METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Istana Cinta


__ADS_3

Ryan, Rani, Daniel, dan juga Naja tercengang, mendengar penjelasan yang Indra sampaikan. Ya, semua perkataan Indra justru di luar nalar. Bagaimana bisa Indra menolak sebuah permintaan yang sebenarnya sangat dia inginkan? Apakah Indra tak akan pernah menyesali semua keputusannya?


Nyatanya, memang begitulah Indra mengambil jalan untuk kisah cintanya.


"Tolong hukum saya, Nona. Apapun hukuman dari Anda akan saya terima. Tapi untuk satu hal itu, saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak bisa menikahi Zara," ucap Indra, dengan segala kesakitan yang dia rasa.


"Tapi kenapa? Bukankah kamu mencintainya?" Rani mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tak percaya dengan keputusan Indra yang menolak perjodohannya dengan Zara, sementara selama ini Rani sungguh bisa melihat cinta itu ada pada binar mata Indra.


Ya, hal yang aneh memang. Seharusnya Indra berterima kasih dan merasa senang, karena perintah nonanya sejalan dengan perasaan cintanya kepada Zara. Namun kali ini, bahkan Indra rela mendapatkan hukuman karena penolakannya pada titah sang majikan, hanya demi sebuah alasan yang sebenarnya begitu menyakitkan untuknya.


"Ada seorang pria di dalam hati Zara, dan pria itu bukanlah saya, Nona. Dan selama ini, pria itulah satu-satunya alasan yang membuat Zara masih semangat untuk mempertahankan hidupnya," sahut Indra, sambil menghela nafas panjang.


"Dari mana kau tahu?" tanya Rani, masih penasaran. Dia benar-benar gregetan dengan alasan yang Indra sampaikan.


"Saya bahkan sudah memegang data pria itu secara lengkap, Nona. Jadi saya mohon, biarkan dia bahagia. Dia sudah cukup menderita karena harus hidup sebatang kara. Dan jika boleh saya mengajukan sebuah permintaan kepada Anda, pertemukanlah mereka, Nona. Saya mohon," cicit Indra dengan tatapan nanar.


Rani yang semangatnya sudah menyala-nyala untuk menjodohkan mereka berdua pun hanya bisa memasang raut wajah kecewa.


Sementara Ryan yang melihat ekspresi kecewa dari istrinya tak bisa berbuat apa-apa, karena pada dasarnya mereka memang tak punya hak untuk mengurusi urusan pribadi semua anak buahnya, walaupun mereka memang telah mengucap janji setia.


***


Perlahan, Zara membuka matanya. Cahaya lampu dari arah langit-langit kamar perawatan itu, membuatnya mengerjabkan mata, menyesuaikan dengan bias sinar yang menyilaukan sampai dia harus berkali-kali menyipitkan netranya, hingga indra penglihatannya itu bisa beradaptasi betul dengan sinar terang yang tersebar ke seluruh penjuru ruang.

__ADS_1


Zara mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Netranya menangkap warna serba putih dari seluruh dinding, membuat otaknya langsung berputar dan menyimpulkan bahwa kini dia telah berada di rumah sakit.


Seketika, ingatannya pun langsung kembali pada kejadian mengerikan malam itu, dimana tangan-tangan besar para pria tak berperikemanusiaan berusaha menyentuh tubuhnya. Dan terakhir Zara ingat, sebelum para pria hidung belang itu berhasil menodai kesuciannya, ada sebuah cahaya sangat terang yang tiba-tiba datang dari atasnya, baru setelah itu Zara tak ingat apa-apa.


Sedetik kemudian, Zara menoleh ke samping kiri ranjang pesakitan yang kini menyangganya. Matanya setengah membelalak seolah tak percaya, menyadari siapa yang kini tengah duduk di sampingnya, dengan senyum mengembang yang terus tertuju ke arahnya.


"Kak," panggil Zara lirih, begitu tahu bahwa pria yang selama ini dia nantikan itu tiba-tiba muncul dan berinisiatif menemuinya. Mata Zara pun berkaca-kaca seketika, mewakili segala rasa yang kini ada di dalam hatinya.


Sesungguhnya, Zara dan pria itu adalah sepasang kekasih di masa SMA yang boleh dibilang putus tanpa kata. Bagaimana tidak? setelah kedua orang tuanya meninggal, Zara menghilang begitu saja karena menempuh pendidikan sebagai seorang agen mata-mata.


Begitu masa pendidikannya berakhir, Zara sudah berusaha untuk mencari kekasihnya kembali. Namun sayang sungguh sayang, ternyata pria itu sudah berada di luar negeri untuk melanjutkan study. Dan hari itu, Ryan dan Rani benar-benar memenuhi permintaan Indra, untuk mempertemukan mereka kembali. Ya, dengan susah payah, mereka membuat pria itu kembali menemui Zara, dan meminta Lena dan Arya yang awalnya menunggui Zara untuk meninggalkan mereka berdua.


"Apa kau baik-baik saja, Zara?" tanya pria itu terlihat kikuk.


"Seperti yang kau lihat," sahut Zara singkat, bingung harus bersikap seperti apa.


"Aku ...," ucap mereka bersamaan.


Menyadari bahwa mereka mengucapkan kata yang sama di waktu yang sama pula, akhirnya mereka memutuskan untuk diam dan menunggu lawan bicaranya untuk membuka pembicaraan.


"Kamu ...," untuk yang kedua kalinya, mereka berucap secara bersamaan.


"Maaf ...," lagi-lagi mereka bicara berbarengan.

__ADS_1


"Kamu dulu," akhirnya mereka tertawa, menyadari mereka berucap secara bersamaan untuk yang keempat kalinya.


"Ladies first," ucap pria itu, membuat Zara menaptapnya penuh ragu.


"Maafkan aku. Waktu itu ...," Zara menggantungkan kalimatnya. Lidahnya terasa begitu kelu, ingin mengatakan banyak hal, namun akhirnya justru semua yang ingin dia ucapkan tiba-tiba tertahan.


"Aku mengerti. Aku ikut berduka cita atas kepergian kedua orang tuamu waktu itu," sahut pria itu, menangkap keraguan yang terpancar dari mata seorang gadis yang pernah dia cinta.


"Aku harus bertahan hidup, karena itu aku tak ada pilihan lain selain pergi dari kehidupanmu. Tapi demi apapun aku bersumpah, aku mencarimu setelah kepulanganku. Sayangnya, aku dengar bahwa kau melanjutkan study ke luar negeri," lirih Zara, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku yakin, kau punya alasan yang kuat hingga merahasiakan kepergianmu kepadaku. Aku bahkan tidak marah, Zara. Meski selama ini kamu telah membuatku merana, namun aku yakin suatu saat nanti kau akan kembali dan menjelaskan semuanya. Dan apa yang aku pikirkan, ternyata benar adanya. Tuhan kembali mempertemukan kita, setelah aku dijemput oleh salah seorang anak buah Tuan Ryan Dewangga," tutur pria itu dengan lembut.


"Tuan Ryan mengutus anak buahnya untuk menjemputmu? Dari mana dia tahu tentang dirimu?" Zara mengernyitkan dahinya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang kutahu, dia mengirimkan sebuah pesan melalui anak buahnya dan memberitahukan tentang bagaimana kondisimu kepadaku, kemudian langsung membawaku menemuimu," jelas pria itu dengan antusias.


"Bagaimana Tuan bisa tahu? Apa ini bagian dari hasil kerja Indra saat mencari tahu tentang diriku?" Zara bertanya-tanya dalam hati.


"Zara!" pria itu memanggil nama Zara dan meraih tangan lembut milik gadisnya.


"Kembalilah kepadaku, dan mari kita bangun istana cinta kita seperti dulu," tak segan, pria itu mengucapnya sambil mencium punggung tangan Zara.


"Kak, aku ...," Zara hampir tak bisa berkata-kata. Kini semua rasa justru saling berkecamuk di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ikutlah denganku dan hiduplah bersamaku seumur hidupmu, Zara," kata pria itu lagi dengan tatapan penuh pinta.


BWRSAMBUNG


__ADS_2