METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hengky


__ADS_3

Selain Arania Levana, Hengky Atmaja adalah sosok legislator dari kalangan milenial yang ada di kota X.


Hengky adalah pria single berusia 24 tahun yang mempunyai banyak penggemar dari kalangan pemilih pemula terutama dari kalangan para gadis. Wajahnya tampan, tingginya 177 cm. Dia adalah anak kedua dari seorang pengusaha kaya raya di kota itu. Meski perusahaan orang tuanya tidak sebesar Dewangga Group, namun perusahaan itu termasuk perusahaan besar yang cukup di perhitungkan.


Hengky mempunyai seorang kakak perempuan bernama Meysiela Ayudya. Hal ini yang tidak diketahui banyak orang, termasuk Rani karena Meysie lama tinggal di Amerika, sehingga kebanyakan orang mengira bahwa Hengky adalah anak tunggal di keluarga itu.


Kedekatan Hengky dan Rani bermula ketika mereka dilantik menjadi legislator Kota X. Mereka adalah dua orang dari empat legislator di kota itu yang belum menikah. Namun entah mengapa, kedekatan Rani dan Hengky melebihi kedekatan mereka dengan yang lainnya.


Meski usianya satu tahun di atas Rani, tapi jiwa muda mereka membuat banyak kesamaan yang bisa membuat mereka sangat dekat. Apalagi jika melihat back ground mereka, baik Rani maupun Hengky adalah mantan aktivis kampus yang sangat di perhitungkan di kota itu. Meskipun mereka berasal dari kampus yang berbeda, namun idealisme mereka yang luar biasa selalu saja membuat mereka berdua bisa menjadi tim solid yang membuat decak kagum para legislator senior yang rata-rata usianya jauh di atas mereka.


Hengky sendiri selalu terkagum-kagum terhadap seorang Rani dengan segala prestasi dan apa saja yang diperjuangkannya. Bahkan kekaguman itu sebenarnya sudah berubah menjadi cinta sejak sekian lama. Seisi kantor pun sangat mengetahui hal itu, karena sudah bukan hal yang rahasia.


Namun Rani selalu saja menanggapi Hengky dengan biasa saja. Apalagi Hengky tidak pernah mengutarakan perasaannya kepada Rani secara langsung, sehingga Rani merasa nyaman-nyaman saja ketika mereka bersama, meskipun seisi kantor sangat yakin bahwa hubungan mereka bukanlah hubungan yang biasa.


Sebenarnya Hengky sangat menginginkan Rani. Namun karena dalam beberapa tulisannya Rani mengangkat tentang nikmatnya pacaran setelah menikah, membuat Hengky enggan meminta Rani sebagai seorang kekasih. Hengky selalu mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan isi hatinya, sebelum siap melamar dan menikahinya secara langsung, setidaknya seperti tulisan-tulisan Rani yang sempat dia baca.


Belum lagi karena dia mempunyai kakak perempuan yang sudah bertunangan dan siap menikah, membuat Hengky memutuskan untuk menunggu Meysie menikah terlebih dahulu, baru Hengky akan mengutarakan perasaannya kepada Rani.


Setelah Meysie membatalkan pernikahannya karena tunangannya ketahuan berselingkuh, sebenarnya keluarga Hengky sudah mengizinkannya untuk menikah terlebih dahulu. Namun tepat ketika Hengky akan mengajak Rani makan siang dan mengungkapkan keinginannya, dia melihat ada sebuah undangan pernikahan bertuliskan nama Ryan Dewangga dan Arania Catatana


***


Flashback


Beberapa hari sebelum Rani menikah.


"Ryan Dewangga dan Arania Levana?" dengan sedih dan ekspresi wajah yang sulit di artikan, Hengky berkali-kali mengucap nama itu sambil memukul-mukul meja di ruangannya, kemudian meremas undangan pernikahan Rani lalu membiarkannya terserak di lantai.


"Ada yang memanggil nama Rani kayaknya nih," Rani yang tidak tahu ekspresi wajah Hengky saat itu dan betapa hancur hatinya ketika mengucap namanya dan Ryan itupun langsung masuk dan menghampiri Hengky masih dengan gaya khasnya yang riang.


Mendengar suara Rani dan melihatnya menghampiri tempat duduknya, Hengky tak berusaha sedikitpun mengubah ekspresi wajah yang sangat terlihat kacau itu.

__ADS_1


"Lho, Mas Hengky kenapa?" dengan ragu Rani bertanya, sambil mencoba menebak-nebak apa yang terjadi padanya.


"Selamat karena telah sukses membuatku patah hati," ucap Hengky parau, sambil menatap Rani penuh arti. Kristal-kristal beningpun tak bisa tertahan hingga mengalir begitu saja di kedua pipinya.


"Mas Hengky..., Rani minta maaf. Tapi Rani benar-benar tidak mengerti...," Rani yang mulai bisa menebak arah pembicaraan Hengky mencoba menjawab.


"Tidak mengerti kamu bilang? Bahkan semua orang dalam gedung ini saja tahu bagaimana perasaanku kepadamu," ucap Hengky penuh emosi.


"Maaf," Rani berucap lirih.


"Aku yang salah. Aku juga tidak pernah bilang ke kamu kalau aku mencintaimu. Kukira kamu tidak mempunyai kekasih. Makanya aku pikir aku bisa mengungkapkan semuanya saat melamar kamu. Dan harusnya hari ini. Hari ini aku mau bilang ke kamu. Tapi ternyata...huhhhhh," ungkap Hengky sambil memukul meja di depannya hingga tangannya berdarah.


Rani yang melihat luka di tangan Hengky tiba-tiba panik dan segera berlari keluar mencari obat. Tak berapa lama, Rani masuk kembali dengan kotak P3K di tangannya dan segera mengobati tangan Hengky.


Beberapa rekan mereka yang melihat Rani berlarian sambil membawa kotak P3K ke arah ruangan Hengky pun segera mengikuti Rani masuk. Namun melihat tangan Hengky yang berdarah, dengan muka yang kacau dan mendapati kaca meja yang pecah serta ada bekas remasan undangan Rani yang berserak di lantai, maka mereka langsung memahami situasi apa yang sedang terjadi diantara mereka mengingat bagaimana perasaan Hengky kepada Rani sudah menjadi rahasia umum. Mereka pun akhirnya keluar karena tidak mau ikut campur.


Ketika Rani sedang mengobati tangan Hengky, tiba-tiba.... Ndret-ndret... Ponsel Rani bergetar.


"Rani masih di kantor, Mas," jawab Rani singkat, sambil membalut tangan Hengky yang terluka.


"Mas jemput ya? Siang ini jadwal kita memilih souvenir, menu dan cheking tempat," pesan Ryan lagi.


"Mas Ryan mau jemput Rani dimana?" Rani yang sangat tahu bahwa Ryan tidak tahu dimana dia bekerja, mencoba memancing.


"Di kantor Bu Pejabat dong," jawab Ryan.


"kalau gitu jemput Rani 30 menit lagi ya, Mas. Rani tunggu di kantor," Rani meminta dijemput 30 menit lagi karena dia harus bicara dengan Hengky terlebih dahulu untuk menyelesaikan permasalahan mereka.


"Oke." Setelah Ryan menjawab, Rani segera menyelesaikan pemasangan perban di tangan Hengky.


Setelah selesai, beberapa saat mereka terdiam. Hanya desahan yang sesekali terdengar dari mulut mereka.

__ADS_1


"Mas Hengky, Rani benar-benar minta maaf. Mungkin Rani yang tidak peka sehingga tidak menyadari perasaan Mas Hengky. Tapi Rani mohon, ikhlaskan Rani. Rani tidak mungkin membatalkan pernikahan ini," akhirnya Rani memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.


"Betul, tidak mungkin kamu membatalkan pernikahanmu, apalagi hanya karena seorang Hengky Atmaja. Lagi pula memang aku yang salah. Aku yang nggak pernah bilang ke kamu. Sudahlah. Aku nggak papa. Ini memang sudah takdirku," jawab Hengky dengan sedih.


Ketika Rani mencoba untuk bicara lagi, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Assalamualaikum, Mas,"


"Mas tunggu aja, biar Rani yang kesitu."


Rani segera mematikan ponselnya dan mulai bingung harus berkata apa kepada Hengky yang masih memandangnya dengan tatapan tajam.


"Mas Hengky, maaf. Siang ini Rani ada janji dengan WO yang urus pernikahan Rani. Dan Mas Ryan sudah menunggu di depan," ucap Rani lirih, takut melukai pria patah hati yang ada di depannya itu.


"Oke. Aku antar kamu sampai luar," jawab Hengky sambil mengusap mukanya dengan kasar kemudian beranjak.


" Tapi Mas...," ucap Rani ragu.


"Sudahlah, ayo. Aku nggak papa," jawab Hengky yang sudah mulai berusaha menguasai dirinya.


Mereka pun berjalan keluar menuju tempat parkir hingga langsung mendapati Ryan yang keluar dari dalam mobil dan memanggil Rani sambil melambaikan tangannya.


Sementara Hengky, memutuskan untuk ikut menghampiri Ryan dengan senyum yang dipaksakan, seolah tidak terjadi apa-apa dalam dirinya.


End of flashback


BERSAMBUNG


Catatan:


jangan lupa vote, like, comment dan love ya...

__ADS_1


__ADS_2