DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 149


__ADS_3

Azizi masih berdiri memperhatikan anaknya bersama Vandy. Anaknya tampak bahagia dengan perlakuan Vandy.


" Ayo makan lagi yang banyak. Supaya tubuhnya semakin besar dan tidak kurus seperti tiang listrik," ucap Vandy dengan nada bercandaan.


" Aaaaa," Iqbal langsung membuka mulutnya lebar sambil cengengesan. Padahal makanan di dalam mulutnya belum habis sama sekali. Tetapi memang mulutnya ingin makan saja.


" Anak pintar," ucap Vandy mengacak rambut Iqbal. Iqbal memang sangat cepat akrab dengan Vandy.


Mungkin karena Iqbal belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Di tambah Vandy memang sangat pintar dalam mendekati anak-anak.


Karena Dokter memang harus bisa mencuri perhatian seorang anak. Agar anak-anak tidak fobia dengan rumah sakit dan jarum suntik.


" Aku tidak tau kenapa aku merasa nyaman sekali bersama anak ini. Bahkan aku seakan bisa merasakan rasa sakitnya. Kenapa harus anak seperti ini yang menderita kanker," batin Vandy yang merasakan aneh di perasaannya.


" Apa karena dia hanya berhubungan dengan Azizi. Makanya aku merasa nyaman. Tapi kenapa beda rasanya. Aku merasakan seperti ada sesuatu," ucapnya di dalam hatinya merasakan ada hal yang aneh.


" Om Dokter tidak makan?" tanya Iqbal.


" Oh. Tidak Om Dokter sudah kenyang," jawab Vandy tersenyum.


" Berarti makanannya untuk Iqbal semua," sahut Iqbal. Vandy mengangguk.


" Makasih Om Dokter," sahut Iqbal dengan senyum lebarnya. Vandy mengangguk-angguk dengan tersenyum.


" Apa yang kamu lakukan Vandy. Kenapa kamu membuat anakku menjadi dekat dengan mu," batin Azizi yang terus melihat ke arah Vandy.


" Mama!" tegur Ia Iqbal yang melihat mamanya berdiri di depan pintu. Vandy pun menengok kebelakang dan melihat Azizi.


" Mama kenapa tidak masuk?" tanya Iqbal. Azizi tersenyum tipis dan melangkah masuk. Sementara Vandy hanya kembali mengalihkan pandangannya ke arah Iqbal dan membuang napasnya perlahan.


" Sayang makannya sudah ya," ucap Azizi malah menghentikan Iqbal untuk makan. Vandy mendengarnya juga menghentikan menyuapi Iqbal.


" Tapi kan Iqbal belum selesai makan. Lagian makannya enak kok," sahut Iqbal yang menolak.


" Iqbal!" tegur Azizi sedikit tegas.


" Azizi. Dia belum selesai makan dan kamu malah menyuruhnya berhenti. Kenapa?" tanya Vandy melihat Azizi. Yang tampaknya Vandy kesal dengan sikaf Azizi.


" Aku rasa kamu punya pekerjaan selain mengganggu anakku," sahut Azizi dengan sinis.


" Apa maksud kamu?" tanya Vandy.


" Dia harus istirahat. Jadi keluarlah jangan mengganggunya," sahut Azizi yang terang-terangan mengusir Vandy. Vandy tersenyum terpaksa.


Berdiri dan meletakkan makanan di atas nakas. Tanpa bicara dan hanya melihat Azizi sebentar. Lalu dia melangkahkan kakinya.


" Om mau kemana?" tanya Iqbal memegang tangan Vandy. Membuat langkah Vandy terhenti.

__ADS_1


" Om mau kembali bekerja," jawab Vandy.


" Tapi Iqbal belum selesai makan," ucap Iqbal. Azizi melihat hal itu langsung melepaskan tangan anaknya dari Vandy.


" Sudah Iqbal. Jangan manja. Makan sendiri," ucap Azizi yang memang tidak suka melihat anaknya dekat dengan Vandy. Sementara Vandy tidak bisa berbicara apa-apa dan hanya melihat mata Azizi yang penuh kebencian kepadanya.


" Tapi ma," Iqbal mulai merengek.


" Mama bilang makan sendiri," tegas Azizi dengan melototkan matanya membuat Iqbal menunduk. Vandy pun akhirnya memilih untuk pergi. Dari pada harus melihat Iqbal sedih.


Kepergian Vandy membuat Iqbal sedih dan langsung menarik selimut memeringkan tubuhnya menangis di dalam ringkupan selimut. Azizi melihatnya membuang napas perlahan.


" Iqbal," Azizi berusaha membujuk Iqbal. Anaknya jika di larang sesuatu yang di sukainya memang akan marah besar.


Sementara Vandy yang sudah keluar dari ruangan Iqbal langsung kesal. Wajahnya memang jelas menunjukkan kemarahan.


" Kenapa dia harus melakukan itu. Memangnya aku ingin menculik anaknya. Sangat terlihat jelas. Dia tidak menyukai aku dekat-dekat dengan anaknya," gerutu Vandy di dalam hatinya. Sambil berjalan dengan langkah yang cepat.


" Aku juga kenapa. Harus sedekat itu sama senyaman itu dengan anak itu," Vandy yang terus bertanya di dalam hatinya jadi bingung sendiri. Dia tidak tau kenapa harus merasa seperti ada ikatan batin dengan Iqbal. Anak dari wanita yang dulu di campakkan nya.


**********


Clara memberhentikan mobilnya di depan mini market. Dia ingin membeli minuman. Karena tenggorokannya yang kering. Setelah membuka sabuk pengamannya. Clara langsung keluar dari mobilnya dan langsung memasuki mini market tersebut.


Clara langsung menuju tempat minuman mengambil dari tempat pendingin. Setelah mengambilnya. Clara langsung membuka botolnya dan meneguknya. Sepertinya Clara Sangat kehausan.


Setelah setengah isi minuman yang di dalam botol itu habis. Clara langsung menuju kasir untuk membayar. Clara berdiri di belakang Pria yang sedang menghitung belanjaannya bersama kasir.


Wanita cantik yang menjadi kasir itu. Ternyata adalah Selina yang sekarang dengan serius menghitung belanjaan sambil memasukkan kedalam kantung plastik khas mini market tersebut.


Setelah selesai menghitung semua belanjaan Pria itu. Selina memberikan struknya dan mengembalikan kembalian Pria itu. Setelah semuanya beres pria itu langsung pergi dan sekarang giliran Clara.


Selina masih Fokus pada layar monitor nya dan Clara meletakkan botol minumannya di atas meja Kasir.


" Ini saja mbak?" tanya Selina yang melihat ke arah customernya.


" Aaaaaaa," teriak Selina menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya membuat Clara kaget.


Bukan hanya itu orang-orang yang berada di mini market tersebut juga kaget dan menghampiri kasir. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi di sana.


" Mbak Kenapa?" tanya Clara heran dan bahkan mencoba memegang lengan Selina. Tetapi Selina langsung menjauh.


" Hantu!!!! Jangan menyentuhku. Aku tidak pernah jahat kepadamu. Aku juga menangis di pemakamanmu. Jadi jangan ganggu aku. Aku tidak mau mati," teriak Selina ketakutan.


Dia benar-benar tidak percaya bisa melihat Cherry. Walau dulu tidak dekat dengan Cherry. Pasti dia masih ingat dengan wajah Cherry.


" Apa sih maksudnya?" batin Clara benar-benar bingung.

__ADS_1


" Cherry pergilah jangan menggangguku. Kita sudah beda alam," ucap Selina lagi.


" Cherry," lirih Clara benar-benar heran.


" Mbak saya mau bayar bukan mau mengganggu," ucap Clara.


" Sudah bawa saja. Itu gratis asal kamu jangan menggangguku," ucap Selina yang terus gemetaran tidak berani membuka tangannya dari wajahnya. Dia benar-benar ketakutan sampai merelakan saja minuman itu gratis.


Di tengah ketakutannya. 1 rekan Prianya langsung datang setelah melihat kehebohan di meja kasir.


" Selina kamu kenapa?" tanya temannya.


" Ada hantu. Cepat baca ayat kursi," jawab Selina langsung bersembunyi di balik temannya.


" Mana? tidak ada hantu di sini," ucap temannya benar-benar bingung.


" Itu!" tunjuk Selina pada Clara. Membuat Clara heran. Bisa-bisanya dia di katakan hantu.


" Dia bukan hantu dia manusia," ucap temannya menegaskan.


" Dia hantu. Dia sudah meninggal," ucap Selina yang tetap ketakutan.


" Saya Manusia. Dan saya Clara. Bukan Cherry yang kamu katakan. Kalau saya hantu. Saya tidak mungkin bisa minum," tegas Clara yang benar-benar kesal dengan kasir itu yang mengatakan dirinya adalah hantu.


" Tuh dengar. Dia manusia bukan hantu," sahut temannya lagi yang menerangkan sejelas-jelasnya.


Selina pun menggeser sedikit dan mengintip. Memastikan apa benar dia hantu atau tidak. Selina melihat di sekelilingnya. Ternya banyak pembeli yang melihat dirinya dan mungkin menganggap dia aneh.


Selina juga melihat Clara dengan ketakutan. Clara memang tidak seperti hantu. Tetapi wajahnya yang mirip Cherry membuatnya ketakutan.


" Ini saya mau bayar," Clara yang sudah kesal langsung mengeluarkan uangnya. Temannya langsung mengambilnya. Karena Selina masih takut-takut.


" Maaf ya mbak," ucap Teman Selina merasa tidak enak. Clara tidak menjawab mengambil minumannya dan langsung pergi.


" Mbak kembaliannya," teriak Teman Selina.


" Buat teman kamu saja untuk berobat," sahut Clara yang sangat marah dan memilih langsung pergi.


" Kamu sih. Cantik gitu di bilang hantu," ucap temannya, " Maaf ya semuanya sudah mengganggu kenyamanan kalian," ucap Temannya Selina menyatukan ke-2 tangannya. Meminta maaf.


Para pembeli mulai bubar. Temannya geleng-geleng melihat Selina yang masih tampak linglung.


" Dia Cherry. Tetapi kenapa hidup lagi. Wajahnya sangat mirip. Kenapa dia mengatakan dia Clara," gumam Selina heran dan matanya terus melihat ke arah pintu.


...Bersambung..........


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya kalau sedang baca. Supaya aku tambah semangat........

__ADS_1


__ADS_2