METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tidak Bisa Dua-duanya


__ADS_3

Mobil BMW X5 M keluaran terbaru warna silver itu mendecit begitu tiba di halaman parkir rumah sakit. Beberapa detik kemudian, Arya segera turun dan berlari menyusuri lorong demi lorong rumah sakit itu, diikuti tiga pria tampan di belakangnya yang ikut berlari mengejarnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ryan, Daniel dan Johan.


Dengan nafas tersengal, mereka pun tak menyerah dengan panjangnya lorong yang harus mereka lewati. Bahkan sesekali, mereka terlihat tak peduli saat harus menyenggol atau menabrak orang yang tak sengaja berpapasan, karena dalam otak Arya dan yang lainnya hanya kondisi Lena, Lena dan Lena.


"Ma!" Arya dan Ryan memanggil Davina secara bersamaan, begitu akhirnya mereka sampai di depan kamar operasi dimana Lena sedang berjuang di dalam sana.


"Ya Allah, Mama kenapa?" Arya dan Ryan justru mengkhawatirkan kondisi Davina melihat mama mertuanya itu terlihat begitu pucat, matanya sembab, dengan tangan yang bergetar dan terlihat ketakutan.


"Apa yang terjadi, Ma? Bagaimana dengan Lena?" melihat Davina diam saja, Arya mencecarnya kembali dengan banyak pertanyaan.


***


Flashback


Pagi-pagi sekali Lena sudah mandi dan berdandan cantik, walaupun tidak ada sedikit riasan pun yang memoles wajahnya secara berlebihan, seperti kebanyakan perempuan di luar sana. Hal itu setiap hari dia lakukan untuk menyenangkan hati suaminya, juga agar ketika Arya berpamitan untuk berangkat kerja, yang terekam di benak Arya hanya Lena yang cantik dan wangi, hingga tak ada celah bagi Arya untuk tertarik pada perempuan lain yang mungkin akan menggodanya.


Setelah Arya berangkat, Lena pun lebih memilih untuk naik kembali ke atas, dan duduk bersantai di sofa kamar sambil membaca novel kesukaannya.


Ketika dia sudah mulai pegal dengan posisi duduk dengan perutnya yang sudah sangat besar, dia memutuskan turun demi bisa sekedar meregangkan otot-ototnya di taman belakang, memberi makan ikan di kolam, sekaligus mengajak berbincang Mama Davina yang selalu sibuk dengan banyaknya tanaman yang ada disana.


Namun sebelum sampai ke sana, tepat pada anak tangga pertama yang baru diinjaknya, ponsel Lena tiba-tiba berbunyi. Lena sempat mengerutkan dahinya melihat nomor yang tertera di sana tidak bernama. Namun, karena takut kalau-kalau ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh orang yang ingin menelponnya, akhirnya Lena memutuskan untuk mengangkatnya.


"Assalamualaikum," sapa Lena ramah.


"Hallo, Cantik. Apakah kau masih mengingatku?" tanya orang di ujung telpon.


"Mohon maaf, Anda siapa ya? Nomor Anda belum tersimpan di handphone saya," jawab Lena sambil terus menuruni anak tangga demi anak tangga itu.


"Apakah kau benar-benar sudah melupakan rasa sakit akibat peluruku yang menancap di tubuhmu, Sayang?" suara pria itu terlihat begitu menakutkan.

__ADS_1


"Cha ... Charles?" dengan terbata, Lena menyebut sebuah nama.


"Ha-ha-ha-ha. Tajam juga rupanya ingatanmu, Nona," tawa Charles menggelegar, membuat tubuh Lena bergetar.


"A ... Apa yang kau mau Charles? Jangan menggangguku," Lena mencoba memberanikan diri.


"Aku mau dirimu, Sayang. Wanita cantik yang kini sedang menuruni tangga, dengan baju warna hitam dan penutup kepala warna kuning. Ternyata kau masih sangat cantik meski sedang mengandung anak dari laki-laki itu," Charles kembali tertawa penuh kemenangan.


"Bagaimana mungkin dia tau kalau aku saat ini sedang di tangga, bahkan sampai menyebutkan secara detail pakaian yang kukenakan?" batin Lena sambil melihat dirinya sendiri dengan teliti.


"Dimana kau?" seru Lena, sambil memutar tubuh dan pandangannya ke sekililingnya.


"Aku berada sangat dekat dengan dirimu, Cantik. Ha-ha-ha-ha," tawa Charles terus membahana, membuat Lena ketakutan luar biasa sambil memutar-mutar tubuhnya mencari sosok yang berada di balik telponnya.


Tubuh Lena bergetar hebat, seiring dengan tawa Charles yang semakin memenuhi rongga telinganya. Hingga tanpa sadar, Lena kehilangan keseimbangannya. Dalam hitungan detik pun hal yang paling ditakutkan terjadi. Tubuh Lena oleng dan terjatuh, berguling-guling sampai ke dasar lantai, melewati anak tangga demi anak tangga hingga anak tangga terbawah.


Mendengar suara teriakan Lena, Davina dan seluruh pelayan yang sedang berada di dapur dan taman belakang, segera menghambur ke arah tangga, namun sayangnya Lena sudah tidak sadarkan diri.


"Non Lena!"


Davina dan seluruh pelayan berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya ketika melihat Lena terkapar di lantai dengan banyaknya darah yang mengalir dari arah selangk***annya.


Sembari menelpon Arya, Davina dan supir pribadinya pun segera melarikan Lena ke rumah sakit, tapi melihat kondisi Lena, dokter jaga IGD segera berkonsultasi dengan tim dokter yang lain dan memberitahu Mama Davina tentang kondisi Lena yang sebenarnya.


"Bagaimana kondisi putri saya dan anak yang dikandungnya, Dok?" tanya Mama Davina begitu seorang dokter keluar dari ruang IGD dan menemuinya.


"Apakah suami Ibu Lena tidak ada di sini, Nyonya?" dokter itu bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah Davina dan supir pribadi yang mengantar Lena ke rumah sakit, beserta satu orang pelayan yang mengikutinya.


"Suaminya masih dalam perjalanan ke sini, Dokter. Saya adalah mamanya," jawab Davina.

__ADS_1


"Dengan berat hati, kami harus menyampaikan kepada keluarga bahwa kondisi Ibu dan bayi yang berada dalam kandungannya sama-sama kritis. Detak jantung mereka semakin lemah. Jalan satu-satunya, kita harus melakukan operasi saat ini juga, sebelum kita semua akan menyesal. Itupun ...," dokter itu menggantungkan kalimatnya.


"Itupun bagaimana, Dokter? Tolong jelaskan kepada saya bagaimana kemungkinan mereka untuk selamat!" Mama Davina tidak sabar.


"Kita harus pilih salah satu, atau dua-duanya tidak akan selamat," jawab dokter itu dengan ekspresi sedihnya.


"Maksud Dokter?" cecar Mama Davina.


"Kita harus pilih ibunya atau bayinya, Bu. Jika tidak, justru kita akan kehilangan dua-duanya," lanjut dokter itu menjelaskan.


Mendengar penjelasan dokter itu, Mama Davina langsung panik dan langsung menghubungi Arya untuk yang kedua kalinya. Kendati Mama Davina sudah tahu kalau diminta memilih Arya pasti akan memilih Lena, tapi Mama Davina merasa yang berhak memutuskan secara langsung tetaplah Arya.


"Assalamu'alaikum, Ma," suara Arya menyapa dari balik telepon, begitu Davina menghubunginya kembali.


Davina yang harus segera menandatangani berkas persetujuan operasi dari rumah sakit pun segera menceritakan penjelasan dokter, sehingga Arya harus memilih saat itu juga antara Lena atau bayinya.


"Apa?" teriak Arya, begitu mendengar penjelasan Mama Davina.


"Arya tidak bisa memilih, Ma. Arya mencintai dua-duanya," kalimat itu keluar seiring dengan air matanya yang terus berlinang.


"Harus, Nak. Dan kau harus putuskan sekarang juga. Kau pilih salah satu, atau kita akan kehilangan dua-duanya," sahut Mama Davina geram, mendengar Arya begitu bingung dengan dua pilihan yang kini terhidang di depannya.


"Ma, Arya tidak bisa, Ma. Arya mau dua-duanya," jawab Arya lagi, kali ini sambil menangis tergugu seperti anak kecil.


"Arya, dengarkan Mama! Kita tidak punya waktu lagi. Kau putuskan sekarang, atau kita kehilangan dua-duanya," bentak Mama Davina, merasa mereka sudah tidak punya banyak waktu lagi.


BERSAMBUNG.


💖💖💖

__ADS_1


Kira-kira Arya milih siapa ya? Mau tau jawabannya? Kasih like, vote dan rate 5 nya dulu, dong. Jangan lupa juga comment positifnya. Terima kasih.


__ADS_2