DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 209 masalah Azizi.


__ADS_3

Cherry masih menangis di pelukan sang suami. Dia masih membutuhkan pelukan hangat itu. Hatinya masih terluka. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan itu.


Cherry yang masih menangis di dalam pelukan suaminya lama-lama tertidur, mungkin sangat lelah karena menangis semalaman. Verro yang menyadari sang istri menangis langsung membaringkan perlahan istrinya.


Verro mencium kening Cherry lembut dan juga pipi Cherry yang merah, karena menangis.


" Kamu tidurlah, kamu sangat lelah. Aku tau perasaan kamu, jadi istirahatlah, agar perasaan kamu bisa tenang," ucap Verro mengusap-usap rambut Cherry.


Dia bisa merasakan perasaan istrinya yang benar-benar terluka. Dia tau duka itu tidak mungkin bisa di terima. Verro menarik selimut sampai dada Cherry, mencium kembali kening istrinya.


" Istirahat lah," ucap Verro bangkit dari ranjang. Dia tidak ingin mengganggu Cherry. Cherry pasti lelah. Karena tidak tidur. Jadi dia membiarkan sang istri sendirian.


Verro memang sedikit lega. Karena apa yang di takutkannya tidak terjadi. Dia mengira, Cherry akan histeris, atau sakit kepalanya akan kumat. Tetapi tidak semua yang di takutkannya tidak terjadi.


Cherry hanya menangis tidak henti-hentinya, dia menangis terus menerus. Menangis itu sangat wajar untuk mengeluarkan semua isi hatinya. Jadi Verro pun tidak mempermasalahkan hal itu dan hanya memberikan pelukan hangat pada istrinya.


***********


Di sisi lain, Vandy dan Azizi berada di Restauran. Tidak tau apa yang mereka bicarakan sampai mereka sudah duduk di Restauran dengan makanan ringan yang ada di meja mereka. Mungkin sedari tadi mereka berbicara dengan serius.


" Semua ada di tangan kamu. Jelas kita punya cara, tapi semuanya benar-benar tergantung pada kamu," ucap Vandy. Azizi tampak diam dan tidak mampu bicara apa-apa lagi.


" Aku tidak bisa mengambil keputusan sekarang. Aku tidak akan melakukan semuanya asal-asalan. Walaupun aku setuju dengan apa kata Dokter. Sebelumya kamu harus mengetahui dulu siapa aku sebenarnya. Masa lalu ku dan yang lainnya. Kamu harus tau dulu. Aku tidak ingin kamu terus berpikiran buruk pada ku," ucap Azizi yang tidak ingin salah dalam mengambil langkah lagi dan dia juga tidak mau Vandy juga dengan keputusannya.


" Baiklah, kalau begitu. Aku akan menyerahkan semua kepada kamu, tapi aku tidak perlu untuk mengetahui apa-apa lagi. Karena aku merasa semuanya sudah cukup," sahut Vandy.


" Terserah kamu," sahut Azizi.


" Ya sudah, kalau begitu, aku permisi dulu! aku ingin pulang mengambil pakaian Iqbal dan harus cepat kembali Kerumah sakit," ucap Azizi pamit.


" Aku akan mengantarmu," ucap Vandy menawarkan.

__ADS_1


" Tidak usah, aku naik Taxi saja," jawab Azizi.


" Naik Taxi, memang mobil kamu di mana?" tanya Vandy heran. Azizi tampak terdiam dan seperti berpikir untuk menjawabnya.


" Aku harus pergi," ucap Azizi yang langsung pergi tanpa menjawab lagi. Membuat Vandy terheran-heran dengan tingkah Azizi yang sangat aneh.


" Kenapa dia seperti itu," batin Vandy heran melihat punggung Azizi yang pergi begitu saja. Mata Vandy melihat kearah meja dan melihat ponsel Azizi.


" Azizi, hanphonne mu," ucap Vandy.


Vandy melihat Azizi sudah keluar dari Restaurannya. Dengan cepat Vandy mengambil ponselnya dan berdiri dan sepertinya ingin mengejar Azizi. Tetapi baru melangkah. Pelayan wanita di Restauran itu langsung menghalanginya.


" Maaf Pak, di bayar dulu," ucap pelayan Wanita itu yang takut jika Vandy kabur. Dengan cepat Vandy mengambil dompetnya dan langsung mengeluarkan uang kes.


" Ambil saja kembaliannya," ucap Vandy yang langsung pergi berlari mengejar Azizi. Saat Vandy sudah keluar dari Restauran. Vandy melihat Azizi sudah masuk kedalam Taxi dan bahkan Taxinya sudah berjalan.


" Sial," desis Vandy. Dengan cepat Vandy berlari menuju mobilnya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Azizi.


" Tidak ada yang bisa di lakukan, untuk keselamatan Iqbal, selain menurunkan Ego. Mungkin memang ini jalan yang terbaik, aku jelas melakukan semuanya untuk kebahagian Iqbal hanya demi Iqbal," batin Azizi dengan air matanya yang harus kembali menetes.


" Untung saja, mob sudah laku. Jadi bisa untuk menambah-nambah pengobatan biaya Iqbal," batinya lagi yang ternyata mobilnya sudah di jualnya untuk biaya pengobatan Puttranya.


Biaya memang akan semakin banyak dan semakin mahal. Sementara Azizi bekerja juga sering bolos. Dia juga tidak bisa mendapat uang tambahan.


Sementara biaya sehari-hari mereka sangat banyak. Mau tidak mau. Azizi harus menjual mobil untuk biaya kehidupan sehari-hari dan pasti biaya rumah sakit Iqbal yang terus membengkak.


Walau kondisinya yang benar-benar sangat memprihatinkan. Azizi tetap tidak menerima bantuan dari Vandy untuk masalah pengobatan Iqbal. Dia masih bisa melakukan berbagai cara untuk melakukan apa-apa saja. Agar sang anak dapat tertolong.


Vandy berada di dalam mobil terus menyetiri dengan matanya fokus kedepan melihat Taxi yang membawa Azizi. Vandy memang tidak tau rumah Azizi di mana. Jadi untuk mengembalikan ponsel itu. Vandy harus mengikuti Azizi yang mungkin Azizi pasti membutuhkan ponsel itu.


Vandy terus mengikuti sampai akhirnya Taxi yang di tumpangi Azizi berhenti dan mobil Vandy berhenti 10 meter dari taxi.

__ADS_1


Vandy melihat Azizi turun dari mobil dan Vandy heran dengan mobil yang terparkir di samping Taxi yang memperlihatkan 2 orang pria yang di hampiri Azizi dan bicara tampak serius berbicaralah dengan Azizi.


" Siapa mereka?" tanya Vandy yang penasaran dengan 2 orang Pria itu yang berpakaian rapi.


" Seperti dari pihak Bank saja," batin Vandy yang menebak-nebak.


Azizi yang meneteskan air matanya dan terlihat memohon pada 2 Pria itu.


" Saya mohon pak, jangan sita rumah saya. Ini satu-satunya harapan saya," ucap Azizi menyatukan ke-2 telapak tangannya, memohon kepada Pria itu.


" Maaf Bu Azizi, kami terpaksa menyitanya. Karena Bu Azizi sudah tidak mampu membayarnya. Jadi saya minta tolong kosongkan rumah ini secepatnya. Kami hanya bisa memberikan ini waktu 2 hari saja untuk mengosongkan rumah ini," ucap Pria itu menegaskan.


" Tapi pak, saya mohon. Kasih saya kesempatan. 1 kali saja, saya akan membayarnya. Saya akan membayar semuanya . Kasih saya waktu pak, saya pasti membayarnya. Saya mohon pak," ucap Felly yang masih berusaha memohon di belas kasihani karena rumahnya yang akan di sita.


" Maaf, kami sudah banyak memberikan ibu kesempatan. Dan kami hanya menjalankan perintah, jadi mohon untuk kerja samanya. Silahkan kosongkan rumah ini dalam tempo yang saya berikan. Jika Bu Azizi tetap tidak mau. Jadi maaf, kami akan mengusir ibu secara paksa," ucap Pria itu dengan tegas.


" Tapi pak, saya harus tinggal di mana. Saya memang sedang kesulitan ekonomi. Tetapi saya janji pasti akan membayarnya. Saya janji akan melunasi semuanya, saya janji pak," ucap Azizi yang masih Berusaha meminta kelonggaran.


" Kalau masalah tinggal, mohon maaf, jelas itu bukan urusan kami. Sekali lagi saya tegaskan. Kami hanya menjalankan tugas," sahut Pria itu.


" Kami permisi dulu!" ucap Pria itu pamitan. Azizi menahan tangan pria itu dan terus meminta untuk di berikan kelonggaran.


" Tolong! jangan pak! tolong pak!" ucap Azizi yang terus meminta tolong dengan menarik-narik tangan petugas bank itu.


" Maaf Bu, tolong lepas," ucap Pria itu yang terpaksa main kekerasan dengan melepas tangan Azizi dengan kasar. Bahkan mendorong Azizi dengan kasar.


Dan untung saja Vandy datang sehingga Azizi tidak jadi terjatuh dengan tubuhnya yang di tahan Vandy.


Kepala Azizi menengok kebelakang dan melihat siapa yang menahannya yang ternyata adalah Vandy dan membuat mereka saling beradu pandang.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2