
Cherry yang melihat ujung bibir Verro terluka. Cherry langsung mengambil posisi duduk di samping Verro. Sedikit menunduk agar mudah mengobati luka di ujung bibir Verro.
" Apa yang terjadi kepadanya, apa dia bertengkar, dengan siapa," ucap Cherry mengoles salap pada luka Verro dengan lembut.
Cherry terus bergerutu penasaran dengan apa yang terjadi pada Verro. Tangannya dengan lembut terus mengobati luka itu. Rambut Cherry yang bergerai mengenai mata Verro.
Hal itu membuat Verro terganggu dan membuat Verro menggerakkan matanya.Karena terusik dengan Cherry.
Verro membuka matanya dan kaget melihat wajah Cherry yang hanya 1inci berjarak dengan wajahnya. Bahkan mata ke-2 nya saling bertemu.
Tangan Cherry spontan berhenti mengobati luka Verro dan menatap lama mata indah yang selalu melihatnya dengan tatapan dingin.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Verro dengan suara berat. Cherry menggeleng dan menunjukkan salep yang di pegangnya.
Verro bahkan sangat sulit menelan salavinanya karena terlalu berdekatan dengan Cherry.
" Jam berapa sekarang?" tanya Verro mengalihkan suasana. Jujur dia grogi berada di dekat Cherry.
" Jam 10," jawab Cherry dengan napas yang berhembus di wajahnya membuatnya semakin gugup.
" Dan kau tidak membangunkanku," ucap Verro. Yang ternyata dia sudah tertidur selama 2 jam.
" Aku mana tau kalau kau tidur, aku dari tadi merapikan bunga, saat selesai, kau sudah tidur," jawab Cherry dengan suara pelannya.
" Hanya merapikan saja tapi selama itu, sampai 2 jam," ucap Verro kesal mencoba duduk. Tapi...
" Auhhh, sakit," keluh Cherry saat rambutnya tertarik dan ternyata rambutnya sangkut di kancing kemeja Verro. Verro berdecak dan kembali berbaring seperti awal.
" Kenapa ceroboh sekali," ucap Verro kesal melihat Cherry berusaha menarik rambutnya dari kancing kemeja Verro.
" Diam dulu, aku semakin sulit menariknya. Jika kau terus mengoceh," sahut Cherry yang juga ikut kesal sudah rambutnya tertarik malah di omeli. Padahal sangat sakit.
" Itu salahmu sendiri," sahut Verro kesal.
" issssa," Cherry berdesis yang terus di salahkan
Verro pun akhirnya diam mematung dan membiarkan Cherry mengurus rambutnya yang tersangkut di kemejanya.
Lengan Cherry berada di dada Verro. Cherry memnag harus menindih Verro agar mudah memisahkan rambutnya dari kancing kemeja Verro.
Wajah Cherry semakin begitu dekat dengan Verro. Belum lagi rambut Cherry yang lainnya menari- nari di matanya.
Jujur saat itu Verro terlihat canggung. Verro sampai menahan napas karena Cherry yang begitu dekatnya. Jantung Verro berdebar tidak menentu melihat Cherry yang terus semakin dekat.
Memang ini pertama kali Verro melihat waja Cherry dengan dekat. Verro memang harus mengakui jika Cherry benar-benar sangat cantik.
Wanita yang di paksa untuknya itu benar-benar sempurna.
" Sudah selesai," ucap Cherry melihat ke arah Verro. Saat mata indah Cherry bertemu dengan matanya. Verro kesulitan menelan salavinanya dan malah terdiam menatap mata coklat Cherry.
__ADS_1
Verro mengalihkan pandangannya, sadar akan kegilaan dirinya. Yang ada debaran jantungnya akan terdengar Cherry. Sementara jantung Cherry normal-normal saja. Karena alarm nya tidak berbunyi.
" Lalu kenapa masih di situ," ucap Verro melihat Cherry masih menindihnya.
" Oh iya," sahut Cherry yang juga ikut gugup dan langsung langsung duduk. Setelah Cherry sudah tidak berada bersamanya lagi.
Verro membuang napasnya panjang. Ya dia baru bisa bernapas lega setelah Cherry sudah menjauh. Verro pun langsung bangkit berusaha tidak menunjukkan ke gugupannya.
" Aku pulang," ucap Verro merapikan kemejanya.
" Kau tidak makan dulu?" tanya Cherry.
" Tidak usah," jawab Verro berusaha tenang.
" Lalu kenapa kau bisa terluka?" tanya Cherry memegang bibirnya.
" Itu bukan urusanmu," jawab Verro ketus. Membuat Cherry menarik ujung bibirnya. Memang lebih baik tidak usah bertanya. Yang adanya akan sakit hati.
" Istirahatlah," ucap Verro sebelum pergi.
" Hmmmm," jawab Cherry dengan deheman.
Tidak ingin terlihat salah tingkah di depan Cherry. Verro langsung buru-buru keluar dari kamar Cherry.
" Tau gitu aku biarkan saja lukanya, ngapain juga di obati," ocehnya memasukkan salep kembali ke dalam laci.
Cherry seakan menyesal melakukan hal baik ke pada Cherry. Cherry yang tidak ambil pusing memilih merebahkan dirinya di ranjang. Menarik selimutnya dan langsung memejamkan matanya dari pada harus memikirkan Verro.
Rumah sakit
Seperti biasa hari ini adalah jadwal Cherry untuk periksa. Cherry menemui Dokter Arif. Dokter tampan bagi Cherry untuk mengecek ke adaannya.
Dari kecil Cherry memang wajib seminggu sekali untuk mengecek kondisinya ke Dokter Arif. Dokter keluarga Cherry. Dari Dokter Charles ayah dari Dokter Arif.
Ayah Dokter Arif menjalankan tugasnya di Australia. Jadi Dokter Arif yang melanjutkan tugas ayah yang memantau ke sehatan Cherry.
Setelah selesai di periksa. Cherry memasuki ruangan Dokter Arif. Dokter Arif sudah duduk terlebih dahulu. Cherry datang dengan wajahnya yang lesu dan tidak bersemangat.
" Ada apa denganmu Cherry?" tanya Dokter Arif melihat Cherry yang duduk tidak bersemangat dengan wajahnya yang lemas.
" Cherry kondisimu, semakin membaik. Tetapi kenapa wajahmu begitu murung," ucap Dokter Arif lagi yang tidak mendapatkan jawaban dari Cherry.
Dokter Arif tersenyum. Dokter Arif membuka lacinya dan meletakkan I botol kecil susu stauberry untuknya.
" For me," sahut Cherry dengan matanya berbinar. Arif langsung mengangguk.
" Thank you," sahut Cherry langsung ceria meraih susu stauberry itu dan langsung membuka botolnya.
Tidak menunggu lama Cherry langsung meneguknya. Arif mengendus tersenyum melihat Cherry yang langsung kembali ceria hanya karena minuman kesukaannya.
__ADS_1
" Kalau begitu katakan, apa yang membuat wajah cantikmu itu murung?" tanya Dokter Arif kembali pada topik utama.
" Hati ku sakit Dokter," sahut Cherry kembali murung.
" Ada apa dengan hatimu?" tanya Arif.
" Siapa yang berani menyakiti hatimu?" tanya Arif dengan wajah seriusnya.
" Siapa lagi jika bukan si bedebah itu," jawab Cherry langsung kesal.
" Si bedebah, siapa itu?" tanya Arif heran.
" Cuma satu-satunya Pria yang paling mengesalkan di dunia ini," jawab Cherry dengan kekesalannya.
" Verro maksudnya," tebak Arif. Cherry langsung mengangguk.
" Apa yang dilakukannya. Sampai kamu sakit hati. Apa kalian putus?" tanya dokter Arif. Dengan cepat tangan Cherry melambai sambil minum.
" Kami tidak pacaran Dokter, Bagaimana ceritanya bisa putus," sahut Cherry kesal. Arif tersenyum.
" Bukannya semua orang juga tau. Jika kalian adalah pasangan. Kalian juga couple di sekolah bukan," ucap Arif yang berita itu pasti terdengarnya. Karena adiknya Vandy bersekolah di tempat Cherry.
" Couple bagaimana, dia selalu mempermalukan ku di sekolah. Selalu memarahiku di depan orang banyak. Dia selalu bersikap dingin. Berbicara kasar. Bagaimana aku tidak sakit hati," Cerocos Cherry dengan ekspresi kesalnya. Jika mengingat perlakukan Verro kepadanya.
" Bukannya dia selalu memperhatikanmu," ucap Arif seakan membela Verro.
" Hhhhhh, sejak kapan, sampai kiamat pun tidak akan terjadi," sahut Cherry langsung membantah.
" Jika kamu masuk rumah sakit. Verro selalu bersamamu," ucap Arif yang memang juga sudah mengenal Verro dan sering melihat Verro bersama Cherry.
" Hahh, itu hanya pencitraan saja. Aku juga tidak mengerti dengannya. Terkadang dia baik. Tetapi jika di sekolah dia akan seperti Monster. Dia juga sering menuduhku. Dia mengatakan aku mengadukan kelakuannya ke pada papanya. Padahal aku tidak pernah melakukan itu," ucap Cherry yang curhat pada Dokter Arif.
Arif hanya tersenyum mendengar Cherry yang curhat dengan serius.
" Apa dia tidak bisa jika tidak menyebalkan sekali saja," ucap Cherry yang pasrah.
" Kenapa tidak putus saja dengannya. Kalau memang kamu tidak nyaman," sahut Arif memberi saran.
" Dokter aku sudah katakan aku tidak pacaran dengannya. Bagaimana bisa putus," sahut Cherry menekankan sekali lagi.
" Lalu kenapa kamu selalu menurutinya. Bahkan jika dia memarahimu. Kamu juga tidak melawan. Malah kamu diam seakan apa yang di katakannya wajar. Seperti layaknya seorang kekasih memarahi pacarnya," ucap Dokter Arif yang masih menggoda Cherry.
" Dokter," sahut Cherry dengan suara di ayun. Suara manjanya.
" Sudahlah Cherry. Kamu harus bisa melihat sisi baik dari Verro. Jangan hanya kamu lihat Verro yang hanya memarahimu. Kamu juga harus tau kenapa dia memarahimu. Itu pasti ada alasannya," ucap Dokter Arif memberi Cherry pengertian.
💝💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya