja?" tanya Arya sambil meraih tangan Lena dan menggenggamnya.


"Deeba ikut ke rumah sakit saja, Kak," sahut Lena dengan semangat empat lima. Bahkan kini senyumnya mengembang, senyum yang selama satu pekan ini tak sekalipun Arya dapatkan.


"Baiklah. Tapi ada syaratnya," Arya mengecup punggung tangan Lena.


"Apapun syaratnya," cicit Lena masih dengan senyum termanisnya.


"Apapun yang terjadi, berjanjilah tak akan menangis lagi. Tetaplah tersenyum seperti ini, senyum yang selalu membuatku jatuh hati," kini giliran bibir Arya yang mendarat dengan indah di kening istrinya.

__ADS_1


"Maaf telah membuat Kak Tama mengkhawatirkan Deeba," Lena langsung mendekap tubuh suaminya.


"Sudah kubilang jangan menangis lagi. Teruslah tersenyum dan tertawa apapun yang terjadi," Arya merenggangkan pelukannya dan mencium mata Lena yang sudah berkaca-kaca.


"Terkait Tante Sa ...," sebelum Lena menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah berselancar dalam rongga mulutnya.


"Tak usah dibahas jika kamu memang belum siap menerimanya. Biarkan waktu yang meyakinkan hatimu, dan apapun keputusanmu, selalu ada aku yang akan berada di sampingmu," ucap Arya, setelah dia melepaskan pagutannya.


"Terima kasih," ucap Lena terbata.


"Untuk?" Arya mengernyitkan dahinya.


"Untuk semua yang Kak Tama berikan padaku. Untuk semua cinta, kasih sayang juga pengertianmu," Lena kembali membenamkan diri ke dalam dada bidang suaminya.


"Terima kasih juga karena telah menjadi pelangi yang membuat hidupku penuh warna-warni," Arya mengeratkan pelukannya.


***


Di salah satu kamar di sebuah rumah yang sangat besar, Safira duduk termenung di atas tempat tidurnya. Di tangannya, tiga buah foto seolah sedang tersenyum kepadanya.


Ya, di tangan kirinya, Safira memegang foto almarhum suaminya yang sedang tersenyum bahagia bersama Tede, putranya. Sementara di tangan kanannya, foto gadis cantik dengan hijabnya yang menutupi dada begitu manis sedang menatapnya.


Hingga tak terasa, air di matanya tumpah begitu saja.


"Seandainya waktu itu aku jujur padamu bahwa aku juga mempunyai seorang gadis kecil seusia putramu, apakah kau masih akan menerimaku sebagai istrimu?" Safira bertanya lirih, pada foto suaminya yang kini sedang di tatapnya.


"Kenapa waktu itu aku begitu takut untuk mengatakannya kepadamu? Kenapa waktu itu aku lebih takut kehilanganmu dari pada kehilangan gadis kecilku?" Safira tergugu.


"Bahkan kini aku kehilangan kalian semua," lirih Safira sambil memeluk foto ketiga orang yang sangat dirindukannya.


Hingga sebuah notifikasi pesan yang masuk, membuyarkan pengembaraannya.


Ibu, Lena sudah baik-baik saja. Tenanglah. Dia hanya butuh lebih banyak waktu untuk menerima semua itu. Arya.


Ada sedikit perasaan lega di hati Safira, membaca sebuah pesan dari anak menantunya.


"Ibu akan berjuang demi mendapatkan hatimu, Nak," Safira menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2