METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Usaha


__ADS_3

Kala cahaya fajar mulai menjingga, malam tempat jiwa-jiwa berpulang hingga lelap tertidur di bawah naungan langit yang menghitam pun segera tergantikan larik-larik mentari yang mengiringi datangnya pagi.


Berbeda dengan Indra dan Zara yang hampir tak tidur semalaman, di salah satu kamar di kediaman keluarga Dewangga, Arya dan Lena sedang begitu berisik karena shalat shubuh yang terlambat mereka tunaikan.


"Kak Tama, sudah jam lima. Kita harus segera mandi dan shalat shubuh," Lena yang menyadari keterlambatannya, segera turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi dengan tubuh polos dari dalam selimut yang kini tak terbalut apa-apa.


Arya mengucek matanya begitu mendengar teriakan istrinya. Setelah memastikan angka pada jam digital di layar ponselnya, Arya pun tak lagi menunda-nunda. Dia langsung beranjak dan menyusul istrinya di kamar mandi untuk mandi janabah setelah perhelatan panjang mereka semalam.


Cekklek.


Pintu kamar mandi pun terbuka, begitu Arya memutar gagangnya.


"Aaa, Kak Tama kenapa nggak tunggu sampai Deeba selesai saja?" Lena membulatkan matanya, begitu melihat suaminya masuk ke kamar mandi tanpa menunggu Lena menyelesaikan mandi besarnya.


"Nggak keburu, Yang. Kalau kita mandi bergantian, kita akan semakin shalat kesiangan. Lagian kamu ini aneh. Bukannya kita sudah sering mandi bersama? Biasanya nggak protes dan enjoy-enjoy saja. Kenapa pagi ini berbeda?" Arya tak menghiraukan perkataan istrinya, dan justru semakin mendekat ke arah Lena yang kini sudah membasahi tubuhnya dengan air hangat di bawah shower kamar mandinya.


"Ini yang bikin tambah lama, Kak," protes Lena begitu Arya mendekat dan memeluknya erat.


"Kali ini takkan seperti biasanya, Yang," ucap Arya yang sudah ikut basah karena air shower yang terus menyala.


"Biasanya Kak Tama juga bilang hanya sekedar mandi bersama dan nggak akan ngapa-ngapain Deeba, tapi akhirnya nggak tahan juga dan tetap melakukannya," Lena mengerucutkan bibirnya ketika Arya mengambil beberapa tetes sabun cair dan menyabuni serta mengusap-usap setiap inchi bagian tubuh Lena tanpa ada yang terlewat sama sekali.


"Kali ini enggak, Yang. Kita harus segera menghadap pada Sang Maha Pencipta," ucap Arya santai, sambil terus menggosok tubuh Lena.


Melihat keseriusan suaminya pun akhirnya Lena mengambil beberapa tetes sampo untuk membersihkan kepala Arya, juga beberapa tetes sabun cair yang dia ratakan di tubuh suaminya, hingga selama beberapa saat, mereka saling memandikan dan membersihkan.


"Udah, Sayangku. Sekarang baca do'a dulu lalu bersihkan lagi seluruh bagian tubuhmu jangan sampai ada yang tak terbasahi," titah Arya yang langsung diiyakan oleh Lena.


Setelah Lena menyelesaikan mandi besarnya dan keluar menuju kamarnya, gantian Arya yang membaca do'a dan membasahi seluruh bagian tubuhnya.


Tak sampai lima menit, Arya pun keluar dengan bertelanjang dada. Hanya sekembar handuk saja yang menutupi tubuh bagian bawahnya, sehingga perutnya yang sixpack benar-benar terlihat sempurna.


Lena yang sudah rapi dengan mukenanya pun segera mengambil pakaian ganti untuk suaminya, juga kain sarung yang akan Arya kenakan untuk shalat berjama'ah dengannya.


"Makasih, Yang," Arya menerima perlakuan Lena dengan begitu senang.


Setelah Arya mengenakan pakaian dan sarungnya, mereka segera shalat shubuh berjamaah. Setelah salam kedua, Lena pun mencium punggung tangan suaminya, dan Arya mengecup kening Lena. Setelah kebiasaan itu mereka lakukan, mereka kembali mengangkat tangan kemudian berdo'a kepada Yang Maha Kuasa.


Arya membalikkan tubuhnya begitu selesai mengaminkan do'anya. Dilihatnya, Lena juga sudah selesai berdo'a dan memandang suaminya dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Sini, Yang. Mendekat. Jangan jauh-jauh," pinta Arya, membuat Lena menggeser tubuhnya hingga mendekati suaminya.


"Apa yang kamu minta dalam do'amu?" Arya meraih tangan Lena, kemudian mengecupnya.


"Lena meminta ampun untuk kita semua, dan meminta kesehatan dan kesuksesan untuk Kak Tama. Lena juga minta, agar Allah segera mengamanahkan kembali kepada kita seorang malaikat kecil yang akan menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecil kita," mata Lena kini berkaca-kaca, mengingat bagaimana akhirnya mereka harus kehilangan bayi mereka setelah Lena jatuh dari tangga.


"Skenario Allah akan selalu indah pada waktunya, Sayang. Tak perlu ada rasa sesal, karena itu adalah bagian dari takdir yang telah Allah gariskan," Arya mengusap kepala Lena dengan lembut. Segala kesedihan yang istrinya rasakan, sungguh Arya juga merasakan semuanya.


"Iya, Kak. Deeba hanya bisa pasrah. Asal ada Kak Tama di samping Deeba, semua akan Deeba lalui dengan ikhlas dan senang hati," Lena mengusap bulir bening yang mulai menetes dari ujung matanya.


"Ini baru istriku," sebuah cubitan penuh cinta mendarat dengan manis pada hidung mancung Lena.


"Lalu apa yang Kak Tama minta?" Lena balik bertanya.


"Aku minta, agar bisa selalu menjagamu dan menjadi imam yang baik untuk kamu dan anak-anak kita. Aku juga minta agar Allah segera menumbuhkan benih di dalam rahimmu, yang nantinya akan menjadi penyejuk mata dan hati kita, juga menyelamatkan kita di akhirat-Nya," ucap Arya, sambil mengapit dua pipi Lena dengan tangannya kemudian mengecup kening Lena dengan begitu mesra.


"Aamiin. Semoga Allah segera mengabulkan do'a kita," tutur Lena sambil melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya.


"Aamiin. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupa," cicit Arya sambil membalas pelukan Lena.


"Apa itu, Kak?" Lena mendongakkan kepalanya, demi melihat wajah suaminya.


"Do'a akan terkabul seiring dengan kerasnya usaha kita," Arya merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya sambil mengerling nakal.


"Kita harus lebih bekerja keras dan berusaha lebih giat lagi, Yang," ujar Arya yang lebih terdengar seperti rengekan.


"Hmmm," Lena justru beranjak dari duduknya mendengar rengekan suaminya.


"Jadi boleh kan?" Arya yang melihat Lena sedang membuka mukena yang dipakainya, langsung memeluk istrinya dari belakang.


"Setidaknya, biarkan Deeba melipat mukena dan membereskan sajadah ini dulu," sahut Lena tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Tapi setelah ini boleh kan, Yang? Yang?" Arya terus merajuk, namun tak juga ditanggapi oleh Lena yang justru sibuk memasukkan mukena dan sajadah yang baru saja dipakainya ke dalam lemari pakaiannya.


Merasa tak mendapatkan jawaban dari istrinya, tanpa menunggu lama Arya langsung berinisiatif mengeratkan pelukannya dan menyusuri leher jenjang istrinya yang kini penuh dengan tanda-tanda kemerahan karena maha karyanya semalam.


"Isssshhh," Lena mendesah menerima serangan Arya yang begitu betah menggarap area lehernya. Arya benar-benar tahu, dimana titik-titik sensitif Lena hingga akan bermain sangat lama di daerah yang menjadi titik lemahnya.


Dan benar saja, saat daerah sensitifnya disentuh, Lena langsung merespon dengan baik rangsangan Arya.

__ADS_1


Merasa tak ada penolakan dari istrinya, Arya pun membalikkan tubuh Lena hingga posisi mereka saling berhadapan dan tak ada lagi jarak di antara mereka. Dengan memberikan sedikit tekanan pada tengkuk Lena, seketika bibir mereka pun berpautan hingga menimbulkan bunyi-bunyi erotis dari keduanya.


Tak puas hanya di situ, Arya mendekap Lena tanpa melepas pagutannya dan berjalan maju ke arah sofa, membuat istri cantiknya itu berjalan mundur mengikuti arah geraknya. Begitu kaki Lena mentok ke bagian bawah sofa, dia pun menghempaskan tubuhnya di atas sofa sehingga kini posisi Lena tepat berada di bawah kungkungan Arya.


"Kak Tama," panggil Lena yang lebih mirip seperti desahan saja.


"Ya, Sayang," sahut Arya tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Pindah yuk," pinta Lena sambil mengimbangi permainan suaminya.


"Selesaikan di sini saja, Sayang. Sekali-sekali," Arya terus sibuk dengan mainan kesukaannya.


"Nggak nyaman, Kak. Pindah kasur yuk," rengek Lena sambil menikmati atraksi Suaminya.


Arya pun tersenyum, melihat istrinya yang tak pernah suka jika diajak bermain di tempat-tempat yang berbeda. Lena selalu minta aktifitas intim mereka dilakukan di tempat tidur, karena akan terasa lebih nyaman dan bisa benar-benar memuaskan.


"Kak," ceracau Lena, masih penuh dengan pinta.


Dengan senang hati Arya pun melepaskan kungkungannya dan berdiri, sebelum akhirnya mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan menggelarnya kembali di atas tempat tidur mereka.


Begitu Lena sudah terbaring dengan posisi yang sangat menggoda, dengan gagah Arya pun berdiri dan melepaskan setiap helaian benang yang menutupi setiap bagian tubuhnya tanpa sisa. Bahkan, kini pusakanya sudah berdiri menjulang, siap masuk dan menebar benih-benih cinta di sebuah goa yang selalu menjadi candu untuknya.


Melihat Arya yang sudah begitu siap menggagahinya, wajah Lena pun kian merona. Bahkan dia tak sanggup melihat pemandangan yang kini ada di depan matanya, meski ini untuk yang kesekian ratusnya dia melihatnya.


"Kenapa malu-malu begitu? Bukankah kita sudah sering melakukannya?" goda Arya sambil menyusuri setiap inchi tubuh Lena sambil membuka helaian kain yang menjadi pembatas antara tubuhnya dan tubuh istrinya.


"Ahhh," Lena tak lagi menanggapi ocehan suaminya. Dia hanya mendesah sambil mengedip-kedipkan matanya menikmati setiap sentuhan yang dia terima.


Bahkan ketika jari suaminya bermain di liang surgawi yang dia punya, getaran hebat pun berkali-kali tak bisa di tahannya. Apalagi ketika Arya bermain-main dengan lidahnya, membuat Lena sendiri tak bisa menghitung berapa kali dia mencapai klimaksnya.


Hingga setelah dirasa istrinya itu cukup puas, Arya langsung memainkan pusakanya di dalam goa kenikmatan yang sepenuhnya telah halal untuknya. Oksigen pun tiba-tiba terasa berkurang seiring dengan nafas mereka yang makin tersengal.


"Sayang, uhhh ..., ahhhh ..., aku mau keluar," kini Arya yang menceracau tak jelas.


"Deeba juga sudah tak tahan, Kak," untuk yang kesekian kalinya, Lena akan mencapai puncaknya.


"Aaaggghttt," teriak mereka secara bersamaan, hingga Arya tumbang begitu saja di samping tubuh Lena. Mereka pun terkulai lemas.


Begitu nafas mereka kembali pada ritme normal, Arya segera meraih beberapa lembar tisu di atas nakas dan membersihkan bagian bawah Lena, sebelum membersihkan bagian bawah yang dia punya. Setelah semua bersih, Arya mengecup kening istrinya, kemudian menciumi perut istrinya yang masih rata.

__ADS_1


"Segera tumbuh di sini ya, Sayang," Arya berbisik mesra di atas perut Lena dan kembali menciumnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2