
Daniel naik pitam begitu mendapat kabar bahwa Aghata terbang ke Indonesia bersama Prabu dan Titania. Dia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa seluruh pengamanan ketat yang dipasang untuk menjaga ibunya bisa Prabu tembus dengan begitu mudahnya.
“Bagaimana caramu mendidik anak buahmu itu, Jo? Hanya untuk menjaga ibuku saja tidak pecus. Hukum mereka semua!” teriak Daniel kencang. Kini matanya memerah menahan marah.
“Kelihatannya anak buah Prabu benar-benar memahami betul sistem pengamanan Anda, Tuan. Dia dapat meretas seluruh pengamanan yang kita pasang dengan begitu mudahnya, juga sangat lihai dalam mengendalikan pikiran anak buah kita. Hebatnya lagi dia bisa bekerja dengan sangat rapi, tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Dilihat dari cara kerjanya, menurut saya hanya ada satu orang yang bisa melakukannya,” Johan berbicara dengan wajah datarnya, sambil terus berdiri di hadapan majikannya.
“Maksudmu?” Daniel bertanya, tak yakin dengan satu nama yang ada dalam isi kepalanya. Kini dia menatap Johan tajam, dengan berjuta pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.
“Hanya Daysie yang mempunyai kemampuan untuk hal itu, Tuan,” ucap Johan meyakinkan.
“Bukankah Daysie tewas saat gagal menjalankan misi kita itu, Jo? Kemungkinan Prabu Dewangga telah melenyapkannya,” jawab Daniel ragu.
“Bukankah kita tidak pernah menemukan mayatnya, Tuan? Bahkan keluarganya saat ini benar-benar hilang. Tidak ada jejak sedikit pun yang mereka tinggalkan,” Johan masih saja kekeh dengan pendapatnya.
“Apa maksudmu? Bicara yang jelas!” Daniel memberi penekanan pada kalimatnya, hingga Johan yang mendengarnya langsung menundukkan kepalanya.
“Selama tujuh bulan terakhir Arania Levana dijaga oleh seorang perempuan selama dua puluh empat jam, Tuan,” tutur Johan ragu.
“Apa dia Daysie?” ada gurat kekecewaan yang tiba-tiba muncul dari tatapan mata Daniel.
“Namanya Kaylee Naja. Tapi tidak ada yang tahu dari mana asal usulnya. Bisa jadi Naja adalah Daysie yang merubah identitas diri, Tuan,” Johan berkata dengan serius, bahkan tangan kanannya dia gunakan untuk menyentuh dagunya hingga terlihat sedang mencoba berpikir dan menganalisa.
__ADS_1
“Cari tahu apakah dua hari ini Naja bersama Rani atau tidak. Jika Naja tidak ada di kota ini selama dua hari terakhir, berarti dugaanmu benar,” Perintah Daniel tegas.
“Saya sudah mencari tahu tentang hal itu, Tuan. Sayang, sepertinya dugaan saya benar,” jelas Johan sambil menurunkan tangan dari dagunya.
“jadi Daysie dan Naja adalah orang yang sama? Sial!” Daniel terlihat geram. Dia adalah orang yang benar-benar tidak mentolelir sebuah pengkhianatan.
“Kita eksekusi plan C, setelah itu selamatkan ibuku begitu mereka keluar dari Bandara,” perintah Daniel dengan tatapan tajam mematikan.
Mendengar perintah Daniel itu, Johan langsung mengangkat telphonnya dan menghubungi beberapa orang anak buahnya. Tak lama setelah itu, Johan keluar mengikuti kemana Daniel melangkahkan kakinya.
***
Selama Naja belum kembali, Rani tetap tidak dibiarkan kemana-mana seorang diri. Ryan selalu mengantar kemanapun istrinya pergi, karena tidak mau suatu hal buruk terjadi lagi. Apalagi mengingat banyaknya musuh Rani yang masih melenggang bebas, jadi menurut Ryan tidak berlebihan jika pengawalan ketat untuk istrinya itu masih saja dia terapkan.
Di sela-sela kesibukan mereka masing-masing itulah anak buah Daniel sedang menjalankan rencananya. Hingga sebuah panggilan suara waktu itu membuat Ryan mengutuki dirinya untuk kesekian kalinya.
“Jika ingin istrimu selamat, datanglah ke gedung tua samping Bandara. Ingat, datanglah seorang diri. Satu saja tercium bau polisi, bisa dipastikan kau tak akan bisa melihat istrimu lagi,” suara misterius di seberang sana membuat Ryan membelalakkan mata. Ini adalah kali kedua dia lalai dan melepas istrinya hingga hal buruk lagi-lagi terulang kembali.
“Siapa ini?” tanya Ryan setengah berteriak. Sayangnya, sambungan telphon sudah diputus secara sepihak. Ryan mencoba menghubungi kembali nomor itu berkali-kali, hasilnya nol besar. Nomor itu sudah di non aktifkan oleh sang penyampai pesan.
Merasa situasi yang sudah sangat berbahaya, tanpa pikir panjang Ryan langsung melajukan mobilnya menuju sebuah gedung tua yang tadi sudah diberitahukan kepadanya. Pikirannya yang sudah sangat kalut, membuat Ryan tak sempat menyusun rencana untuk melindungi dirinya dan membebaskan istri tercintanya. Yang ada dalam benaknya hanya bagaimana caranya agar dia bisa segera datang menyelamatkan istrinya dan mengikuti instruksi yang telah diberikan kepadanya.
__ADS_1
Tak sampai enam puluh menit perjalanan, akhirnya Ryan sampai pada tempat yang telah ditunjukkan. Sebuah gedung tua yang luasnya luar biasa besar kini ada di hadapannya. Bangunannya tidak terurus, rumput ilalang tumbuh dimana-mana.
Gedung tua yang mempunyai kesan horor itu konon adalah bangunan peninggalan Belanda. Pasalnya gedung yang terbuat dari batu bata itu memiliki sebuah tulisan Bohemian Rhapsody di bagian depannya, sebuah kata yang dijadikan judul sebuah lagu oleh sebuah band rock kenamaan asal Inggris, namun di ambil dari bahasa Belanda. Di menara sisi kanan juga terdapat tulisan ANO 1806, sementara di sisi kirinya terdapat tulisan KASTEL . Bentuk menaranya pun sangat unik, karena berbentuk segi empat meruncing lancip di ujung atasnya.
Di area depan gedung, ada beberapa blonceng yang tumbuh merambat ke atas di antara susunan kayu yang tampak mulai lapuk. Blonceng tersebut berbentuk botol yang bergelantungan, bahkan ada beberapa blonceng yang sudah mengering dan jatuh ke tanah, menandakan tidak ada lagi yang menyentuh dan merawatnya.
Ryan semakin mendekat dan masuk ke dalam gedung itu. Tampak jelas di mata Ryan bahwa lantai yang dia injak kini tidak di plester, pintu dan jendela pun terbuat dari kayu rapuh yang terlihat usang di makan waktu, juga berlubang karena banyaknya rayap yang menyerang.
Ryan terus berjalan masuk, semakin ke dalam ruangan itu semakin terlihat gelap. Tak ada pencahayaan yang cukup bisa ditangkap dari pintu dan jendela yang tertutup rapat. Ryan mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri, sepi. Hanya terlihat kilatan cahaya kecil diantara tanaman suplir yang tumbuh di sekitar retakan dinding.
“Hallo, apakah ada orang di sini?” tanya Ryan setengah berteriak. Dia mengulang kalimatnya berkali-kali, namun tak ada seorang pun yang menyahutnya. Hanya sisa-sisa suaranya sendiri saja yang menggema di gedung tua itu dan sampai lagi pada telinganya.
Hingga tiba-tiba, sebuah sentuhan di pundaknya mengagetkan alam sadarnya. Ryan pun membalikkan badannya dan seketika membelalakkan mata melihat siapa sosok yang tiba-tiba ada di hadapannya.
“Arya?”
BERSAMBUNG
❤❤❤
*Jangan pelit bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up* setiap hari. hehehe...
__ADS_1
Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih**.