DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 284 Harapan yang terbaik.


__ADS_3

Pagi hari kembali tiba Azizi dan Vandy berada di sofa di mana terlihat pasangan suami istri itu tertidur dalam keadaan duduk di mana Azizi berada di pelukan Vandy.


Dia begitu nyaman berada di pelukan Vandy. Makanya Azizi tertidur dengan lelap sampai tidak sadar jika sudah pagi hari.


1 tangan Vandy merangkul pundak Azizi dan satunya lagi menggengam tangan Azizi dengan erat. Layaknya pasangan yang saling mencintai.


Walau sebenarnya memang ada cinta di antara ke-2nya. Namun cintanya masih tertahan. Tetapi mereka saling menguatkan 1 sama lain.


Ceklek, Sasy memasuki kamar itu tanpa mengetuk pintu dan melihat keadaan yang manis itu membuat langkahnya tidak jadi masuk kedalam.


" Kenapa?" tanya Toby yang ternyata ikut bersamanya. Sasy pun dengan perlahan menutup pintu dan tidak jadi masuk membuat Toby heran.


" Kok, di tutup, memang ada apa?" tanya Toby heran.


" Mereka lagi, saling menguatkan, mending kita nggak usah ganggu," ucap Sasy.


" Ya Kitakan mau jenguk Iqbal," sahut Toby.


" Sudahlah, nanti saja, mendingan kamu sana kerja. Bukannya kamu ada penerbangan," ucap Sasy malah menyuruh pacarnya buru-buru untuk kerja.


" Kamu mengusirku," sahut Toby.


" Ishhhh, kamu ini langsung deh berpikiran buruk," sahut Sasy dengan menarik ujung bibirnya.


" Ya sudah, kalau begitu pergi dulu, dalam buat Vandy dan Azizi, nanti kalau Iqbal sadar sampaikan juga salamku," ucap Toby mengusap lengan Sasy.


" Oke," sahut Sasy. Toby mencium keningnya dengan lembut.


" Aku pergi dulu," ucap Toby pamit. Sasy mengangguk dengan tersenyum dan Toby pun langsung pergi.


" Daaaaa," sahut Sasy melambaikan tangannya. Toby hanya membalas sekali saja.


" Ehemm," tiba-tiba terdengar suara deheman yang tak lain adalah Raquel yang terlihat sewot dengan melipat tangannya di dadanya.


" Masih pagi juga, sudah romantis-romantisan," ucap Raquel rada iri.

__ADS_1


" Ishhh, apaan sih, sirik amat. Mentang-mentang yang sudah dekat sama Dokter Arif," sahut Sasy yang malah menggoda kembali.


" Siapa juga yang dekat jangan mengada-ada," sahut Raquel mengelak.


" Udahlah ngaku aja. Kemarin ngapain coba berlama-lama dengan Dokter Arif. Ayo apa coba kemarin," goda Sasy menatap penuh dengan curiga.


" Kemarin apaan, orang kita hanya jalan aja, kayak kamu dan yang lainnya," sahut Raquel mengelak.


" Alah bohong, masa iya jalannya ber-2an. Bahkan sengaja menjauhkan diri dari Nadya. Supaya bisa berduaan dengan Dokter Arif," sahut Sasy.


" Ishhh, kenapa jadi bawa-bawa Nadya. Nggak ada hubungannya kali," sahut Raquel.


" Ya iya lah, kemarin malam waktu di Jepang, kamu lagi jalan sama Nadya. Tapi masa iya tiba-tiba kamu terpisah dari Nadya. Dan apa yang kamu lakukan, kamu tidak mengangkat telponnya karena sibuk dengan Dokter Arif, ayo ngaku, kamu ini ya sampai Nadya kesasar dan hampir tidak pulang," sahut Sasy dengan kesal.


" Ishhh, Sasy, kalau masalah Nadya, aku memang sengaja. Kemarin aku lihat Varell. Aku sengaja terpisah sedikit dengan dia. Karena aku melihat Varell. Aku ingin memberikan mereka waktu untuk bicara di moment yang tepat dan memang iya aku sengaja tidak mengangkat telponnya dan masalah aku bersama Dokter Arif. Itu tidak sengaja bertemu," jelas Raquel yang ternyata sengaja membuat Nadya kesasar demi rencana untuk menyatukan Varell dan Nadya.


" Masa iya," sahut Sasy tidak mudah percaya.


" Ya emang iya, terserah kalau tidak percaya," sahut Raquel.


" Ishhhh, mulai lagi deh," sahut Sasy kesal yang di goda terus.


" Memang kenyataan kok. Alah kamu pakai malu-malu. Buktinya mau dan jalannya juga berlanjut," ucap Sasy.


" Ishhh, sudahlah, terserah kamu. Yang jelas aku sama Dokter Arif nggak ada hubungan apa-apa seperti yang di pikiran kamu dan satu lagi. Kamu jangan kebiasaan banyak bicara di depan Dokter Arif. Bikin malu tau," tegas Raquel dengan wajahnya yang serius.


" Tumben tau malu, biasanya malah malu-malu maluin," sahut Sasy.


" Ishhh, mulutnya ini benar-benar," sahut Raquel kesal.


" Sudah ah, aku mau masuk, mau lihat Iqbal," ucap Raquel malas menghadapi Azizi ingin masuk. Namun langsung di cegah Sasy.


" Eh, jangan-jangan," sahut Sasy langsung menghadang pintu membuat Raquel bingung.


" Ada apa?" tanya Raquel heran.

__ADS_1


" Nggak usah, nanti aja, mereka lagi istirahat. Vandy dan Azizi," jawab Sasy.


" Ya kan aku mau lihat Iqbal," sahut Raquel.


" Sudah nanti aja. Kita kekantin aja. Aku lapar," ucap Sasy yang langsung menarik tangan Raquel membuat Raquel kebingungan. Namun mengikut saja.


*********


Di sisi lain. Verro sedang menyetir bersama dengan Cherry sang istri. Verro melihat ke arah istrinya yang duduk tampak begitu sendu seperti memikirkan sesuatu. Verro langsung memegang tangan Istrinya dan Cherry menoleh ke arah Verro dengan tersenyum tipis.


" Kamu kenapa?" tanya Verro.


" Aku tidak apa-apa, aku hanya kepikiran dengan Iqbal," jawab Cherry.


" Memang ada apa?" tanya Verro.


" Kasihan Azizi, dia pasti berat banget mengahadapi masalah ini. Dia pasti sangat ketakutan dengan kondisi Iqbal yang semakin parah," ucap Cherry yang meletakkan kepalanya di bahu Verro.


" Hmmm, aku pernah berada di posisinya. Saat itu aku juga sangat takut. Jika apa yang di takutkan akan terjadi. Kamu juga sama seperti Iqbal. Kamu tau apa yang di rasakan Iqbal. Kamu pernah mengalaminya dan berusaha untuk kuat sepertinya. Aku juga Azizi. Aku merasakan hal yang sama," sahut Verro.


" Kanker, itu sangat menyakitkan Verro. Aku selamat tetapi ada yang berkorban. Papa harus pergi hanya untuk menyelamatkanku. Tetapi aku merasa tetap sama seperti dulu. Seperti yang aku katakan sembuh salah dan tidak sembuh salah. Aku juga pernah kehilangan sahabat. Siska yang juga terkena kanker hati dan aku kehilangannya saat itu," ucap Cherry meneteskan air mata.


" Hmmm, aku tau perasaan kamu. Makanya saat Iqbal mengalami ini kamu merasa sedih," sahut Verro.


Cherry melihat ke arah Verro.


" Kamu dulu pernah bilang. Kamu ingin menjadi Dokter karena ingin menyembuhkan ku. Tetapi aku sembuh saat kamu belum menjadi Dokter. Maka kamu harus menyembuhkan orang-orang seperti aku dulu," ucap Cherry, Verro tersenyum mendengarnya dan menganggukan matanya.


" Pasti, aku akan menyembuhkan mereka. Iqbal dan penderita lainnya. Akan aku sembuhkan ketika tuhan merestuinya," sahut Verro. Cherry mengangguk dan kembali memeluk Verro dan Verro mencium pucuk kepala sang istri.


" Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan para pasien yang penderita kanker," ucap Verro.


" Iya," jawab Cherry tersenyum.


" Ya Allah, aku mohon berikan kesembuhan untuk Iqbal anak dari sahabatku dan juga temanku Fiona yang juga sedang berjuang melawan kanker nya. Berikan mereka kekuatan dan angkat penyakit mereka," batin Cherry yang berdoa dengan tulus.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2