DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 80 Seperti ada sesuatu.


__ADS_3

Sementara di dalam tenda Verro, Vandy dan Varell yang rebahan berbaris bertiga. Berbaring lurus dengan mata menatap langit tenda.


Vandy yang berada di tengah-tengah heran dengan Varell dan Verro yang berada di kiri dan kanannya.


Ke-2 temannya itu tersenyum lebar dengan ke-2 tangan mereka di letakkan di bawah kepala seakan menjadi bantal. Mata Vandy tidak lepas melihat ke kiri bergantian kekanan heran dengan ke-2 temannya yang seperti tidak biasanya.


" Apa mereka kesambet," batin Vandy geleng-geleng tidak mengerti lagi.


" Woy kalian kenapa sih?" tanya Vandy. Bukannya di jawab Varell dan Verro sama-sama berdecak dengan senyuman.


" Memang ada apa di atas," gumam Vandy melihat ke langit tenda. Siapa tau ada sesuatu yang membuat temannya itu tersenyum sampai tidak mempedulikan dirinya.


Tetapi nihil sama saja di atas tenda juga tidak ada apa-apa. Membuat Vandy garuk-garuk kepala melihat ke-2 temannya.


" Kalian seperti jatuh cinta saja," celetuk Vandy.


" Memang," jawab Verro dan Varell serentak. Mata Vandy melotot mendengar jawaban itu. Vandy langsung melihat Verro dan Varell secara bergantian.


" Jadi benar kalian senyum-senyum karena kalian jatuh cinta," sahut Vandy memastikan. Ke-2 temannya itu mengangguk dengan serentak.


" Astaga," Vandy menepuk jidatnya bisa-bisanya dia berada di antara ke-2 pria dingin dan sekarang ke-2 Pria itu sangat bucin. Memang untuk usia mereka bucin seperti itu sangat wajar.


Vandy langsung duduk dan melihat kembali ke-2 temannya secara bergantian dan tetap sama temannya itu tetap senyam senyum dengan bayangan mereka masing-masing.


" Kalian berdua benar-benar tidak bisa menghargaiku. Aku tau kalian jatuh cinta. Tapi tolonglah ada aku di sini. Tugasku bukan untuk melihat kalian senyum cengengesan," Cerocos Vandy kesal dengan ke-2 temannya yang sama sekali tidak di respon Varell maupun Verro.


" Tunggu dulu! Vandy menjeda omongannya melihat curiga ke arah Varell.


" Kalau Verro wajar jika dia akhirnya jatuh cinta pada Cherry. Tapi kalau kau sama siapa Varell?" tanyanya curiga.


" Jangan bilang sama Nadya," tebak Vandy sebelum menjawab. Varell langsung melihat ke arah Vandy yang sibuk menebak-nebak.


" Lo jadian sama Nadya," ucap Vandy lagi. l


Varell terdiam. Tidak tau apa itu di namakan jadian atau tidak yang dia tau dia berciuman dengan Nadya. Memang Nadya tidak menolaknya. Tetapi Nadya juga tidak memberi kejelasan dalam hubungan mereka.


" Mau tau aja lo," ketus Varell langsung memiringkan tubuhnya. Mendengar ocehan Vandy hanya akan merusak momennya.


" Dan kau Verro, jadi benar sudah jadian dengan Cherry?" tanya Vandy yang seharusnya memang itu harus terjadi.


Tetapi dia ingin memastikannya. Bagaiman mungkin Verro pada akhirnya meruntuhkan tembok besar kegengsian dalam dirinya. Menyatakan perasaan pada wanita yang pasti Verro sahabatnya itu menyukai.


" Jadi benar kalian berdua sudah jadian?" tanya Vandy lagi dengan senyam senyum.


" Mau tau aja," jawab Verro ketus dan langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Vandy.


" Kalian berdua benar-benar. Mentang-mentang sudah punya pacar. Gue di cuekin," kesal Vandy.


" Sudah kalian berdua nikmati aja kesenangan kalian. Biar gue keluar dari pada steres ditengah-tengah orang bucin," oceh Vandy yang langsung keluar dari tenda.


Varell dan Verro tidak peduli dengan Vandy yang keluar dari tenda. Mereka tetap melanjutkan lamunan mereka dengan wajah yang terus tersenyum.


" Entahlah jadian atau tidak yang jelas malam ini sangat berbeda," batin Varell.

__ADS_1


" Aku sangat berharap hubunganku dan Cherry tetap bisa seperti ini," batin Verro dengan penuh harapan.


***********


Azizi keluar dari tenda menuju dapur. Azizi yang haus memang harus ke dapur umum. Karena botol di minum di dalam tenda kosong.


Azizi keluar dari tenda tidak menggunakan kacamata dan juga rambutnya yang juga tidak di kelabang. Rambutnya di gerai seperti biasa saat dia mau tidur.


Saat ke dapur Azizi kaget melihat Fiona yang juga ternyata sedang mengambil minum.


Azizi ragu untuk melanjutkan masuk. Karena masalahnya dengan Cherry membuatnya juga malas dengan Fiona orang yang selalu ingin di ajaknya bicara.


Tetapi karena haus, dia juga akhirnya masuk dan tidak peduli dengan Fiona lagi. Tenggorokannya lebih penting dari pada hal itu.


Melihat kedatangan Azizi dan sudah berada di sampingnya. Fiona melirik dengan tajam. Walau lirikan itu tidak di pedulikan Azizi. Tetapi dia lumayan gemetar saat menuangkan air minum.


" Seperti punya kesalahan saja, sampai tangan bergetar," sinis Fiona dengan santai. Lalu meneguk minuman kembali.


" Salah, aku," tunjuk Azizi pada dirinya melihat ke arah Fiona.


" Salah kenapa. Dan masalah bergetar seharusnya kamu tau. Kalau itu karena ada kamu di sampingku. Aku hanya merasa kurang nyaman berada di sampingmu," sahut Azizi dengan berani bicara pada Fiona.


" Lalu bagaimana jika orang-orang juga tidak nyaman berada di dekatmu," sahut Fiona sinis. Azizi menelan salavinanya seakan ada yang salah dengan kata-kata Fiona yang membuatnya harus menghadap Fiona.


" Apa maksudmu?" tanya Azizi.


" Aku bisa tau semuanya tentang Cherry dan Verro. Tidak menutup kemungkinan aku juga pasti tau tentang dirimu," sahut Fiona bicara dengan santai.


Tetapi mendengar kata-kata itu membuat wajah Azizi memerah seakan panik. Wajah yang tadinya tenang sekarang seakan sangat was-was.


" Kau berjalan dari tenda menuju dapur yang jaraknya 15 meter. Tetapi kenapa tidak memakai kaca mata. Berarti kau bisa melihat dengan jelas bukan. Atau ada sesuatu di balik penampilan cupu itu," desis Fiona yang seakan mengetahui sesuatu.


Jantung Azizi berdetak kencang seperti lari mengelilingi Monas. Debaran yang sangat tidak normal. Bahkan lebih kuat dari pada apa yang di lakukan Vandy kepadanya beberapa jam yang lalu.


" Kenapa Fiona bicara seperti itu, apa yang dia ketahui," batin Azizi dengan tangannya yang saling mengepal.


" Aku menyesal membelamu di kamar mandi. Aku menyesal karena membela orang kuat sepertimu dan gara-gara membelamu juga muncul drama-drama yang tidak jelas," lanjut Fiona lagi.


" Apa maksudmu kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Azizi dengan wajah seriusnya.


" Bersikaplah biasa Azizi, wajah merah mu menunjukkan kegugupan yang luar biasa. Katakan apa kata-kata ku membuatmu tidak nyaman. Atau jangan-jangan kata- kataku sangat menakutimu," sahut Fiona dengan tenang.


" Aku tidak takut denganmu," tegas Azizi.


" Iya aku tau kamu memang tidak akan takut denganku," sahut Fiona.


" Aku hanya ingin melihat sampai kapan kamu bisa bersembunyi di balik penampilan cupu kamu itu," bisik Fiona. Membuat Azizi mengepal tangannya kuat.


" Kamu dengar Fiona. Aku berharap kamu tidak mengurusi kehidupanku. Jangan berani macam-macam dengan urusanku. Aku tidak akan mengampunimu jika sampai hal itu terjadi," tegas Azizi menunjuk wajah Fiona dengan jarinya memberi ancaman. Tetapi Fiona malah tersenyum mendengarnya.


" Kalau kau datang kesekolah sebagai anak baru dengan nada bicara dan wajah seperti ini. Kau tidak akan menjadi bully dari Raquel. Tetapi kau bisa menjadi populer. Tetapi seakan kau datang dengan menutup identitas," sahut Fiona sinis yang benar-benar bicara begitu tenang tetapi sangat menakutkan.


" Fiona aku hanya bisa mengingatkan mu. Jadi jangan mencampuri urusanku, pejamkan itu," tegas Azizi menekan suaranya Azizi. Mengingatkan wanita yang seakan-akan ingin menguasainya.

__ADS_1


Mata Azizi dan mata Fiona sama-sama memandang tajam dengan arti masing-masing. Seakan mata yang saling menantang. Mata itu berhenti saling memandang ketika ada orang yang masuk.


Fiona dan Azizi sama-sama melihat ke arah pintu tenda yang ternyata Vandy yang berdiri di depan pintu tenda dan heran melihat Azizi dan Fiona.


" Vandy," lirih Azizi.


" Azizi," ucap Vandy melihat Azizi yang tampak gelisah.


Pandangan mata Vandy langsung melihat ke arah Fiona yang sangat tajam menatap Azizi. Vandy langsung menghampiri ke-2 wanita itu.


" Mau ngapain kamu?" tanya Vandy pada Fiona seakan Vandy takut jika Azizi di sakiti Fiona. Mengingat Fiona wanita diam. Tetapi sangat membahayakan.


" Aku tidak berbuat apa-apa," jawab Fiona dengan santai.


" Lalu kenapa menatapnya seperti itu?" tanya Vandy. Fiona tersenyum tipis melihat ke arah Azizi.


" Sekarang punya pawang," desis Fiona penuh sindiran dan langsung pergi keluar dari tenda.


Kepergian Fiona membuat Azizi bernapas lega. Tidak tau apa yang di ketahui Fiona tentangnya. Tetapi itu justru membuat Azizi sangat gelisah.


" Kenapa Fiona seperti itu, apa yang dia ketahui tidak dia sangat banyak tahu," batin Azizi yang tidak merasa tenang.


" Kau tidak apa-apa?" tanya Vandy memegang ke-2 bahu Azizi membuat Azizi kaget.


" Azizi," tegur Vandy lagi menatap Azizi dengan rasa khawatir.


" Tidak aku tidak apa-apa. Fiona hanya mengambil air untuk minum dan kebetulan aku juga ingin minum. Jadi tidak ada yang di khawatirkan," jelas Azizi.


Padahal semenjak Fiona banyak bicara. Azizi mulai gelisah bahkan menakutkan sesuatu.


" Tapi kenapa dia seperti itu kepadamu?" tanya Vandy heran.


" Entahlah! aku juga tidak tau," sahut Azizi dengan menggedikkan ke-2 bahunya.


" Syukurlah kalau begitu," ucap Vandy lega. Karena.


Vandy mengambil pengalaman dari Cherry. Hanya karena kata-kata Fiona yang pedas Cherry bisa melakukan sesuatu yang tidak masuk akal dan mungkin Azizi juga akan seperti itu.


Fiona memang penjahat sebenarnya. Diam tetapi sangat sadis dan Fiona menyimpan banyak misteri seakan dia mengetahui semuanya. Termasuk Azizi seperti ada yang di ketahui Fiona sehingga bicara seperti itu.


Dan Azizi seakan menyembunyikan sesuatu. Makanya jadi gelisah dan seperti wanita yang takut sesuatu.


" Kamu ngapain di sini?" tanya Azizi yang tidak ingin memikirkan Fiona lagi.


" Aku hanya malas di tenda. Jadi mau buat kopi dan duduk di luar menghirup udara malam," jawab Vandy.


" Oh begitu, ya sudah aku kembali ke tenda dulu," ucap Azizi pamit membalikkan tubuhnya ingin pergi. Vandy menegangkan tangannya sehingga Azizi menoleh kebelakang dan melihat ke arah tangannya yang sudah di genggam.


" Jika kamu tidak mengantuk kamu bisa temani aku menghirup udara malam," ucap Vandy dengan lembut. Vandy dan Azizi saling menatap. Azizi mengangguk pelan seakan tidak keberatan melakukannya. Vandy tersenyum lebar dengan Azizi yang akan menemaninya.


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2