METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bumbu Pemanis Rumah Tangga


__ADS_3

Rani masih menggerutu dalam hati, tapi matanya tetap terpejam demi menghindari obrolan dengan suaminya yang sungguh menyebalkan.


Bagaimana mungkin hal seperti itu tidak dipahami oleh Ryan. Dengan perut Rani yang mulai membesar, seharusnya Ryan tahu bahwa dalam beberapa hal, Rani tak bisa segesit dulu. Untuk duduk saja sulit, apalagi dari duduk atau berjongkok kemudian mau berdiri.


Tapi kata-kata Ryan tadi benar-benar membuat Rani malas untuk meladeninya lagi. Memang Felix adalah pria pengganggu yang selalu mencari kesempatan untuk mendekati dan mengejar cinta Rani. Tapi dengan kondisi perut Rani yang mengganjal dan tubuhnya yang semakin memberat, mustahil Rani bisa seperti yang Ryan bilang tadi.


"Kenapa sih, si Felix itu harus muncul lagi di hadapan kita? Apa belum cukup pelajaran yang aku berikan kepadanya?" omel Ryan sambil terus melajukan mobilnya.


"Mana Rani tahu, By. Dia tiba-tiba muncul dan duduk di samping Rani," sahut Rani sambil mencari pegangan apapun yang bisa diraihnya.


"Kenapa kamu tidak langsung pergi dan malah membiarkan dia mendekatimu?" cecar Ryan penuh emosi.


"Rani sudah mau pergi, By. Tapi bawaan Rani jatuh," jawab Rani lagi.


"Harusnya kan langsung kamu pungut, kemudian segera pergi. Gimana sih kamu? Kamu sengaja ingin membuat dia membantumu? Pakai pegang tanganmu lagi," Ryan terus nerocos tanpa mempedulikan wajah Rani yang sudah berubah sesaat tadi.


Begitulah Ryan jika api cemburu sudah datang. Emosinya akan mengalahkan akal sehatnya. Dia benar-benar lupa, jika Rani sudah balik marah kepadanya, dia sendiri yang akhirnya akan merengek minta dimaafkan oleh istrinya.


Seperti hari itu. Ryan yang cemburu, pada akhirnya Rani juga yang marah, dan Ryanlah yang kemudian harus merajuk dan merengek demi mendapatkan maaf dari istri tercintanya itu.


Sepanjang perjalanan, Ryan terus memegangi tangan istrinya sementara tangan kanannya fokus menyetir. Rani yang masih berpura-pura tidur pun tak berusaha membuka matanya, apalagi membalas genggaman tangan suaminya. Dia hanya terus bersandar ke belakang dengan mata terpejam, sebelum akhirnya mereka sampai ke rumah yang selalu menjadi tempat yang paling mereka rindukan.


Begitu mobil terparkir sempurna, para penjaga pun membukakan pintu mobil untuk mereka dan mengambil barang belanjaan yang sempat menjadi topik pertengkaran.


Rani yang tadinya pura-pura tidur pun langsung membuka mata dan turun dari mobilnya, tanpa merengek minta di gendong seperti biasanya.


"Sayang!" panggil Ryan begitu menyadari bahwa gadisnya yang semenjak hamil menjadi sedikit labil itu sudah berjalan masuk ke dalam rumah duluan.


Rani tidak menanggapi panggilan suaminya. Dia justru mempercepat jalannya, dan sedikit berlari menaiki tangga.


"Sayang, pelan-pelan! Kamu ini lagi hamil," seru Ryan sambil terus mengejar istrinya.

__ADS_1


Rani terus saja menaiki anak tangga demi anak tangga itu tanpa mempedulikan teriakan suaminya. Hingga langkahnya tiba-tiba terhenti, ketika Arsen dan Aghata ke luar kamar dan hendak menuruni tangga menuju ruang keluarga.


"Assalamualaikum, Mom, Dad," sapa Rani yang mau tak mau akhirnya harus menghentikan langkahnya.


"Wa'alaikumsalam," sahut Arsen dan Aghata secara bersamaan.


"Sayang, tunggu," Ryan yang tidak menyadari kalau ada Arsen dan Aghata pun terus menaiki tangga.


Arsen dan Aghata saling pandang melihat gelagat kedua anaknya itu.


"Kalian ini kenapa sih, Sayang? Kejar-kejaran kayak sinetron aja," Aghata menggelengkan kepalanya.


"Mereka sedang membumbui rumah tangga mereka, Mom," bisik Arsen.


"Apaan sih, Dad. Jangan sok tahu ah," sahut Aghata ikut berbisik.


Kini Ryan sudah berada tepat di samping istrinya, dan berhadapan dengan Arsen dan Aghata.


"Mom, Dad," Ryan setengah kaget ketika sadar bahwa di depan mereka sudah ada Arsen dan Aghata. Sementara Rani yang merasa sudah tidak bisa menghindari suaminya lagi hanya bersungut kesal.


"Nggak papa kok, Mom," jawab Ryan.


"Rani lagi kesel sama Hubby, Mom," jawab Rani bersamaan dengan Ryan.


"Sayang, ayo kita selesaikan di kamar," bisik Ryan, tidak enak kepada orang tuanya. Kini tangannya berusaha meraih tangan istrinya dan hendak menggenggamnya.


"Nggak mau. Rani masih marah ya, sama Hubby," Rani menarik tangannya kembali.


Sekali lagi, Arsen dan Aghata saling pandang kemudian tersenyum, merasa geli melihat pertikaian suami istri yang terlihat sangat lucu itu.


"Sayang, jangan bilang gitu. Ada Mommy sama Daddy, loh," kata Ryan lirih.

__ADS_1


"Biarin aja Mommy tahu kalau Hubby sudah jadi suami yang tidak bisa berempati sedikitpun sama istri sendiri. Bantuin marahin Hubby tuh, Mom. Tadi Hubby bentak-bentak Rani," adu Rani kepada Aghata.


"Ryan, kamu apain menantu cantik Mommy ini?" Aghata menatap Ryan tajam.


"Tadi Ryan hanya ...," belum sempat Ryan menyelesaikan kalimatnya, Rani sudah nenyela.


"Hubby marah-marah sama Rani gegara tiba-tiba Felix duduk di sebelah Rani, Mom. Rani sudah berdiri dan mau pergi, tapi karena bawaan Rani banyak barangnya jatuh berserakan di lantai. Pas Rani mau pungut, dia bantuin dan tanpa Rani tahu, dia mencuri-curi kesempatan memegang tangan Rani," jelas Rani panjang lebar.


"Kenapa kamu harus marah-marah, Sayang? Kan bukan salah istri kamu?" Aghata menatap Ryan dengan tatapan penuh ancaman.


"Habisnya Ryan cemburu, Mom. Dia itu pria yang selama ini mengejar-ngejar Rani. Setahun yang lalu bahkan sudah Ryan beri pelajaran dengan membuat bangkrut perusahaan keluarganya, tapi dia belum kapok juga," Ryan membela diri.


"Terus kenapa kamu marahnya sama istri kamu, Sayang? Kan bukan salah Rani. Dia itu sedang hamil anak kamu loh," Aghata berdecak kesal.


"Kata Hubby harusnya Rani segera memunguti belanjaan Rani yang jatuh itu dengan cepat terus pergi, Mom. Tapi perut Rani kan sudah besar, Mom. Rani tidak segesit dulu. Untuk duduk saja susah, apalagi dari duduk atau jongkok ke berdiri. Kan sudah berat, Mom," sela Rani.


"Sayang, Hubby kan sudah minta maaf tadi. Hubby tadi terlalu emosi," sahut Ryan sambil meraih tangan istrinya lagi.


"Hubby kalau mau ngomong dipikirkan dulu dong, By. Jangan asal bunyi aja, ujung-ujungnya nyakitin hati istri sendiri," Rani mengerucutkan bibirnya.


"Masak gitu aja sakit hati sih sama Hubby?" tutur Ryan pelan.


"Hubby belum ngerti juga ya? Huh, percuma ngomong sama Hubby. Hubby nggak bakalan bisa mengerti," Rani segera melangkahkan kaki menuju kamarnya, tanpa berpamitan kepada Arsen dan juga Aghata.


"Sayang, kan Hubby sudah minta maaf. Sayang!" Ryan terus memanggil istrinya dan mengejarnya.


Aghata hanya tersenyum ke arah suaminya, melihat putra dan menantunya sedang membumbui rumah tangga mereka.


"Sekarang berantem, di jamin besok lebih mesra," ucap Arsen sambil mengangkat ke dua bahunya.


"Tentu saja. Karena pertengkaran adalah bumbu pemanis dalam rumah tangga. Bahkan rumah tangga tanpa pertengkaran, justru akan terasa sangat hambar," Aghata menggandeng tangan Arsen, hingga akhirnya mereka menuruni anak tangga bersama.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Vote, like dan rate 5 dong *guys***🥰**


__ADS_2