DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 105 memberikan Donasi.


__ADS_3

SMA hight Internasional.


Setelah bel istirahat berbunyi. Cherry bangkit dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Nadya ke mejanya.


" Nadya ikut denganku," ucap Cherry menarik tangan Nadya membuat Nadya heran dan mengikut saja.


" Cherry kita mau kemana?" tanya Nadya heran yang mengekor saja di belakang Cherry dengan tangannya yang terus di pegang. Mereka bahkan sudah berada di lapangan sekolah.


Nadya dan Cherry menuruni tangga-tangga lapangan membuat Nadya semakin heran.


" Ayo duduk!" ucap Cherry. Nadya yang masih bingung pun mengikut saja.


" Ada apa?" tanya Nadya heran. Cherry pun sudah duduk di samping Nadya.


" Kamu harus berjanji tidak akan menolaknya," ucap Cherry membuat Nadya semakin bingung maksud dari perkataan Cherry.


" Memang apa dulu?" tanya Nadya dengan wajah heran seheran nya.


" Bilang dulu jangan menolak, baru aku memberitahunya," sahut Cherry dengan serius.


" Ya sudah," sahut Nadya yang juga penasaran. Cherry tersenyum lebar.


" Ini," Cherry langsung memberikan amplop putih untuk Nadya. Membuat Nadya semakin bingung.


" Apa ini?" tanya Nadya heran.


" Buka saja," sahut Cherry.


Nadya yang penasaran pun membuka amplop pemberian Cherry. Nadya mengeluarkan 1 lembaran kertas. Sebelum membacanya. Nadya melihat kearah Cherry lagi. Cherry mengarahkan matanya agar Nadya membacanya.


Nadya yang penuh kebingungan pun membacanya. Mata Nadya melebar melihat surat itu yang ternyata rujukan rumah sakit terbesar di Jakarta untuk ibunya melaksanakan operasi dan perawatan yang baik sampai sembuh dan gratis.


Nadya menutup mulutnya yang terbuka sedikit ketika membaca habis isi surat itu. Matanya bahkan bergenang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Nadya melihat kearah Cherry. Cherry mengangguk tersenyum.


" Cherry," lirih Nadya.


Cherry memegang ke-2 tangan Nadya yang ada di atas lutut Nadya.


" Nadya kamu jangan salah paham ya. Papa aku memang tugasnya seperti itu. Dan anggaplah mama kamu beruntung mendapat donasi dara papa aku," jelas Cherry agar temannya tidak salah paham. Kalau Cherry hanya membantu karena kasihan saja.

__ADS_1


" Tapi ini berlebihan Cherry," meski senang tetapi Nadya menolak karena merasa tidak enak.


" Tidak Nadya, ibu kamu harus segera di tangani. Agar sakitnya tidak semakin parah. Kamu tidak boleh menolaknya. Karena bukan kamu yang merasakan sakitnya. Tetapi ibu kamu yang merasakan jadi kamu harus menerima ini," ucap Cherry menjelaskan.


Memang benar tidak ada gunanya menolak. Karena bukan Nadya yang merasakan sakit itu dan seharusnya dia bersyukur ada yang membantu keluarganya.


" Nadya, ini bukan hutang atau hutang Budi. Jadi kamu jangan pernah kepikiran. Papa selalu memberikan biaya untuk orang-orang yang sakit parah. Tidak harus mengenal atau dekat. Tetapi memang papa sering melakukan itu. Sama seperti kamu. Papa melakukannya karena tidak ingin orang lain menderita karena sakit dan tidak bisa berobat karena kendala biaya," ucap Cherry memperjelas maksud dari keluarnya memberikan itu.


Nadya menjadi meneteskan air mata. Dia sangat tidak percaya jika ibunya akan mendapat biaya pengobatan. Nadya langsung memeluk Cherry.


" Makasih Cherry, kamu baik sekali, aku tidak tau bilang apa. Aku tidak pernah berpikir. Jika ibuku akan mendapat perawatan yang baik dan yang pasti itu tidak murah," ucap Nadya dengan tangisnya yang semakin pecah.


" Sama-sama. Yang penting ibu kamu sehat. Kalian bisa bersama-sama terus," sahut Cherry yang juga ikut mewek.


" Aku tidak tau Cherry bagaimana cara membalasnya," sahut Nadya. Cherry melepas pelukan itu.


" Aku sudah katakan ini bukan hutang. Jadi jangan berpikiran untuk membalasnya. Dengan kamu menerimanya itu sudah cukup jadi tidak perlu lagi kamu memikirkan hal lain," jelas Cherry menegaskan.


" Kamu mengerti?" tanya Cherry menegaskan. Nadya mengangguk.


" Ya sudah kamu kasih tau sama mama kamu dan persiapkan semua keperluan kalian. Tim papa aku akan menjemput mama kamu dan akan membawa kerumah sakit untuk di tangani," ucap Cherry dengan wajahnya yang senyum.


" Itu memang prosedurnya. Jadi jangan menolak oke," ucap Cherry. Nadya mengangguk.


" Aku hanya ingin melakukan banyak hal. Sebelum aku pergi. Terutama untuk teman-teman ku yang sangat tulus dan baik selama ini kepadaku. Semoga ibu Nadya cepat sembuh," batin Cherry tersenyum lebar.


Seakan memiliki banyak firasat untuk meninggalkan dunia Cherry tidak pernah membuang waktu untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.


Ditengah keharuan keduanya. Tiba-tiba banyak murid-murid yang berlarian seperti ingin cepat-cepat melihat sesuatu dengan suara kericuhan yang tidak jelas terdengar apa yang mereka katakan..


" Ada apa ya?" tanya Cherry bingung melihat di sekelilingnya heran dengan situasi itu.


" Entalah aku juga bingung, mereka mau kemana," sahut Nadya menyeka air matanya dan juga heran.


" Cherry, Nadya," tiba-tiba terdengar suara Sasy dari ujung tangga membuat ke-2nya melihat. Sasy berlari menghampiri mereka dengan napas ngos-ngosan seperti lari-lari mengelilingi Monas.


" Ada apa Sasy?" tanya Cherry panik yang sudah berdiri bersama Nadya. Sementara Sasy masih mengatur napasnya yang belum stabil.


" Sasy kamu tenang dulu, katakan ada apa?" tanya Nadya juga yang ikut panik.

__ADS_1


" Ayo kebelakang sekolah!" ajak Sasy dengan napasnya yang sesak dan kesulitan bicara.


Nadya dan Cherry hanya semakin heran ajakan Sasy.


" Mau ngapain?" tanya Nadya heran.


" Azizi_Azizi," sahut Sasy terbata-bata.


" Kenapa dengan Azizi?" tanya Cherry panik.


" Sudah ayo buruan," Sasy tidak bisa berbicara lagi dan langsung menarik tangan Cherry dan Nadya kebelakang sekolah yang membuat penasaran dan mungkin itu juga yang membuat murid-murid lain berhamburan.


Tetapi mendengar nama Azizi jelas membuat mereka panik dan mengikut saja dengan Sasy tanpa bertanya lagi.


Sementara di ruangan V3. Varell yang kebetulan membuka tirai jendela. Melihat murid-murid berhamburan membuatnya bingung.


" Anak-anak kenapa kok pada berlarian kayak di kejar zombi?" gumam Varrell heran.


Vandy yang bermain Vs langsung berdiri begitupun dengan Raihan yang tadi berbaring di sofa juga berdiri, mendekati Varell melihat kearah jendela dan mereka melihat murid-murid berhamburan seperti ingin melihat sesuatu.


" Nggak tau, kayak terjadi sesuatu," sahut Vandy heran.


" Liat, Cherry, Nadya dan Sasy juga ikutan berlarian," tunjuk Vandy.


Verro yang begitu melihat Cherry langsung cepat keluar dari ruangan itu.


" Mau kemana Verro!" tanya Vandy berteriak.


" Nyusul Cherry," sahut Verro.


" Gue juga penasaran," sahut Varell menepuk bahu Vandy dan langsung pergi.


" Mentang ada pacarnya di sana. Jadi pengen ikutan. Tapi iya aku juga penasaran ada apa, kenapa pada heboh," gumam Vandy yang juga menyusul temannya mengikuti kemana tujuan murid-murid yang heboh itu.


Varell, Verro dan Vandy juga berlari mengikuti murid-murid yang berlarian sambil bergunjing yang membuat mereka penasaran ada apa. Tetapi mereka ikut saja. Mereka bahkan tidak mau juga ketinggalan berita.


Sementara Verro tertarik untuk pergi. Karena melihat Cherry. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Cherry.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2