DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 91 Menemukan ide.


__ADS_3

" Kalau memang kamu tidak punya dress yang cocok. Bagaimana jika kita beli dress yang cantik untuk acara makan malam kamu dan juga Verro," sahut Sasy memiliki ide.


Azizi, Nadya dan Cherry saling melihat dengan tersenyum lebar. Ide Sasy sangat cemerlang dan sangat membantu.


" Benar," sahut Cherry dengan semangat.


" Tapi beli di mana?" tanya Azizi bingung.


" Benar beli di mana," sahut Cherry kembali lesuh.


" Online saja," sahut Sasy.


" Setuju," sahut mereka serentak.


Dengan cepat Cherry mengambil ponselnya. Nadya, Azizi dan Sasy mengelilingi Cherry melihat-lihat layar ponsel Cherry.


Membantu Cherry memilihkan dress yang cantik untuk acara makan malam Cherry.


" Semuanya lucu-lucu," ujar Azizi gemes dengan model dress di layar ponsel yang terus di scroll Cherry.


" Pengen coba semuanya," sambung Sasy yang malah ingin membeli.


" Apa setelah di pesan akan langsung sampai? tanya Nadya tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Nadya langsung membuat ke-3 wanita itu melihat serius Nadya.


" Benar! tidak akan langsung sampai," sahut Cherry kembali lemas.


" Yahhhhh," ucap mereka serentak membuang napas serentak.


Semangat mereka kembali turun seakan sia-sia jika membeli pakaian di online.


" Aku harus bagaiman lagi," ujar Cherry langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur menatap langit kamar.


" Jika aku tidak datang. Verro akan marah. Jika aku datang dengan penampilan yang biasa saja. Dia pasti kecewa," ujar Cherry yang sudah putus asa.


" Apa penampilan itu penting untuk ngedate?" sahut Nadya.


" Ya penting lah! namanya juga ngedate," sahut Sasy.


" Bukannya kalau Pria itu mencintai kita. Dia akan menerima kita apa adanya ya," sahut Nadya.


" Itu teori lama dan hanya diucapkan laki-laki di depan saja. Padahal dia ingin kekasihnya berpenampilan menarik saat ngedate dengannya. Lagi pula sebagai wanita kalau di ajak ngedate ya harus berpenampilan menarik agar pasangan kita senang," sahut Sasy menjelaskan.


" Apa jika aku dan Varell juga kalau jalan bersama harus secantik mungkin. Memakai pakaian yang mahal dan riasan yang sempurna, kalau Cherry enak dia punya duit banyak. Tetapi aku jangankan membeli dress. Menganti seragam sekolah saja harus berpikir," batin Nadya minder dengan posisinya.


" Memang sangat sulit menjalin hubungan dengan orang yang derajatnya jauh di atas kita,"

__ADS_1


Melihat Cherry yang seperti itu hanya membuat Nadya merasa tidak pantas menjadi kekasih Varell. Padahal dia memang sudah tau awalnya akan seperti itu. Tetapi tetap saja masih mencoba untuk berhubungan.


" Aissss aku harus bagaimana," rengek Cherry yang sudah tidak tau harus melakukan apa-apa.


" Bukannya di sekitar sini ada jual pakaian ya?" sahut Azizi mengingat-ingat. Membuat Cherry dengan cepat langsung duduk.


" Serius!" pekik Cherry tidak percaya.


" Nadya ingat tidak. Waktu kita mengejar Cherry kerumah sakit. Bukannya banyak toko ya," ucap Azizi lagi.


" Iya Azizi benar," sahut Nadya yang juga mengingat-ingat.


" Oke. Kalau begitu di mana tempatnya, ayo kita kesana," sahut Cherry kembali semangat.


" Tapi kan lumayan jauh," sahut Azizi.


" Sudahlah tidak peduli yang penting sebelum semuanya sudah sempurna," sahut Cherry yang sudah berdiri. Dia sudah tidak sabaran.


" Iya benar, ayo kita ke sana," sahut Sasy.


Cherry, Nadya dan Sasy, bergerak ingin keluar. Tetapi mereka kembali menghentikan langkah mereka melihat Azizi yang masih diam di tempat.


" Ayo Azizi!" ajak Cherry.


" Kalian aja. Kalian lupa aku tidak boleh Kemana-mana. Karena masih mendapat hukuman," sahut Azizi. Ke-3 wanita itu saling melihat dengan wajah sedih. Karena Azizi tidak bisa ikut.


" Bagaiman jika aku tinggal, menemani Azizi," sahut Nadya yang tidak enak meninggalkan Azizi.


" Sudah aku tidak apa-apa, sana buruan," usir Azizi mendesak teman-temannya bahkan mendorong ke-3 wanita yang masih memikirkannya.


" Sana buruan," ucap Azizi yang sudah mengantarkan 3 wanita itu ke depan pintu.


" Ya sudah kami pergi. Daaaaa," ucap mereka berpamitan. Azizi mengangguk senyum dan menutup kembali pintu kamar.


Azizi duduk di pinggir ranjang dan mengambil ponselnya. Dia melihat tidak ada notif pesan Wa sama sekali.


" Kenapa Vandy tidak menyapa, atau apapun. Aku bahkan tidak pernah melihatnya. Semenjak kejadian itu. Apa dia di kamar terus," batin Azizi yang menunggu Vandy mengabarinya.


" Aku sebaiknya tanya dia ada di mana?" ucap Cherry langsung mengetik pesan.


..." Vandy kamu sedang apa,"...


Pesan terkirim dan Cherry masih tetap menunggu balasannya.


****

__ADS_1


Vandy memang berada di kamarnya. Bersama Verro dan Varell. Vandy yang rebahan di atas tempat tidur melihat ponselnya yang masuk notif pesan. Pesan dari Azizi.


Vandy hanya melihat ponselnya lama tanpa mengetik untuk membalas pesan itu. Tidak membalasnya Vandy menjatuhkan ponselnya di sampingnya.


" Memang kau mau bawa kemana Cherry?" tanya Varell yang pasti mendapat cerita dari Verro mengenai Cherry untuk di ajaknya Dinner.


Sebenarnya bukan tipe Verro harus bercerita tentang hal itu. Tetapi dia membutuhkan saran dari ke-2 temannya tempat yang cocok untuk mereka.


Apa lagi dia bukan berada di Jakarta. Jadi tidak akan tau tempat yang mana yang cocok. Makanya butuh teman-teman untuk membantunya.


" Aku juga belum tau. Makanya aku bertanya sama kalian," Sahut Verro.


" Harus banget di sini. Kenapa tidak tunggu kita pulang saja," ucap Varell sembari bermain game di ponselnya.


" Aku ingin membuat kenangan yang paling berharga untuknya saat melaksanakan kegiatan Study tour," ucap Verro tersenyum miring.


" Eh Vandy kau ada ide?" tanya Varell melempar ke arah Vandy yang sibuk melamun. Mendengar namanya di sebut. Vandy membuyarkan lamunannya.


" Kenapa tidak di pantai saja. Bukannya di sini ada pantai," sahut Vandy walau melamun dengan pemikirannya yang bercabang.


Ternyata dia menyimak pembicaraan teman-temannya dan malah memberi saran yang sangat masuk akal.


" Ide bagus tuh," sahut Varell setuju.


Verro belum setuju dan masih memikirkan apa itu ide bagus atau tidak. Dia benar-benar ingin membuat kenangan indah bersama Cherry. Kenangan yang tidak akan pernah terlupakan ya sampai kapanpun.


*******


Raquel menuruni anak tangga menuju dapur. Raquel yang haus ingin mengambil minum. Tetapi baru sampai dapur. Raquel menghentikan langkahnya ketika melihat Aldo yang makan di meja makan.


Raquel bingung harus melanjutkan langkahnya atau tidak. Sebenarnya Raquel sangat malu dengan Aldo. Karena menuduhnya hal yang tidak benar.


Semenjak semuanya jelas. Raquel pun belum meminta maaf. Karena tidak berani berbicara pada Aldo. Justru dia takut menemui Aldo.


Raquel yang masih mematung membuat Aldo harus melihat kearahnya. Sehingga mata mereka saling bertemu dengan jarak 10 meter.


Raquel yang bingung harus melakukan apa memilih untuk membalikkan badannya dan langsung pergi. Hal itu membuat Aldo heran dengan Raquel yang memang jelas terlihat terus menghindarinya.


" Kenapa dia? bukannya dia kedapur pasti membutuhkan sesuatu," batin Aldo yang kepikiran. Tetapi tidak mengambil pusing Aldo kembali melanjutkan makannya.


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.

__ADS_1


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2