
Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang mulai ramai lalu lalang mobil dan kendaraan roda dua yang kebanyakan keluar untuk memanfaatkan jam makan siang.
Sesekali dia berhenti mentaati isyarat lalu lintas, saat lampu APILL berwarna merah memberi peringatan. Sesekali juga dia melihat arah jam, untuk memastikan bahwa dia bisa menjemput istrinya sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan.
Sebenarnya siang itu Ryan ingin segera sampai di kantor Rani dan mengajaknya makan, mengingat pagi tadi istrinya itu tidak makan apapun gara-gara drama sup aneh yang akhirnya terpaksa Ryan habiskan. Namun karena jalanan yang tidak memungkinkan bagi Ryan untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, maka mau tidak mau Ryan pun harus memilih bersabar.
"Mas tunggu di luar," ucap Ryan melalui telphon, begitu mobilnya memasuki area kantor Rani.
Tak berapa lama, Rani pun menghampirinya dan segera masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Ryan segera melajukan mobilnya dengan gerakan memutar arah menuju ke luar gedung.
Sebelum mereka sempat keluar, tiba-tiba terdengar suara dari arah lobby memanggil dan berlari menghampiri mereka, dengan membawa sebuah kotak yang tadi sempat Rani lupakan.
"Bu Rani!" seru salah seorang satpam yang masih terengah karena berlari cukup kencang, demi mengejar mobil Rani yang hampir saja keluar.
"Ya, Pak," jawab Rani sambil membuka kaca mobilnya.
"Apakah Ibu melupakan sesuatu?" tanya satpam itu sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna merah berukuran 40 cm x 40 cm dari tangannya.
"Ohh iya, Pak. Terima kasih," jawab Rani sambil menerima kotak itu.
Rani memandang sesaat kotak itu, sebelum akhirnya meletakkannya di kursi penumpang.
"Dari siapa, Sayang?" tanya Ryan penasaran.
Rani hanya menggeleng, kemudian menjawab, "Nggak tahu, Mas. Rani juga belum buka."
Ryan pun tidak begitu mempedulikan kotak itu. Dia kembali fokus mengemudikan mobilnya menuju tempat makan yang ingin mereka tuju.
Thet-thet...
Tiba-tiba Ryan membuyikan klaksonnya, setelah memelankan laju mobil hingga akhirnya benar-benar berhenti karena kemacetan panjang yang ada di depan mereka.
Entah ada apa di depan sana sehingga kemacetan yang terjadi bisa sepanjang itu, yang jelas banyak aparat keamanan yang berjaga dan mengkondisikan jalan juga kemacetan yang memicu banyak kemarahan dari pengguna jalan.
"Kamu keburu lapar nggak, Sayang?" tanya Ryan sambil mengusap ujung kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
Rani hanya mengangguk, sambil memasang ekspresi wajah manja seolah ingin merajuk.
__ADS_1
"Gimana kalau makan kue itu dulu, Sayang? Buat mengganjal perut kamu aja sebelum kita makan? Sepertinya bakal lama nih, macetnya panjang," ucap Ryan sambil menoleh ke arah kotak yang diberikan satpam tadi.
"Boleh," jawab Rani setuju.
Rani pun segera berbalik ke belakang, meraih dan membuka kotak kue itu dengan tidak sabar, mengingat perut Rani yang sudah mulai keroncongan.
Ketika kotak dibuka, dahi Rani berkerut. Di dalam kotak kue itu terdapat dua kotak lagi yang disusun di atas dan di bawah. Kotak yang terletak di atas berukuran agak tipis, sedangkan kotak di bawahnya berukuran lebih tebal.
Rani membuka kedua kotak itu dengan penasaran. Kotak pertama berisi cake rasa coklat, sedangkan kotak ke dua...
"Mas Ryan. Lihat, Mas!" seru Rani setengah berteriak.
Karena sedikit kaget, Ryan segera menoleh ke arah istrinya dan kotak yang di bawanya.
"Apa itu, Sayang?" tanya Ryan saat melihat isi kotak kedua penuh dengan uang dollar.
"Gimana ini, Mas? Rani takut," jawab Rani sambil menunjukkan kotak penuh berisi uang dollar itu.
"Coba lihat pengirimnya," pinta Ryan sambil memeriksa kotak yang kini ada di tangannya.
Ryan dan Rani pun sibuk mencari nama pengirim yang mungkin diselipkan di dalam kotak itu, tapi hasilnya nihil. Di bagian dalam dan bagian luar kotak sama sekali tidak ada nama pengirim, maupun pesan yang ditinggalkannya.
Ketika Rani sibuk menerka-nerka, tiba-tiba notifikasi pesan masuk berbunyi.
Ndret-ndret, ndret-ndret...
Dengan cepat Rani segera menyambar hp yang ada di dalam tasnya, kemudian segera mengusap layar HP nya dengan suatu bentuk pola.
Dan segera saja terlihat disana, chatt teratas, dari sebuah nomor tanpa nama segera dibukanya.
"Saya tidak menerima penolakan. Tolong terima hadiah dari saya." Rani membaca pesan itu, kemudian menyerahkannya kepada Ryan.
***
Flashback
Usai menjalankan segala aktifitas kantor yang melelahkan, Rani terduduk diam di ruang kerjanya dalam lamunan yang panjang. Matanya menatap tanpa arah, dengan kepala bersandar seolah ingin menghilangkan lelah.
__ADS_1
"Hehhhhmmm," desahnya sesekali dengan kasar.
Entah mengapa hari itu dia terus memikirkan Nina, gadis belia yang ditolongnya saat perjalanan mereka pulang dari Bali kemarin.
Ada perasaan khawatir yang berlebih mengingat cerita bagaimana gadis itu dibohongi dan dipaksa melayani nafsu tamu-tamu hidung belang di Cafe tempat dia bekerja. Meskipun pemilik Cafe dan seluruh anak buahnya sudah diamankan aparat, namun entah kenapa Rani tidak yakin jika gadis itu benar-benar telah bebas dan bisa pulang kampung dengan selamat.
"Hallo," suara di seberang sana segera menyapa setelah Rani menekan panggilan suara. Dia adalah Lena, teman Rani yang kebetulan adalah seorang pengacara yang tinggal di ibu kota. Lena inilah yang diminta Rani untuk mendampingi Nina hingga kasusnya selesai.
"Gimana kondisi Nina?" tanya Rani memastikan.
"Nina fine, Ran. Sementara dia tinggal di rumahku sampai proses penyidikan dan persidangan kasusnya selesai," jawab Lena tenang.
Mendengar jawaban Lena, Rani merasa sedikit lega walaupun dalam hati kecilnya masih merasa ada sesuatu yang masih harus Rani pastikan kebenarannya. Setidaknya, Rani harus memastikan betul, bahwa tidak ada jaringan lain yang terlibat selain Charles dan anak buahnya.
Tok-tok-tok...
Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketok.
"Masuk!" seru Rani sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Maaf bu Rani, ada paket kue untuk Ibu," ucap seorang satpam, setelah membuka pintu dan berdiri di depannya.
"Dari siapa?" tanya Rani penasaran.
"Tidak ada nama pengirimnya, Bu. Tadi pesuruh yang mengantar cuma berpesan, saya diminta memastikan bahwa Bu Rani sendiri yang menerimanya," jawab Satpam itu sambil mengingat-ingat perkataan sang pesuruh yang dia ceritakan.
"Ambil ucapannya lalu kasihkan saya ya, Pak. Untuk kuenya buat Bapak saja," kata Rani, sambil menyandarkan kepalanya kembali ke sandaran kursi.
"Tapi pesuruh tadi berpesan, saya diminta memastikan bahwa Anda sendiri yang menerima isinya," tolak satpam tadi, seolah takut membuat kesalahan.
"Baiklah. Sebentar lagi saya akan keluar makan siang. Nanti tolong bawakan ke mobil saat saya siap keluar!" Rani akhirnya memutuskan.
End of flashback
BERSAMBUNG
Hai Readers...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.