
Kepala Rani terasa sangat berat saat dia tersadar dan matanya terbuka. Suasana begitu hening, tak ada suara apapun dan tak terlihat siapapun. Dia mencoba mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang, sungguh semuanya terasa asing baginya.
Ruang besar itu sungguh pengap tanpa jendela. Sebuah ruang dengan tembok tua yang sudah retak dimana-mana, bahkan karena retakannya cahaya matahari bisa masuk dari celah-celahnya. Sebuah lorong gelap juga terlihat jauh di hadapannya, semakin menambah ngeri bagi siapapun yang sendirian berada disana. Di bagian atas, bangunan khas gedung tua pun segera terasa. Atap tanpa plafon dengan genting warna hitam dan kayu-kayu rapuh tepat berada di atasnya, seolah siap jatuh dan melukai siapa saja yang berada di bawahnya.
Mata Rani kemudian beralih pada kedua tangan dan kakinya yang terikat di sebuah kursi, dengan tali berwarna hitam yang melilitnya dengan kencang. Rani melihat di sekelilingnya, mencoba mencari benda apapun yang mungkin bisa berguna, namun hasilnya nol besar. Di ruangan itu sungguh tidak ada benda apapun yang bisa dia gunakan untuk melepaskan dirinya.
"Hallo, apakah ada orang disini?" Rani berteriak dengan kencang, berharap ada seseorang yang menyahutnya. Namun tak ada tanda-tanda kehidupan.
Rani pun berusaha melepaskan ikatan di tangannya dengan cara menggesek-gesekkan tali yang mengikatnya pada kursi bagian belakang, tapi sia-sia. Rasa perih karena tangannya terluka justru yang terasa.
Entah sudah berapa lama Rani berada di tempat itu, yang jelas Rani sudah mulai ketakutan. Air matanya terus meleleh, sambil terus berdo'a seseorang akan segera datang untuk menyelamatkannya.
"Mas Ryan...! Rani takut," untuk pertama kalinya, Rani seorang gadis kuat yang seolah tak bisa tumbang karena apapun, terisak dan merasa bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Brak....
Tiba-tiba pintu ruangan Ryan terbuka dengan kasar. Ryan masuk dan mendapati Arya sedang sibuk dengan pekerjaan yang beberapa hari ini Ryan tinggalkan di mejanya.
"Tinggalkan mejaku itu! Dasar gila kerja," kata Ryan sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Seceroboh ini kamu hingga nyawa istriku dalam bahaya kamu tidak tahu, hah?" lanjutnya, dengan ekspresi marah bercampur frustasi.
Arya mendengarkan omelan Ryan dengan bingung. Dia menyambar HP-nya, dilihatnya puluhan panggilan tak terjawab disana. Dia membuka ratusan pesan yang masuk, hingga akhirnya dia membelalakkan matanya mengetahui apa yang sedang terjadi dengan istri majikannya.
__ADS_1
"Sial! Kukira istrimu itu masih di rumah menemanimu," Arya berteriak sambil menggembrak meja di depannya, kemudian segera beranjak keluar tanpa menghiraukan tuan sekaligus sahabatnya itu, seolah tahu apa yang sekarang Ryan inginkan darinya.
Namun sebelum Arya sampai di depan pintu, terdengar suara ketukan dari arah luar. Ketika Arya membukanya, beberapa anak buahnya muncul dan meminta izin untuk masuk dan menemui tuannya.
Ternyata mereka sudah bergerak dengan perintah langsung dari Ryan. Mereka melaporkan bahwa dari kamera perekam yang terpasang di bagian depan dan belakang mobil Rani, bisa terlihat seorang laki-laki menghampiri mobilnya sesaat setelah menabraknya dari belakang.
"Apakah kalian sudah bisa melacak keberadaan pria itu?" tanya Ryan datar.
"Sudah, Boss. Kami sudah mengurusnya. Saat ini dia bersama orang-orang kita sedang menuju tempat penyekapan Nona."
Tanpa berkata apapun, Ryan langsung beranjak diikuti Arya dan seluruh anak buahnya. Tanpa komando, mereka semua sudah mengerti apa yang diinginkan tuan mereka.
***
Flashback
Pelariannya memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari mengingat hasil rekomendasi yang akan keluar sudah pasti akan menyeretnya ke meja hijau.
Karena itulah sebelum ada pencekalan atas dirinya, Fredly memutuskan untuk kabur ke luar negeri, dengan menggunakan perjalanan udara dilanjutkan perjalanan darat agar sulit untuk melacaknya.
"Tangkap wanita itu dan tinggalkan di gedung tua yang telah aku bilang kepadamu. Jangan sakiti dia, tinggalkan saja biar dia membusuk dengan sendirinya. Aku hanya perlu mengulur waktu," perintah Fredly kepada seorang pria setengah baya yang telah dibayarnya untuk menyekap Rani, agar dia bisa mengulur waktu. Semakin lama rekomendasi itu keluar, semakin besar pula kesempatan Fredly untuk melarikan diri hingga sulit keberadaannya di ketahui.
Pria itu pun bergerak. Sejak hari itu dia mengintai Rani dari kejauhan tanpa bisa diketahui seluruh anak buah Ryan karena mereka semua telah disibukkan dengan meninggalnya Azzura Dewangga dan prosesi pemakamannya.
Hingga suatu pagi, ketika pria itu melihat mobil Rani keluar dari kediaman keluarga Dewangga, dia terus mengikutinya dan mengambil kesempatan untuk menangkapnya. Apalagi di hari itu Rani keluar tanpa ada pengawalan seperti biasanya, membuat pria itu memutuskan bergerak sendiri tanpa teman-temannya.
__ADS_1
Pria itu pun terus memutar otak bagaimana caranya menghentikan mobil Rani tanpa ada yang menaruh curiga. Sampai akhirnya, ketika jalanan lengang, dia sengaja menabrak mobil Rani dari belakang dengan kencang. Ketika mobil Rani mulai oleng, segera dia membalap dan menyilangkan mobilnya di depan mobil Rani.
Sesuai rencana, Rani berhenti dan dia berhasil membuat Rani tak sadarkan diri sesaat setelah obat bius yang dia teteskan di sebuah sapu tangan dia bekapkan di mulut Rani.
Pria itu membawa Rani ke sebuah gedung tua, kemudian meninggalkannya begitu saja setelah tangan dan kakinya diikatkan di sebuah kursi yang ada disana.
Puas karena merasa telah bekerja tanpa meninggalkan jejak, pria itu memutuskan pulang ke rumahnya tanpa tahu jika apa yang dilakukannya terlihat melalui kamera perekam di bagian belakang dan bagian depan mobil Rani, sehingga dengan mudah anak buah Ryan bisa melacaknya melalui plat mobil yang terlihat jelas disana.
Brak...
Terdengar bunyi pintu dibuka paksa dari luar, beberapa jam setelah pria itu pulang. Puluhan pria besar masuk dan memberi pelajaran kepadanya hingga akhirnya dia menyerah dan membuka mulutnya.
End of flashback
***
Drama penyelamatan pun segera dimulai. Beberapa mobil terlihat melaju dengan kecepatan tinggi. Tak jarang suara rem terdengar berdecit kencang, saat banyak mobil yang berlalu-lalang sempat menjadi penghalang. Irama mobil pun tak bisa teratur ketika berkali-kali harus meliuk-liuk demi bisa mendahului setiap kendaraan agar mereka bisa tetap melaju dan secepat kilat sampai ke tempat tujuan.
Mobil pertama yang berisi tiga anak buah Ryan bersama pria yang telah menyekap Rani, bergerak dari kediaman pria itu langsung menuju ke sebuah gedung tua yang telah ditunjukkan.
Sementara dari arah berlawanan, Ryan bersama Arya dan anak buahnya melaju diikuti beberapa mobil aparat keamanan yang sebelumnya telah dikerahkan. Tak ketinggalan, para awak media yang masih membuntuti Ryan dibiarkan mengikuti mereka dari belakang.
"Bersabarlah, Sayang. Mas akan segera menjemputmu," gumam Ryan dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌷🌷🌷
Terima kasih telah menjadi pembaca setia novel saya. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan klik like, favorit dan vote ya. Ditunggu juga komentar-komentarnya.