
“Papaa!” Arya dan Daniel berseru serentak dan menghambur ke arah Ryan yang sudah meletakkan kepala Prabu di pangkuannya. Begitu juga dengan Aghata, Rani dan juga Lena. Mereka semua kini melingkar, mengerubungi Ryan dan Prabu yang matanya kini terpejam itu.
“Ayo kita bawa Papa ke rumah sakit! Cepat!” teriak Ryan. Air matanya tumpah.
“Tapi denyut nadinya sudah tidak ada,” jawab Arya setelah memeriksa tangan Prabu.
“Bawa ke rumah sakit aku bilang! Aku tidak mau tahu. Papa harus tetap hidup. Papa tidak boleh sejahat ini kepadaku, seperti Mama yang meninggalkanku,” Ryan terus tergugu sambil berteriak histeris. Rani yang hanya bisa diam sambil mengusap derai air mata pun segera menghampiri suaminya dan memeluk Ryan untuk menenangkannya.
Daniel dan Arya terlihat saling pandang. Kemudian dengan isyarat anggukan, akhirnya mereka menggotong tubuh Prabu menuju mobil, membawanya ke rumah sakit seperti kehendak Ryan.
Sesampai di rumah sakit, tubuh yang belum terlalu dingin itu dibaringkan di ranjang dorong dan dimasukkan ke ruang IGD. Ryan, Arya dan Daniel mengikuti kemana arah papa mereka akan di bawa, namun beberapa suster melarang mereka untuk ikut masuk ke dalam ruangan.
“Papaaaaaaa!” Air mata Ryan tumpah. Tubuhnya lemas.
Aghata merangkul Ryan, “Sabar, Sayang, sabar.”
Sementara di ujung ruangan Rani dan Lena tampak berpelukan, saling menguatkan. Wajah mereka tampak suram, mata mereka bertambah sembab mengingat sisa-sisa mereka menangis paska dimakamkannya Titania masih membekas disana.
“Mom, Papa akan hidup terus kan, Mom? Daniel? Arya?” tanya Ryan. Bulir bening dari sudut matanya masih terus deras mengalir.
“Katakan bahwa Papa tidak akan menyusul Mama dan meninggalkan aku seorang diri!” gumamnya parau.
Mereka semua terdiam dan semakin tergugu mendengar pertanyaan Ryan itu. Tak ada yang menjawab pertanyaan Ryan, seperti dinding rumah sakit serba putih yang hanya diam membisu. Tak kuat, Aghata memeluk Ryan lagi.
__ADS_1
Ryan memberontak, menangis sejadi-jadinya dan memukuli dinding. Rani yang sangat mengerti dengan kondisi Ryan pun segera beranjak menghampirinya berusaha menenangkan.
“Papamu sungguh orang yang sangat baik, Nak. Mommy benar-benar bersaksi, Prabu Dewangga adalah orang yang baik. Kamu jangan seperti ini. Jangan sampai keadaanmu yang seperti ini justru menghambat jalan papamu. Berdo’alah agar Allah memudahkan setiap jalan yang telah Dia gariskan,” airmata Aghata tak kalah deras.
Ryan masih terisak di sudut ruangan, sambil memeluk erat istrinya yang kini menjadi satu-satunya pelepas lara yang dia rasakan. Geram. Marah. Pedih. Gelisah. Semua bercampur baur menjadi satu. Hingga Daniel, Arya, Lena dan Aghata yang juga merasakan kepedihan Ryan pun kini saling merengkuh dan saling menguatkan.
Rani mengusap setitik lagi air mata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak, Mas,” kata Rani sambil menggenggam erat tangan suaminya.
“Ampuni aku, Ya Allah. Aku pasrahkan semua kepadaMu. Aku sangat menginginkan Papa terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, bukankah aku harus pasrah pada ketentuanMu? Kau lebih tahu apa yang terbaik bagi kedua orang tuaku, Ya Allah,” do’a Ryan lirih.
Selang beberapa menit, dokter meminta mereka semua untuk masuk.
“Perkiraan kami, Tuan Prabu sudah meninggal sekitar dua jam yang lalu,” jelas dokter itu dengan wajah sangat serius.
Ryan memeluk tubuh Papanya yang telah terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Arya, Daniel dan Aghata juga melakukan hal yang sama. Isak tangis mereka semua pun bersahutan meskipun hati mereka telah mengikhlaskan.
Setelah dokter memastikan bahwa Prabu benar-benar sudah meninggal, mereka membawa jenazahnya pulang. Namun, Prabu tetap di makamkan pagi harinya karena tidak memungkinkan pemakaman dilaksanakan di waktu malam.
Sebuah pemakaman yang penuh drama, akhirnya menghiasi peristiwa yang akan dikenang sebagai kisah terindah bagi sejarah percintaan seluruh umat manusia. Gundukan tanah di makam Titania yang masih basah pun menjadi saksi bisu, betapa Allah memberikan jalan yang begitu manis bagi sepasang kekasih yang telah berjanji sehidup semati itu. Ya, hanya berselang beberapa jam saja, Allah telah memanggil Prabu menyusul cinta sejatinya setelah Allah dan RasulNya. Dan kini, Prabu di makamkan tepat di sebelah makan istri yang sangat dicintainya.
“Selamat jalan, Papa Prabu. Selamat jalan, Mama Titania. Allah sungguh sayang kalian, hingga janji sehidup semati yang kalian ucapkan benar-benar Allah kabulkan.”
***
__ADS_1
Ryan terus memandangi setiap sudut ruang kamar orang tuanya. Kepingan-kepingan kenangan saat dia kecil dulu, kini hadir kembali bagai slide yang berputar-putar di depan matanya.
“Aku rindu Mama. Aku rindu Papa. Aku rindu Azzura.” Ryan bergumam dengan mata yang terus menelusuri setiap inchi kamar itu.
Dia menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, yang saat ini duduk di sebelahnya dan terus mengeratkan genggaman tangan mereka. Setetes, dua tetes, tiga tetes air mata Ryan kembali menganak sungai. Ryan terlihat begitu rapuh. Hatinya sungguh hancur. Dia merasa hidupnya tak berarti lagi, karena orang-orang yang dia cintai satu per satu telah pergi.
“Kini mereka semua meninggalkan Mas. Dan sepotong kata itu benar-benar telah mengubah hidupku, Sayang." Lanjut Ryan sendu.
“Sudah dong, Mas. Tidakkah Mas Ryan merasa bahwa Allah sayang mereka? Azzura meninggal, itu artinya Allah sudah membebaskan dia dari rasa sakitnya yang sangat panjang. Apa Mas Ryan mau Azzura tetap tersiksa dengan sakit yang telah sekian lama menyiksanya itu? Begitu juga dengan Mama dan Papa. Allah sangat menyayangi mereka dengan mengukuhkan cinta mereka dalam sebuah kisah cinta indah hingga ikrar yang telah mereka ucapkan benar-benar telah Allah kabulkan. Bahkan Papa meninggal dalam keadaan bersujud kepada Tuhannya, sebuah kondisi yang diimpikan setiap orang untuk akhir dari hidupnya. Tak jugakah Mas Ryan melihat? Jasad Papa sungguh luar biasa. Rani melihatnya laksana Papa sedang tertidur sangat nyenyak dan bermimpi indah. Biarkan mereka tenang di sana, Mas. Kita do’akan saja mereka agar Allah menempatkan mereka dan mempertemukan kita semua kembali di syurgaNya,” Rani melepaskan genggaman tangannya, kemudian membelai kepala suaminya yang masih bersarang manis di bahunya. Bahkan sesekali, kecupan hangat Rani daratkan di kepalanya.
Tak berapa lama, mereka pun beranjak dari kamar penuh kenangan itu. Rani segera mematikan lampu, kemudian menutup pintu kamar orang tua mereka pelan-pelan.
Ya, setiap yang hidup, pasti akan mati. Karena pada hakikatnya, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.
Selamat jalan, Papa Prabu. Selamat jalan, Mama Titania. Selamat jalan Azzura. Sungguh hidup di dunia hanya sementara. Allah akan mempertemukan kalian kembali kelak di SyurgaNya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Pembaca setia, bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up lagi. hehehe...
Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih.
__ADS_1