
Azizi mulai memikirkan hal itu jika Vandy membuangnya. Tetapi tidak tau apa alasannya. Vandy yang fokus dengan ponselnya tidak sengaja melihat kearah Azizi dan menangkap mata Azizi yang memandanginya.
Azizi tidak seperti Raquel yang langsung mengalihkan atau berpura-pura melakukan sesuatu. Azizi justru menatap Vandy dengan menantangnya sampai akhirnya Vandy sendiri yang mengalihkan pandangannya kembali fokus pada layar ponselnya.
" Memang aku yang salah," batin Azizi.
Lain Azizi dan yang lainnya ada yang dilema sedih dan yang lainnya. Toby malah sibuk berjualan. Dia menjual-jual foto-foto yang di ambilnya sewaktu kegiatan Study tour kepada teman-teman 1 kelasnya.
Sasy ikut turun tangan membantunya agar mendapat foto gratisan. Sasy memang tidak akan sudi mengeluarkan uang untuk semua itu. Jadi Sasy harus membantu Tony berjualan menghadapi murid-murid yang saling rebutan.
Memang bukan Sasy dan Toby namanya jika bukan buat kericuhan di dalam kelas. Dan bukan Fiona namanya jika di dalam kelas tetap diam dengan headsed di telinganya. Ya diam tetapi penuh misterius itulah Fiona.
**********
Bel istirahat tiba Nadya sedang berada di dalam kamar mandi mencuci tangannya di wastafel. Nadya juga merapikan rambutnya di depan cermin.
Setelah selesai Nadya langsung keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi. Nadya di kejutkan dengan Varell yang berdiri menyandar di dingding dekat dengan pintu kamar mandi.
" Varell," ucap Nadya kaget sampai memegang dadanya yang berdebar karena kaget dengan kehadiran Varell yang tiba-tiba.
" Kamu kok di sini?" tanya Nadya bingung.
" Nih," Varell memberi Nadya 2 lembar foto yang ternyata fotonya dan Varell yang tidak sengaja di ambil Toby saat bersama di taman dan 1 lembar foto rame-rame mereka bersama Cherry dan yang lainnya sewaktu pulang kamping.
" Untukku?" tanya Nadya bingung. Varell menganggukan matanya.
" Simpan baik-baik," ucap Varell.
" Baiklah, kalau begitu terima kasih," ucap Nadya yang tidak banyak protes atau seperti biasa akan menolak apapun yang di berikan Varell.
" Aku pergi dulu," ucap Nadya pamit. Varell mengangguk dan memberi jalan untuk Nadya. Nadya tersenyum melewati Varell lalu pergi meninggalkan Varell yang masih di depan kamar mandi.
" Tumben nggak banyak ngomong," batin Varell heran.
********
Raquel yang ingin keluar dari kelas. Tiba-tiba di depan pintu menghentikan langkanya seperti telapak sepatunya sedang menginjak sesuatu.
Raquel menundukkan kepalanya melihat kelantai. Apa yang di injaknya. Raquel melihat 1 lembar foto dia dan Aldo yang dia sendiri tidak tau kenapa foto itu bisa ada.
Itu foto saat dia bertengkar dengan Aldo di mana Aldo menahan tangannya untuk tidak pergi. Raquel berjongkok dan mengambil foto tersebut.
__ADS_1
" Kenapa bisa ada?" gumam Raquel. Tetapi Raquel tidak ambil pusing Raquel langsung mengambilnya dan memasukkan ke dalam saku bajunya. Sepertinya foto lucu itu membuatnya tertarik dan berniat untuk menyimpannya.
*********
Malam hari Cherry dan Verro mengunjungi rumah sakit untuk menemui Siska. Teman Cherry yang sudah lama tidak di temuinya dan memang awalanya sudah berjanji dengan Verro untuk menemaninya mengunjungi temannya itu.
Cherry sudah memasuki kamar perawatan Siska. Sementara Verro sedang keluar mencari makanan. Dia juga tidak ingin mengganggu 2 orang yang bercerita panjang lebar. Maklumlah kalau wanita bercerita pasti tidak akan ada habisnya. Pasti ada-ada saja topik yang mereka dapatkan.
Siska sebenarnya masih sangat lemah. Dan Dokter sebenarnya melarang untuk kunjungan tamu. Tetapi mendengar Cherry datang membuat Siska memaksa Dokter agar mengijinkan. Dan akhirnya Dokter memberi izin
Dengan selang infus di tangannya Siska menyandarkan punggungnya di kepala ranjang rumah sakit. Sementara Cherry duduk di kursi di samping Siska dengan mulutnya yang terus mengoceh.
" Aku tidak menyangka jika si Pria kutup es itu yang pada akhirnya menjadi pacarmu," ucap Siska masih tidak percaya mendengarkan curhatan Cherry.
" Aku juga tidak percaya. Tetapi itulah kenyataannya. Aku dan dia sudah berpacaran," sahut Cherry dengan senyum sumringah di wajahnya.
" Lalu apa setelah kalian pacaran dia masih galak-galak?" tanya Siska menatap curiga.
" Tidak! justru dia sangat manis. Tetapi sewaktu di atas kapal dia membentakku. Tetapi aku sangat merindukan dia marah-marah. Jadi tidak apa-apa," sahut Cherry lagi.
" Di atas kapal, apa kalian kencan di atas kapal?" tanya Siska menebak-nebak.
" Benar sekali, dia mengajakku Dinner di atas kapal. Dengan hiasan Bungan mawar pink, lilin yang banyak dan makanan yang enak," jelas Cherry yang berbicara sambil mengkhayalkan kembali keromantisan mereka saat di atas kapal.
" Ya ampun cantik sekali," sahut Siska merasa takjub melihat kalung Cherry.
" Kok dia berubah jadi sweet gitu?" tanya Siska malah kesal.
" Aku juga tidak tau. Tetapi memang Verro seperti itu dari dulu. Sewaktu kecil dia juga dulu sangat manis," sahut Cherry yang tak pernah lepas dengan senyumnya.
" Lalu berapa kali kalian ciuman?" tanya Siska kepo membuat Cherry mengkerutkan dahinya.
" Ihhhh, Siska jangan membahas itu," sahut Azizi malu-malu dengan pipinya yang langsung merah merona.
" Kenapa, pasti sering ya," tebak Siska menggoda Cherry.
" Ih, sok tau," sahut Cherry kesal.
" Ya sudah deh, kalau tidak mau kasih tau. Yang penting aku doain semoga hubungan kalian tetap langgeng," ucap Siska berdoa dengan menadahkan tangannya ke atas.
" Amin," sahut Cherry dengan harapan yang sama.
__ADS_1
" Oh iya Siska apa kondisi kamu lebih baik?" tanya Cherry belum sempat menanyakan kondisi temannya itu. Karena sibuk curhat masalah Verro.
" Iya, aku baik-baik saja," jawab Siska bohong. Padahal kondisinya sangat menurun akhir-akhir ini.
" Dan besok aku akan operasi lagi," lanjut Siska yang memang sering operasi dan kali ini tidak tau apa lagi yang mau dioperasi. Wajah Siska seakan pasrah dan mengikuti saja saran Dokter.
" Kok operasi terus," sahut Cherry merasa ngeri mendengar kata-kata operasi dan dia sangat salut dengan Siska yang mempunyai keberanian melakukan hal itu. Berbeda dengan dirinya yang tidak ingin melakukan hal itu.
" Ya seperti itulah mau gimana lagi," sahut Siska mengangkat ke dua bahunya.
" Ya semoga saja ini operasi terakhirku," ucap Siska yang tampak pasrah dengan keadaannya
" Amin, semoga tidak ada lagi setelah ini dan kamu sembuh," sahut Cherry yang berharap banyak agar temannya tidak melakukan operasi lagi. Siska tersenyum mendengar ucapan Cherry.
" Aku besok akan mengunjungi mu pulang sekolah. Kau ingin di bawakan apa?" tanya Cherry.
" Hmmmm, apa ya," ucap Siska mengetuk-ngetuk sagunya seperti memikirkan apa yang akan di bawakan temannya itu.
" Aku ingin bunga mawar," sahut Siska.
" Mawar pink," sahut Cherry. Siska menggeleng.
" Aku ingin mawar putih," ucap Siska.
" Mawar putih," gumam Cherry berpikir sebentar Siska mengangguk.
" Baiklah tidak masalah aku akan membawanya," jawab Cherry dengan cepat.
Siska dan Cherry saling tersenyum. Bahkan mereka bergenggaman tangan dengan kecerian di wajah mereka. Yang pasti sama-sama menyimpan rasa sakit di tubuh masing-masing.
Tidak berapa lama Verro pun datang dan memasuki ruangan itu.
" Sudah malam, ayo kita pulang," ajak Verro.
" Iya ayo," jawab Cherry. " Siska kami pulang dulu, semoga operasi mu berhasil, semangat," ucap Cherry berdiri dan memeluk sahabatnya.
" Iya makasih, Verro jagain Cherry, awas kalau membentak dan memerahnya," ucap Siska dengan wajah seriusnya. Verro tidak menanggapi dan diam saja.
" Sudah, daaaaa aku pulang," sahut Cherry melambaikan tangannya dan menggandeng lengan Verro membawanya keluar dari kamar itu.
Siska yang melihatnya geleng-geleng.
__ADS_1
" Semoga kalian bisa tetap bersama," batin Siska mendoakan sahabatnya.
Bersambung.....