
Verro masih berada di dalam mobil duduk di samping supir sementara papa dan ibu tirinya ada di kursi belakang.
Wajah Verro sangat kesal entah apa rencana papanya yang harus mengantarnya ke sekolah seperti anak kecil.
Bukan hanya itu bahkan di ujung bibirnya terdapat luka. Sepertinya Verro sedang mendapat pukulan dari papanya. Papa dan ibu tirinya terus berbicara dengan sambil tertawa di belakangnya.
" Ingat Verro jaga Cherry, kau harus membuatnya senang di sana, jangan membuatnya menangis, apa lagi sampai penyakitnya kambuh, kamu akan tau sendiri akibatnya," ucap Hariyanto dengan tegas dan penuh ancaman.
Verro yang mendengarnya hanya mengepal tangannya. Sangat ingin melompat dari mobil tersebut, supaya tidak mendengar ocehan papanya yang sudah entah berapa kali mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
" Lagi pula apa salahnya memberinya kebahagian sedikit, tidak akan merugikan kamu, kamu juga yang untung, kamu harus terus membuatnya senang, Jika perlu..."
" Apa papa ingin aku melakukan hal yang lebih," sahut Verro memotong pembicaraan papanya.
" Jika itu perlu mengapa tidak asal dia bahagia dan suasana hatinya bagus, kamu sudah dewasa dan papa rasa tidak ada masalah jika melakukan hal lain," ucap Hariyanto yang membuat Verro mendengus kesal.
Dia tidak tau dia bicara dengan orang tuanya atau dengan iblis yang benar-benar demi kekuasaan rela menyuruhnya melakukan hal yang tidak-tidak kepada Cherry.
Supaya Cherry tidak pergi darinya. Terkadang Verro berpikir kenapa dia bisa punya papa seperti itu yang memanfaatkannya dengan keterlaluan.
" Apa papa benar-benar gila, kenapa menyekolahkan ku, kalau pada akhirnya mengajarkanku, hal yang tidak bermoral," sahut Verro menekan suaranya.
" Tutup mulut kamu. Jangan mengajari papa masalah tidak bermoral. Kamu tidak mengerti masalah bisnis. Dan permainan dalam bisnis memang seperti itu sudah biasa," sahut Hariyanto dengan sinis membenarkan perkataannya.
" Kalau begitu kenapa papa tidak mencari wanita kara raya saja lalu menariknya keranjang papa agar dia tidak lepas dari papa, kenapa menikahi wanita yang kekayaannya tidak seberapa," sahut Verro sinis yang pasti menyindir ibu tirinya.
" Verro," bentak Hariyanto.
" Aku lupa dulu papa juga mengajarkanku hal itu. Papa bersenang-senang dengan wanita lain di kamar mama di depan mataku, sementara mama sedang di rumah sakit, seharusnya aku tidak heran dengan tabiat jelek dan otak kotor papa," lanjut Verro yang benar-benar hilang kesabaran.
" Kurang ajar kamu," Hariyanto langsung memukul kepala Verro dengan kuat. Untung Verro tidak geger otak.
" Berani sekali kamu bicara seperti itu. Kamu tau kata-kata kamu melukai mama kamu," ucapnya dengan keras.
" Mas sudah, tidak apa-apa, aku terbiasa seperti itu," ucap Farah memegang lengan suaminya berpura-pura sedih dengan kata-kata Verro yang sangat menyakitkan.
Sementara Verro hanya tersenyum miring melihat sandiwara ibu tirinya yang memuakkan menahan rasa sakit di hatinya dan juga kepalanya akibat pukulan papanya.
Supir di samping Verro hanya melirik sudah terbiasa dengan hal itu. Bukan pertama kali dia melihat Verro bertengkar dengan papanya. Tetapi sebagai supir dia tidak mungkin ikut campur.
" Jika kamu berani bicara sekali lagi kamu akan tau akibatnya," ucap Hariyanto dengan tegas memberi ancaman.
" Terus saja mengancam," batin Verro yang terus menahan kekesalannya.
" Kamu pikir kamu sudah merasa paling hebat hah!" pekik Hariyanto lagi benar-benar geram dengan Verro.
__ADS_1
Verro hanya diam menahan kekesalan dengan adanya Study tour paling tidak akan pernah membuatnya mendengar ocehan papanya lagi. Kecuali Cherry yang selalu di tuduhnya mengadukannya.
" Anak ini benar-benar semakin lama semakin menjadi-jadi," batin Farah yang begitu sakit hati dengan perkataan Verro yang memang tidak pernah berkata baik kepadanya.
Sementara di sisi lain Cherry terus memeluk papanya di dalam mobil di kursi pengemudi. Maklumlah dia akan merindukan papanya. Jadi harus terus memeluk papanya sampai ke sekolah.
" Kalau begini ceritanya papa yang akan kangen cepat ini," ucap Laskarta.
" Papa jangan bilang seperti itu, nanti Cherry nangis, Cherry sudah tahan air mata supaya tidak keluar," sahut Cherry yang memeluk erat.
" Iya sayang," ucap Laskarta.
Tidak berapa lama mobil yang yang ditumpangi laskarta sudah tiba di depan sekolah. Supir langsung membukakan pintu mobil untuk Cherry dan Laskarta.
" Cherry, sudah sampai, mau sampai kapan peluk papa?" tanya Laskarta.
" Cepat banget sampainya," sahut Cherry melihat ke luar yang memang benar-benar sekolahnya. Laskarta geleng-geleng melihat putrinya yang sangat berat untuk meninggalkannya.
" Ayo turun," ucap Laskarta.
" Iya pa," jawab Cherry yang mulai turun dari mobil.
" Itu Cherry," ucap Sasy saat melihat temannya ke luar dari mobil.
" Mobil Verro juga sudah datang," sahut Azizi yang melihat mobil Verro berada di belakang mobil Cherry.
" papa makasih ya sudah antar Cherry, Cherry senang sekali, padahal papa juga ada penerbangan ke Luar kota," ucap Cherry yang tersenyum lebar berdiri di depan papanya. Laskarta tersenyum dan mengusap rambut Cherry.
" Iya sayang yang jelas, kamu jaga kesehatan, jangan lupa minum obat, dan jangan lelah-lelah dan jika terjadi sesuatu langsung telpon papa yang paling penting nurut sama Verro," ucap Laskarta dengan penuh penegasan yang terus mengingatkan Cherry m
" Pasti pa, papa tenang aja, semua akan beres," sahut Cherry dengan yakin mengajukan jempolnya.
" Cherry," sapa Hariyanto dengan ramah yang langsung mendekati Cherry.
Cherry tersenyum tipis ketika melihat orang tua Verro. Cherry pasti dengan sopan mencium punggung tangan ibu tiri dan papa Verro.
Cherry juga melihat Verro yang berdiri di belakang papanya dengan wajah kesal dan ujung bibir yang luka.
" Hariyanto," sahut Laskarta. Hariyanto langsung menyalam dan berpelukan sok akrab. Sesuai apa yang di pikirkan Verro.
" Verro bagaimana ke adaan kamu?" tanya Laskarta.
" Baik om," jawab Verro datar mencium punggung tangan Laskarta.
" Cherry, kamu cantik sekali," puji Farah mengusap-usap lengan Cherry
__ADS_1
" Terima kasih Tante," jawab Cherry. Cherry memang semenjak mendengar pembicaraan orang tua Verro tempo lalu, sudah merasa palsu dengan semua yang di perbuat dan di ucapkan ke-2 orang tua tersebut. Jadi dia sudah tidak respeck lagi.
" Oh iya ini Tante, bawa ini untuk kamu," ucap Farah memberikan paper back. Cherry mengambilnya dan melihat isinya yang ternyata minuman ke sukaannya.
" Makasih Tante, tapi ini merepotkan," jawab Cherry.
" Benar kata Cherry, kalian pasti sangat repot," sahut Laskarta.
" Tidak lah mas, walau memang Farah sedari tadi malam sangat bawel masalah minuman itu. Dia selalu terus mengingatnya yang ada di otaknya hanya Cherry dan minuman itu. Sangking takutnya kelupaan di masukkan kedalam mobil terlebih dahulu," jelas Hariyanto dengan karangan ceritanya yang sudah di hapalnya entah dari kapan.
Verro hanya mendengus mendengar cerita papanya yang tampak sempurna. Sementara Cherry hanya tersenyum, sekedar menghargai.
" Astaga, sampai seperti itu, saya sungguh merepotkan, Cherry apa kamu meminta ini?" tanya Laskarta.
" Tidak pa," jawab Cherry.
" Tidak apa-apa mas, saya senang memberikan apa yang Cherry suka," ucap Farah mengusap pipi Cherry.
" Saya harus berterima kasih banyak," ucap Laskarta, Farah dan Hariyanto saling tersenyum.
" Memang ini yang di katakan jodoh, berkat kepergian mereka. Kita jadi bisa bertemu," ucap Hariyanto.
" Ahhhhh, kamu bisa saja. Tapi memang benar. Ya kalau tidak seperti ini kapan lagi kita bertemu. Kita semakin sibuk," sahut Laskarta menepuk bahu Hariyanto.
Cherry berekspresi biasa. Dia juga tau jika Hariyanto hanya berpura-pura baik di depan papanya dan semakin lama semakin banyak cerita.
" Kita harus menjadwalkan pertemuan. Sekalian membahas proyek yang ke..."
" Pa," sahut Cherry yang memotong kalimat Hariyanto.
Yang pasti membuat Hariyanto tersenyum namun geram dengan Cherry yang memotong pembicaraannya mengenai bisnis.
" Cherry mau gabung dulu sama teman-teman Cherry, sebaiknya papa juga ke Bandara ini sudah sangat siang takutnya papa telat," sahut Cherry yang tidak ingin membuat Verro tambah kesal.
" Ya ampun, papa juga lupa, jam brapa ini," sahut Laskarta melihat arloji tangannya, " Ya sudah sayang kamu hati-hati di sana ya," ucap Laskarta mencium pucuk kepala Cherry.
" Mas tenang saja, ada Verro yang menjaganya," sahut Farah.
" Iya benar, Verro maaf ya sebulan kedepan kamu akan di buat kesal oleh Cherry, kamu tenang saja kalau Cherry bandal kamu bilang sama om," ucap Laskarta Verro menanggapi hanya senyum tipis.
" Mas ini apa-apaan Cherry tidak mungkin bandal. Cherry kalau Verro jahat sama kamu lapor sama om," sahut Hariyanto dengan menyipitkan matanya.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya