DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Part 176 Karina yang sadar


__ADS_3

Tit-Tit-Tit-Tit-Tit-Tit-Tit.


Suara mesin jantung Karina berdetak dengan kencang. Clara yang tertidur di samping mamanya langsung terbangun begitu mendengar suara mesin yang mengganggu tidurnya.


Clara mengerjapkan matanya, mengangkat kepalanya. Lalu melihat sang mama.


" Mama," ucap Clara panik saat melihat mamanya yang sudah kejang-kejang. Clara langsung berdiri dengan sisa tenaganya. Memegang lengan mamanya. Dia memang tidak sanggup berdiri lama-lama jadi makanya dia masih lemas.


" Mama apa yang terjadi. Mama," Clara semakin panik dengan keadaan mamanya dan mesin jantung itu sudah lurus. Membuat Clara semakin panik. Dengan buru-buru Clara menekan bel darurat. Untuk memanggil Dokter.


" Dokter, mama saya, Dokter!" teriak Clara memanggil Dokter karena sang mama terus kejang-kejang seperti ayam mau di potong.


Clara berlari keluar memanggil Dokter yang tak kunjung datang.


" Dokter tolong! tolong Dokter!" teriak Clara. Sampai akhirnya Raquel dan 2 suster sudah datang.


" Ada apa?" tanya Raquel.


" Tolong mama saya. Kondisi mama saya memburuk," jawab Clara dengan kepanikan. Raquel langsung masuk kedalam untuk mengecek kondisi pasien. Saat Clara ingin menyusul suster langsung menahannya.


" Silahkan tunggu di luar. Kami akan menanganinya," ucap Dokter.


" Tapi Dok saya ingin melihat ke adaan mama saya," ucap Clara.


" Nanti saja. Kamu tunggu di luar saja dulu," sahut suster yang langsung menutup pintu ruangan perawatan itu.


" Mama," lirih Clara memegang kepalanya dengan air matanya yang sudah keluar.


Dia benar-benar kepanikan dengan kondisi mamanya. Matanya harus menyaksikan. Bagaimana sang mama yang benar-benar kritis dan bahkan kejang-kejang itu sangat menakutkan untuknya.


" Ada apa dengan mama Clara?" tanya Bayu tiba-tiba datang dan melihat Clara yang menagis.


" Mas Bayu," sahut Clara yang kepanikan dan Bayu langsung memeluknya.


" Aku tidak tau kenapa tiba-tiba seperti itu. Kondisi mama semakin memburuk," ucap Clara yang menangis di pelukan Bayu.


" Kamu tenang ya semuanya akan baik-baik saja. Mama tidak akan apa-apa," ucap Bayu meyakinkan Clara yang penuh ketakutan dengan kondisi mamanya.


Setelah menunggu akhirnya Dokter Raquel pun keluar dari ruang perawatan Karina. Clara langsung melepas pelukannya dari Bayu.


" Bagaimana keadaan mama saya Dok. Apa yang terjadi pada mama saya Dok?" tanya Clara dengan panik.


" Mama kamu sudah sadar," jawab Raquel. Clara mendengarnya begitu juga dengan Bayu.


" Dokter serius mama saya sudah sadar?" tanya Clara tidak percaya.


" Iya. Kejang-kejang yang di alaminya membuat dia terbangun, dan ini suatu ke ajaiban," ucap Raquel.


" Lalu apa kami sudah bisa melihatnya," sahut Bayu yang tidak sabaran.

__ADS_1


" Nanti ketika Bu Karina sudah di pindahkan keruang perawatan. Baru kalian boleh melihatnya," ucap Raquel.


" Iya Dok," sahut Clara.


" Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Raquel pamit.


" Iya Dokter, terima kasih," sahut Kiara dengan meletakkan ke-2 tangannya di wajahnya. Dia benar-benar tidak percaya jika sang mama benar-benar sadar kembali.


" Mama sadar ini hal yang bagus. Aku akan membujuk mama untuk kembali ke Jerman. Sebelum semuanya semakin sulit," batin Bayu yang langsung merencanakan sesuatu.


***************


Verro duduk sofa di ruang tamu dengan kakinya yang terbuka sedikit. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia masih mengingat mimpinya.


" Kenapa aku tidak pernah bertemu Om Laskarta. Kenapa dia menghilang begitu saja. Semenjak Cherry meninggal. Dan bahkan tidak ada satupun kerabat Cherry yang datang," ucap Verro yang tiba-tiba memikirkan hal lain.


Setelah memimpikan hal yang aneh mengenai Cherry. Pikiran Verro entah kemana-mana. Dan sekarang dia malah memikirkan Laskarta.


" Kenapa Cherry begitu mirip dengan Clara. Itu bukan kebetulan. Suara mereka bahkan sama. Dan cara menatap pun masih sama. Siapa sebenarnya Clara dan kenapa dia seperti wanita yang amnesia," batin Verro yang mencurigai jika ada keganjalan.


" Tari bilang. Clara akan kembali ke Jerman. Tidak. Aku tidak bisa membiarkan hal itu. Ini bukan perkara dia mirip dengan Cherry atau apapun. Tetapi harus memastikan dulu kondisnya. Aku harus tau siapa sebenarnya Clara dan obat yang di katakan Tari aku harus mendapatkannya dulu," ucap Verro yang meyakini sesuatu dan sepertinya tidak akan membiarkan Clara kembali ke Jerman.


Verro memang baru menyadari ke anehan setelah dari sekian lama. Padahal orang-orang saja sibuk merasa aneh dan ada yang meyakini jika itu Clara dan ada juga yang tidak meyakini bahwa itu Cherry.


********


Varell yang masih berada di rumah Nadya ikut makan malam bersama. Mamanya dan juga Nadya dengan makanan yang ala kadarnya.


" Iya Tante, terima kasih," ucap Varell sedikit sungkan.


" Mama kenapa sih. Harus ikut ajakin Varell makan segala. Apa mama pikir lidahnya cocok dengan makanan ini," batin Nadya yang sedari tadi gelisah.


" Apa maknanya tidak enak?" tanya Nini.


" Tidak Tante makanannya bahkan sangat enak. Ini makanan yang terenak yang pernah Varell makan," sahut Varell


" Ini lagi suka banget di lebih-lebihkan," batin Nadya yang benar-benar tidak nyaman.


" Oh iya Nadya sejak kapan kamu kenal Varell?" tanya Nani.


" Varell teman 1 sekolah Nadya dulu ma," jawab Nadya dengan singkat.


" Wau sudah lama dong. Tapi kok kamu tidak pernah bawa Varell kerumah ini," ucap Nani.


" Apaan sih mama nanya kayak gitu segala," batin Nadya yang tampak risih dengan mamanya. Yang membuatnya tidak nyaman.


Mamanya mungkin berpikiran. Jika hubungannya baik-baik saja dengan Varell. Padahal tidak sama sekali.


" Nadya memang seperti itu Varell. Tidak pernah membawa teman kerumah ini. Dan baru kamu yang pertama datang kerumah ini," ucap Nani

__ADS_1


" Benarkan Tante," sahut Varell melihat sebentar ke arah Nadya.


Mendengarnya dia sangat bahagia. Itu berarti selama mereka berpisah. Nadya juga tidak menjalin hubungan dengan orang lain.


" Ma sudahlah. Ini lagi makan. Jangan membicarakan hal yang tidak penting," ucap Nadya dengan kesal.


" Aku tau Nadya kamu tidak nyaman dengan keberadaan ku. Tetapi aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Aku tidak bisa jauh dari kamu," batin Varell yang memang tidak akan menyerah dengan hubungannya dan Nadya.


" Ya sudah lanjutin makannya. Habis makan. Kalian mengobrol lagi," ucap Nani kembali mempersilahkan. Varell tersenyum tipis.


" Varell kenapa tidak pernah mengerti situasi ku. Apa dia tidak tau aku sangat bingung dengan semua ini. Kita sudah berpisah 5 tahun yang seharusnya kamu benar-benar bisa melepaskanku. Bukan malah semakin dekat denganku," batin Nadya.


Setelah makan malam selesai. Nani membiarkan Nadya dan Varell berduaan. Dan mereka mengobrol serius di dekat mobil Varell.


" Apa memang kamu tidak bisa memberiku. 1 kesempatan lagi?" tanya Varell yang benar-benar berharap banyak.


" Varell. Kamu tau jawabannya," jawab Nadya.


" Nadya, kamu jangan seperti ini. Aku hanya ingin kita seperti dulu," ucap Varell yang berusaha membujuk Nadya.


" Seperti dulu apa. Kita yang pacaran. Pacaran yang seperti apa. Pacaran yang membuat kamu dan mama kamu terus ribut. Varell aku tidak mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Kita tidak di takdirkan untuk bersama,"


" Mama kamu tidak menyetujui hubungan kita dan kamu tau kenapa hal itu terjadi dan aku tidak mau sampai harus membuat ibu dan anak kembali ribut," ucap Nayra dengan matanya yang bergenang berusaha menjelaskan kepada Varell.


" Nadya. Tapi itu tidak salah kamu. Apa yang terjadi antara aku dan mama. Karena memang kami berbeda pendapat dan kamu tidak salah. Hubungan kita juga tidak salah," ucap Varell mencoba menjelaskan.


" Cukup Varell. Aku mohon sudah. Biarkan aku hidup tenang seperti 5 tahun belakangan ini. Aku punya ibu. Jadi aku mohon jangan nganggu kehidupan kami. Aku tidak ingin kita yang menjalin hubungan keluargamu merusak kehidupan ibuku. Jadi aku mohon cukup hentikan semuanya," ucap Nadya dengan keputusannya yang tidak akan melanjutkan hubungannya dengan Varell.


" Apa kamu merasa tenang selama kita berpisah?" tanya Varell.


" Iya aku sangat tenang dan sangat nyaman selama itu dan sekarang aku menjadi resah semenjak kamu datang," jawab Nadya dengan menekankan.


" Kalau begitu katakan. Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Varell yang ingin memastikan perasaan Nadya kepadanya.


Nadya terdiam dan mengalihkan pandangannya. Dia tidak tau harus menjawab apa.


" Jawab Nadya, aku ingin mendengarnya," ucap Varell yang menunggu-nunggu jawaban itu.


" Iya aku tidak mencintaimu lagi," jawab Nadya tanpa melihat Varell. Varell mendengarnya tersenyum.


" Kau bohong Nadya. Kau bahkan mengatakannya tanpa melihatku," sahut Varell. Nadya yang tampak gelisah semakin bingung.


" Tatap aku dan katakan jika kau tidak mencintaiku lagi," ucap Varell memegang ke-2 bahu Nadya. Sedikit memaksa Nadya. Nadya dengan keberaniannya dan kekuatan yang iya miliki menatap Varell.


" Aku tidak mencintaimu. Jadi pergilah dari hidupku jangan menggangguku. Aku ibu ku ingin hidup damai," ucap Nadya dengan penuh penegasan dan penekanan. Nadya menjatuhkan tangan Varell dari bahunya.


" Aku berharap ini terakhir kalinya kau datang kemari," ucap Nadya langsung pergi.


" Nadya," panggil Varell. Nadya tidak mempedulikan dan tetap melangkah memasuki rumahnya.

__ADS_1


" Tidak mungkin kau sudah tidak mencintaiku. Aku sangat tau. Bagaimana perasaanmu kepadaku. Kau hanya membohongi dirimu saja Nadya. Kau sangat mencintaiku," batin Varell yang masih yakin dengan adanya cinta untuknya.


Bersambung...


__ADS_2