
" Ya sudah, ayo kita Kesana. Sorry ya aku sudah pasang tenda duluan, soalnya kalian kelamaan," ucap Toby.
" Oke tidak masalah, yang penting nanti kita di bantuin," sahut Vandy.
" Sip, ya sudah ayo!" ajak Vandy lagi.
Raquel dan Aldo mengangguk. Mereka mengeluarkan beberapa peralatan dari mobil. Tetapi Sasy masih bengong dan masih kurang percaya kalau itu benar-benar Toby.
" Sasy bantuin jangan bengong mulu," teriak Raquel yang keberatan membawa peralatan.
" Oh, iya," sahut Sasy yang akhirnya membantu Raquel. Dia memang terlihat seperti orang linglung.
" Masa iya sih dia Toby, kok lebih cakep dari fotonya ya," batin Sasy yang masih ragu-ragu.
Secara langsung Sasy memang tidak pernah bertemu Toby. Kalau ada perkumpulan atau reunian mereka tidak pernah bertemu langsung.
Kalau Toby tidak ada Sasy ada. Kalau Sasy tidak ada Toby tidak ada. Jadi mereka memang tidak pernah bertemu secara langsung.
Tetapi Sasy tau kalau Toby memiliki profesi sebagai pilot. Karena dia sering stalking Instagram milik Toby dan ternyata tidak di sangka-sangka kalau Toby lebih tampan dari dugaannya.
*********
Camping mereka berjalan dengan lancar. Mereka banyak mengobrol dengan heboh sampai malam hari. Sekang mereka sedang barbeque an.
Sasy berdiri sendiri di depan pembakaran, sedari tadi dia membolak-balikkan sosis. Sementara Aldo, Vandy dan Verro terus bercerita sambil tertawa terbahak-bahak.
" Sudah ada yang masak?" tanya Raquel tiba-tiba sudah ada di samping Sasy membuat Sasy terkejut.
" Ngagetin aja lo," ucap Sasy mengusap dadanya masih jantungan dengan Raquel yang datang tiba-tiba.
" Lagian kamu kenapa sih dari tadi diam baye. Nggak kayak biasanya," ucap Raquel yang ikut membalik- balikkan sosis.
" Oh gue tau, Kamu pasti masih schok ya ketemu sama Toby secara langsung," tebak Raquel menatap Sasy curiga.
" Apaan sih," sahut Sasy salah tingkah.
" Udah ngaku aja, wajah mu sampai merah apa namanya kalau tidak pangling pas melihat Toby," goda Raquel yang sudah mulai memindahkan sosis ke atas piring.
__ADS_1
" Nggak usah resek deh Raquel," sahut Sasy lama-lama kesal.
" Siapa yang resek. Wajah mu tidak bisa bohong sangat jelas terlihat. Kalau kamu itu terlihat canggung kalau ada Toby. Malah sampai mendadak diam, kalem nggak kayak biasanya pecicilan," ucap Raquel tau aja apa yang di rasakan Sasy.
Dia memang sangat canggung dengan Toby. Bahkan sedari tadi dia dan Toby tidak berbicara satu katapun. Kecuali pas bertemu saat bertanya kabar saja.
" Sudah sana dekati dia Tampan gitu di anggurin. Bukannya kamu bilang. Kalau temannya Vandy cowok tampan mau di deketin di jadiin gebetan, tunggu apa lagi," ucap Raquel yang terus menggoda Sasy yang pipinya semakin merah.
" Nggak usah aneh-aneh, nggak jelas banget," sahut Sasy kesal.
" Pake malu-malu lagi. Tapi masalahnya Vandy mau nggak ya sama kamu," celutuk Raquel langsung pergi membawa beberapa sosis yang sudah di masukkannya kedalam piring.
" Sialan lo," geram Sasy kesal.
" Apaan sih, si Raquel, ngomong aja seenaknya. Nyesal banget aku ikut camping kayak gini kayak nggak tau mau ngapain," ucap Sasy yang mengoceh sendirian.
Sasy tetap melanjutkan membakar sosis tanpa mau bergabung dengan yang lainnya. Dia memang mendadak diam.
Jadi harap maklum. Sasy hanya berdiri di depan pembakaran sambil sebentar-sebentar matanya melihat ke arah teman-temannya yang mengobrol dengan asyik.
" Masih ada sudah masak," suara dingin itu membuat Sasy kaget kembali. Tapi kagetnya lebih parah saat yang bertanya itu adalah Toby yang sudah berdiri di sampingnya.
" Sasy apa ada yang sudah masak?" tanya Toby sekali lagi yang melihat Sasy bengong.
" Hey," Toby sampai harus mengelengkan tangannya di wajah Sasy yang mematung dan langsung membuat Sasy sadar dari lamunannya.
" Oh iya, ada," jawab Sasy semakin gugup, " mana piring nya?" tanya Sasy.
" Nih," sahut Toby memberikan pada Sasy.
" Kamu kok nggak ikut gabung?" tanya Toby. Yang terus memegang piring dan Sasy memasukkan sosis kedalam piring.
" Kan lagi bakar sosisnya," jawab Sasy dengan tangan bergetar. Berusaha untuk tenang.
" Sudah selesai," ucap Sasy yang sudah menaruh habis semua sosis kepiting Toby.
" Ya sudah ayo gabung!" ajak Toby.
__ADS_1
" Iya nanti aku menyusu," jawab Sasy yang masih kikuk aja. Toby pun mengangguk dan pergi duluan.
Bisa-bisanya Sasy diam seribu bahasa dengan Toby yang dulu kalau apa-apa kepala Toby langsung di geplaknya dan sekarang malah tidak berani. Jangan kan memukul bicara saja Sasy sangat mengirit. Maklumlah dia sangat canggung.
*********
Rumah sakit
Mobil ambulan dengan suara sirine yang kuat sudah berhenti di depan rumah sakit. Para suster sudah membawa kreta dorong pasien untuk langsung memindahkan pasien dari dalam ambulan.
Ternyata pasien itu adalah anak kecil seorang laki-laki. Dengan wanita yang yang sangat terlihat panik dan ikut mendorong kereta pasien seperti suster. Wanita itu sangat panik dengan dengan putranya yang berusia 6 tahun yang tidak sadarkan diri.
Verro langsung berlari menyusul para suster saat mendengar ada pasien kritis. Ketika melihat pasien tersebut Verro yang panik ikut mendorong sambil langsung memeriksa.
" Tolong anak saya Dok," ucap wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat Dokter yang menunduk terus memeriksa anak kecil tersebut.
" Ibu tenang saja. Kami akan berusaha," jawab Verro yang juga mengangkat kepalanya dan akhirnya saling melihat dengan wanita itu di tengah jalan yang buru-buru.
" Azizi," ucap Verro yang keget dan jelas dia masih mengingat Azizi teman 1 sekolahnya dulu.
" Verro," lirih Azizi yang juga mengenali Verro.
Lama mereka saling mengingat akhirnya sampai kedepan ruang ICU.
" Ibu tunggu di luar," suster langsung menghalangi Azizi. Ketika mau ingin masuk.
" Tapi Sus, anak saya bagaiman," sahut Azizi yang benar-benar panik dan ikut masuk. Verro yang sudah di dalam ruangan ICU langsung menghampiri suster yang ingin menutup pintu.
" Azizi, kamu tenang ya, kamu tunggu di luar saja. Anak kamu tidak akan apa-apa," ucap Verry mengusap bahu Azizi agar mempercayainya.
" Tolong dia Verro, aku mohon," ucap Azizi dengan bibirnya yang bergetar meminta tolong agar Verro menyelamatkan putranya.
" Iya pasti, kamu tunggu di luar ya," ucap Verro lagi. Akhirnya Azizi mengangguk dan menunggu di luar dengan gelisah.
" Semoga Iqbal tidak apa-apa, ya Allah tolong putraku," ucap Azizi yang benar-benar panik. Sangat takut putranya kenapa-napa.
Azizi hanya menunggu Dokter keluar dari ruangan ICU tersebut. Dia sangat ketakutan yang tiba-tiba berada di kantor dan pembantu rumah tangganya memberi kabar jika putranya pingsan.
__ADS_1
Hal itu langsung membuatnya buru-buru pulang. Saat pulang putranya masih tetap pingsan dan Azizi langsung membawanya ke rumah sakit.
Bersambung