
Cherry dan yang lainnya akhirnya sampai dengan selamat. Walau dengan pakaian yang basah dan sebagian dari mereka bahkan sudah mulai drop. Pak Sony, Pak lucky, Bu Asri dan beberapa murid langsung menghampiri mereka .
Sebenarnya guru-guru tidak tau masalah yang terjadi. Para murid berusaha menyembunyikan. Agar study tour mereka tetap berlanjut dan semua Aldo yang memberi saran.
Guru yang mengawasi hanya tau. Kalau Cherry bertengkar dengan Verro dan yang lain mencarinya. Sebenarnya pertengkaran 2 murid itu sudah sangat hafal di telinga guru-guru.
" Syukurlah kalian kembali selamat," ucap Pak Sony menepuk bahu Verro.
" Maaf pak, sudah membuat kekacauan," sahut Cherry merasa bersalah.
" Tidak Cherry, kamu tidak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu. Tetapi Verro," sahut Pak Lucky membuat semuanya berekspresi heran dengan menyalahkan Verro.
Tetapi mendengar Verro yang menjadi bahan kesalahan. Hanya membuat Cherry semakin bersalah.
" Verro kamu jangan begitu lagi dengan Cherry. Jangan membuatnya kesal. Kalian berdua jangan ribut-ribut lagi," sahut Bu Asri.
" Iya Bu maaf," jawab Verro. Sementara Cherry heran. Verro mau-mau aja jadi bahan kesalahan.
" Hmmm, ya sudah sebaiknya kalian istirahat, ganti baju sebelum tidur agar kondisi kalian membaik. Karena besok kita masih banyak aktifitas lain," ucap Pak Sony.
" Iya Pak," sahut mereka serentak.
Ke-3 guru itu pergi. Para murid mendekati Cherry dan bertanya keadaan Cherry. Mereka juga khawatir dengan Cherry.
Cherry tersenyum mendapat ketulusan dari teman 1 kelasnya. Dia hanya merasa bersalah. Karena omongan Fiona membuatnya kehilangan kendali dan salah paham kepada semuanya.
Raquel keluar dari dapur umum. Matanya langsung berhadapan dengan Aldo. Pria yang belakang dekat dengannya. Tetapi sekarang Pria itu sungguh menyebalkan.
Aldo yang melihat Raquel menyapa tersenyum tipis. Tetapi senyum itu hilang ketika menyadari wajah Raquel yang penuh kemarahan. Dan sepertinya ada kesalahan tentang dirinya. Aldo juga melihat wanita itu mengepal ke-2 tangannya lalu pergi.
" Aneh, kenapa dia," batin Aldo heran dengan tatapan Raquel.
" Cherry ayo ganti baju?" ajak Sasy.
" Oke," sahut Cherry.
***********
Cherry, Azizi, Sasy dan Nadya sudah berada di dalam tenda. Mereka sudah mengganti pakaian mereka. Dan sama-sama mengeringkan rambut mereka dengan handuk putih.
" Padahal sudah pakai baju paling tebal. Tapi masih aja tetap dingin," keluh Sasy dengan tubuh menggigil.
__ADS_1
" Cuacanya juga sangat dingin, jadi wajar saja," sahut Azizi. Cherry yang mengeringkan rambutnya melihat satu-satu temannya.
" Maaf, ya ini semua salahku," ucap Cherry masih terus merasa bersalah.
" Sudah dong Cherry, orang kita hujan-hujanan sama. Jadi tidak ada yang salah," sahut Sasy terus mengeringkan rambutnya.
" Benar kata Sasy, orang kita mau sendiri kok. Jadi tidak ada yang salah," sahut Azizi membenarkan.
" Tapi tetap saja, aku egois pergi begitu saja, sehingga kalian harus repot-repot," ucap Cherry lagi.
" Ihhhh, Cherry please deh nggak usah ngebahas itu lagi," sahut Sasy lama-lama kesal.
" Benar Cherry, ngapain harus bahas itu lagi. Nggak penting banget. Sudahlah anggap aja ini pelajaran yang berharga. Karena apapun itu kamu harus bisa cerita dan jangan di pendam sendiri," ucap Azizi dengan bijak.
" Iya kamu benar. Yang jelas aku sangat berterima kasih kepada kalian semua. Aku sangat bahagia. Bisa memiliki teman seperti kalian. Sekarang aku jadi mengerti. Jika di dunia ini yang paling aku butuhkan bukan hal lain. Tetapi kalian semua yang sangat tulus kepadaku," Mata Cherry berkaca-kaca, tidak bisa menggambarkan kebahagiannya.
" Kalau pun mati hari ini. Aku tidak akan pernah menyesal. Karena aku sudah mendapatkan hal yang lebih bahagia di dalam hidupku," lanjut Cherry membuat teman-temannya saling melihat dengan wajah yang sedih.
" Cherry, jangan bahas kematian, nggak lucu tau," sahut Azizi dengan bibir kerucutnya.
" Cherry, kita nggak tau ajal. Meski kamu, selalu merasa kamu lebih dulu mati di bandingkan kita. Tetapi tidak ada yang tau bisa saja aku yang duluan. Karena kematian bukan dari penyakit atau apapun. Tetapi kematian sudah di takdirkan dan tidak ada yang bisa mengubahnya," sahut Nadya berbicara dengan serius.
" Iya kalian benar aku tidak akan melakukannya lagi. Karena aku tidak mau melewatkan 1 detikpun untuk kebahagian di depanku," ucap Cherry penuh semangat.
" Gitu dong.. Hmmm Cherry sayang," Sasy langsung memeluk temanya. Yang di susul oleh Nadya dan Azizi. Mereka berpelukan dengan erat.
" Aku senang bisa punya teman seperti kalian," ucap Cherry.
" Aku lebih senang," sahut Sasy.
" Dan aku sangat bersyukur pindah sekolah. Jadi bisa memiliki teman seperti kalian," sambung Azizi.
" Aku tidak pernah menyangka, bisa dekat dengan kalian," sahut Nadya.
Mereka saling memeluk erat dan melepas pelukan mereka.
" Ayo lanjut keringkan rambut, biar kita istirahat," ucap Cherry.
Sasy tiba-tiba fokus melihat Azizi. Tampilan Azizi yang kali ini membuat Sasy kaget. Sampai Sasy melihat dekat pada wajah Azizi.
" Kenapa?" tanya Azizi heran.
__ADS_1
" Aku baru melihatmu seperti ini. Ternyata cantik," puji Sasy. Nadya dan Cherry tersenyum.
" Jadi selama ini aku jelek," sahut Azizi dengan wajah merengut.
" Tidak, lalu kenapa harus kepang rambut dan pakai kacamata. Bukannya di lepas. Kamu jauh lebih cantik, kayak cewek-cewek modis gitu," ucap Sasy.
" Hmmm, aku sudah seperti ini dulu dan sudah nyaman juga," ucap Sasy.
" Tapi kan cantikan di lepas. Percaya deh kalau kamu kayak gini. Cowok-cowok 1 kelas. Bakalan suka sama kamu," ucap Sasy dengan yakin.
" Masa sih," sahut Azizi. Sasy mengangguk cepat.
" Hah, bodo amat aku sudah nyaman seperti ini. Lagi pula aku tidak mau cari pacar. Aku mau sekolah," tegas Azizi.
" Sudah lah Sasy. Itu hak Azizi. Kalau sudah nyaman memang sulit untuk di ubah. Jadi biarkan saja," sahut Cherry.
" Iya deh," sahut Sasy.
***********
Di sisi lain. Verro, Varell dan Vandy juga sudah mengganti pakaian mereka. Varell bahkan sudah merebahkan drinya dengan kaki kirinya yang di tekuk dan satu tangannya di letakkan di keningnya.
Wajahnya penuh pemikiran. Kata-kata Nadya yang memberinya harapan terlintas di pikirannya. Dia tidak tau. Marah atau bagaimana. Tetapi lebih tepatnya dia sangat kecewa.
" Kenapa Rell?" tanya Vandy melihat situasi wajah Varell yang menggambar kesedihan. Varell hanya menggeleng.
" Kayak di tolak cewek aja," ucap Vandy lagi dengan celetukannya. Seakan tau apa yang terjadi pada Varell.
" Sok tau lo," sahut Varell kesal.
" Tidak ada wanita yang bisa membuatku seperti ini. Nadya benar-benar membuat pikiranku berantakan," batin Varell yang terus memikirkan Nadya.
Sementara Verro yang sudah mengganti pakaiannya mengambil ponselnya. Verro mengetik pesan pada Cherry.
" Aku keluar sebentar!" ucap Verro. Padahal sudah larut malam. Tetapi masih aja ke luar bukannya istirahat.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1