
" Terimakasih, ini sangat indah," ucap Cherry memeluk erat. Verro tersenyum sambil mengusap-usap rambut belakang Cherry.
" Aku melakukannya demi dirimu," sahut Verro.
Verro melepas pelukannya dari Cherry memegang kedua pipi Cherry menghantarkan kening Cherry kebibirnya. Kecupan hangat itu diterimanya dengan memejamkan matanya. Kelopak mata itu juga mengeluarkan air mata.
" Kenapa menangis?" tanya Verro mengusap lembut air mata itu.
" Kamu sosweet malam ini, bagaimana aku tidak sedih," jawab Cherry memukul pelan dada Verro dengan wajah cemberut menggemaskannya. Verro tersenyum mendengarnya.
" Aku sudah mengatakan. Aku akan melakukan apapun yang akan membuatmu bahagia," ucap Verro.
" Ya sudah, ayo kita makan, aku mengajakmu untuk makan bukan untuk melihat air matamu ini," ucap Verro.
Cherry mengangguk kan kepalanya. Verro meraih tangan Cherry menggenggamnya menuju meja yang berisi makanan.
Verro menarik kursi dan mempersilahkan Cherry untuk duduk. Cherry tersenyum lebar dan duduk dengan anggun. Verro pun menyusul untuk duduk di depannya.
" Ayo di makan! ucap Verro mempersilahkan.
" Iya," jawab Cherry. Mengambil pisau dan garfu yang sudah di sediakan.
" Kamu sendirian menyiapkan ini?" tanya Cherry memotong steak nya melihat sebentar ke arah Verro.
" Tidak aku dibantu anak-anak," jawab Verro, " kamu menyukainya?" jawab Verro.
" Apa kamu sering menonton drama romantis?" tanya Cherry.
" Kenapa bertanya seperti itu," sahut Verro.
" Soalnya ini sangat indah. Seperti drama-drama romantis di sinetron," jawab Cherry.
" Aku hanya melakukan apa yang ada di bayanganku," jawab Verro.
" Iya bayanganmu sangat keren. Aku tidak menyangka kalau kamu akan membuatkan ini untukku," sahut Cherry masih merasa terharu.
" Aku sudah mengatakan semua ini kulakukan untukmu. Aku ingin membuat kenangan indah bersamamu. Kenangan yang tidak akan pernah kita lupakan," ucap Verro.
__ADS_1
" Makan!" Verro menyodorkan potongan steak nya pada Cherry menggunakan garfu. Cherry memajukan tubuhnya dan langsung membuka mulutnya menerim suapan itu.
" Kamu juga," ucap Cherry melakukan hal yang sama pada Verro. Verro juga menerima suapan itu. Verro tersenyum melihat kebahagian di wajah Cherry.
" Verro malam ini benar-benar malam yang paling bahagia," ucap Cherry lagi.
" Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali," sahut Verro yang sudah hafal kata-kata itu.
" Benarkah! aku sampai tidak tau. Namanya aku sangat bahagia. Jadi wajar jika aku harus mengulanginya," ucap Cherry yang tidak henti-hentinya tersenyum.
" Verro seandainya malam ini Tuhan mengambil nyawaku. Aku ikhlas pergi sekarang juga. Karena aku sudah membawa kenangan indah bersamamu. Jadi seumur hidupku aku tidak akan pernah menyesal atau merasa kurang selama hidup di dunia. Karena aku bisa merasakan kebahagiaan bersamamu dan menghabis kan waktu bersamamu," ucap Cherry dengan wajah tersenyum tetapi mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba memang dia ingin mengatakan hal itu. Verro menghentikan makannya ketika mendengar ucapan Cherry yang melantur.
" Cherry kita sedang makan. Jangan bicarakan hal yang aneh-aneh," sahut Verro yang tidak ingin di ganggu dengan hal itu.
" Aku takut tidak akan sempat bicara kepadamu. Kamu tau Verro. Saat kamu menyatakan perasaanmu kepadaku. Aku sangat bahagia. Karena aku menjadi pacar dari orang yang selalu memperdulikan ku. Aku sangat suka di marahi oleh mu. Aku merasa mendapat banyak perhatian dari mu," ucap Cherry.
" Kamu pasti bertanya kenapa aku harus mencari kteria untuk menjadi pacar ku. Karena aku ingin seperti Siska. Dia mengatakan hidup kita tidak seperti orang lain. Apa yang kita derita. Tiba-tiba penyakit itu akan menyerang ganas tanpa ampun membuat kita mati tanpa berpamitan,"
" Cherry," lirih Verro.
" Apa yang kau katakan," Verro benar-benar tidak ingin mendengar Cherry membicarakan hal itu lagi.
" Aku sibuk mencarinya demi mendapatkan semua itu. Tetapi aku tidak sadar. Jika itu sudah ada sejak dulu. Jika aku sudah mendapatkan itu sangat lama,"
" Dokter Arif benar-benar cuma kamu Pria satu-satunya yang seperti itu kepadaku. Di saat aku sadar dari rumah sakit. Orang yang pertama aku lihat adalah kamu. Aku sudah memiliki kamu sejak dulu," lanjut Cherry meneteskan air matanya.
" Kemanapun aku lari dan ingin pergi darimu. Itu tidak akan pernah bisa terjadi. Karena kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku. Dari dulu sampai sekarang kamu selalu ada saat mataku terbuka. Aku juga ingin melihatmu sebelum mataku tertutup," ucap Cherry dengan senyum menahan kesedihan di wajahnya.
Verro yang tidak tahan mendengar Cherry mengatakan hal yang menakutkan itu. Langsung bangkit dari duduknya keluar dari kursinya.
Verro menghampiri Cherry, memegang ke-2 pipi Cherry agar wajah Cherry sejajar dengannya. Verro langsung menyapu bibir yang sedari tadi bicara itu. Cherry memejamkan matanya saat mendapat ciuman dari Verro.
Verro semakin memajukan wajah Cherry agar bisa semakin dalam menciumnya. Mereka berciuman lembut dengan air mata yang masih menetes di pipi Cherry.
Dia sangat bahagia malam ini dengan apa yang diterimanya. Dan Verro sangat emosi dengan Cherry yang berbicara di luar batas. Membuatnya semakin takut kehilangan wanita yang di cintainya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama berciuman dengan lembut. Verro melepas ciumannya dengan napas tersenggal-senggal.
Verro membuka matanya perlahan dan melihat Cherry yang membuka matanya perlahan dengan napasnya yang tersenggal.
" Aku tidak mau kamu membicarakan hal itu lagi, jangan berbicara hal yang tidak akan terjadi," ucap Verro dengan suara serak mengusap lembut pipi Cherry menatap wanita itu dalam-dalam.
" Verro. Jika aku pergi, kamu harus terus mengunjungi makamku," ucap Cherry. Verro memejamkan matanya sebentar. Membuka kembali.
" Aku sudah mengatakan jangan mengatakan itu," ucap Verro.
" Tapi itu akan terjadi, aku pasti akan pergi terlebih dahulu, Aku... Cup.
Verro mengecup bibir Cherry dengan dalam dan melepas nya kemudian.
" Tidak ada yang pergi. Kamu akan terus di sisiku. Sampai kapanpun," ucap Verro.
" Tap..."
Cup
Verro kembali mengecup bibir itu. Dia benar-benar tidak mau Cherry membicarakan tentang kematian.
" Jangan bicara lagi. Kamu tau Cherry kata-kata mu sangat membuatku ketakutan. Jadi aku mohon jangan bicara lagi. Please menganggukkan sekali ini saja," ucap Verro yang benar-benar tidak tahan dengan omongan Cherry.
Akhirnya Cherry menganggukkan kepalanya. Dan memeluk pinggang Verro.
" Terima kasih sudah mencintaiku," ujar Cherry memeluk erat.
Verro mengusap-usap rambut Cherry. Dengan lembut.
" Jangan pernah pergi Cherry," batin Verro yang belum siapa kehilangan.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.