
“Dear passengers, stay seated and wear your seat belt until the plane lands perfectly. Don’t activate the mobile phone until you get to the airport,”
Titania menarik nafas panjang begitu mendengar suara awak pesawat menggema di telinganya. Dia menoleh ke arah wanita di sebelahnya, terlihat kegelisahan menyelimuti wajah cantik itu. Matanya nanar, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Ini sangat berat buatku, Aghata. Tapi aku tahu ini juga tidak mudah bagimu. Takdir yang mempertemukan kita dulu, kini datang dan mempertemukan kita kembali pada cerita masa lalu. Skenario apa yang sedang Allah rencanakan untuk kita?” gumam Titania dalam hati.
Titania pun kembali menarik nafas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan. Setelah dirasa hatinya sedikit tenang, dia membuang segala beban di hatinya kemudian berusaha untuk mengembangkan senyumnya demi menghadapi takdir cinta yang telah Allah tasbihkan.
“Ayo Aghata, kita sudah sampai. Kita temui putra kita. Daniel dan Ryan pasti sangat merindukanmu,” ucap Titania ketika itu.
“Ryan? Ya Allah, benar apa katamu, Kak. Aku sungguh sangat merindukannya,” tiba-tiba ada binar di mata Aghata mendengar nama itu disebut. Seorang anak yang dua puluh dua tahun lalu telah berhasil membuatnya merajut mimpi ingin menjadi seorang ibu, demi memiliki anak seperti seorang Ryan Dewangga.
Sebelum mereka semua menuruni tangga pesawat, Naja segera mengaktifkan handphone-nya dan memberi sinyal kepada Rudi bahwa mereka telah sukses mendarat dengan sempurna. Namun sebuah pesan membuat mata Naja membelalak. Dalam pesan itu, Rudi memberitahukan bahwa anak buah Daniel sudah tersebar di sepanjang jalan Bandara.
Naja yang waktu itu duduk di sebelah Prabu segera memberitahu tuannya dengan menunjukkan pesan itu. Prabu terlihat berpikir sejenak, kemudian menginstruksikan sesuatu yang kemudian diangguki oleh Naja begitu saja. Tak lama, Naja pun terlihat memainkan handphone-nya menuliskan sesuatu, kemudian mengirimkan pesan itu kepada Rudi.
__ADS_1
“Hmhmmm,” Prabu mendesah kasar. Dia lantas berdiri dan menghampiri istrinya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
“Apapun yang terjadi, kalian harus tetap percaya kepadaku!” ucap Prabu berusaha tenang. Titania dan Aghata pun mengangguk secara bersamaan.
Akhirnya mereka keluar dari Bandara, menuju ke ruang kedatangan. Prabu berjalan dengan menggandeng tangan Titania, sementara Aghata berjalan di belakang mereka bersama Naja. Mereka semua yang sudah tahu bahwa anak buah Daniel sudah menghadang mereka di dalam dan di luar Bandara pun berusaha untuk tetap tenang. Pikir mereka, minimal Aghata akan tetap aman dan bisa mengkondisikan putranya sehingga semua akan berjalan sesuai rencana.
Sesampai di tempat penjemputan, mereka terlihat berhenti sejenak, mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang akan membawa mereka pulang. Setelah dilihatnya puluhan kendaraan berlalu-lalang, akhirnya ada dua buah mobil yang berhenti tepat di depan mereka, kemudian dengan otomatis pintu mobil segera terbuka.
Dari mobil pertama, seorang pria berbadan tegap berpakaian serba hitam keluar dan mempersilahkan Prabu Dewangga dan Titania masuk. Dengan tenang, Prabu menarik tangan Titania dan membantunya masuk terlebih dahulu, kemudian menatap Aghata seolah ingin mengatakan agar Aghata juga masuk dan duduk di samping Titania. Namun hal yang menegangkan tiba-tiba terjadi. Saat Aghata hendak memasuki mobil yang sama, tanpa terduga ada seseorang yang menarik Aghata dan dengan paksa mendorong Prabu hingga masuk dan duduk di samping Titania. Hanya dalam hitungan detik pun mobil yang dinaiki Prabu dan Titania di tutup dan langsung melaju dengan kencangnya, sementara Aghata dan Naja di masukkan pada mobil ke dua yang berada di belakang nya secara paksa.
“Apapun yang terjadi, percayalah kepadaku!” kata-kata Prabu sesaat sebelum mereka meninggalkan pesawat tadi terus terngiang di telinga Titania dan Aghata sehingga mereka cukup tenang menghadapi situasi yang tiba-tiba sangat menegangkan itu.
Drama penangkapan Prabu dan Titania pun boleh dibilang tanpa perlawanan sehingga Daniel cukup bisa merasa senang.
Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa Prabu dan istrinya itu masuk ke sebuah bangunan besar, yang terletak cukup jauh dari jalan perkotaan. Saat mereka masuk, akan segera terlihat sebuah garasi dan area parkir yang cukup luas. Selain itu, terdapat sebuah tangga dengan bentuk melengkung yang digunakan untuk naik ke rumah utama yang kental dengan warna cokelat keemasan, sehingga rumah ini tampak sangat mewah jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain pada umumnya. Apalagi ditambah dengan banyaknya pepohonan, halaman rumah ini tampak begitu hijau, asri, dan sejuk dipandang mata. Di tempat itulah Prabu dan Titania akan memulai menoreh sejarah baru dalam perjalanan cinta mereka.
__ADS_1
Setelah pintu mobil terbuka begitu saja, Prabu menggandeng tangan istrinya dan mengikuti perintah anak buah Daniel untuk masuk ke rumah utama. Tak ada kekerasan fisik, memang. Karena seluruh anak buah Daniel hanya menodongkan senjata tanpa mau melepasnya, mengingat dari sisi Prabu memang tidak mengambil jalan perlawanan. Namun perasaan tenang itu tidak mampu menghinggapi jiwa seorang Titania. Meski dia percaya bahwa suaminya sudah punya rencana, namun biar bagaimanapun yang sedang mereka hadapi adalah seorang Daniel yang berbeda. Daniel yang begitu haus akan dendam yang disalahpahaminya.
“Selamat datang, Tuan Prabu Dewangga,” Daniel yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah itu menyapa dengan tatapan penuh makna.
“Dibawa kemana ibumu, Daniel? Ada hal yang perlu kau tahu, bahwa...,” sebelum Prabu menyelesaikan kalimatnya, Daniel sudah menyela.
“Cukup, Tuan Prabu. Jangan bawa-bawa ibu saya dalam urusan kita,” sela Daniel dengan nada bicara yang semakin meninggi. Dilihat dari tatapannya, sangat terlihat gurat kebencian yang terpancar kepada laki-laki yang ada di depannya.
“Semua yang terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan, Nak. Dengarkan penjelasan kami dulu,” Prabu masih berusaha untuk meyakinkan.
“Anda panggil saya apa, Tuan? Nak? Kenapa baru sekarang Anda panggil saya dengan sebutan itu, heh? Kemana saja Anda selama ini sehingga membiarkan saya dan ibu saya harus hidup menderita dalam waktu yang sangat lama. Anda tidak lebih dari seorang suami dan ayah yang pengecut dan tidak bertanggung jawab,”
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up setiap hari. hehehe...
Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih.