DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 379 Keciduk.


__ADS_3

Sekarang Toby sudah di pindahkan ke ruang perawatan yang VIP, ruangannya lumayan luas dan di sana pasti ada Sasy yang menemaninya dan bahkan mencatat dengan serius mengenai hasil medis yang tadi disuruh Dokter Arif. Sasy berdiri di samping Toby dan terus mencatat dengan menggunakan papan ujian.


Toby tersenyum yang terus melihat Sasy yang kalau serius begitu cantik hal itu membuatnya merasa bahagia. Sasy yang merasa di lihati Toby langsung melihat Toby dan heran dengan tingkah Toby.


" Ada apa?" tanya Sasy heran. Aku merasa ada yang tidak biasa di sini," tunjuk Toby memegang dadanya.


" Apa yang terjadi," sahut Sasy panik meletakkan pekerjaannya di atas meja dan mendekati Toby yang seolah ingin memeriksa Toby.


" Di bagian mana yang sakit," ucap Sasy dengan wajah paniknya.


" Detak jantungku. Coba kamu dengarkan," ucap Toby. Sasy pun langsung menuruti Toby dan meletakkan telinganya kananya tepat di dada Toby mendengarkan detak jantung Toby.


" Apa normal?" tanya Toby.


" Toby kenapa berdetak kencang seperti ini?" tanya Sasy yang begitu paniknya.


" Aku tidak tau Sasy saat aku di dekatmu detak jantung itu akan berubah. Itu adalah getaran cinta. Jika kau ada di sisiku," ucap Toby. Sasy mengkerutkan dahinya dan melihat serius kearah Toby.


" Kau mengerjaiku," ucap Sasy yang mulai sadar di bohongi. Toby menanggapi dengan senyuman yang membuat Sasy begitu kesal.


" Kau ini," geram Sasy yang langsung bete dengan Toby. Wajah itu langsung mengkerut.


" Aku tidak mengerjaimu. Memang yang aku katakan adalah kebenarannya," sahut Toby dengan santainya.


" Terserah apa katamu. Kau memang selalu seperti ini. Sangat menyebalkan. Ini bukan main-main Toby," ucap Sasy dengan marah-marah kepada Toby.


" Maafkan aku," ucap Toby.


" Sudahlah aku mau cari makan dulu," ucap Sasy yang terlanjur kesal dan memilih untuk pergi. Namun Toby langsung menarik tangannya sehingga Sasy langsung jatuh di atas tubuh Toby dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


" Kau sangat cantik jika marah-marah. Aku merindukan kamu yang dulu. Dan sekarang Sasy yang dulu telah kembali. Di mana dia yang sangat cerewet dan suka marah-marah," ucap Toby yang menatap dalam-dalam Sasy.


Situasi itu membuat Sasy dek-dekan. Dengan kata-kata Toby yang begitu manis.


" Aku sangat mencintaimu Sasy. Tetaplah seperti ini kepadaku yang marah kepadaku. Tetaplah di sisiku agar jantungku terus berdetak kencang," ucap Toby. Sasy menganggukan matanya tersenyum tipis mendengar kata-kata itu.


" Aku juga mencintaimu Toby," sahut Sasy yang membalas ucapan cinta itu. Toby membelai-belai rambut Sasy dan mencium kening Sasy dengan lembut


" Kamu jangan pernah ya memikirkan kondisiku," ucap Toby.


" Mana mungkin aku tidak memikirkannya," sahut Sasy.


" Kamu boleh memikirkannya. Tapi jangan takut dengan kondisi ku. Jangan berlebihan memikirkan ku. Karena dengan kamu ada di sisiku. Aku sudah jauh lebih baik," ucap Toby. Sasy mengangguk tersenyum mendengarnya.


" Baiklah toby. Aku ingin kita berdua sama-sama melawan rasa sakit kamu. Kamu tidak boleh membohongiku. Atau menutupi apapun dari ku. Pada intinya kamu tidak boleh merahasiakan Apapun dari ku," ucap Sasy.


" Pasti aku tidak akan menutupi apapun dari mu," sahut Toby.


Toby terus mengusap wajah Sasy dengan mata mereka yang saling memandang. Pandangan Toby namun turun pada bibir Sasy dan mendekatkan wajah Sasy kepadanya. Sasy memejamkan matanya yang seolah mengerti apa yang di inginkan Toby.


Pasti mereka ingin melepas rindu dengan berciuman. Posisi sudah pas tinggal apa lagi jika bukan berciuman. Bibir Toby sudah menempel pada Sasy.


Ceklek.


Toby tersentak kaget melihat Verro dan Cherry datang dengan cepat Toby mendorong Sasy yang membuat Sasy kaget. Sementara Verro dan Cherry yang sudah melihat hal yang tidak jadi di lakukan itu saling melihat dengan pura-pura tidak tau.


" Toby kamu ini!" geram Sasy dengan pelan yang begitu kesal dengan Toby. Toby pun pura-pura tenang untuk menutupi salah tingkahnya.


" Ehemmm, apa kita kecepatan datang," sahut Verro yang menggoda. Sasy terlihat gelisah dengan merapi-rapikan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali.


" Hmmm, nggak kok, kenapa harus kecepatan," sahut Sasy dengan gugup.


" Apa kita mengganggu kalian?" tanya Cherry dengan senyum-senyum penuh curiga.


" Tidak apa yang harus di ganggu," sahut Sasy lagi.


" Hmmmm, syukurlah kalau begitu," sahut Cherry.


" Makanya Toby lain kali pintunya di kunci," ucap Verro.


" Apaan sih Verro nggak jelas. Kenapa juga harus di kunci. Yang ada kalian itu yang seharunya masuk. Ketuk pintu dulu," sahut Toby yang semakin kesal.


" Ohhhh, jadi kita yang salah sayang," sahut Verro merangkul istrinya. Sasy semakin malu yang di goda Cherry dan Verro.


" Sudah deh kalian berdua ini ya apa-apaan sih," sahut Toby yang semakin kesal.

__ADS_1


" Jadi bagaimana ini. Kalian mau melanjutkan atau bagaimana?" tanya Toby.


" Apa yang harus di lanjutkan. Sudahlah kalian jangan membahas apa yang tidak penting," sahut Sasy yang bertambah malu. Wajahnya bahkan sudah memerah seperti kepiting rebus.


" Iya deh, kita nggak usah bahas. Mereka langsung malu-malu," ucap Cherry yang tersenyum melihat Sasy.


" Ya sudah kita itu datang hanya untuk mengantarkan makan siang," ucap Verro yang menunjukkan kantung plastik yang di bawanya sejak tadi.


" Kalian belum makan kan?" tanya Verro.


" Belum," jawab Toby dan Sasy serentak. Jawaban yang kompak itu membuat Cherry dan Verro sama-sama tertawa.


" Ya kalau jodoh memang seperti itu," sahut Cherry masih saja menggoda, " Hmmm, udah deh kita lupain semuanya. Ya sudah sekarang kita sebaiknya makan siang dulu," ucap Cherry. Sasy dan Toby mengangguk. Walau sebenarnya mereka ber-2 masih sama malu-malu karena di goda Cherry dan juga Verro yang menangkap mereka berciuman.


" Keadaan kamu bagaimana Toby?" tanya Cherry sembari membongkar isi kantung plastik itu.


" Aku baik-baik saja," sahut Toby.


" Syukurlah kalau begitu. Kamu jangan bosan di rumah sakit. Anggap aja rumah dan kita semua pasti akan tiap hari datang untuk mengunjungi kamu," ucap Cherry yang memberi semangat Toby.


" Makasih ya Cherry," sahut Toby tersenyum.


" Kita juga datang," tiba-tiba pintu di buka dan ternyata, Aldo, Raquel, Vandy, Azizi, Nadya dan Varell datang.


Toby sampai tersenyum melihat kedatangan temannya itu, begitu juga dengan Sasy.


" Ya ampun kita juga bawa makanan," sahut Azizi menunjukkan apa yang di pegangnya sama dengan yang lainnya yang masing-masing juga membawa makanan.


" Ya sudah tidak apa-apa. Kita makan sama-sama. Kan makanannya berbeda-beda," sahut Cherry.


" Baiklah, kalau begitu makan siang kali ini akan terasa kenyang," sahut Raquel.


" Dan kita harus menghabiskannya. Agar tidak ada yang mubajir," sahut Nadya.


Mereka sama-sama tersenyum dan memenuhi ruangan Toby yang terlihat begitu besar. Mereka sama-sama membuka makanan yang mereka bawa.


" Astaga Vandy kayaknya kurang satu deh makanannya," sahut Azizi tiba-tiba.


" Kayaknya ketinggalan di mobil deh," sahut Vandy yang mengingatnya


" Memang apaan?" tanya Varell.


" Kunci mobil kak Arif masih sama kamu?" tanya Azizi.


" Iya, sekalian nanti mau aku balikin," jawab Vandy.


" Ya sudah jangan lama-lama ya," ucap Azizi. Vandy mengangguk dan langsung pergi.


" Kalian memakai mobil Dokter Arif?" tanya Cherry.


" Iya, tadi waktu mau beli makanan kita pinjam mobil kak Arif," jawab Azizi.


" Begitu rupanya.


" Ya sudah ayo kita makan," sahut Verro. Dan dengan semangat yang mulai mencicipi banyaknya makanan yang ada mereka bawa masing-masing.


Toby dan Sasy saling melihat yang sama-sama tersenyum menahan rasa haru dengan perhatian yang begitu besar dari teman-temannya. Walau sudah mempunyai keluarga masing-masing. Tetapi masih memliki waktu untuk melakukan hal ini. Jelas itu membuat Toby merasa sangat bahagia dan semakin bersemangat untuk berobat agar cepat sembuh.


Dia juga mengambil hal itu dari Cherry yang dulu juga begitu semangat hidup tanpa menyerah sama sekali dan lihatlah Cherry bisa melewati semuanya.


**********


Arif berada di ruangannya yang duduk dengan membuka handphonenya. Arif membuka pesan wa yang mana dari kekasihnya.


" Sayang aku ada di depan. Aku membawakanmu makan siang," Selina.


Melihat pesan Wa itu membuat Arif tersenyum.


" Kebiasaan jika mengajak makan bersama pasti diam-diam. Hmmm Selina-selina. Kapan sih orang-orang harus tau hubungan kita. Kamu nggak capek apa sembunyi-sembunyi terus," batin Arif sambil jemari tangannya mengetik untuk membalas pesan pacarnya.


" Baiklah sayang aku akan keluar,"


Arif membuka jas Dokternya mengambil handphonenya dan langsung keluar dari ruangannya untuk menemui kekasihnya itu.


Saat keluar tiba-tiba Fiona sudah berada di depan ruangannya. Di mana Fiona duduk di atas kursi roda yang sepertinya memang menunggu Arif.

__ADS_1


" Fiona!" ucap Arif heran.


" Hmmm, Dokter saya ingin bicara sebentar dengan Dokter," ucap Fiona dengan pelan.


" Hmmm, boleh. Sepertinya sangat penting sampai kamu langsung menemui saya," ucap Dokter Arif.


" Benar Dokter. Saya ingin bicara serius," sahut Fiona.


" Selina sedang menunggu bagaimana ini," batin Arif yang juga khawatir dengan Selina. Dia tidak ingin membuat Selina menunggunya.


" Tapi sepertinya Dokter ingin buru-buru pergi," ucap Fiona yang mengetahui hal itu dari raut wajah Arif yang tampak tidak tenang.


" Hmmm, saya kebetulan ada janji makan siang sebentar," jawab Arif apa adanya.


" Hmmm, ya sudah Dokter. Kalau memang Dokter mau makan siang dulu tidak apa-apa. Lagian ini memang jadwalnya makan siang. Nanti saja kita bicaranya," ucap Fiona.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Arif yang juga merasa tidak enak. Fiona menggeleng dengan tersenyum.


" Tidak apa-apa Dokter. Dokter makan siang aja dulu," ucap Fiona.


" Baiklah Fiona. Nanti saya temui kamu di kamar kamu. Kamu tidak perlu kemari lagi," ucap Dokter Arif.


" Baik Dokter," sahut Fiona mengangguk.


" Saya permisi ya," ucap Arif pamit. Fiona mengangguk dengan tersenyum.


" Nanti saja aku membahas masalah itu dengan Dokter Arif," batin Fiona yang mendorong kursi rodanya sendiri pergi dari depan ruangan Arif.


*********


Vandy pun keluar dari rumah sakit yang langsung menuju mobil kakaknya Arif. Vandy masuk di bagian belakang. Yang mencari-cari apa yang ketinggalan di mobil itu.


" Ini dia ternyata," ucap Vandy yang langsung mengambilnya. Namun saat mengambilnya tiba-tiba ponselnya dari sakunya terjatuh.


" Astaga pakai jatuh segala lagi," keluhnya yang langsung berusaha untuk mengambil handphonenya bahkan dia sampai telungkup di kursi mobil. Dengan tangannya yang meraba-raba untuk mencari keberadaan handphonenya.


********


Arif pun langsung menemui Selina yang berdiri yang menunggu Arif. Dengan Selina yang melihat kekiri-kenan yang mencari Arif.


" Sayang maaf," ucap Arif yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


" Tidak apa-apa kok," sahut Selina.


" Ya sudah kita makan di ruangan ku!" ajak Arif.


" Jangan," Selina langsung menolak, " kita makan di mobil saja. Aku melihat teman-teman Toby memasuki rumah sakit. Kalau mereka tiba-tiba salah satu memasuki ruangan mu bagiamana. Nanti kan jadi susah," ucapnya memberi alasan.


" Selina untuk apa jauh-jauh datang kemari. Kalau hanya makan di mobil. Tidak ada tenagnya sama sekali. Jadi sebaiknya kita makan di ruangan ku saja," sahut Arif menegaskan dengan menarik tangan Selina. Namun Selina tidak bergerak sama sekali.


" Aku tidak mau," sahut Selina yang tetap kekeh ingin makan di mobil.


" Baiklah," sahut Arif yang tidak bisa jika tidak menuruti Selina. Selina tersenyum dan akhirnya mereka memasuki mobil Arif tanpa tau jika ada Vandy di dalam sana.


Wajah Arif sangat kelihatan Arif tidak bersemangat. Mungkin Arif mulai lelah dengan hubungan yang terus sembunyi-sembunyi.


" Aku membawakan makanan kesukaan kamu," ucap Selina yang mereka ber-2 sudah masuk kedalam mobil. Wajah Arif terlihat lesu yang seolah moodnya sudah hilang.


" Kamu marah?" tanya Selina yang bisa menebak dari wajah Arif.


" Aku tidak marah. Aku cuma tidak tau kapan kita akan terus seperti ini?" tanya Arif yang terlihat lesu. Sementara Vandy yang ada di belakang sungguh kaget melihat kakaknya dan Selina yang memasuki mobil dan terlihat sangat dekat.


" Apa ini. Kak Arif dan Selina ada apa dengan mereka? Kenapa mereka begitu dekat," batin Vandy dengan wajah terkejutnya. Namun dia menahan diri untuk tidak berbicara.


" Selina kita sudah pacaran 4 tahun dan selama itu. Kita seperti ini terus. Lagian kamu malu punya pacar seperti aku. Makanya kamu tidak mau hubungan kita di publish," ucap Arif yang terlihat serius bicara dengan Selina.


" Pacaran. 4 tahun," batin Vandy yang benar-benar terkejut.


" Gila. Kak Arif pacaran dengan Selina 4 tahun dan selama itu juga tidak ada yang tau bahkan aku," Vandy yang berbicara di dalam hatinya begitu terkejut mendengar kata-kata itu.


" Kenapa jadi membahas itu," sahut Selina pelan.


" Lalu apa yang harus kita bahas. Jika bukan itu," sahut Arif dengan serius.


" Kamu malukan punya pacar yang sangat tua," sahut Arif. Selina melotot mendengarnya dan langsung menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


Usia mereka memang terpaut sangat jauh. Di mana Arif sudah berusia 38 tahun dan Selina baru 25 tahun. Jadi Arif hanya menganggap alasan Selina itu selama ini.


Bersambung


__ADS_2